Nov 30, 2009

Kilas Hukum: Mehami Keraguan PPATK [Legal]

Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya




Mekanisme Impeachment & Hukum




"Kepada Tuhan kita beriman. Kepada manusia, kepercayan itu harus dibangun." [Dian Manginta, tentang saling percaya]





BERUNTUNGLAH rakyat Indonesia yang kebebasan berkomunikasinya sangat terjamin. Karena keterbukaan adalah langkah paling baik untuk mengobati penyakit korupsi.

World Bank [Bank Dunia], sangat percaya bahwa masyarakat harus secara aktif memantau jalannya pemerintahan agar korupsi bisa ditekan sama sekali. Hingga di buku yang mereka terbitkan "The many faces of corruption: tracking vulnerabilities at the sector level" [2007], sampai-sampai diuraikan berbagai selak-beluk korupsi secara mendetail. Tujuannya? Supaya masyarakat paham bahwa mereka pun bertanggungjawab dalam membumihanguskan korupsi.

Tanpa korupsi jelas Indonesia bisa hidup lebih baik. Tanpa keinginan hidup lebih baik, kita bisa tak perduli terhadap korupsi.

Dan hukum kita tentunya merupakan jalan agar negara tercinta bisa bebas korupsi. Tapi jangan lupa, bisa jadi banyak orang memanfaatkan celah hukum justru untuk menutup jejaknya dalam tindakan kriminal ini.

Nah, sekarang masih berkaitan dengan perkembangan kasus hukum Bibit-Chandra, Meyland, SH sudah menyiapkan catatan opini legalnya. Catatan ini perlu supaya kita lebih menghayati tentang pentingnya menghidupkan semangat supaya korupsi jangan sampai menghilangkan segala impian kita untuk hidup lebih baik di tanah merdeka ini.

Yuk, kita baca catatannya Meyland, SH?



Memahami Keraguan PPATK: Sebuah Opini



Klik di sini untuk melihat artikel 'legal'/hukum karya Meyland, SHSeperti kita ketahui, minggu lalu sejumlah pengamat kebijakan mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi [KPK] untuk meminta hasil penelusuran Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan [PPATK] terkait aliran dana dalam kasus Bank Century. Keperluan itu muncul karena hasil audit BPK hanya mengulas aliran dana talangan sebesar Rp. 6,7 triliun dari Lembaga Penjamin Simpanan [LPS] ke Bank Century.

BPK memang tidak menelusuri pergerakan dana Bank Century ke pihak lain. Menurut pihak BPK hal itu karena mereka tak bisa mendapatkan data menyeluruh dari PPATK yang menurut hukum hanya bisa menyerahkan data kepada penyidik secara rahasia [lihat Undang-Undang Nomor 82 Tahun 2003 tentang Tata Cara Pelaksanaan Kewenang PPATK di situs Sekretariat Negara].

Ungkap Aliran Dana CenturyPada intinya, cerita ini masih berujung pada keadaan bahwa BPK, sebagai badan audit, tidak melacak aliran penggunaan dana talangan oleh Bank Century [lihat diagram di samping]. Alhasil, kita belum tahu apa sebetulnya yang terjadi dengan dana milik rakyat Republik Indonesia tersebut.

PPATK Bebas Bagikan Informasi

Sementara itu, Dewan Perwakilan Rakyat [DPR] di dalam acara Rapat Paripurna 01 Desember 2009, berencana untuk mengambil keputusan atas usul Hak Angket tentang Pengusutan kasus Bank Century. Bagaimanapun, undang-undang UU NO. 82/2003 tadi menyatakan bahwa PPATK harus kerahasiaan informasi dan menggunakan informasi menurut mekanisme yang dikehendakinya sendiri.

Begini bunyi tiga ayat UU tentang PPATK tadi dalam Bab IV Pasal 15 tentang "Pemberian dan Permintaan Informasi":

[1] PPATK
dapat menyetujui atau menolak permintaan informasi dari pihak lain.

[2] Dalam hal PPATK menyetujui permintaan informasi sebagaimana dimaksud dalam ayat [2], penerima informasi wajib menjaga kerahasiaan informasi dan menggunakan informasi yang diterima sesuai dengan tujuan yang telah disetujui oleh PPATK.

[3]
Tata cara penyampaian informasi, jenis informasi, dan pihak-pihak yang dapat menerima informasi ditetapkan dengan Keputusan Kepala PPATK.

Jadi, hukum kita menyatakan bahwa PPATK bebas bekerjasama membagikan informasi miliknya kepada pihak lain yang memerlukan - katakanlah DPR. Yang menarik adalah, hingga 28 November 2009, media masih mencatat pernyataan Kepala PPATK bahwa mereka meminta dasar hukum untuk membuka informasi tentang aliran dana Bank Century.

Mengapa PPATK meminta waktu agar dasar hukum harus terpenuhi terlebih dahulu sebelum mereka menyerahkan data hasil audit mereka tentang aliran masuk, keluar, dan tujuan penggunaan dana dari Bank Century?

PPATK di Antara yang "Lain"

Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi KeuanganBagi saya, kasus ini sudah semakin membosankan karena terkesan lama dan jalan di tempat. Setidaknya itu yang sempat membuat saya sebetulnya jenggah menulis tentang kasus berkait-kaitan ini di Cantik Selamanya. Dari kasus KPK, Bibit-Chandra, Bank Century, Presiden, DPR, Kepolisian RI, dan Kejaksaan Agung yang kian tidak habis meski diurai panjang.

Lalu kini "pemain" baru muncul, PPATK. Ia mengambil perannya sebagai penyelidik detail aliran dana di Bank Century. Kini mereka meminta waktu agar dasar hukum harus kuat terlebih daluhu, baru mereka menyerahkan data aliran dana tersebut kemudian.

Kini terlihat jelas seberapa jauhnya degradasi nilai para negarawan kita. Catat saja begini:
  • Perilaku Kepolisian yang memindahkan Komisaris Jenderal [Pol] Susno Duadji karena terlibat dalam kasus dugaan perekayasaan kasus Bibit-Chandra tanpa mengindikasikan secara jelas kesalahan yang Susno lakukan;
  • Perilaku kalangan eksekutif yang terkesan kurang tertarik dengan kasus dugaan Penyelewengan Dana Penyelamatan Bank Century;
  • Kejagung yang tampak lebih mengedepankan "semangat kebersamaan" dibandingkan rasa prihatin karena jajarannya terlibat kasus power abuse meski kasus ini adalah yang kali kedua [pertama adalah kasus Jaksa Urip-Artalyta S].
Bagi saya, daftar ini memprihatinkan. Bukankah lebih baik bila semua orang secara jelas menunjukkan semangat juangnya membela kebenaran?

Bahkan kepada institusi presiden, kita [maksudnya rakyat Indonesia] masih harus lebih bersabar. Media pun mengabadikan opini masyarakat yang menyatakan pidato tersebut terkesan tidak berpihak pada sisi manapun dan malah tak memberikan makna berarti. Lihat saja contoh beritanya di situs Kantor Berita Antara [24 November 2009].

Anggodo, Tak Tersentuh

Tapi kemudian saya ingat akan Anggodo, yang sampai saat ini tetap tidak disentuh. Memanfaatkan momentum pidato presiden yang menggelayut tadi, Anggodo memohon kembali kepada Presiden agar menjaga keadilan dengan cara menghentikan kasus Bibit-Chandra sekaligus dengan masalah terkait lainnya.

Bila kasus Bibit-Chandra dihentikan kelak, Anggodo meminta agar kasus proyek SKRT, kasus Anggoro Widjojo, Kasus Anggodo Widjojo dan permasalahan penyalahgunaan kewenangan oleh pimpinan KPK, dan lainnya, juga dihentikan [lihat catatannya di Media Indonesia, 25 November 2009]. Luar biasa.

Mungkin ini yang mengakibatkan PPATK meminta perpanjangan waktu, agar jerih payah kelak tidak menjadi sia-sia manakala berhadapan dengan strategi seperti yang dilancarkan Anggodo. PPATK tak ingin mereka menciptakan sejarah preseden buruk di kemudian hari. Itu alasan yang masuk akal.

Bagaimanapun, kelincahan proses hukum yang tak tampak sebetulnya mencengangkan. Langsung saja kita harus mengingat bahwa proses yang buruk akan menghasilkan hasil yang buruk. Dan dalam konteks ini kita bisa melihat sekali lagi bahwa kebenaran yang ada dan keadilan masyarakat bisa terancam terhambat diwujudkan oleh karena alasan prosedural.

Kini kita bisa melihat bahwa keberhati-hatian PPATK sehingga menunda penyerahan data tersebut sebetulnya adalah demi prosesnya kelak berjalan sempurna sempurna. PPATK tidak ingin di kemudian hari harus mengelak lagi.

Tak berlebihan bila kita mencatat bahwa saat ini adalah masa krisis hukum di negara kita, semua pihak ada di posisi yang riskan. PPATK hanya bertindak hati-hati agar pekerjaan mereka tidak sia-sia.

Do your best for the country, my people! Keep our eyes open...


(Meyland. S.H.)



*****


Perlu dibaca juga di Cantik Selamanya:







  • Prepare to see we are getting better, prepare to only want to see that we are getting better. And...why don't you gabung di halaman facebook "Cantik Selamanya"? Okay? ;)
Yuk, gabung?






Cover/ID photo: Andry

Nov 26, 2009

"It's Your Dream", dan Bermimpi Adalah Hak Kita

Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya




Dian Manginta - Cantik Selamanya




"Hidup cuman sekali. Jangan takut sedih karena gagal - dan jangan buat orang lain jadi takut sedih karena gagal. Hidup dia pun cuman sekali." [Dian Manginta, tentang keberanian bermimpi].





LAGU yang satu ini sangat enak untuk didengar. Lagu dewasa yang menyelipkan cara menghidupkan mimpi:



Nikka Costa: "It's Your Dream"

Looking end tomorrow sets you free from yesterday
Giving up your sorrow is the key to find your way
Living for the moment is the only way to grow
Life is what you make it by now you ought to know

It's your dream so take it
It's your dream go make it all come true
Right now
It isn't very hard to do if you believe in you
It's your right so free it
It's your light so see it to the end
My friend
Cause you're never gonna pass this way again

And if sometime along the way you
stumble and should fall
At least you know inside you you're giving it your all
Don't be ashamed of losing and
you'll find you just might win
Don't be afraid of giving and love might just begin

It's your dream so take it
It's your dream so make it all come true
Right now
It isn't very hard to do if you believe in you
It's your song so sing it
It's your bell so ring it to the end
My friend

Cause you're never gonna pass this way again
No you're never gonna pass this way again


Nikka Costa






Beberapa hari ini lagu yang pernah dinyanyikan oleh Nikka Costa itu terngiang-ngiang di telingaku. Aku memang selalu menyukai lagu itu sejak pertama kali aku mendengarnya long long time ago. It's a very gentle song.

Lagu yang bijaksana, lemah lembut, penuh pengertian dan sekaligus encouraging. Sambil mendengar musiknya, coba perhatikan syairnya.

Buat Hari Ini, Bukan Kemarin

Perhatikan bait pertamanya. "...set you free from yesterday..."

Seringkali sukar bagi kita untuk melepaskan masa lalu kita. Baik itu masa lalu yang indah, ataupun masa lalu yang pahit.

Kalau masa lalu indah dan hidup hari ini terasa sukar, maka rasanya ingin kembali ke masa lalu. Rasanya ingin protes kenapa hari ini sesukar ini!

Bahkan kita mungkin akan mengajukan plea kepada Sang Pencipta dengan memaparkan kebaikan kita [dan kesalahan orang lain kalau ada] sebagai alasan menolak kesulitan yang sedang kita hadapi. "Good God, I am not like that person!" Itu bunyi protesnya.

But.. seperti kata syair dalam lagu "It's Your Dream" itu, we need to set ourselves free from yesterday, kita musti merelakan masa lalu untuk bisa ditinggalkan.

Sebab kita gak bisa tinggal di masa lalu. Ingin hidup di hari kemarin sungguh tak rasional. The past is the past, it's over. Dan seperti kata syair lagu ini pun, "..Living for the moment is the only way to grow.."

Dengan hidup untuk hari ini kita hidup dalam realita. Dalam kenyataan dan itulah caranya untuk terus semakin dewasa. Semakin matang dalam hidup ini. Sebab kenyataannya, kesukaranlah yang membuat hidup kita jadi kaya.

Kita dikatakan berhasil dalam hidup ini apabila telah melalui kesukaran hidup dan mengatasinya. Full stop.

Aku tahu ada yang mau menambahkan "dengan baik", I disagree. Karena gak penting apakah kita berhasil menyelesaikan masalah kita itu dengan baik atau tidak, yang penting adalah kita bisa menerima konsekwensi kehidupan kita dengan realistis dan belajar dari pengalaman itu.

Bermimpi Adalah Hak Kita

I have been there. Yes, that's the great thing about being a senior. Jadi senior membuat kita bisa bilang "aku sudah tahu, sudah pernah mengalaminya." Dan itulah kelebihan orang yang sudah mengalami kedewasaan dalam hidup. We know these things.

Lagu "It's Your Dream" walau dinyanyikan oleh anak kecil [ketika itu] sesungguhnya adalah sebuah nasihat dari orang [yang sudah] tua. Sudah banyak pengalaman. Sudah dewasa. Pengarang lagu itu tahu bahwa apapun yang telah hidup ini lalui tidak mengurangi hak kita untuk meraih impian dalam hidup ini.

Apa pun masalah yang kita hadapi, mau masalah domestik, maupun masalah nasional, bukanlah alasan untuk berharap bahwa mimpi bisa jadi kenyataan. Nyatanya, banyak orang yang telah melihat mimpinya jadi kenyataan. Sebagian dari mereka sudah lama wafat, tak sedikit masih mengalami di kehidupannya sekarang.

...Karena Mimpi = Visi

Apa lagi buat bangsa yang percaya kepada Tuhan seperti bangsa Indonesia. Impian atau lebih tepatnya visi itu kita perlukan agar bisa punya arah dalam hidup ini, demi menjadikannya lebih baik. Tuhan pasti menolong umat-Nya yang mau berusaha, yang percaya ke bahwa Ia peduli. 

Jadi, jalani hidup ini dengan penuh semangat dan tekad untuk menang menghadapi intimidasi permasalah yang datang. Jangan patah semangat. "...Cause you're never gonna pass this way again.." Apakah jalan itu sukar ataupun baik, you will never gonna pass it again. Hidup cuma sekali.

Izinkan Diri Supaya Percaya Saja

Izinkan Diri Jadi Pemenang... Karena yang tak diizinkan jadi pemenang adalah hanya para penjahat.Perhatikan ilustrasi di sebelah, yang menggambarkan seorang penjahat bekerja sebagai peramu tamu di sebuah penginapan. Jika datang kesana, akankah kita membiarkan dia mengangkat barang-barang kita? Rasanya kita tidak akan percaya padanya, ya?

Demikianlah trust atau rasa percaya. Artinya adalah mengizinkan seseorang atau kelompok manusia untuk melakukan sesuatu. Termasuk diri sendiri.

Sekiranya kita tak percaya mimpi itu bisa diwujudkan, maka itu sebetulnya adalah seperti melihat diri sendiri laksana penjahat yang digambarkan di atas. Bila kita tak percaya diri [PeDe] artinya sama saja dengan tak mengizinkan diri sendiri memikirkan dan melakukan untuk meraih sesuatu. Karena sebetulnya, kita tak bisa menyukai diri meraih kebebasan itu lantaran melihat diri sendiri seperti penjahat.

Tidak PeDe adalah ibarat tinggal di dalam penjara. Bagaimana indahnya pemandangan di luar penjara, tetap sulit untuk dinikmati oleh mereka yang tinggal di dalam gedung tahanan.

Bukanlah hal lucu bila suatu saat nanti kita melihat bahwa ternyata di kehidupan ini kita tinggal di suatu "penjara" yang dibangun oleh imajinasi sendiri.

Percaya saja, mimpi adalah hak kita. Izinkan Tuhan menolong kita untuk membuat mimpi jadi kenyataan. 

D-







*****




Perlu dibaca juga di Cantik Selamanya:









  • You only live once, the hurt you may feel is not for forever.  And...why don't you gabung di halaman facebook "Cantik Selamanya"? Yiuuuk yaaak yiuuuk? ;)
Yuk, gabung?







Cover photo: Andry.

 

 

Nov 25, 2009

Indonesia Loves Mercedes-Benz' Technology - True Icon of Luxury

Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya




Mercedes Benz, Kekayaan dan Kebersamaan




"Wajar kalau Indonesia kaya: alam negara kita diakui kekayaannya di seluruh dunia! Yang tak wajar adalah kalau kita tak berani kaya. Artinya, mengingkari warisan kekayaan dari negeri yang ditinggali  ayah-ibu-kakek-nenek-moyang kita sendiri." [Dian Manginta, tentang SEMANGAT MENJADIKAN INDONESIA MAKMUR]





AKU melihat sebuah Merceds-Benz, minggu kemarin. It looked really gorgeous! Aku perhatikan serinya dan keliatannya it's an S-Class.

Tidak sulit membuat S-Class Mercedes jadi pusat perhatian. Karena kelas ini adalah kelompok sedan terbesar Mercedes-Benz. "S" adalah singkatan dari "Sonderklasse", yang artinya "kelas khusus", atau "berada dalam kelasnya sendiri".

Aku jadi teringat, akhir bulan Oktober lalu, news contributor Cantik Selamanya menyerahkan sebuah materi dari Mercedes-Benz. Aku pun memutuskan untuk memeriksa berkas dari Mercedes-Benz yang pernah diberikan padaku. Di dalamnya ada tulisan judul "TRUE ICON OF LUXURY" - THE NEW GENERATION S-CLASS.

Dalam materi tersebut Mercedes-Benz selain mengumumkan mereka baru saja meluncurkan The New Generation S-Class. Siapapun tahu, bahwa Mercedes-Benz punya posisi pemimpin pasar kendaraan premium yang tak kunjung terkalahkan sehingga layak disebut sebagai "True Icon of Luxury".

Indonesians Still Love Mercedes: Even More!

Mercedes-Benz Indonesia mengungkapkan prestasi sebagai pemimpin pasar dengan perolehan pangsa pasar 69% dan total unit penjualan 2.022 unit per September 2009! Banyak, ya? Angka itu sebetulnya merupakan kenaikan sebesar 3% dibandingkan dengan nilai penjualan di periode yang sama di tahun lalu dengan total penjualan sebesar 1.972 unit dan pangsa pasar 67.5%.

Mercedes-Benz Indonesia mengatakan bahwa volume pasar kendaraan premium di negara kita akan mengalami kenaikan yang cukup significant selama bulan Oktober - Desember 2009 sebesar 66%. Pertumbuhan pasar kendaraan premium tersebut diperkirakan akan didominasi oleh Mercedes-Benz dengan target akan menutup tahun 2009 dengan pangsa pasar 69% dan total angka penjualan sebesar 2.800 unit.

Keyakinan itu bukanlah angan kosong semata, tetapi telah melalui masa 13 tahun sejak kemunculan Mercedes-Benz S-Class yang pertama di Indonesia. Hingga bulan September 2009, S-Class meninggalkan jauh lawan-lawannya dengan perolehan pangsa pasar sebesar 73.2% dengan angka penjualan sebesar 175 unit. Inilah yang menjadi alasan penyebutan "True Icon of Luxury" bagi Mercedes-Benz S-Class.

Kemudian, menjelang akhir bulan Oktober lalu, dengan mengusung presikat "True Icon Of Luxury", Mercedes-Benz Indonesia memperkenalkan The New Generation S-Class yang diharapkan akan menguatkan posisi Mercedes-Benz S-Class sebagai pemimnpin sejati di kelasnya.

Benz: The Technology Indonesians Love

Mercedes Benz Indonesia - S SaloonTak ada barang mewah yang muncul tanpa memperhatikan detil. Dan the New Generation S-Class unjuk gigi dengan detil teknologi yang mempesona, menyempurnakan fungsinya sebagai sebuah kendaraan mewah.

Kalau meluncur di malam hari, the New Generation S-Class punya fitur yang mengamankan pengendaranya dengan teknologi "night view assist with pedestrian recognition". Teknologi ini memampukan pengendara memberi respon yang sempurna terhadap para pejalan kaki.

Dan the New Generation S-Class punya kemampuan komunikasi dengan pemiliknya berkat penggunaan teknologi yang makin paripurna, lengkap dan imajinatif.
Misalnya, dengan teknologi bluetooth, maka menyalakan lampu di dalam mobil cukup dengan menekan tombol tanpa harus muter-muter mencari tombol yang menempel di dekat lampu. Bukan cuma lampu, bluetooth ini bisa dipergunakan untuk memberikan perintah remote lainnya.

Urutan teknologi yang dipakai pun sudah seperti handphone atau laptop masa kini: "reversing camera for parking guidance", "attention assist", "Splitview Command with new functions, SD card, telephone keypad with handrest, dan ditambah interfaces: iPod, USB, AUX-in, dan lainnya.

Canggih, bukan? Technology!

Di samping desain eksterior yang makin matang, pada bagian pada bagian interior diubah agar semakin membuat nyaman. Seperti pada desain dan struktur tempat duduk, rear seat entertainment package dengan desain baru dan juga ambiance penataan lampu dengan tiga pilihan warna.

Bagaimana harganya? Di dalam materi Mercedes-Benz yang aku punya, disebutkan harga untuk kendaraan yang punya 4 varian ini, yaitu S300L [tanpa Rear Seat Entertainment atau RSE] dengan harga Rp.1.599.000.000,-; S300L [RSE] dengan harga Rp.1.699.000.000,-; S350L dengan harga Rp.1.949.000.000,-, dan S500L dengan harga Rp.2.599.000.000,-.

Mahal? Of course. It's called luxury, darling!

Selain seri S-Class itu, Mercedes-Benz Indonesia juga mengumumkan kehadiran Mercedes-Benz E-Class produksi lokal yang kini secara resmi sudah hadir di Indonesia sejak bulan Agustus 2009 yang lalu. Mercedes-Benz E-Class ini pun telah tampil sebagai pemimpin dengan perolehan pangsa pasar sebesar 79.2% dengan angka penjualan sebesar 798 unit sampai dengan September 2009.

Untuk para pelanggannya, Mercedes-Benz memberikan program ISP (Integrated Service Package) bagi pembeli dari dealer resmi berupa service gratis selama 3 tahun berturut-turut tanpa batasan kilometer. That is also luxury!

Mimpi Indonesia: Makin Jadi Kenyataan

Iptek IndonesiaPamor sukses Jerman - asal Mercedes-Benz - sudah bertahun dibangun oleh kekuatan teknologi dan semangat produksi berkualitas tinggi. Dan Kompas [22 Oktober 2009] mengungkapkan berita bagus bahwa Mercedes-Benz akan menggunakan kandungan lokal Indonesia lebih banyak di dalam sistem produksi mereka.

Kerelaan Mercedes-Benz memperbanyak kandungan lokal di Indonesia punya arti bahwa kita punya kans lebih banyak mengadopsi teknologi unggul dari Jerman. Namun bisa saja, kesempatan ini bisa jadi terlihat karena kita buru-buru mengajukan keberatan lantaran punya pengalaman masa lalu yang tak baik.

Citra kualitas dan kuantitas bidang pendidikan yang rendah misalnya, seperti mengajak kita melupakan mimpi menguasai teknologi, hingga menanjakkan prestasi negeri seperti Jerman. Ini tanda kita perlu memperbaiki sejarah untuk dicatat di masa depan.

Buku "Human capital and economic growth in India, Indonesia, and Japan: a quantitative analysis, 1890-2000" [Bas van Leeuwen] mengungkapkan inteprestasi menarik tentang bagaimana Indonesia dan India bisa diperbandingkan oleh raksaksa teknologi Jepang, dari sisi sejarah. Lihat pada bagian "8. A historical intepretation of hte new growth theories: an overview".

Di situ, van Leeuwen dkk mengungkapkan perhitungan ekonomi sepanjang 110 tahun bahwa Indonesia dan India ternyata kalah strategi dengan Jepang dalam memandang ilmu pengetahuan.

Jepang memandang pendidikan harus membuatnya mampu mengembangkan kreativitas. Sedangkan Indonesia dan India hanya pada taraf "mengerti". Mungkin maksud van Leeuwen dulu kita pernah mengartikan belajar sebagai sekedar kegiatan "menghafal".

Salah satu penyebabnya adalah Indonesia telah lama tidak serta-merta mengharapkan timbal balik perbaikan ekonomi dari kegiatan pendidikan. Juga, ini karena kita [juga India] dibanding Jepang pernah kurang bersabar untuk melihat dampak positif perbaikan ekonomi dari investasi di bidang pendidikan.

Dulu, kita ingin buru-buru melihat orang langsung menjadi kaya raya setelah selesai mengenyam pendidikan. Kita bermimpi bahwa sekolah ibarat celengan semar yang bila diisi bisa langsung dipecahkan dan diambil tabungannya.

Berita bagusnya, menurut van Leeuwen dkk, pada periode menjelang tahun 2000-an perhitungan menujukkan pembangunan manusia Indonesia [baca: terutama pendidikan] sudah makin mendekati Jepang, bahkan melampaui India.  Ketertinggalan Indonesia dalam hal menggunakan modal manusia dibanding Jepang berkisar sekitar 17,99%  saja. Sedangkan India, 29,89%.

Terima Mercedes, Jangan Lambat!

Artinya, dilihat dari potensi manusia sebetulnya daya produktivitas tiap individu di Indonesia sudah makin mendekati Jepang, bahkan sebetulnya melebihi India. Ini adalah berita baik sekaligus tantangan bagi rekan-rekan kita yang ingin menata organisasi kerjanya di sini: you are not dealing with hopeless Indonesian people.

Van Leeuwen bagaimanapun mengingatkan bahwa Indonesia harus mengejar ketertinggalan secepat mungkin, perlu lebih bergairah dalam hal menguasai dan mengembangkan teknologi. Makin berlambat-lambat, tambah banyak aral merintang yang harus dilewati.

Sekarang kita rasanya bisa lebih mampu mengatakan thanks kepada Mercedes Benz. Keinginan mereka menggunakan konten lokal akan membuka kesempatan bagi Indonesia untuk lebih memperkuat pengalaman dalam berproduksi.

Ingat saja, perkembangan dunia sudah semakin mendorong masyarakat negara maju untuk lebih mengekspansikan kegiatan produksi mereka di negara berkembang seperti Indonesia. Demi lapangan kerja generasi mendatang yang sudah tercatat menikmati pendidikan lebih baik, rasanya kita perlu lebih bergairah untuk menerima mitra-mitra asing seperti Mercedes Benz.

Sebab itu, sekali lagi aku perlu katakan: "Indonesia Loves Mercedes-Benz"! :)





*****






Perlu dibaca juga di Cantik Selamanya:






  • In everything, leffiecient means living with much of thanksgiving hearts. Terus, gabung di halaman facebook "Cantik Selamanya", yiuk yaak yiuuuk? ;)
  • Yuk, gabung?


Nov 23, 2009

Mengejar Impian Di Ajang Lomba Perancang Mode

Klik untuk melihat situs Jakarta Fashion Week 2009



Jakarta Fashion Week 2009




"Melihat adalah mengetahui. Mempercayai, tak harus melihat dulu. Kita harus lebih banyak percaya daripada mengunggu melihat." [Dian Manginta, tentang KEYAKINAN BERSAMA]





Walt Disney - Semangat entrepreneur mudaSeandainya Walt Disney [1901 - 1966] jengah dengan usia remajanya yang masih sembilan belas tahun, ia bisa saja kehilangan momentum memulai bisnis animasi. Pada tahun 1920, Disney memulai usahanya - yang berjalan jatuh dan bangun.

Seperti hidup semua orang, Disney pun mengalami kepahitan. Di usia 26, ia pernah dikhianati partner bisnisnya hingga tak hanya kehilangan hak cipta bagi karakter "Oswald the Lucky Rabbit", namun juga ditinggalkan seluruh karyawannya sekaligus.

Setelah kehilangan Oswald dan pegawainya, Disney menciptakan Mickey Mouse, kemudian usahaya tumbuh hingga sekarang [2007] menghasilkan keuntungan lebih dari Rp. 332.500.000.000.000,- per tahun [!] Kalau saja Walt Disney mudah menyerah, maka nasibnya barangkali tak akan jauh dari garis tangan Walter Elias Disney, sang ayah yang hidupnya harus berpindah-pindah mencari nafkah.

Business di Jakarta Fashion Week 09/10

Pada tanggal 14-20 November 2009 yang lalu, femina group -- sebuah kelompok media untuk wanita -- berkolaborasi bersama "Program Enjoy Jakarta" [Pemerintah Daerah DKI Jakarta] menyelenggarakan Jakarta Fashion Week 09/10. Dengan sponsor utama Bank Rakyat Indonesia, acara yang glamour ini diadakan di Pacific Place, mall bergengsi di Jakarta.

Di sini, aku bertemu dengan banyak anak muda yang nampaknya akan menjalani hidup gemilang seperti Walt Disney. Generasi muda ini tidak hanya punya ciri semangat yang serupa, namun mereka sebetulnya juga menggeluti bidang senirupa seperti Disney.

Yang membedakan barangkali sekedar kesan kemewahan dalam industri fashion design, karena seni sebenarnya memang tak bisa masuk dalam kategori produk murahan. Apa pun bentuk seninya. Fashion design adalah ekspresi seni sang desainer.

Fashion design sendiri selain seni juga telah menjadi industri. Ada jalur ekonomi yang harus dilaluinya. Ada biaya-biaya, dan ada keuntungan darinya. Itulah fashion design.

Bisnis yang mengandalkan kreatifitas, bukan saja sang desainer tapi semua orang yang terlibat agar dapat selalu diingat, dikenang oleh masyarakat dan tentu saja akhirnya, dicari. Maka, wajar saja apabila penyelenggara Jakarta Fashion Week 09/10 menetapkan bahwa tujuan utama gelaran seminggu penuh ini adalah menjadi fashion week utama di Indonesia yang diadakan setiap tahun. Maksudnya utuk memberikan arahan dinamika fashion Indonesia dan memeragakan bakat dan kreativitas fashion designer Indonesia.

Ya, kalau ingin berprestasi, kita memang harus menggantungkan harapan kita setinggi bintang di langit sehingga seolah sukar untuk diraih. Seperti Disney dahulu yang pernah jatuh bangun meraih bintang impiannya sendiri.

Lomba Perancang Mode 09

Berbagai acara fashion pun disajikan seminggu penuh, dengan menampilkan pelaku industri fashion dari dalam dan luar negeri, termasuk kegiatan "Lomba Perancang Mode 2009". Kegiatan ini adalah kegiatan tahunan femina group yang telah dilakukan sejak tahun 70-an. Mereka pun bangga menyatakan bahwa melalui kegiatan ini telah ditemukan perancang-perancang fashion yang meramaikan dunia fashion di Indonesia.

Di sinilah aku bertemu banyak perancang muda calon billioner seperti Walt Disney, penggiat industri senirupa di bidang fashion. Ketika menyaksikan peragaan busana para finalis lomba perancang mode itu, semangat untuk tampil menawan pun membakar di dada. Para desainnernya masih muda, namun semuanya punya semangat menakjubkan!

Betapa ekspresi seni para perancang mampu menghasilkan karya-karya indah yang wearable. Wearable memang salah satu persyaratan kali ini. Hasil rancangan yang dilombakan harus dapat dijual.

Alhasil, Pemenang I Lomba Perancang Mode 2009 adalah Vinora Ng, pemenang II Kursien Karzai, dan pemenang III Bethania Agustha Tamsir. Bethania Agustha Tamsir juga beruntung mendapat dukungan para supporter yang menjadikan dirinya sekaligus sebagai pemenang favorite.

Lomba Perancang Mode 2009

 Vinora Ng, Bethania Agustha TamsirSang pemenang favorite menampilkan koleksi yang idenya diperoleh dari gaya punk. Menampilkan sarung yang didisain sedemikian rupa sehingga tidak kalah indah dengan pakaian Scottish. Bethania juga mengatakan bahwa ia bermaksud menjadikan punk sebagai signature dalam karya ciptanya. Perancang muda ini yakin bahwa koleksinya akan disukai bukan saja oleh orang-orang muda seusia dirinya, namun juga mereka yang berusia jauh lebih senior.

Dalam ajang Jakarta Fashion Week ini, selain ada lomba perancang mode, ternyata juga diadakan pemilihan model terbaik dari hasil penilaian selama seminggu gelaran itu berlangsung. Pemenangnya adalah model bernama Diva.

Lalu ada juga model pilihan desainer, yaitu Laura Mulyadi. Sedangkan model pilihan koreografer adalah Dominique. Para fotografer pun mempunyai favorite-nya sendiri, yaitu Laura Basuki. Lalu, model pilihan stylist adalah Kiwi.

Memang, ketiga pemenang Lomba Perancang Mode dan para modelnya kali ini adalah orang-orang muda berusia awal duapuluhan. Ada rasa haru di hatiku ketika mendengar MC mengucapkan kata selamat datang di dunia fashion industry kepada para pemenang. Welcome to the jungle, dears. I wish you'd be as successful as Walt Disney one day!

D-





*****






Perlu dibaca juga di Cantik Selamanya:













Cover photo & detailings: Andry

 

 

Impeachment, Mekanisme Hukum dan Politis [Legal]

Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya




Mekanisme Impeachment & Hukum




"Kepada Tuhan kita beriman. Kepada manusia, kepercayan itu harus dibangun." [Dian Manginta, tentang SALING PERCAYA]





Impeachment - Perlukah?LAMBANG-lambang pemerintahan di Indonesia perlu kita jaga kesempurnaannya, karena melaluinya kita memperoleh kepastian nasib kehidupan sebagai satu bagian masyarakat.

Pemerintahan memberikan tanda kedaulatan, kesamaan hak dengan bangsa lain untuk dapat hidup bebas mencapai cita-cita. Jika suatu masyarakat tidak memiliki pemerintahan itu adalah tanda mereka sebetulnya sedang dijajah oleh kelompok lain.

Ini karena suatu pemerintahan selalu bicara tentang pemeliharaan. Tanpa ada yang memelihara, maka masyarakat akan hidup merana dan menyedihkan.

Take Care Of Your People

Aku percaya, bahwa setiap orang harus mula-mula berupaya memelihara dirinya sendiri - karena tak ada yang mampu perduli kepada orang melebihi rasa perduli bagi dirinya sendiri. Dari menjaga kesehatan tubuh dan jasmani, sampai berjuang mencapai cita-cita, semua harus dimulai dari diri sendiri.

Nasionalisme, keyakinan terhadap bangsa, kemudian adalah yang mengarahkan seluruh upaya menyatukan niat memelihara diri. Dengan nasionalisme, kita saling berikhtiar untuk saling menjaga, menyempurnakan, dan menguatkan agar memperoleh hidup bersama yang selalu menjadi lebih baik [lihat tentang nasionalisme di "Film Harimau Yang Lapar, Fasisme, Dan Nasionalisme Keluarga"].

Kita harus yakin bahwa dengan saling menyatakan manfaat diri maka negara Indonesia akan jadi sangat kuat. Kalau kita tak ingin memelihara bangsa Indonesia, sebaik waktu memelihara diri sendiri, maka masa depan bersama niscaya tak akan cerah.

"Impeachment dan Ikhtiar Hidup Bersama

Dalam hidup bersama, kadang, rasa hati bisa jadi tak sejalan logika. Kita bisa saja setuju dengan keputusan kelompok, namun rasa hati tetap tak sejalan. Namanya manusia, ya 'kan? Namun rasa hati dan pikiran inilah yang selalu menentukkan tindakan kita selanjutnya.

Termasuk sewaktu mendukung suatu pemerintahan. Berbagai opini dukung-mendukung seharusnya bisa diuji, dipertimbangkan, diperhitungkan secara hitam-putih. Dan yang bisa melakukan pertimbangan semacam itu adalah hukum.

Untuk itulah di sini, Meyland SH kembali mengajak kita untuk melihat bagaimana satu momen keputusan mendukung pemerintah - kali ini disebut sebagai impeachment - bisa diwujudkan dalam hukum Indonesia. Supaya kita tahu bagaimana realita yang bisa diwujudkan nantinya di dalam mekanisme impeachment ini.

Aku yakin, bahwa penjelasan Meyland ini bisa memperkaya pengetahuan kita dalam upaya meningkatkan keprimaan kepemerintahan di Indonesia. Sebab memiliki pengetahuan yang baik
adalah cara utama memperbaiki kompetensi, dan akhirnya meningkatkan kualitas cara kita memperlakukan satu sama lain [lihat artikel di Cantik Selamanya "Ketika Atasan Mau "Membunuh" Kita [Riset]"].

Yuk, kita baca catatannya Meyland, SH?




Tata Cara Impeachment [Pemberhentian Presiden] di Indonesia



Klik di sini untuk melihat artikel 'legal'/hukum karya Meyland, SHALASAN memberhentikan Presiden, dalam artikel sebelumnya di Cantik selamanya, sudah pernah kita bahas. Maka dengan demikian kita telah mengetahui bahwa hukum melalui UUD mengatur secara jelas apa saja yang menjadi alasan pemberhentian tersebut.

Kejelasan tersebut penting demi menghindari terjadinya politisasi berlebihan pemberhentian Presiden. Akan tetapi alasan yang jelas dan tegas seperti yang dikumandangkan dalam UUD belum tentu menjamin tidak terjadinya politisasi yang dimaksud.

Dengan demikian, segala ketentuan yang dibahas [disebut "ketentuan materil"] harus juga dilengkapi ketentuan formil. Dengan demikian mekanisme cara penggunaan materi menjadi lebih lengkap dan jelas.

Tata cara pemberhentian Presiden - yang istilah nya sering disebut dengan impeachment - dimuat dalam beragam Undang-Undang [UU]. Segala macam UU tersebut, perlu diingat, harus sesuai dengan isi pasal dalam UUD mengenai hal tersebut.

Ketentuan tersebut beruntun adalah sebagai berikut:

    Hak Mengajukan Pendapat DPR1. Dimulai dari Inisiatif DPR
Bila ada dugaan pelanggaran oleh presiden dan/atau wapres yang memunculkan alasan hukum timbulnya pemberhentian atas diri mereka, maka adalah Dewan Perwakilan Rakyat [DPR] untuk menjalankan hak istimewanya, dalam hal ini Hak Mengajukan Pendapat.

Dalam hal ini rapat paripurna yang mengakomodir hak tersebut, akan sah keputusannya bila dihadiri minimal 2/3 dari jumlah anggota DPR dan disetujui oleh minimal 2/3 jumlah anggota DPR yang hadir dalam rapat paripurna tersebut.

    2. Diperiksa MK
Bila Hak Menyatakan Pendapat tersebut sudah sah dan disetujui oleh minimal 44,44% dari seluruh anggota DPR, maka DPR meminta agar Mahkamah Konstitusi [MK] untuk memeriksa, mengadili, dan memutus perkara tersebut dengan batas maksimum 90 hari setelah lembaga tersebut menerima permintaan DPR.

    3. Putusan MK
MK terdiri dari 9 [sembilan] Hakim Konstitusi. Adapun putusan dalam tiap perkara ada bermacam-macam, antara lain ada putusan yang diterima dengan Dissenting Opinion/Putusan Tak Bulat, di mana putusan tersebut dibuat karena ada sebagian dari 9 Hakim Konstitusi tersebut memiliki pendapat lain.

    4. Putusan Verifikasi MK
Bila MK memutus bahwa benar presiden dan/atau wapres melakukan pelanggaran hukum tersebut , yang sebelumnya kita sebut sebagai alasan hukum pemberhentian presiden dan/atau wakil presiden, maka putusan akan perkara tersebut membenarkan dugaan dari Hak Menyatakan Pendapat DPR.

    5. Usulan Pemberhentian DPR
Putusan MK yang membenarkan pelanggaran hukum oleh presiden dan/atau wapres tersebut kemudian disampaikan ke DPR. DPR kemudian mengubah Hak Menyatakan Pendapat tersebut menjadi Usulan Pemberhentian Presiden dan/atau Wapres, dan mengajukannya kepada Majelis Permusyawarahan Rakyat [MPR]. Di sini, harus kita ketahui bersama bahwa MPR adalah DPR ditambah dengan Dewan Perwakilan Daerah [DPD].

    6. Rapat Paripurna MPR
MPR dengan demikian menyelenggarakan Rapat Paripurna MPR untuk memberhentikan Presiden dan/atau Wapres. Rapat paripurna tersebut sah apabila dihadiri oleh miminal 75% dari jumlah seluruh anggota MPR.

Mengenai jumlah kuorum kehadiran ini, saya punya catatan di bagian berikut.

    7. Penjelasan Presiden
Presiden dan/atau Wapres kemudian dihadirkan dalam Rapat Paripurna MPR tersebut untuk menjelaskan atau memberikan pembelaan diri tentang perkara yang dikenakan padanya.

Pada tahap ini makin jelas bahwa proses impeachment merupakan kegiatan politis. Jadi, dinamikanya sangat bergantung pada berbagai persepsi yang muncul kemudian.

    8. Ketetapan MPR
Setelah mendengarkan penjelasan presiden dan/atau wapres tersebut, barulah MPR mengeluarkan ketetapan. Ketetapan MPR tentang pemberhentian presiden dan/atau wapres baru sah bila disetujui minimal 2/3 dari jumlah anggota MPR yang hadir dalam Rapat Parpurna tersebut.

UU Harus Mematuhi UUD

Di mata saya, ada kontroversi di dalam UU No 27 Tahun 2009 Tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD. Di dalam UU tersebut, ditetapkan aturan lebih rinci tentang tata cara pengajuan Hak Menyatakan Pendapat tentang Pemberhentian Presiden dan/atau Presiden. Undang-undang tersebut disahkan pada 29 Agustus 2009, dan bisa diunduh melalui situs Sekretariat Negara [pdf].

Mengapa? Karena kuorum anggota DPR yang harus dipenuhi dalam hal pengajuan Hak Menyatakan Pendapat melebihi ketentuan yang dimuat dalam UUD. Akan tetapi saya mengabaikan UU tersebut, karena menurut azasnya, ketentuan yang lebih rendah yang bertentangan dengan ketentuan diatasnya, demi hukum menjadi tidak berlaku [UUD 1945 lebih tinggi secara hirarki dari UU].

Demikianlah, demi menjalankan fungsinya sebagai lembaga pengawas, DPR harus bersikap aktif menanggapi hal ini, demikian juga para Hakim Konstitusi untuk memutus perkara ini.

Kesemuanya diatur dalam UUD. Baik UU masing-masing lembaga tinggi Negara tersebut serta peraturan pelaksana di bawahnya adalah baik adanya, yakni menghindari politisasi dan menjamin kekuasaan atas jabatan. Jadi operasionalisasi lembaga-lembaga tersebut akan tetap terikat pada ketentuan dasar yang telah sejak semula kita sepakati bersama.

Setelah Impeachment?



Lalu bagaimana kemudian kepemimpinan negara bila Presiden terbukti melanggar hukum dan akhirnya di impeach? Tentu saja harus ada tindakan hukum untuk mencegah recht-vacuum [kekosongan hukum] berkenaan dengan jabatan Kepresidenan sebagai Pemimpin Pemerintahan dan Kepala Negara.

Untungnya kita punya ketentuan UUD yang sudah mengatur secara preventif tentang hal tersebut.

Pasal 8 Ayat 3 UUD 1945 mengatur bahwa bila hal tersebut terjadi, maka sementara Pimpinan negara dilaksanakan oleh menteri luar negeri, menteri dalam negeri dan menteri pertahanan secara bersama-sama. Dan sebelum 30 hari setelah kosongnya kursi Kepresidenan, MPR menylenggarakan sidang ntuk memilih Presiden dan/atau Wapres dari 2 [dua] calon Presiden dan Wapres yang pada Pemilu sebelumnya meraih suara terbanyak pertama dan kedua.

Masa jabatannya sampai pada berakhirnya masa jabatan presiden dan wapres yang digantikan tersebut.

Maka bagi semua pihak, baik dengan jabatan yang ada padanya maupun kewajiban sebagai warga negara yang baik, sudah sepatutnya mengambil peranan masing-masing demi terpenuhinya kesepakatan bersama itu. Kita harus menegakkan UUD demi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kalau bukan warga negara Indonesia, siapa lagi yang mau mematuhi UUD 1945? (Meyland. S)



*****


Perlu dibaca juga di Cantik Selamanya:







Yuk, gabung?






Cover/ID photo: Tika Sugiyanto

Nov 21, 2009

Film Harimau Yang Lapar, Fasisme, Dan Nasionalisme Keluarga

Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya




Harimau yang Lapar



  • Sutradara: Gary Hayes
  • Narator: Christine Hakim
  • Produksi: PT. Media Desa Indonesia


NASIONALISME, pasti adalah tema favorit rumah produksi PT Media Desa Indonesia. Sebelum memproduksi film "Harimau Yang Lapar", perusahaan ini telah menghasilkan satu judul "Merah Putih".

Film dokumenter ini berisikan garis merah kecukupan pangan di Indonesia. Isinya menguraikan hasil riset dan wawancara mantan jurnalis CNN Indonesia, Dewi Beck [juga bertindak sebagai co-producer], dan didasarkan pada naskah karya penulis terlaris versi New York Times, Rob Allyn.

Internasional-Nasionalis, Anak Muda-Orang Tua

Dari deretan musisi pendukung, muncul nama Patti Smith, makin jelas ada nuansa internasional di dalamnya. Melibatkan jasa Angelo Corrao, produser film dokumenter yang pernah menjadi nominator Piala Oscar. Semuanya melengkapi keterlibatan insan film nasional, seperti sinematografer Yadi Sugandi.

Apalagi, melihat isi film ini yang mengungkapkan harapan tentang ketahanan pangan melalui di antaranya deskripsi tentang bagaimana India yang berhasil menggerakkan "Revolusi Putih", yaitu meluaskan akses masyarakat luas di sana untuk mengkonsumsi susu.

Film jelas punya satu dimensi lain yang perlu diajakan oleh setiap orang tua bagi anaknya, nasionalisme. Semangat yang satu ini tercatat makin mengkhawatirkan percik baranya di kalangan muda. Lantaran, katanya, anak muda kita terlanjur kecewa dengan sejarah di mana rasa cinta tanah air telah menjadi alat propaganda bagi sekelumit orang saja [lihat catatannya di Kompas, 19 November 2009].

Namun nampaknya kesan itu tidak bisa selalu dianggap menjadi milik kalangan muda. Karena tak jarang, pembicaraan tentang "nasionalisme" lantas dirapatkan dengan ungkapan "nasionalisme yang sempit" [lihat contohnya di Kompas, 19 November 2009].

Para ayah dan ibu, orang tua di seantero Indonesia sendiri agaknya harus belajar lebih jauh tentang kapan nasionalisme "sempit" itu dapat berbahaya. Apalagi misalnya, kalau melihat dari Wikipedia, yaitu bahwa arti nasionalisme sangat dekat artinya dengan keyakinan terhadap superioritas negara.

Karena sesungguhnya semangat nasionalisme sempit/berlebihan berwujud fasisme di era lampau, punya makna aktualisasi sejarah jauh berbeda dibanding semangat cinta negara. Di bagian berikut kita akan melihat-lihat buku di Google Books serta, sumber bacaan di Wikipedia, tentang bagaimana seharusnya nasionalisme diwujudkan.



***





ULTRA-NASIONALISME dan fasisme adalah dua saudara kembar. Itulah yang digambarkan dalam buku "Glimpses Of European History (1450-1945) oleh Abha Trivedi, yang bisa dibaca di Google Books.

Situasi Italia yang menyedihkan rakyatnya semasa pasca Perang Dunia I di awal tahun 1919, telah membuat kampanye ultranasionalisme Mussolini sukses besar. Mulailah saat itu dikenal termin "fasisme", paham yang percaya bahwa  suatu negara selalu menghadapi bahaya konflik sehingga harus senantiasa diperkuat untuk menghadapi bahaya perang.

"Fasci" sendiri artinya sekelompok orang. Mussolini di tahun 1919 itu mulai mengumpulkan para penganggur dan barisan veteran yang sakit hati terhadap penguasa negara, dan menamai kelompok tersebut 'Fasci italiani di combattimento' [kurang lebih artinya 'sekelompok orang Italia yang siap perang'].

Idelogi kalangan fasis tersebut mengatakan bahwa tiada yang lebih tinggi daripada negara. Tujuannya adalah memastikan bahwa setiap warganegara mendapatkan kedudukan sama, jadi apapun yang mengancam kedudukan negara harus diberantas, termasuk kalangan swasta.

Fasisme punya satu ciri, yaitu percaya pada kekuasaan eksekutif yang otoriter. Selain di Italia, paham ini pernah populer antara lain di Jerman [Nazi], Jepang, Spanyol, Rumania, dan Kroasia, serta Brazil.

Ada ciri lain dari fasisme, yaitu mengunggulkan satu budaya tertentu saja serta cenderung akan membenci keragaman suku dan ras. Kalangan fasist bisa sangat benci terhadap agama [karena dianggap mengancam kelangsungan negara] atau justru menganggap iman kelompoknya sendiri adalah yang paling benar sembari menyalahkan agama lain.

Pengalaman kolektif masyarakat adalah yang membentuk persepsi semacam ini. Jepang, misalnya, tumbuh ratusan tahun dalam pemerintahan dinasti kaisar yang militeristik dan otoriter. Mereka bahkan mengartikan "harmoni" sebetulnya suatu kondisi yang terjadi manakala setiap warga negara menunaikan kewajiban melayani negeri [lihat: Japan: restless competitor : the pursuit of economic nationalism - karya Malcolm Trevor].

Restorasi Jepang sendiri memiliki ide untuk menyelamatkan seluruh negara agar tak menjadi seperti China yang jatuh ke tangan Barat. Mereka bergerak dengan tiga slogan: Menguasai teknologi Barat dalam semangat Jepang; Memperkaya negara dan memperkuat militer; Mengembangkan industri, dan mempromosikan dunia usaha.

Perkembangan iptek Jepang sangat baik. Sebetulnya pada 1945 ilmuwan mereka yang dipimpin oleh Yoshio Nishino sedang mengembangkan bom atom, sebelum akhirnya laboratoriumnya dibom sekutu. Sebelumnya, Jepang menggunakan bom kimia dan bakteri untuk menaklukkan China. Semua upaya dilakukan demi keselamatan negara, berjalan dalam komando top-down, tanpa ada kesempatan bagi sipil untuk menguasai keadaan.

Pengalaman rasa senasib di antara warga negaranya yang dahulu menggiring Jepang dan negara-negara lain untuk merasa perlu mengamankan diri, mengusir pengaruh ide budaya asing. Melalui sejarah kelahiran fasisme, kita bisa memahami bahwa usaha menghimpun pendapat massa kadang bisa menghasilkan catatan bernada miring di dalam sejarah.

Keterbelakangan dan Komunikasi

OECD atau Organisation for Economic Co-operation and Development, persatuan negara-negara berekenomi maju dunia, pernah mempublikasikan tulisan Angela Liberatore [Dirjen Riset, Komisi Eropa] di dalam buku "Social Sciences for Knowledge and Decision Making". Di sini dikupas tentang bagaimana suatu masyarakat bertanggungjawab untuk menghimpun dan mengelola pendapat dari berbagai kalangan ahli supaya menghasilkan pelbagai solusi masalah dari masyarakat itu sendiri.

Komunikasi heterogen untuk mencapai pelbagai solusi memang biasa terjadi pada masyarakat yang menghargai efesiensi, di mana tumbuh apreasiasi terhadap spesialisasi bidang profesi oleh para anggotanya. Namun tentu saja, suasana psikologis akan memberi banyak warna pada solusi yang disetujui.

Indonesia: The Rise of CapitalContoh bagaimana situasi mental mempengaruhi arah persetujuan bisa dilihat di Indonesia. Di buku "Indonesia, The Rise of Capital", yang menggambarkan bahwa semangat nasionalis di masa awal Presiden Soeharto berkuasa harus beradu dengan kenyataan bahwa Indonesia saat itu belum memiliki cukup banyak modal pengetahuan dan kapital untuk mengelola kekayaan alamnya.

Kondisi rakyat yang amat lemah saat itu yang menjadi titik dilema untuk mendahulukan visi nasionalis atau kapitalis, sampai akhirnya meletuslah demonstrasi Malari 1974 - yang berbuntut kerusuhan massa. Hanya lima hari setelah demonstrasi itu, Pemerintah Orde Baru kemudian menetapkan berbagai peraturan yang pada intinya menguatkan posisi kepemilikan modal semua badan usaha supaya ada di tangan Anak Bangsa.

Pengalaman ketegangan antara kalangan nasionalis dan bisnis itu bagaimanapun telah mendalamkan pondasi alasan bagi Soeharto untuk mengambil alih proses sosial yang seharusnya dikembalikan oleh masyarakat. Setelah peristiwa Malari, Orde Baru menguasai seluruh sendi dinamika masyarakat: dari perguruan tinggi, badan negara, media, ormas, dan lain sebagainya.

Mulai saat itu, bermodalkan eksploitasi kekayaan alam, pinjaman asing dan penanaman modal, Indonesia mengembangkan proyek-proyek pembangunan besar yang nyatanya hanya menguntungkan bagi sekelompok kecil masyarakat. Dibanding negara tetangga - Singapura, Malaysia, Thailand, dan Philippina, pertumbuhan industri kita paling kecil meski punya jumlah penduduk terbesar.

Di mata para penanam modal asing, nyatanya, mitra kerja dalam negeri yang diwajibkan keberadaannya melalui perundangan tidak banyak berguna. Tidak seperti Jepang, dahulu kita tidak membela negara dengan cara menguasai iptek secara paripurna - membangun seluruh rantai produksi utuh - hingga akhirnya produk manufaktur aseli Indonesia jarang yang menguasai pasar.

Demikianlah di Indonesia fasisme pun pernah berjalan dalam rupa yang seolah terbuka dan ramah pada bangsa lain. Namun sesungguhnya, seperti ciri fasisme yang sudah disebutkan di atas, namun keberpihakan di Indonesia pernah hanya berada pada satu kelompok kecil.

Di suatu masa dahulu, orang-orang Indonesia pernah dibiarkan tak terdengar suaranya. Tapi dahulu adalah dahulu. Bukankah kita ingin maju?

Negara Maju: Dialog Antar Warga

Kembali pada buku "Social Sciences for Knowledge and Decision Making" tadi, di artikel "From Science/Policy Interface to Science/Policy/Society Dialoge" kita bisa melihat cermin bagaimana masyarakat negara maju menghadang sikap fasisme.

Negara-negara maju paham bahwa kekuatan manusia dalam negeri mereka harus dikelola. Apapun nama demokrasi yang dianut - terwakilkan, langsung, daerah, pusat - sebisa mungkin harus mengakomodir komunikasi antar elemen masyarakat.

Pemerintah negara maju sadar betul bahwa usaha komunikasi ini artinya adalah mengumpulkan/mengklasifikasikan berbagai isu sekaligus solusinya. Posisi elemen warga negara sebagai bagian masyarakat, ahli, atau kedudukan lainnya, diperhatikan dengan tanpa niat basa-basi.

Masyarakat luas dibina untuk melakukan advokasinya secara kreatif, dan tentunya mampu mengelola komunikasi secara tertulis [terekam dengan sistematis, hingga dapat mengukur segala perkembangan]. Sikap serius tersebut muncul karena pemerintah negara maju sadar betul bahwa kekecewaan sosial bisa membangkitkan daya antipati, memicu semangat fasis di antara elemen masyarakat itu sendiri untuk membela kalangan sendiri.

Sekarang, kita mendapat gambaran bahwa "negara maju" sendiri artinya memiliki masyarakat yang fungsionil, memiliki kedudukan untuk bermanfaat. Bukankah kita ingin bahwa setiap warganegara diperhitungkan nilai fungsinya sebagai kontribusi nyata bagi pembangunan negara? Siapa sih yang ingin dilupakan?



***




"Harimau" dan Orang Tua

SEMANGAT nasionalisme yang ada di film "Harimau Yang Lapar" sebetulnya mengajak kita untuk melihat ke dalam diri sendiri tentang makna fungsi diri bagi bangsa dan negara. Ekspresi ingin kontributif itulah yang disebarluaskan di antara masyarakat negara maju.

Para orang tua seharusnya mengubah pandangan anak-anaknya tentang sejarah kelam fasisme di Indonesia yang sudah terlampau sering dibaurkan dengan makna semangat nasionalisme. Di dalam semangat nasionalisme, selalu ada kebutuhan mewujudkan cara cinta di dalam hati kepada negara dalam berbagai tindakan nyata.

Kesamaan kebutuhan mengekpresikan rasa cinta inilah yang akan menentukan nilai pemerintahan dan berbagai proses sosial lainnya di Indonesia. Baik-buruknya Indonesia, bergantung dari bagaimana setiap orang Indonesia mau menjadi eksis, PeDe dengan hasil karyanya.

Para orang tua sebaiknya mengingat bahwa anak-anak mereka bukanlah mahluk anonim, yang tak punya nama. Suatu saat kelak, anak-anak Indonesia ini pasti ingin agar namanya harum. Sedari sekarang mari arahkan mereka untuk menguatkan diri mau menyatakan hasrat tersebut dalam rupa melayani bangsa.

Kalau begitu, sudah jelas mengapa kita harus menonton "Harimau yang Lapar" yang punya semangat nasionalis? Film ini akan beredar di Indonesia tanggal 07 Januari 2010 di Jakarta.

Kita tunggu ya? ;)



*****



Perlu dibaca juga di Cantik Selamanya:







Yuk, gabung?





Cover photo: re-edited from http://harimauyanglapar.com/.

 

 

Nov 19, 2009

...Bukan Soal Teknik Bercinta [Dari Lelaki]

Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya









"Diciptakan Tuhan laki-laki dan perempuan. Keduanya misteri Tuhan, yang bila saling menghormati, bisa saling menyempurnakan." [Dian Manginta, tentang penghormatan antar laki-laki dan perempuan].





BEBERAPA temanku menceritakan masalah pernikahan mereka. Sepertinya suami-suami mereka bosan dengan mereka dan mulai melirik perempuan lain! Mendengar cerita mereka, aku jadi mengajukan pertanyaan yang sama [padalah aku ngobrol sama mereka masing-masing pada waktu dan di tempat yang berbeda, loh!], yaitu, "were you a boring wife? were you not wild enough in bed?" Umm...

Tiap Kamis, Dian Manginta Bicara CintaOh, ya. Aku pikir seks adalah masalahnya. Mereka itu cantik-cantik, berpendidikan tinggi, rajin beribadah, semuanya baik. Ada yang belum [atau mungkin tidak ingin] punya anak, dan ada juga yang punya anak. Sebagai ibu, mereka bahagia dan bangga dengan keluarga mereka sampai kemudian mereka menemukan bahwa suami mereka selingkuh. Kasihan banget.

Mereka sudah bilang sama aku untuk tidak menulis tentang masalah mereka, jadi aku gak bisa sebutkan lebih jelas kisah mereka. Namun I could sense bahwa masalah utama mereka adalah dengan seks.

Aku memperhatikan bahwa bagi banyak dari kita, nice ladies, memandang seks sebagai kewajiban untuk melayani suami. Selain itu banyak ibu yang terlalu sibuk mengurus anak dan rumah agar terlihat baik bagi semua orang, termasuk bagi sang suami, tapi lupa apa artinya rumah itu sendiri.

Dalam kondisi begini, romance jadi kehilangan arti karena mereka [mmm, aku 'kan masih single, ya, jadi gak bisa ikutan dan menggunakan kata "kita"...]. Karena mereka jadi sibuk dengan urusan rumah tangga.

Saling Percaya[?]

Salah satu temanku menceritakan bahwa awalnya suaminya mulai menolak untuk bercinta dengannya. Yang lainnya menjalani cinta jarak jauh karena sang suami bekerja di luar kota. Dia bilang, "...gimana mau jadi wild, lha dia gak mau aku datang tiba-tiba?" Si suami tercinta mau supaya istrinya buat appointment dulu kalau mau datang berkunjuang... 

Wah, tanda-tanda ada yang gak beres 'kan? Tapi sayangnya temanku itu terlalu naif dengan mengatakan bahwa suami-istri harusnya saling mempercayai. Aku bilang kepadanya, "benar, tapi kita gak bisa mempercayai wanita lain yang dia mungkin sering jumpai saat kamu gak ada.."

Aku share tentang hal ini dengan seorang teman priaku dan kemudian dia menawarkan ide untuk menuliskan pandangannya mengenai hubungan suami-istri. Nah, berikut ini adalah tulisan temanku itu [yang juga gak mau disebut namanya]:

Komunikasi Dalam Bercinta



Dear Dian,

Seperti banyak hal dalam hidup, komunikasi adalah kunci dalam mendapatkan hasil yang terbaik. Hal ini barangkali sangat tepat kalau sudah mengenai seks.

Dalam banyak societies, perempuan percaya bahwa mereka mempunya tugas untuk menyenangkan pasangan pria mereka dalam hal "ini" - seperti juga dalam memasak, membersihkan rumah dan mencuci. Tapi ini tidak benar. Seks itu adalah sesuatu yang dapat dan harus bisa dinikmati oleh kedua pasangan. Dengan kata lain, lelaki memiliki tugas yang sama untuk memuaskan pasangan perempuan mereka sebagaimana halnya yang perempuan.

Komunikasi seks itu gak selalu mudah karena kedua pihak memang bisa merasa malu untuk mendiskusikan persoalan yang sensitif ini, tapi jeleknya adalah kalau gak didiskusikan, seks akan menjadi mundane, boring, and uninteresting. Seks bisa kehilangan daya tariknya.

Yang perempuan mungkin akan merasa bahwa mereka bercinta hanya untuk menyenangkan pasangannya, sedangkan yang lelaki mulai berpikir bahwa mereka perlu menemukan perempuan lain untuk memuaskan kebutuhan seks mereka. Di sinilah saat relationships jadi berantakan. Karena itu sangat penting bahwa seks dalam suatu hubungan itu dijaga agar tetap interesting bagi kedua pihak.

Harus diingat bahwa seks itu bukanlah soal teknik bercinta. Yang paling penting adalah untuk memberikan perhatian pada pasangan. Ini dapat dilakukan dengan memperhatikan saat bernafas, melihat bahwa kekasih adalah mahluk hidup yang indah. Kita akan jadi ingin tahu bahasa tubuh, perkataan yang bersifat mendukung dan sebagainya.

Banyak lelaki berpikir bahwa mereka hebat di ranjang - mungkin karena banyak pengalaman, atau mengambil kesimpulan sendiri dari banyak sumber bacaan. Tapi semua perempuan berbeda, sehingga hal yang satu perempuan suka, mungkin perempuan lain gak suka. Lelaki harus mengerti hal ini dan perempuan harus percaya diri untuk menjelaskan hal itu kepada pasangannya.

Komunikasi

Kalau seorang lelaki tidak memuaskan si perempuan, maka ia dapat merasa very inadequate, rendah diri. Di saat ini, si perempuan lah yang harus menuntunnya dengan lembut.

Misalnya, kalau si lelaki memijit bagian tubuh si perempuan dengan terlalu kasar atau keras, maka si perempuan bisa dengan lembut menyentuh lengan sang lelaki dan meredakannya. Atau memindahkan lengannya ke tempat lain di tubuhnya. Sebaliknya, apabila si perempuan menikmati sentuhan si lelaki, maka si perempuan gak boleh takut-takut untuk encourage him dengan mengatakan how good it feels, atau dengan menyentuh dia juga.

Tuhan menciptakan lelaki dan perempuan berbeda dan ada banyak area pada tubuh kita yang memiliki erogenous zones - zona yang yang memberi kita all great pleasure. What could be better than experiencing these pleasures together with your partner?

Kabar baiknya adalah kita gak perlu jadi ahli seks - you just need to talk to your husband or wife about what you like and what they like. Come on, sex is fun - don't be afraid to start enjoying it






*****




Perlu dibaca juga di Cantik Selamanya:









  • It is not only about winning, it is about giving thanks to God.  And...why don't you gabung di halaman facebook "Cantik Selamanya"? Yiuuuk yaaak yiuuuk? ;)
Yuk, gabung?







Cover photo: wall photo di account facebook seorang rekan. Tika Sugiyanto, our photographer, termasuk yang menyukainya.