Aug 17, 2012

Tentang Indonesia


"Jangan putus asa. Dulu kita ratusan tahun dijajah bangsa asing dan kita bisa keluar dari penjajahan itu. Sekarang pun kita pasti bisa!"



Ngomongin Indonesia.. terus terang aja, ada rasa risih.. bukan.. bukan karena Indnesia jelek atau gimana, gitu.. tetapi karena kalau aku mikirin Indonesia.. terus aku ngomongin Indonesia.. aku kok merasa jadi seperti politician.. you know.. well.. mungkin nanti kamu bisa ngerti kalau sudah baca apa yang aku pikirkan untuk Indonesia.. my lovely country..

Iya, aku risih karena aku kan bukan politician.. lagi pula, kesan tentang politician itu kan kurang bagus, ya.. kayaknya, politician itu adalah people who talk bull to take advantage from their fellow nation.. ha ha ha.. itu sinis.. tapi itu kan yang ada di pikiran banyak orang? Nebak aja, sih.. Tapi aku juga berharap, kok, bahwa gak semua politikus itu begitu.. Semoga memang masih banyak yang betul-betul peduli, peduli seperti gelisah mereka ketika masih jadi mahasiswa.. Peduli dari hati..

Semoga.

Aku sendiri cinta banget sama Indonesia. Sayaaaaang.. banget sama negeri ini.. I adore this nation like nothing else..

Mikirin Indonesia.. kadang mata bisa tiba-tiba jadi basah karena mellow.. Duh, adakah harapan buat negeri ini..?

Aku sering cuma bisa terdiam kalau ngobrol dengan teman-teman yang berkesimpulan bahwa pergi dari negeri ini, merantau ke negeri orang adalah lebih baik. Well, to be honest.. banyak benernya.. Banyak orang yang pingin hidup bener, kerja dengan keringat sendiri, otak sendiri, memberi yang jadi kewajiban, dan menerima yang jadi hak tanpa harus merasa berhutang kepada orang lain, baik hutang budi maupun hutang jasa untuk kehidupan yang dirasakan sekarang dan itu sepertinya agak-agak sukar di sini. Ih, pahit, yaaa?

Tapi gak gitu, lah.. Kita bisa, kok, hidup dengan harga diri di negeri ini. Asal kita mau bersatu, sehati, dan bekerja keras untuk negeri ini. Untuk masa depan generasi penerus kita.. anak-anak maksudnya. Well, think about them! Pikirkanlah anak-anak itu, yang lahir bukan karena kemauan mereka sehingga mereka ikutan jadi warga negeri ini. Mereka berhak untuk kehidupan yang layak. Masa depan yang cerah.

Apa ada harapan untuk mereka? Etdah! Harapan untuk kita juga ada, kok! Kata guruku dulu, di mana ada kemauan, di situ ada jalan.. dan aku sudah lihat banyak orang yang sudah membuktikannya.

Tuhan itu Maha Besar. DIA menciptakan manusia dengan kemampuan untuk membela diri, untuk menyelamatkan diri dari kesulitan. DIA memberi kita - manusia - kemampuan untuk keluar dari masalah kita, walau dengan babak belur sekalipun.

Dan aku selalu percaya pada kekuatan doa.

Jadi.. memikirkan Indonesia, memang bikin aku melankolis. Tapi harapanku besar. Karena bangsa ini besar. Ratusan tahun terjajah. Mungkin dulu nenek moyang kita gak nyadar kalau sedang dijajah. Tauknya, ada orang beda warna kulit yang tiba-tiba jadi penguasa.. Terus, tauknya orang-orang itu punya kemampuan buat menyiksa yang melawan mereka. Bukankah pada masa itu, pemerintahan pun dibangun dari kemampuan sang pemimpin untuk menguasai wilayah? Tetapi luar biasanya, setelah ratusan tahun, bangsa ini malah bersatu dan bikin deklarasi Sumpah Pemuda. Padahal masing-masing aja punya gaya sendiri-sendiri. Bahasa sendiri-sendiri. Ada lautan yang memisahkan banyak pulau-pulaunya. Tetapi itu pemuda tahun 20-an kok bisa-bisanya mikir untuk bersatu?

Lalu banyak cerita perjuangan pemuda masa itu di berbagai daerah yang garang membela harga dirinya sampai ada yang dibuang dari daerahnya. Hingga kemudian, pada tahun 1945, dua orang pemuda nekat berdiri di depan corong membacakan naskah proklamasi. Mereka itu Soekarno dan Hatta. Mereka nekat bikin naskah proklamasi, membacakannya, dan menyiarkannya melalui radio hingga dengan demikian Indonesia resmi menjadi sebuah negara.

Pintar dan berani, bukan? Mereka itu orang Indonesia.

Mereka, dan para pemuda masa itu menghantar bangsa ini kepada kemerdekaannya, kepada harga diri yang selayaknya. Bangsa yang bisa mengurus diri sendiri. Tentu dengan impian lebih lagi. Yakin, aku, mereka bukan cuma mimpi bikin negara.. Tetapi pasti mereka punya keyakinan bahwa kita, sebagai sebuah bangsa, juga mampu berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan bangsa-bangsa lain di dunia ini. Kita mampu menggenggam hari depan kita sendiri karena kita sama manusianya dengan bangsa lain.

Hmmm... do I sound like a politician now? he he he... 

67 tahun setelah Indonesia merdeka, kita sudah sampai sejauh ini. Jangan putus asa. Dulu, kita ratusan tahun dijajah bangsa asing dan kita bisa keluar dari sana. Sekarang pun, apa yang bikin kita susah? Pasti kita bisa lepaskan dan keluar jadi pemenang. Kita pasti bisa bikin negeri ini jadi negeri yang terpandang, dihormati bangsa-bangsa lain. Pasti!

Dirgahayu Republik Indonesia! Masa depanku pasti cerah di negeri ini!

Aug 9, 2012

Peduli Anak Muda



"Anak-anak ada pemilik masa depan negeri ini.. berikan mereka inspirasi untuk berkarya demi hari esok yang lebih baik"



Sudah lebih dari setahun aku bergabung dengan komunitas yang anggotanya seumuran denganku. Ini adalah komunitas alumni SLTA seangkatan tanpa batasan tambahan lain. Satu angkatan alias lulus bareng di tahun yang sama, tahun 1986.

Melihat mereka, kok rasanya jadi lebih realistis ketika aku melihat diriku sendiri.

This is me in my fourties. Melihat mereka dan apa yang mereka raih sebagai cermin hidupku sendiri. Wow! In my age.. ada yang jadi ini.. jadi itu.. tinggal di sana.. tinggal di situ.. punya ini.. punya itu..

Atau, gak punya ini, gak punya itu.. Gak pernah ke sana, gak pernah ke situ.

Sedang berjaya.. sedang terpuruk..

Apapun keadaan mereka, yang aku lihat mereka kaya dengan pengalaman. Tertempa oleh waktu dan masalah. Terbentuk dari kesenangan dan kesusahan yang menghampiri dikehidupan mereka.

Sebagai bagian dari generasi yang sama, tak terlalu sukar bagiku untuk membayangkan bagaimana arah perjalanan hidup mereka - kami, tepatnya - telah membawa satu generasi melalui masa lebih dari 25 tahun sejak meninggalkan dunia remaja di masa SLTA.

Kini, kebanyakan orang dari komunitas ini telah menjadi orang tua. Seperti orang tua dari generasi yang lainnya, generasi angkatan 86 ini pun peduli kepada anak-anaknya. Mereka memikirkan bagaimana membesarkan anak-anak itu, menyiapkan masa depan mereka dan senantiasa mengharapkan kebaikan bagi mereka.

Generasi 80-an juga pernah muda, dan kini telah menjadi dewasa. Mungkin, ketika kita bercermin, pikiran ini terlintas di kepala, "What were we thinking to get us here?" Apa pun yang sekarang terjadi dalam hidup kita, keberhasilan atau pun kegagalan, itulah hidup kita. Bagaimana pun kita tetap berharap agar anak-anak sekarang dapat hidup dengan lebih baik, meraih impian mereka, menjadi diri mereka yang bahagia dan selalu tersenyum di setiap akhir perjuangan mereka, baik menang atau pun kalah. Because life is short!

Cinta untuk anak-anak muda membuat kita berharap agar mereka juga dapat belajar sesuatu dari hidup kita, menjadi inspirasi yang memberikan ide-ide positif dari apapun pencapaian kita. Karena anak-anak muda ini adalah pemilik masa depan kita.