Aug 31, 2009

ASI - Cara Terbaik Mengatasi Mahalnya Harga Susu Formula Untuk Bayi

Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya


Dian Manginta - Cantik Selamanya


"Amazing. Tuhan pelihara hidup kita."



My Friend, Kenny

Kenny Maharani
Aku sedang di pantry kantorku ketika bertemu dengan temanku, Kenny Maharani, yang sedang menyimpan ASI-nya ke dalam freezer kulkas. Aku tanya, “mana mesinnya?” If you know what I mean, itu, loh, peralatan untuk memerah susu ibu.

Kata Kenny dia gak pake alat. Pake tangan aja. Karena ternyata, menurut nasehat dokternya, cara manual begitu justru lebih efektif menghasilkan air susu yang lebih banyak dari pada pake alat.

Kenny lalu membuka freezer di kulkas kantor kami di mana dia menyimpan ASI-nya.

Ada dua botol seukuran botol selai penuh dengan susu yang lumayan kental. Katanya itu lemak; makanan bayinya. Itu adalah hasil memeras ASI menggunakan tangan. Kata Kenny lagi, kalau menggunakan alat, lemaknya keluar lebih sedikit sehingga ASI-nya jadi cair.

Wah, aku kagum banget. Lalu dengan begitu saja dia berbagi pengetahuan yang bagiku sungguh menakjubkan. You know, God has prepared everything for us in order to live well. Tuhanlah yang memelihara kita!

Soal mahalnya susu bayi dewasa ini, misalnya, sebenernya gak masalah kalau ibu-ibu memanfaatkan air susu alami yang ada pada dirinya. Lalu aku teringat bahwa banyak ibu-ibu yang mengeluh tentang sedikitnya susu yang dihasilkannya.

Kenny bilang, menurut dokternya, itu bisa diatasi dengan cara memeras yang benar. Dia bilang, dulu, dia pun punya masalah dengan ASI-nya yang sedikit sampai akhirnya bertemu dengan Dr. Utami Roesli, ahli laktasi di Klinik Laktasi, RS. St. Carolus.

Begitu banyak informasi yang Kenny sampaikan dan aku pikir sangat berguna apabila semua ibu yang menyusui [atau akan menyusui] mengetahui tentang hal ASI ini. Jadi, aku pun meminta kesediaannya untuk berbagi informasi kepada para perempuan berkarir, ibu rumah tangga maupun profesi lainnya.

And she did! Berikut tulisannya:



Ambisiku: 2 (dua) Tahun Beri ASI



Dian Manginta Bicara KarirKetika anakku lahir betapa bahagianya aku. Setelah lahir anakku pun segera diberikan kepadaku untuk melakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD). Walaupun ternyata IMD yang aku lakukan bukanlah IMD yang sempurna.

IMD yang sempurna adalah ketika bayi baru lahir, dia hanya di bersihkan dan langsung diletakkan di dada ibu untuk mencari puting susu ibu. Yah...paling tidak, bayiku tetap bisa merasakan hangatnya tubuhku walaupun tidak sampai satu jam.

Aku memang sudah berniat untuk memberikan ASI full selama 2 tahun untuk anak ku. Pegangan aku dalam mengurus bayi adalah majalah Ayahbunda, yang memberikan banyak sekali pengetahuan bagi para calon ibu ataupun ibu.

Aku tidak terpikir sebelumnya bagaimana cara agar anakku tetap mendapat akan ASI selama 2 tahun. Ketika membaca Ayahbunda, aku terinspirasi artikel tentang ASI [Diary ASI].

Di situ, sang penulis bercerita bahwa pada saat bayinya berumur 5 hari, dia pergi ke Klinik Laktasi [yang ada di RS St. Carolus]. Dari klinik inilah si penulis belajar sangat banyak tentang teknik memeras ASI dengan tangan dan juga menyimpan ASI perah yang benar.

Aku pun pergi ke sana, walaupun agak telat sebenarnya...

Aku pergi ke Klinik Laktasi pada saat anakku berumur 1 bulan kurang, namun aku sudah mulai memerah ASI, belajar dari internet.

Sebelum aku ke klinik, aku konsultasi dengan dokter kandungan, mencari tahu tentang referensinya tentang tempat tersebut. Ternyata, jawabannya menggembirakan. Beliau menjawab "Silahkan datang kesana, dan ketemu sama Dokter Utami Roesli".

Aku pun datang kesana. Jujur aja, aku tidak tau siapa dia, yang terpikir olehku adalah beliau ahli Laktasi yang paling terkenal di RS St.Carolus.

Ketika aku sampai di sana, dan kelas untuk Laktasi pun di mulai, Dokter Utami pun masuk ke dalam ruangan. Pikirku, Waaahhh... Dokternya cantik sekali! Tapi terlihat dari wajahnya kalau dia adalah seorang yang sangat tegas. Belakangan, aku tahu bahwa ternyata beliau adalah dokter yang sangat terkenal. Berarti selama ini akulah yang kurang informasi.

Begitu banyak manfaat yang aku dapat dari Kelas Laktasi ini, hampir 4 jam kelas ini baru selesai[!] Namun setelah menerima begitu banyak penjelasan bagaimana pentingnya ASI, betapa sehatnya ASI, begitu mudahnya ASI untuk diberikan kepada bayi, aku jadi bingung megapa begitu banyak Ibu yang malas ASI-nya. Padahal, air susu ibu yang merupakan karunia Tuhan kepada bayinya?

Aku sangat beruntung, ASI perahku cukup banyak. Aku memerah susu di kantor selama 3 kali, sekali perah bisa mencapai 150 cc. ASI ini supply and demand, semakin banyak dikonsumsi maka akan semakin banyak diproduksi. Jadi tidak ada istilah ASI itu tidak ada atau sedikit.

Sebetulnya, selama di dalam pikiran kita selalu positif dan meyakinkan diri sendiri bahwa "kita bisa menyusui", pasti ASI kita akan selalu berlimpah. Kalau dari awalnya sudah malas menyusui, bagaimana air susu mau keluar? Malah pada akhirnya ASI pun akan kering dengan sendiri nya, karena tidak ada demand.

Trust me..ini yang terjadi pada aku. Aku selalu menancapkan kata-kata di dalam otak "AKU BISA MENYUSUI SELAMA DUA TAHUN" tiap saat memerah ASI di kantor. Aku selalu membayangkan wajah anakku yang sangat bahagia apabila sedang menyusui langsung kepadaku.

Betapa nikmatnya... Bila bisa memeluk bayi kita, mengajak ngobrol, menatap langsung matanya saat dia sedang menyusu. Begitu tidak terhitung segi postif dari menyusui ASI.

Di bawah ini adalah artikel favoritku untuk semua yang ingin mengetahui lebih banyak tentang ASI, dipersembahkan oleh Sentra Laktasi Indonesia. Judulnya "Dahlan Iskan: Susu Sapi Bukan untuk Manusia".

Semoga bermanfaat ya? :)




Perlu dibaca juga di Cantik Selamanya:








Yuk, gabung?


Aug 30, 2009

Legal: Jual-Beli Pulau, Bisa Untuk Asing?

Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya

Dian Manginta - Cantik Selamanya - Legal

Dian Manginta - Cantik SelamanyaAdalah forbes.com yang pernah memberitakan tentang suksesnya pekerjaan Jennifer dan Brian Hew, warga asli Karibia, yang gilang-gemilang mengelola Pulau Kamalame Cay di Bahama sebagai ressort kelas dunia. Ya, pulau ini adalah "pulau pribadi".

Kamalame Cay digambarkan dapat menampung 35 tamu dalam vila dan bungalows yang atapnya terbuat dari rumbia, semuanya ditempatkan dalam taman bunga yang sederhana. Di pulau ini, bahkan tidak ada tempat main golf.

Pasangan ini menyediakan fasilitas yang sebetulnya sangat lumrah, biasa ditemukan dalam ressort di Indonesia. Seperti spa, penyelaman [diving], kolam renang, dan lapangan tenis. Namun majalah Forbes memuji-muji keberhasilan Hews lantaran ketelatenan mengelola rasa privacy para tetamunya di pulau ressort garapan mereka. Di mata dunia, Hews berhasil mengelola pulau di wilayah negaranya sendiri.

Memang, pariwisata selalu bicara usaha mengkomersilkan seluruh aset, termasuk imajinasi para warga penerima turis. Jika warga tersebut senang dengan industri pariwisata, tentu saja seluruh layanan terbaik akan mudah dicurahkan.

Private Islands bukan industri sembarangan, itu kesan yang bisa kita baca dari artikel majalah Forbes "Most Expensive Resorts 2006". Biaya untuk menginap dalam satu malam bisa mencapai $30,000 di salah satu private islands terbaik di dunia. Dikatakan sebagai "industri", karena sebetulnya private islands pastinya tidak selalu bermakna menjual pulau ke seseorang individu. Melainkan juga bicara tentang kreativitas manusia mengelola kekayaan alam dan unsur budaya.

If we don't do, others will!

Potensi Bangsa Indonesia untuk jadi mumpuni di industri penyewaan private islands tentu saja besar. Departemen Kelautan dan Perikanan menyebutkan [2009], sekitar 10.000 pulau masih tak berpenghuni. Selain itu, alam tropis dan budaya kita juga terbukti jadi incaran bangsa asing.

Di artikel '"Jual" Saja Pulau Pribadi Ke WNI! [Ini Kuncinya...]', aku mengungkapkan bahwa salah satu alasan masyarakat global makin berminat mengelola global adalah faktor teknologi. Forbes, di artikelnya "Most Expensive Private Islands 2006" pun menulis hal serupa. Katanya:

"Still, advances in technology have made island living cheaper, more comfortable and less cut-off. You will still pay more to build a house on an island, since materials need to come in by boat, and for traveling you are generally at the mercy of the sea. But solar panels and wind power generators have become more affordable in recent years; so has desalination equipment."


Agaknya, kita harus lebih mau membayangkan diri sebagai bangsa yang paham dengan teknologi ya? Karena jelas, teknologi bisa membantu kita menangkat segala jenis industri, dan akhirnya bisa mengurangi angka kemiskinan di Indonesia. Persis seperti komentar "Ajie" di situs Kompas:

Dian Manginta - Cantik Selamanya

Dari sisi legal, Meyland S.H., seperti biasa akan mengajak kita berpikir realistis tentang landasan hukum untuk bertindak dalam suatu situasi. Kali ini, Meyland akan mengajak untuk melihat apakah pengelolaan pulau bisa diterima secara hukum bila selamanya kita berpikir warisan untuk anak cucu tersebut hanya untuk dijual saja.

Ayo, langsung saja kita simak tulisan Meyland S.H. di kolom legal [khas Cantik Selamanya, terbit baru tiap Senin] berikut ini:




Jual-Beli Pulau Menurut Hukum



Mengerti Hukum Itu PentingKali ini saya mau bahas tentang pulau-pulau kita yang katanya dijual. Kita gak akan bahas kebenaran berita tersebut, tapi mau menggali jawaban pertanyaan: "bagaimana sih hukum negara kita melindungi hak kita yang satu ini?"

Ketentuan yang tercantum dalam Pasal 33 ayat (3) UUD kita menyatakan bahwa negara menguasai tanah, air, dan seluruh kekayaan alamnya dengan pemanfaatan sebesar-besarnya bagi rakyat Indonesia. Nah, untuk pelaksanaanya dibuatlah Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 tentang Pokok-pokok Agraria [UUPA]. Jika ingin membaca naskah lengkapnya, silahkan lihat melalui google-docs di sini.

Dalam UU ini dapat kita lihat bahwa penjualan pulau itu sangat kecil kemungkinannya bila dijual kepada Warga Negara Indonesia (WNI). Selain itu adalah tidak mungkin secara legal menurut hukum bila sebuah pulau dijual kepada Warga Negara Asing [WNA].

Beberapa hal yang jadi dasar konklusi saya di atas bahwa UU membatasi kepemilikan tanah, antara lain:

Pertama, UU membatasi subyek yang memiliki tanah. Hak atas tanah ada bermacam-macam; Antara lain Hak Milik, Hak Guna Bangunan, Hak Pakai, Hak Guna Usaha, dan hak penggunaan tanah derivative lainnya.

Dari semua jenis hak tersebut, hanya Hak Milik yang gak ada batas waktu kepemilikannya. Dan karena kepemilikan tanah di Indonesia adalah milik rakyat Indonesia secara kumulatif [artinya penguasaannya diserahkan kepada Pemerintah demi kepentingan rakyat], maka Hak Atas Tanah tidak dapat diserahkan kepada Warga Negara Asing.

Secara singkat kita bisa melihat bahwa UU melarang kepemilikan Hak Atas Tanah jatuh kepada WNA. Bila hal tersebut terjadi, maka kepemilikan oleh WNA itu batal demi hukum karena bertentangan dengan UU dan dengan seketika tanah tersebut menjadi tanah milik negara. Hal ini jelas diatur dalam Pasal 26 Ayat (2) UUPA.

Yang kedua, UU membatasi luas obyek tanah yang dimiliki. Berarti, kita tidak bisa memiliki tanah seluas-luasnya, sekena hati saja.

Hal ini terdapat dalam Pasal 7 UUPA yang menyatakan bahwa, agar tidak merugikan kepentingan umum maka kepemilikan tanah yang melampaui batas tidak diperkenankan. Maksud hukum ini sebenarnya untuk mencegah terjadinya penelantaran tanah [tidak dikelolanya tanah dengan semestinya].

Perlu kita catat, bahwa “jual-beli” pulau ke WNA yang marak diberitakan sebetulnya tidak lain adalah hak pengelolaan bukan kepemilikan. Ini pun dengan tidak melupakan fakta bahwa bila ada WNI yang hendak membeli sebuah pulau, terlebih dahulu harus mengajukan ijin kepemilikan kepada Pemerintah. Lagi-lagi mengingat kepemilikan Hak Atas Tanah sangat mengutamakan pemanfaatan tanah bagi rakyat Indonesia.

Di negara ini, hukum sudah membatasi hingga akan sulit memiliki pulau hanya untuk sekedar demi sekedar prestige. Namun jelas, pengelolaan pulau selain harus mengendepankan subyek WNI, juga harus memperhatikan kemaslahatan hidup orang banyak.


Di artikel sebelum legal sebelumnya, aku mengatakan bahwa batas kebebasan kita adalah tanggungjawab kita. Rasanya, kita harus mencari tahu batas kebebasan berpendapat kita tentang isu penjualan pulau ini. Adakah kita selama ini sungguh-sungguh berharap bisa melibatkan seluruh warga negara dalam mengelola pulau-pulau warisan di negara ini?


Perlu dibaca juga di Cantik Selamanya:








  • Let us make our archipelago richer: for the benefit of Indonesia's next generation. And, gabung di halaman facebook "Cantik Selamanya", yiuk yak yiuk? ;)
Yuk, gabung?



Aug 29, 2009

Facebook Page Renthyna - Nita, Si Sekretaris


Klik di gambar di atas untuk masuk ke Renthyna's facebook page


Kayaknya, sekarang nggak mungkin kita memilih ngelewatin facebook. Berjuta-juta orang Indonesia sudah jadi member di sana.

Seperti akyu (aku, maksudnya) pernah tulis di "Demam facebook", di situ, kita bisa menemukan temen lama, jelas, dan gak harus pakai cara rumit [kayak twitter, :p]. Pokoknya, lebih banyak alasan yang bikin kita suka facebook dibanding sebaliknya.

Yang aku suka dari facebook adalah inovasinya dengan terus melakukan perbaikan. Selain punya banyak fungsi, dibanding situs pertemanan lainnya, facebook terasa bisa kita kendalikan. Misalnya, tidak harus degdegan, salah pilih orang. Karena facebook menawarkan cara supaya kita bisa menjaga privacy.

Selain itu, facebook juga punya fasilitas bikin "situs" yang interaktif yang bikin pemiliknya bisa langsung berhubungan dengan pemilik account di sana. Kebebasan itulah yang juga membuat "Cantik Selamanya" memutuskan untuk membuat facebook page Renthyna, penulis cerber "Nita, Si Sekretaris".

Be Better di facebook page Renthyna

Di facebook page ini, kita bisa lebih dekat dengan Renthyna. Dapat informasi tentang segala-sesuatu yang berhubungan dengan cerber ini. Kebetulan, ada rencana kalau cerber ini akan dibukukan.

"Nita" sendiri punya jiwa sangat modern. Tokoh-tokohnya sangat dekat dengan kehidupan kita. Di page ini, kita akan sedikit-demi-sedikit, diajak berkelana memahami tokoh-tokoh, cerita utuh "Nita" supaya kita bisa belajar sesuatu dari dalamnya.

Di sini, rencananya kita akan dapat:
  • Reading guide "Nita, Si Sekretaris". Supaya kita tambah deket dengan Nita;
  • Memantau karya Renthyna selanjutnya. Mmm, pasti penasaran 'kan?

Tentu saja, nanti akan ada kegiatan-kegiatan yang membuat semangat modern kita tambah berkembang. Modern yang bagaimana? Ya... mulai dari suka membaca, mengembangkan kreativitas, dan ke-PeDe-an. Biar kita sejajar, dong, dengan budaya seluruh dunia.

Coba aja, gabung di facebook page Renthyna.

Or, baca seluruh seri "Nita, Si Sekretaris" di Cantik Selamanya.

Yuk, yak yuk..?


Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya

Aug 27, 2009

"Jual" Saja Pulau Pribadi Ke WNI! [Ini Kuncinya...]

Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya

Dian Manginta - Cantik Selamanya

"Kalau orang asing sangat tertarik mengelola pulau kita, mengapa warga Indonesia tak diajak supaya punya minat yang sama?"



Ada berita yang sedang hangat: tiga pulau kecil di Kepulauan Mentawai ditawarkan untuk dijual melalui internet di situs bernama privateislandsonline.com. Situs ini memang usahanya memang jualan pulau pribadi.

Berkontemplasi & Beraktivitas Di Akhir MingguAku pernah, loh, berkhayal punya pulau pribadi. Pulau kecil di mana aku akan membangun sebuah sekolah berasrama dengan fasilitas super sehingga orang tua juga confidence dan gak ragu ninggalin anaknya di asrama sekolahku. Keren, 'kali, ya? Ada gymn, kolam renang, teman belajar piano, tempat latihan menari... macem-macem tarian, dong. Semua pelajarnya bisa jago tarian Indonesia maupun tarian luar negeri seperti balet atau flamenco.

Terus, aku juga berkhayal punya satu pulau lagi buat tempat wisata. Buat orang-orang yang pingin cari tempat sepi, bisa dateng ke pulau milikku. Toh, kalau ingin kontak dengan orang di luar pulau, orang tinggal terhubung dengan internet.

Barangkali seperti Pulau Macaroni, Pulau Siloinak, dan Pulau Kandui yang diberitakan sedang ditawarkan untuk dijual itu. Kabarnya, dalam ketiga pulau tadi sudah dibangun fasilitas rumah peristirahatan [resort] oleh pihak asing.

Lalu, aku berkhayal punya satu lagi yang kecil untuk rumah peristirahatanku sendiri. Lha.. aku 'kan punya pulau untuk sebuah sekolah bergengsi dan sebuah pulau tempat wisata yang luar biasa, pasti aku juga mampu membeli sebuah pulau lagi untuk diriku sendiri, dong!

Hmmm... Aku yakin banyak sekali orang Indonesia yang berkhayal punya pulau sendiri. Iya 'kan?

Gengsi Yang Makin Masuk Akal

Lewat artikelnya, "Your Own Private Island", majalah Time mengajarkan kita alasan warga Amerika saat ini makin ingin membeli pulau adalah:
  1. Masih relatih lebih murah - bila dibandingkan dengan nilai jual property jenis lain yang punya pemandangan serupa.
  2. Dukungan teknologi makin menunjang - berkat teknologi pembangkit listrik tenaga matahari, misalnya, berbagai perangkat rumah tangga modern bisa tetap dipakai dalam sebuah pulau terpencil sekalipun.
Dian Manginta - Cantik Selamanya - 270809Di Jakarta yang semakin sempit saja, harga tanah juga kian mahal. Tidak heran orang Jakarta juga akan berpikir, 'mending sekalian beli pulau'. Tambahkan generator untuk listrik, internet untuk connect with the world. Pasti dunia rasanya milik sendiri! Lha iyalah... gak ada tetangganya, 'kan? :)

Jadi.. gimana, mau beli pulau? Hidup di pulau, bukan berarti tinggal terisolir loh... Thanks to technology development.

Kesempatan Entrepreneurship Untuk Warga Indonesia?

Cuma, sih, untuk kasus ketiga pulau di kepulauan Mentawai itu memang agak luar biasa. Soalnya, Pak Gubernur gak tauk siapa yang jual pulau itu. Di MetroTV aku dengar bahwa yang menjual itu berinisial J. Kok bisa, ya, orang jual pulau?

Terus, karena ditawarkan di situs internasional, berarti target pembelinya adalah orang asing. Rasanya, sih, gak boleh. Dan juga janganlah! Lebih baik kita jual pengelolaan pulau-pulau di Indonesia kepada sesama warganegara. Bagaimana caranya?

Dari artikel "Do You Have what it Takes to Own a Private Island?" di situs http://www.privateislandsmag.com/, kita bisa mengintip syarat mental yang dirangkum oleh editor majalah tersebut agar seseorang bisa memiliki dan mengelola sebuah pulau:

  1. Entrepreneurial Drive - Suka berwirausaha;
  2. Independence - Mengelola sebuah pulau berarti harus sanggup hidup di suatu pulau yang terpisah dengan wilayah besar lain, tinggal di sana dalam jangka waktu cukup lama;
  3. Adaptability - Membangun suatu pulau akan memiliki masalahnya sendiri, pastinya perlu mental lentur dan tidak gampang menyerah;
  4. Love of Nature - Percuma saja bila "memiliki" satu pulau namun areanya hancur oleh polusi dari kegiatan penghuninya. Maka seorang "pemilik" harus mengedepankan rasa cinta lingkungan demi bisa menikmati lingkungannya sendiri;
  5. Sense of Adventure - Yang cinta hidup aman ala warga kota, jangan harap mampu mengelola suatu pulau sendiri;

Kalau lima syarat tadi disingkat, maka hasilnya adalah PeDe bukan ;) ?

Rasa-rasanya, sudah saatnya pemerintah kita mengkampanyekan agar lebih banyak warganya yang tertarik mengelola ribuan pulau-pulau di negara Indonesia supaya PeDe bisa melakukannya. Kita ajak warga sendiri untuk membangun dunia pariwisata bagi pulau-pulau yang jumlahnya belasan ribu itu.

Di dalam kampanye tersebut, pasti akan terselip pesan untuk turut menjaga kelestarian alam. So, everybody wins. Sekalian, kampanye "Kelola Pulau" seharusnya bisa jadi ajang kesempatan untuk para ahli teknologi Indonesia bisa menjual produk inovasinya. Seperti disebutkan oleh majalah Time tadi, orang semakin tertarik hidup di suatu pulau karena daya dukungan teknologi yang makin membuat pilihan tersebut dapat diterima akal.

Aku yakin, seperti orang-orang asing yang sudah lakukan di Pulau Macaroni, Pulau Siloinak, dan Pulau Kandui, banyak sekali warga kita yang ingin mengelola satu pulau di negaranya. Sudah sewajarnya kita mengijinkan orang Indonesia mewujudkan mimpinya untuk turut membangun kesejahteraan bersama, bukan?

 

 


Perlu dibaca juga:





  • Do you have a dream to have an island? If yes, then you should pass this article to at least to 10 friends of yours. Gabung di halaman facebook "Cantik Selamanya"...yiuk, yiaak,yiuuuk...
  • Yuk, gabung?



 

 

Revenge, OK?

Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya

Dian Manginta - Cantik Selamanya


"Mengapa dendam harus menggerogoti hidup kita? Lawan saja perasaan itu, and move on with your life."




Aku ingin tanya: Bales dendam alias revenge itu, boleh atau gak, sih?

Jangan lupa, Indonesia itu bangsa yang percaya pada adanya Tuhan sehingga tentu saja kita harus tunduk kepada hak otoritasnya Tuhan. Bukankah pembalasan dendam adalah hak Tuhan?

Aku belum mempelajari semua agama, tapi kalau memakai common sense aja, rasanya semua agama mengajarkan untuk tidak mendendam, melainkan menyerahkan masalah kita pada keadilan Tuhan. Iya, 'kan?

Makanya kita juga menghormati lembaga peradilan. Supaya orang tidak lantas pakai ukuran keadilan seenaknya sendiri.

Tapi, aku sering juga mendengar orang melakukan balas dendam dalam asmara yang tidak melibatkan hukum. Pembalasan dendam itu dilakukan untuk menebus kekecewaan karena perbuatan seseorang mantan kekasih.

Hmm... katanya sayang, kok, balas dendam? Balas dendam 'kan dilakukan agar sang mantan yang telah melukai hati juga merasakan kecewa juga. Eyes for eyes, mata ganti mata.

Balas Sekeras Mungkin!

Tiap Kamis, Dian Manginta Bicara CintaAda seorang temanku yang kecewa karena kekasihnya selingkuh. Anehnya, dia tidak meninggalkan kekasihnya yang telah selingkuh itu, melainkan tetap bersama tetapi dengan hati mendua. Temanku selingkuh juga.

Cuma yang aku perhatikan kalau orang patah hati dan ingin balas dendam, selalu saja dendam itu dilakukan dengan sekeras-kerasnya. Seolah ingin memastikan bahwa sang mantan itu benar-benar terluka. Seolah tindakan balas dendamnya itu gak akan pernah cukup untuk melukai hati sang mantan kekasih.

Aku merasa kasihan kepada si pelaku balas dendam setiap kali mendengar cerita seperti. Rasanya ingin sekali membantu menyembuhkan luka hatinya agar dia berhenti memikirkan betapa sakitnya dan betapa ia ingin membalas perbuatan yang telah melukai hati itu.

Perasaan yang negatif akibat keinginan membalas yang besar itu membuat hidup jadi tak enak. Bathin tersiksa dua kali. Pertama karena dikhianati, kedua karena keinginan untuk melakukan pembalasan itu memahitkan hati. Hati kita jadi pahit. Getir, gitu, loh.

Aku perhatikan bahwa pelaku balas dendam itu biasanya menutupi kesedihannya dengan amarah dan bersikap seolah-olah dia dapat menguasai emosinya. Padahal, hatinya dipenuhi rancangan-rancangan balas dendam. Pokoknya dia harus merasakan sakitnya. Begitu pikirnya.

Yang mengerikan, pelaku balas dendam biasanya mengorbankan hidupnya. Terutama pekerjaan, karirnya. Agaknya, pekerjaan yang merupakan tanda pencapaian tidak lagi dianggap penting lalu kesuksesan pun gak ada artinya lagi. Yang begini ini namanya penghancuran diri sendiri.

Terus Terang: Lebih Baik Dari Dendam

Padahal, terus terang lebih baik dari dendam. Katakan saja sejujurnya bahwa hati terluka.

Sebab ketika kita mengakui kelemahan kita, justru di sanalah kekuatan kita menjadi nyata. Orang yang terluka, bila mengakui sakit hatinya secara terbuka akan lebih mudah melupakan dan terbebas dari kepahitan hati. Tentunya, ia akan lebih tangguh menjalani kehidupannya.

Jadi, kumpulkan keberanian dan katakan saja langsung kepada kekasih yang pernah melukai kita:


"Aku mau kamu tahu, kamu telah membuat hatiku hancur."


Lalu, lanjutkan kehidupan yang fana ini dengan hati gembira. Life is too precious to be wasted.




Perlu dibaca juga di Cantik Selamanya:







Yuk, gabung?


Aug 26, 2009

Cerber Nita Si Sekretaris (12)


KUTIPAN MINGGU LALU:

Rasanya bagaimana, begitu… Suara ribut-ribut itu berasal dari dalam ruangan bosnya yang ada di depan mejanya, tapi, di setiap e-mail yang masuk harus dibacanya dengan teliti, namun… dari dalam ruang kerja si Ibu masih juga mengganggu konsentrasinya dengan ucapan-ucapan bernada tinggi diantara Bu Marsya dan Pak Walker.

Nita akhirnya mengulang lagi pesan e-mail yang disampaikan Sisca:
that the recommendation on the chapter three has been amended by adding some… “NO!” teriak Bu Marsya…

Hhhhh…! Nita membelalakan matanya lagi. Ia mencoba memastikan bahwa ia menangkap dengan baik pesan Sisca tadi..
Baru bergabung? Jangan mulai dari episode ini, baca dulu bagian:




*****


Dian Manginta - Cantik Selamanya



Hhhhh…! Nita membelalakan matanya lagi. Ia mencoba memastikan bahwa ia menangkap dengan baik pesan elektronik dari Sisca tersebut.

Krrrrrrriiiingggggggg!

Telpon Nita berdering. Di layar telpon terlihat nama Ellen.

“Lo denger pada ngomongin apa’an sih?” Kata Ellen seketika Nita mengangkat gagang telponnya. Ia berbicara dengan suara dipelankan seolah-olah takut didengar orang lain. Padahal disampingnya ada Asti yang ikut serius mengamati ‘tragedi’ antara Bu Marsya dan Pak Walker. Sementara Darman tenang saja mengerjakan pekerjaannya sambil sekali-kali ikutan berusaha melihat dari kejauhan ke dalam ruang kerja Bu Marsya ketika ia beranjak dari kursinya.

“Ga kedengeran.” Sahut Nita pendek.

Sebenarnya, Nita juga tidak ingin tahu urusan dan persoalan orang lain sepanjang itu tidak menyangkut tanggung jawab pekerjaannya. Namun, rasanya sukar untuk bersikap secara terus terang seperti itu terhadap beberapa orang yang dikenalnya di tempat kerja ini.

Nita Si SekretarisJadi, Nita memilih untuk diam saja sambil menunggu Ellen melanjutkan apa yang hendak diucapkannya.

“Hmmm…” Suara Ellen terdengar agak bimbang. Memang, Nita dan Ellen duduk tidak berjauhan. Sebenarnya mereka bisa saja berbicara secara langsung tanpa melalui sambungan telpon. Namun, begitulah sikap yang dipilih oleh Ellen.

“Ya udah deh, ntar elo kasih tau gue ya.” Kata Ellen kemudian, lalu menutup telponnya.

“Bilang sama bosnya, sabar, Bu. Gitu…” Kata Darman yang kemudian tertawa sendiri.

Nita sendiri tidak tahu harus bagaimana, kecuali kembali membaca semua e-mail yang masuk, sambil tangannya memegang stapler menggabungkan lembaran-lembaran laporan yang tadi dicetaknya.

Tiba-tiba, pintu ruang kerja Bu Marsya terbuka. Pak Walker berjalan keluar dengan mata sekilas melirik ke arah Nita. Entah bagaimana menggambarkan air muka Pak Walker. Beliau tidak terlihat emosional, tapi juga tidak terlihat senang. Wajahnya terlihat datar-datar saja, tapi juga seperti orang habis marah.

Do a good work, Nita.” Tiba-tiba saja Pak Walker berbicara begitu sambil menepuk dinding partisi meja Nita dan berlalu memasuki ruang kerjanya sendiri.

Seketika saja Nita dapat merasakan wajahnya merah merona… “Ya, Pak.” Sahutnya, mungkin agak terlambat diucapkan.

Nita memang merasa malu. Walaupun, harusnya dia tidak perlu begitu. Tapi, Nita juga merasa tidak enak jika Pak Walker mengatakan itu tadi karena menyangkanya sejak tadi menguping pembicaraan mereka.

Ah, bodo amat. Nita mengumpat dalam hati. Ia buru-buru memasuki ruang kerja Bu Marsya tanpa menunggu sang bos memanggilnya terlebih dahulu.

“Permisi, Bu.” Sapa Nita sopan sambil mengetuk pintu ruang kerja Bu Marsya yang sedang terbuka.

Bu Marsya tidak menoleh sama sekali. Beliau menunduk saja sambil terus membaca laporan yang sedang dipegangnya. Sikapnya yang tenang sambil membaca laporan tersebut sama sekali tidak menunjukkan kondisi seseorang yang barus saja bertengkar.

Tanpa menunggu jawaban dari si bos, Nita segera melangkah masuk dan menaruh beberapa dokumen pada ‘tray-in’ yang ada dipinggir meja. Nita juga memeriksa beberapa dokumen yang ada di ‘tray-out’ dan memeriksanya satu per satu.

“Bu, nanti jam sepuluh Pak Was mau minta ijin mengurus perpanjangan SIM,” kata Nita, berdiri di depan meja dan menantikan jawaban Bu Marsya yang masih juga membaca laporan yang masih ada ditangannya itu, tapi sekarang laporan tersebut malah ditaruh diatas pangkuannya.

“Di jadwal Ibu, hari ini ada meeting dengan Sarah. Jadi, Bu?...” lanjut Nita lagi. Sekarang ia hanya memandangi Bu Marsya. Benar-benar menantikan jawaban beliau.

Bu Marsya seketika melirik ke arah Nita. Dari balik kacamatanya terlihat lirikan matanya tajam mengarah ke Nita.

“Laporan Balikpapan kamu bilang sudah-sudah. Sampai sekarang tidak ada. Apa saja kerjamu dari tadi?!”

Nita terperangah… Selama sepersekian detik ia berdiri kaku karena sama sekali tidak siap dengan reaksi Bu Marsya yang berbicara dengan pedas seperti itu. Dengan cepat, ucapan Bu Marsya ‘apa saja kerjamu dari tadi’ mengusik perasaan Nita. Saya tadi tidak menguping! Teriaknya dalam hati. Pingin rasanya ia membalas tajam tatapan mata si bos.

“Saya taruh di sini, Bu,” jawab Nita, justru dengan intonasi nada yang sangat halus. Dengan sedikit bergetar Nita mengambilkan dokumen yang tadi ditaruhnya di ‘tray-in’ dan diletakkannya di meja sang bos yang hatinya masih panas membara itu. Nita tak dapat menahan getaran tangannya.

“Mbak Yanti setengah jam lagi mau discuss training di Australia, ya, Bu?” Kata Nita lagi sambil melangkah keluar.

“Nggak. Nggak! Saya sibuk.” Sambil pandangan matanya tetap mengarah ke laporan Balikpapan itu, Bu Marsya mengibas-ibaskan tangannya tanda Nita harus cepat-cepat meninggalkan ruang kerjanya.




Bersambung




Baca juga: "Pembacaan Cerber "Nita si Sekretaris" di Radio Cempaka Asri FM!"




Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya


Aug 24, 2009

Kompilasi "Tips Hemat" - Dari Berbagai Media Top

Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya

Dian Manginta-Cantik Selamanya- Karir

"Ingin Hemat? Ini Tipsnya!"



Cantik Selamanya - Hidup HematMenjelang hari raya, kita harus pandai mengelola keuangan. Sayangnya, kadang ide hidup berhemat sulit didapatkan.

Untung kita hidup di jaman internet, informasi dari penjuru bumi gampang dipetik. Di sini, aku mencari ide menarik tentang "Tips Hidup Berhemat" dari media yang menurut situs www.nyjobsource.com merupakan anggota 100 majalah terkuat di Amerika Serikat. Artikel ini sekaligus untuk membayar janjiku di artikel "Uang, Belanja, Nabung" - aku mengatakan akan membahas lebih banyak tentang uang.

Ada lima hal menarik dalam tips hidup hemat yang berhasil kuhimpun. Tentu saja aplikasinya tidak terbatas bagi perempuan yang bekerja di kantor ataupun di rumah sebagai ibu rumah tangga:


1. Mental: Mengakui Punya Masalah Keuangan

Reader's Digest mengingatkan sebelum bisa menata ulang catatan keuangan pribadi, hal terutama adalah membangun pengakuan diri tentang masalah tersebut. Akui saja kita punya masalah keuangan. Setelah jujur terhadap diri sendiri, kita baru bisa mengelola lebih banyak pengetahuan tentang manajemen keuangan.

"Most of us feel intimidated when it comes to money, but the truth is we were never given a proper education about it. You’re not alone."

2. Asumsi Sendiri Tidak Cukup, Cari Nasihat

Dian Manginta Bicara KarirDalam usaha berhemat, orang kerap berpikir, "yang paling murah adalah pilihan terbaik." Situs majalah Homes and Gardens mengingatkan bahwa barang termurah belum tentu adalah yang kita butuhkan. Mintalah nasihat kepada supplier atau penjual tentang barang yang kita butuhkan - semakin banyak nasihat, makin baik. Pilihlah barang murah hanya bila ia sudah cukup memenuhi kebutuhan kita.

"Economics of scale being what they are, home improvement warehouses typically offer the lowest prices .... However, they may not have the selection and quality you find at more specialized sources."

3. Teliti

Soal uang, usahakan untuk jangan biarkan kesalahan orang lain jadi tanggungan kita. Bahkan untuk tagihan pengobatan, majalah Pareting menyarankan untuk mengecek ulang semua bill yang kita terima. Lebih baik teliti daripada menyesal kemudian, bukan?

"Erroneous charges on medical bills are more common than you'd think... Double-check everything."

4. Pergunakan Motto: Hemat Energi Hemat Biaya

Teknologi energi diciptakan untuk melayani manusia, bukan sebaliknya. Namun demikian, kita perlu untuk terus menerus memantau keprimaan perangkat elektronik, air, dan mesin supaya semua teknologi tersebut bisa "melayani" kita dengan prima. Majalah Popular Mechanics mengingatkan bahwa selain membatasi jumlah pemakaian, pemeliharaan alat akan sangat membantu usaha kita untuk berhemat.

"Confirm that your home's water-supply system doesn't have any small, hidden leaks. Turn off all faucets, ice makers, and water softeners, and read the water meter. Don't use any water for two hours, then read the meter again. If the readings don't match, then you've got a leak somewhere. Call a licensed plumber to find and fix the problem."


5. Kreatif [Fokus Pada Keluarga]

Majalah Vogue mencatat penelitian bahwa meski volume penjualan retail berkurang sebanyak 4% sepanjang tahun 2009, pasar lingerie diramalkan akan tetap meningkat. Ini karena banyak keluarga mahfum bahwa dengan terbatasnya anggaran untuk keluar rumah, mereka harus lebih memperhatikan keharmonisan saat bersama keluarga ;).

" As couples stay more at home to save money, more women are tending to invest in adventurous apparel to add spice to their relationships."


Perlu dibaca juga di Cantik Selamanya:







Yuk, gabung?


Kasus Prita Mulyasari, Kritiskah Kita? [Hukum]

Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya


Dian Manginta - Cantik Selamanya

Aku dan teman-teman di facebook baru saja berdiskusi tentang suatu hal yang menyangkut tentang opini publik. Kebetulan isunya sedang hangat, jadi kami saling sahut menyahut.

Kami tidak sedang membicarakan Prita Mulyasari waktu itu, namun soal hal lain. Di tengah-tengah pembicaraan, ada yang menyahut kurang lebih begini: "kritis dong, jangan percaya begitu aja pendapat masyarakat".

Aku tertegun membaca kalimat temanku itu. Sebagai seorang nasionalis, aku sangat percaya bahwa kita harus sebisa mungkin mengutamakan untuk belajar dari bangsa sendiri [lihat artikelku: "Cinta Indonesia: Right Or Wrong, My Country!"]. Kalau tidak bisa belajar dari negara sendiri, bagaimana bisa menggali pengetahuan dari bangsa lain?

Apa sebetulnya Critical Thinking?

Lalu aku mencari input dari Wikipedia tentang berpikir kritis. Di situs ini, aku menemukan artikel "Critical thinking".

Berpikir kritis tidak hanya bicara tentang kemampuan logika, namun juga kemampuan untuk melihat kejelasan sebab musabab, kredibilitas, akurasi/presisi, relevansi, fokus, proporsionalitas, dan juga kedalaman pengetahuan. Jadi, tanpa keinginan mencari tahu lebih dalam, kita tidak bisa berpikir kritis - melainkan cuma mengada-ada.

Di sini, Meyland SH kembali mengajak kita berpikir kritis dengan benar atas suatu isu sosial. Ingat, berpikir kritis hanya bisa dilakukan yaitu disertai dengan pengetahuan cukup. Topiknya tentang Prita Mulyasari.

Di kasus Prita, kita sering mendengar opini publik yang menyerang kalangan tertentu. Namun dengan mencoba menggali pengetahuan lebih mendalam, kita bisa mendapat kesempatan membangun opini yang konstruktif tentang aparat negara. Baik untuk kita, juga bagi mereka.

Guys, jangan sekali-kali untuk percaya bahwa bangsa Indonesia adalah kaum "malang-nian", yang kerjanya tertindas dan terbelakang saja. Kalaupun kita pernah begitu, itu hanya karena waktu itu bangsa kita dipimpin oleh kelompok otoriter yang tidak suka dengan pendidikan.

Sudah waktunya kita bisa berpikir positif dengan negara ini, "right or wrong, my country." Dengan berpikir kritis, dilandasi dengan pengetahuan cukup, pasti kita jadi generasi yang tahu caranya saling percaya satu sama lain.

Yuk, kita baca artikel Meyland?



Melihat Kasus Prita Lebih Jelas [Agar Kebebasannya Tidak Berdiri Di Atas Kesalahan]



Mengerti Hukum Itu PentingKasus Prita Mulya Sari belakangan ini kembali mencuat, dikarenakan dikabulkannya perlawanan ["verzet"] yang diajukan Jaksa Penuntut Umum [JPU]) di Pengadilan Tinggi [PT]. Hal ini kemudian mengakibatkan disidangkan [dilanjutkannya] persidangan atas kasus pecemaran nama baik atas RS Omni tersebut.

Mungkin banyak dari kita yang tidak habis pikir, "Kok udah diputus bebas, malah disidangkan kembali sih? Ada apa sebetulnya?" Malah kalau kita search, ada yang menduga kasus ini penuh dengan suapan.

Ada apa sih, sebetulnya?

Putusan Sela

Nah, putusan terdahulu yang menyatakan bebasnya Prita adalah Putusan Sela. Putusan Sela adalah putusan bersifat sementara yang dibuat dengan waktu yang cukup singkat oleh hakim karena ada dalil hukum yang nyata dapat mengakhiri perkara dengan putusan tersebut.

Putusan sela pada umumnya bicara mengenai kompetensi pengadilan untuk memeriksa dan memutus suatu perkara. Salah satu dari dua kompetensi itu adalah Kompetensi Absolut, di mana sangat jelas bahwa pengadilan tidak berwenang mengadili. Inilah yang semula digunakan oleh Hakim di Pengadilan Negeri untuk mengeluarkan Putusan Sela tersebut.

Untuk masalah Prita, dasar hukum yang digunakan adalah bahwa UU ITE baru berlaku 2 [dua] tahun sejak diundangkan, sehingga kasus ini belum dapat diajukan ke persidangan. Ada kemungkinan ini terjadi karena desakan khalayak atas pembebasan Prita saat itu hingga Hakim salah baca UU. Sebetulnya dalam UU tersebut disebutkan bahwa mulai berlakunya adalah saat diundangkan, jadi kasus ini dapat disidangkan.

Lalu, di sinilah Jaksa Penuntut Umum [JPU] melakukan Perlawanan atas Putusan Sela tersebut dan berakhir dengan Putusan PT membatalkan Putusan Sela serta menyatakan keberwenangan Pengadilan Negeri untuk memeriksa dan mengadili kasus ini.

Saya tidak keberatan melihat hal ini, karena jelas pada Putusan Sela tersebut telah terjadi kesalahpahaman Hakim PN dalam memutus. Tapi bukan berarti saya mengatakan Prita bersalah.

Karena dalam ayat 3 Pasal 310 KUHP tentang Penghinaan dikatakan demikian:
"Tidak merupakan pencemaran atau pencemaran tertulis, jika perbuatan jelas dilakukan demi kepentingan umum atau karena terpaksa untuk membela diri."

Kalimat “demi kepentingan umum” tersebut dapat melepaskan Prita dari jerat hukuman, jika isi emailnya terbukti dan bukan mengada-ada.

(Meyland.S)





Perlu dibaca juga artikel menarik tentang hukum di Cantik Selamanya:







Yuk, gabung?


Aug 21, 2009

Pengaruh Zivanna Letisha Siregar dan Angela Merkel: Karisma Kita

Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya


Dian Manginta - Cantik Selamanya - Semangat!

Adalah Zivanna Letisha Siregar, salah seorang perempuan Indonesia yang telah sekali lagi bertaruh resiko menghadapi pendapat sumbang masyarakat kala ia mengikuti ajang "Miss Universe". Kata Wikipedia, "Miss Universe" tidak lain adalah ajang lomba kecantikan. Jadi, tantangan bagi Zivanna Siregar adalah membuat sesama orang Indonesia yakin bahwa definisi kecantikan yang ia bawakan ke seluruh dunia betul-betul mewakili pendapat saudara sebangsa setanah air.

Tapi, mau tahu apa menurutku yang menjadi tantangan terbesar Zinvanna? Yaitu bila suatu hari nanti, ketika Zinvanna menengok ke belakang ternyata hatinya tidak puas dengan pencapaiannya.

Bukankah kita semua mendapat tantangan yang sama? Ingin menjadi orang yang puas, bahagia dengan semua pencapaiannya, terutama ingin menjadi berguna bagi orang lain?

Adalah Angela Merkel, Kanselir Jerman yang baru saja diangkat oleh Majalah Forbes menjadi perempuan paling berpengaruh - most powerful woman in the world. Ini yang keempat kalinya, lho, Forbes yakin bahwa Angela Merkel sangat mampu menggerakkan mood manusia di seluruh dunia. And the Germans, so Forbes feels, still like her alot.

Sudahkah Angela Merkel sukses? Not quite yet. Kanselir Merkel masih harus menjalani titian karir sebagai politikus sebelum akhirnya kelak para ahli sejarah mengatakan ia sukses.

Dalam ukuran tertentu, Zivanna dan Merkel yang seorang politikus punya satu kesamaan: berjuang dalam opini orang. Dan mereka yang paling mampu mempengaruhi opini masyarakat adalah yang bakal disebut punya karisma.

Karisma Setiap Orang Di Jaman Sekarang

Click Here To Enjoy Your Weekend Karisma jadi pembicaraan masyarakat modern, yaitu kita di zaman sekarang, karena topik ini memberikan harapan bagi setiap orang untuk jadi terpandang. Kalau waktu jaman feodal dulu, potensi seseorang jadi berpengaruh sangat ditentukan oleh garis keturunan. Sekarang, setiap orang bisa mengembangkan potensi diri sebesar mungkin untuk kemudian bisa diakui pengaruhnya bagi masyarakat. Pengakuan itulah yang disebut sebagai karisma.

Tidak harus bagi politikus, setiap orang pastinya ingin kontribusinya diakui. Namun besarnya ketergantungan pada pendapat publik adalah yang membuat profesi menjadi referensi pembelajaran tentang bagaimana pengakuan dari orang lain bisa dikembangkan.

Beberapa waktu lalu, Michael Elliott dari Time Magazine, mengungkapkan tentang tokoh-tokoh masa kini yang punya daya tarik tinggi. Elliott mencurahkan catatan dari JFK hingga Perdana Menteri India Manmohan Singh, bisa menjadi begitu berkarisma.

Catatan Elliott di mataku tentu saja, tidak hanya berguna bagi politicians, namun juga bisa menginspirasi semua orang [you, I, WE]. Dalam catatan rangkumanku sendiri, beginilah tiga hal yang Ellliott berikan tentang mengembangkan karisma di era sekarang:

  • Fokus Pada Masalah Utama
Bila kita tertarik pada masalah kecil, maka kita cuma akan berarti pada hal-hal kecil. Masih ingat 'kan pelajaran sejarah di sekolah tentang Jepang? Jepang tertarik untuk membuktikan bahwa bangsa asia bisa jadi besar sampai-sampai mereka pernah mengalahkan Rusia. Jepang yang punya wilayah kecil [dibanding Indonesia] dari dulu tertarik dengan perkara besar. Sekarang? Tahu sendiri, dong, gimana reputasi Jepang? Bayangkan apa yang terjadi kalau orang Jepang cuma tertarik sama kelemahan mereka - pasti sekarang mereka cemen :p.

Pada contoh politikus, Elliott menggambarkan Kanselir Merkel gak mau ribet dengan kondisi fisiknya yang kelihatan lemah. Namun, jangan salah! Merkel sangat fokus dengan kepemimpinannya. Menurut sumber Elliott yang dekat dengan Angela Merkel, kanselir ini sangat bengis terhadap lawan-lawan politiknya. Do not even to think to cross her.

  • Kenali Lingkungan & Jadilah Taktis
Tentu saja kita tidak boleh jadi egois dengan cara melupakan samasekali semua kelemahan diri. Seperti di artikelku "Mengerti Gosip, Perlu Kedewasaan", mengenali pendapat publik tentang diri sendiri adalah salah tanda kedewasaan.

Seringkali saran yang diberikan untuk mengatasi kelemahan adalah dengan menjadikan titik lemah tersebut menjadi point kekuatan. Well, it is true, but that can be tiring as well.

Menurut aku, yang harus kita lakukan adalah menerima kelemahan diri sebagai tanda sayang dari Tuhan [Ia ingin kita butuh Dia :)]. Namun, cara yang juga tidak kalah berguna dalam mengatasi kelemahan adalah dengan mengembangkan kekuatan, bakat terbaik milik diri sendiri. Dengan mengolah aksi dari bakat Tuhan, orang akan tahu kapan mereka bisa mengharapkan fungsi kita.

Aku percaya, setiap orang pasti diberikan paling tidak satu bakat tertentu. Satu anugerah bakat ini, bahkan bila cuma ada satu buah, cukup jadi sumber rezeki bagi seseorang sampai seumur hidup.

  • Bertanggungjawab
Jangan dikira orang akan dianggap besar bila ia selalu repot memikirkan dirinya sendiri. Jujur saja, kalau kita ingat-ingat, semua tokoh yang dianggap paling besar adalah yang paling setia melayani kepentingan orang lain.

Waktu kita melihat masalah Indonesia sekarang, pastinya kita pun butuh banyak orang mau jadi "besar" di negara ini. Yang tidak takut untuk melihat situasi buruk di sekitarnya sebagai ajang untuk membuktikan bahwa Tuhan telah tepat menganugerahkan suatu bakat bagi dirinya - karena dari bakat itu, ia bisa memberikan kontribusi bagi kebutuhan perbaikan di sekitarnya.

Kata Elliott:


“Leadership means you don't duck when things go wrong.”.

Aug 19, 2009

Are You Ready for A New Love?

Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya

Berikan Cita Ruang Lebih Besar di Hati Kita

"You deserve a better life. Percaya aja."



Kayaknya kebanyakan kita tauk lagu ini:

"... jatuh cinta lagi
lagi lagi kujatuh cinta..."


Kalo' gak salah kutipannya ya seperti itu.

Matta - Jatuh Cinta Lagi - Dian Manginta - Cantik SelamanyaSudah pernah jatuh cinta? Atau sudah jatuh cinta berkali-kali, mungkin? Ha ha ha.

Jatuh cinta itu asik, ya? Apa lagi kalo' pake groggy gitu, tambah seru. Bisa kesel sama diri sendiri, tapi gimana?... Setiap moment rasanya maunya diulang aja biar bisa do better. Padahal kalau diulang, apa memang bisa better?

Nah, kalau yang jatuh cinta sudah matang, biasanya lebih tenang.. Lebih PeDe, soalnya. Jadi, paling-paling memancarkan aura ngarep dot com aja sambil-sambil tetap jaim ;).

Gitu, deh.

Now, the problem is, setelah kehilangan atau kegagalan yang terdahulu, are you ready for a new love?

My Friend's Story, Ditinggal Selamanya Berkali-Kali

Aku punya teman yang kehilangan tunangannya saat mereka sedang break, lagi putus sementara. Biasalah, bertengkar lalu marahan dan ceritanya putus. Nah, di saat break itu, sang tunangan meninggal dan teman aku gak tauk sampai beberapa lama!

Tiap Kamis, Dian Manginta Bicara CintaIbunda sang tunangan memang gak merestui hubungan mereka dan cukup tega untuk gak memberitahu si calon menantu tentang kematian anak lelakinya. Sampai suatu hari temanku itu memutuskan untuk menelpon ke rumahnya mencari kabar dari sang tunangan. Tentu saja, temanku marah, sampai cukup lama.

Waktu itu, yang angkat telepon adalah sang calon mertua. Kabar yang bagaikan halilintar di siang bolong itu cukup membuat shock temanku dan sejak itu dia kehilangan kepercayaan diri. Dia menjadi yakin bahwa dia akan selalu kehilangan cinta.

Ironisnya, tak sekali kejadian ini terulang di kehidupan temanku itu. Ia harus kehilangan orang-orang yang dikasihinya, semua karena kematian.

Cerita itu disampaikannya kepadaku setelah seringnya jalan bareng aku ke mall. Kami jalan karena sebenarnya aku arranged agar bisa berbagi dengannya. Berbagi kisah cintaku sendiri yang awkward, rumit. Biar dia bisa melihat bahwa it is OK to believe in love.

My doing that was just because I was hoping it will touch her and she would tell me her secret - somehow I can sense it was necessary. Bukan mau ngegosip, dong. Tetapi, aku 'kan belajar psikologi dan mengerti apa gunanya curhat. And I love my friends, always want to help when I think I should.

Alhasil, setelah berkali-kali jalan bareng setiap pulang kerja, suatu malam di sebuah food court, temanku itu pun meneteskan air matanya dan menceritakan kisah sedihnya. Ternyata, pada saat itu dia telah tujuh tahun dengan setia mengunjungi makam sang tunangan yang telah almarhum dan tidak berencana untuk menghentikannya. Aku terharu sekali.

Dia menceritakan kekecewaannya tetapi juga keyakinannya bahwa harapan itu ada. Hanya saja, dia gak sanggup melupakan kehilangan di masa lalunya.

Dan begitulah manjurnya curhat. Aku tahu, kalau air mata sudah mengalir, itu tandanya tembok ketakutannya telah runtuh and she wouldn't need me anymore. Air mata itu seperti tanda obat jiwa sudah mengalir.

Kami pun tak lagi jalan bareng karena memang sebenernya it was tough for me anyway. Ini karena aku nyetir sendiri dan arah rumahku yang ke timur gak searah dengan rumah kostnya yang di wilayah selatan, plus jam kerjanya yang berbeda dengan jam kerjaku.

Sakit hati, patah hati,... biasa lah - Dian Manginta, Cantik SelamanyaSelang beberapa waktu kemudian aku bertemu lagi dengannya. Ternyata dia telah memikirkan lebih dalam tentang relationship, and why she need someone. Horay!

Lalu suatu hari dia bertemu dengan seorang pria teman dari satu perusahaan yang kebetulan ditempatkan di lain kota. Si pria sedang berkunjung ke Jakarta dan ternyata - kebetulan lain - tinggal tak jauh dari rumah orang tua temanku itu.

Mereka pun menjadi dekat. Dan suatu hari temanku memutuskan untuk bersembahyang tahajud memohon petunjuk-Nya. Satu tindakan yang orang tidak akan lakukan kalau tidak sungguh-sungguh menginginkan sesuatu yang didoakannya.

Jawaban tiba dan mereka pun menikah. And they live happily together till now. I pray, it will last forever. Seorang teman selalu mendoakan yang terbaik buat kawannya, kan?

Legowo, Lihat Ke Depan

Memasuki a new relationship memang memerlukan hati yang baru. Yang legowo terhadap masa lalu. Legowo itu apa, ya? Maksudku, yang terbuka dalam kelembutan jiwa, menerima apa adanya. Yang mampu meninggalkan yang telah berlalu di belakang, dan menatap masa depan yang penuh harapan.

Teruslah berharap, dan meyakini bahwa you deserve some happiness in this life. Then you are ready for a new relationship.

Percaya dulu, baru dapat. Bukan begitu hukumnya di dunia ini?



Perlu dibaca juga di Cantik Selamanya:







Yuk, gabung?