Nov 29, 2010

Berikan saja pujian yang membesarkan hati

Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya







Karena memuji dengan tulus itu baik, balaslah pujian dengan pujian, dengan begitu kita saling menghibur dan menguatkan hati. Bagus, 'kan?






Ketika mengumumkan kepada teman-temanku bahwa aku sedang menyiapkan buku pertamaku yang merupakan kompilasi beberapa artikel yang pernah aku tulis di Cantik Selamanya, seorang teman menyambut dengan gembira sehingga kami pun terlibat obrolan melalui yahoo messenger. Obrolan tentang jati diri.

Ternyata dia pun mengalami apa yang dulu pernah aku alami waktu kecil dulu, yaitu menjadi the ugly duck among the sibblings. Seperti yang aku alami, keluarganyalah justru yang melecehkan penampilannya yang dianggap tidak secantik saudari-saudarinya.

Untunglah, kata temanku itu, dia sabar dan terus berusaha keras untuk menjadi yang terbaik sehingga akhirnya malah diantara saudari-saudarinya itu dia terbilang paling sukses. Very nice, isn't it?

Lalu aku teringat seorang teman yang memang hampir selalu kuingat apabila bicara tentang perlakuan orang tua terhadap anak. Yang dilakukan oleh temanku ini memberikan teladan yang baik sehingga aku memujinya dan berharap bahwa semua orang tua melakukan seperti yang dilakukannya terhadap anak-anaknya. Dia senantiasa menjaga perasaan anak-anaknya.

Dia begitu hati-hati terhadap perasaan anak-anaknya. Temanku ini, yang seringkali aku sapa "mbak", memantangkan kata-kata yang kasar, yang jelek, tidak boleh ada makian dilontarkan terhadap anaknya. Katanya, omongan orang tua itu doa. Dia tak mau, kalau salah ngomong, maka sang anak akan menanggung kesalahan-omong orang tuanya. Maka hanya kata-kata yang baik sajalah yang akan dikatakannya terhadap anak-anaknya.

Tak ada makian, omelan atau celaan. Baginya, anak-anaknya adalah anak-anak yang manis dan tersayang. Mereka adalah anak yang cantik dan ganteng. Dan memang mereka tumbuh menjadi anak yang cantik dan ganteng.

Lalu, walau sepertinya IQ mereka tidak termasuk tinggi, mereka tetap percaya diri dan tidak minderan atau merasa bodoh. Bahkan mereka sukses mendapat pekerjaan yang bagus dan segera menjadi mandiri. Ketika mbakku itu dan suaminya akhirnya pensiun, mereka pun menikmati pensiun mereka tanpa beban karena kedua anak mereka telah menjadi mandiri bahkan sesegera mereka lulus dari perguruan tinggi. Alhasil, mbakku ini dan suaminya menjadi para pengacara alias pengangguran banyak acara. Mbakku senantiasa ceria seperti dulu waktu masih ngantor dan awet muda.

Kami berdua, aku dan temanku yang tadi messenger-an denganku itu, sama-sama setuju bahwa seharusnya orang-orang dekat kami dulu tidak mengatakan hal-hal yang buruk tentang penampilan kami. Selain melukai hati, akibatnya hanya kenangan pahit yang kami ingat. Tentu saja, karena kami kebetulan adalah anak-anak yang manis, kami mengenang kenangan pahit itu dengan memaafkan sambil tertawa bahwa kami tidak terintimidasi. Still, we remember them who put us down in bad way. Mau dikenang dengan cara yang tidak baik?

Adalah lebih baik untuk fokus pada hal-hal yang baik. Alih-alih mencela penampilan anak-anak yang tidak sesuai selera, lebih baik memberi mereka semangat dengan memuji. Mereka tidak terluka, dan apabila kelak mereka telah dewasa, mereka akan mengingat betapa besar kasih sayang yang telah mereka terima sehingga hanya kenangan indah yang mereka terima.

Tak ada gunanya mengatakan hal-hal yang buruk kepada anak-anak seperti misalnya kamu nakal, atau kamu jelek. Bagi yang religius, mengucapkan hal seperti itu sama saja seperti mendoakan agar anak itu agar menjadi nakal atau jelek. Pamali, kata orang Sunda.

Lebih baik katakan saja "anak manis" atau "anak cantik" atau "anak pintar".. dan bersabarlah apabila mereka nakal karena itu tandanya mereka pintar. Kalau si anak menjadi "difficult child", jangan ambil kesimpulan sendiri. Cari pertolongan kepada yang ahli. Ahli psikologi anak, tentunya. Agar solusi yang terbaik dapat diberikan dan anak itu tidak tambah menyulitkan karena kata-kata kasar yang diucapkan oleh orang tuanya yang putus asa.

Melalui ajang social network bernama facebook, aku jadi berteman dengan orang-orang bule alias orang asing dari Eropa dan Amerika. Kalau tanpa social network itu aku hanya akan berkomunikasi dua arah, di facebook aku dapat melihat bagaimana mereka saling berkomunikasi. Dari sana, ada satu pelajaran menaik yang aku temukan: mereka selalu membalas pujian dengan pujian.

Kalau ada yang mengatakan "you are pretty", maka akan dijawab, "thank you, you are pretty yourself!" Enak didengar, bukan? Tetap rendah hati, kan?

Di negeri kita 'kan yang terjadi sebaliknya? Kalau dipuji, maka kita akan menolak pujian itu sebagai kesopanan. Kita akan katakan "ah, bisa aja".. "ah, bukan apa-apa" atau "ah, saya hanya biasa saja..." Sebab dalam budaya kita, merendah dianggap sikap yang santun. Namun lihatlah dampaknya secara umum. Kebanyakan kita jadi tertutup dan mudah tersinggung. Kita kurang ceria karena selalu takut menjadi "lebay". Takut dikatakan high profile. Takut dibilang sombong.

Biasanya, kemampuan kompetisi kita pun buruk. Mudah sekali kita terintimidasi karena kurang percaya diri. Sebab kita selalu takut untuk mengangkat dagu kita. Kita terbiasa untuk merunduk mengikuti azas padi karena kita menyangka, dengan membuka diri, kita menentang azas padi yang makin berisi makin menunduk itu. Padahal, dengan membuka diri, kita membiarkan informasi masuk ke dalam otak kita sebanyak-banyaknya dan kita pun mendapat kesempatan melatih logika kita serta menempatkan emosi pada porsi yang lebih rendah agar kita tidak emosional dan senantiasa dapat berpikir positif.

So, again, mari kita gunakan kata-kata manis saja dalam berkomunikasi dengan sesama kita. Kata-kata yang sopan, yang enak didengar. Bukan kemunafikan, tetapi kasih sayang. Bukan kebohongan, karena ukuran yang kita pakai 'kan belum tentu sama dengan yang orang lain pakai. Menurut aku cantik, jadi aku katakan cantik. Bagaimana kalau menurut aku jelek? Ah, kenapa juga aku harus peduli apakah dia jelek atau tidak. Tetap saja orang itu sebenernya cantik. Ok, 'kan?