Aug 21, 2009

Pengaruh Zivanna Letisha Siregar dan Angela Merkel: Karisma Kita

Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya


Dian Manginta - Cantik Selamanya - Semangat!

Adalah Zivanna Letisha Siregar, salah seorang perempuan Indonesia yang telah sekali lagi bertaruh resiko menghadapi pendapat sumbang masyarakat kala ia mengikuti ajang "Miss Universe". Kata Wikipedia, "Miss Universe" tidak lain adalah ajang lomba kecantikan. Jadi, tantangan bagi Zivanna Siregar adalah membuat sesama orang Indonesia yakin bahwa definisi kecantikan yang ia bawakan ke seluruh dunia betul-betul mewakili pendapat saudara sebangsa setanah air.

Tapi, mau tahu apa menurutku yang menjadi tantangan terbesar Zinvanna? Yaitu bila suatu hari nanti, ketika Zinvanna menengok ke belakang ternyata hatinya tidak puas dengan pencapaiannya.

Bukankah kita semua mendapat tantangan yang sama? Ingin menjadi orang yang puas, bahagia dengan semua pencapaiannya, terutama ingin menjadi berguna bagi orang lain?

Adalah Angela Merkel, Kanselir Jerman yang baru saja diangkat oleh Majalah Forbes menjadi perempuan paling berpengaruh - most powerful woman in the world. Ini yang keempat kalinya, lho, Forbes yakin bahwa Angela Merkel sangat mampu menggerakkan mood manusia di seluruh dunia. And the Germans, so Forbes feels, still like her alot.

Sudahkah Angela Merkel sukses? Not quite yet. Kanselir Merkel masih harus menjalani titian karir sebagai politikus sebelum akhirnya kelak para ahli sejarah mengatakan ia sukses.

Dalam ukuran tertentu, Zivanna dan Merkel yang seorang politikus punya satu kesamaan: berjuang dalam opini orang. Dan mereka yang paling mampu mempengaruhi opini masyarakat adalah yang bakal disebut punya karisma.

Karisma Setiap Orang Di Jaman Sekarang

Click Here To Enjoy Your Weekend Karisma jadi pembicaraan masyarakat modern, yaitu kita di zaman sekarang, karena topik ini memberikan harapan bagi setiap orang untuk jadi terpandang. Kalau waktu jaman feodal dulu, potensi seseorang jadi berpengaruh sangat ditentukan oleh garis keturunan. Sekarang, setiap orang bisa mengembangkan potensi diri sebesar mungkin untuk kemudian bisa diakui pengaruhnya bagi masyarakat. Pengakuan itulah yang disebut sebagai karisma.

Tidak harus bagi politikus, setiap orang pastinya ingin kontribusinya diakui. Namun besarnya ketergantungan pada pendapat publik adalah yang membuat profesi menjadi referensi pembelajaran tentang bagaimana pengakuan dari orang lain bisa dikembangkan.

Beberapa waktu lalu, Michael Elliott dari Time Magazine, mengungkapkan tentang tokoh-tokoh masa kini yang punya daya tarik tinggi. Elliott mencurahkan catatan dari JFK hingga Perdana Menteri India Manmohan Singh, bisa menjadi begitu berkarisma.

Catatan Elliott di mataku tentu saja, tidak hanya berguna bagi politicians, namun juga bisa menginspirasi semua orang [you, I, WE]. Dalam catatan rangkumanku sendiri, beginilah tiga hal yang Ellliott berikan tentang mengembangkan karisma di era sekarang:

  • Fokus Pada Masalah Utama
Bila kita tertarik pada masalah kecil, maka kita cuma akan berarti pada hal-hal kecil. Masih ingat 'kan pelajaran sejarah di sekolah tentang Jepang? Jepang tertarik untuk membuktikan bahwa bangsa asia bisa jadi besar sampai-sampai mereka pernah mengalahkan Rusia. Jepang yang punya wilayah kecil [dibanding Indonesia] dari dulu tertarik dengan perkara besar. Sekarang? Tahu sendiri, dong, gimana reputasi Jepang? Bayangkan apa yang terjadi kalau orang Jepang cuma tertarik sama kelemahan mereka - pasti sekarang mereka cemen :p.

Pada contoh politikus, Elliott menggambarkan Kanselir Merkel gak mau ribet dengan kondisi fisiknya yang kelihatan lemah. Namun, jangan salah! Merkel sangat fokus dengan kepemimpinannya. Menurut sumber Elliott yang dekat dengan Angela Merkel, kanselir ini sangat bengis terhadap lawan-lawan politiknya. Do not even to think to cross her.

  • Kenali Lingkungan & Jadilah Taktis
Tentu saja kita tidak boleh jadi egois dengan cara melupakan samasekali semua kelemahan diri. Seperti di artikelku "Mengerti Gosip, Perlu Kedewasaan", mengenali pendapat publik tentang diri sendiri adalah salah tanda kedewasaan.

Seringkali saran yang diberikan untuk mengatasi kelemahan adalah dengan menjadikan titik lemah tersebut menjadi point kekuatan. Well, it is true, but that can be tiring as well.

Menurut aku, yang harus kita lakukan adalah menerima kelemahan diri sebagai tanda sayang dari Tuhan [Ia ingin kita butuh Dia :)]. Namun, cara yang juga tidak kalah berguna dalam mengatasi kelemahan adalah dengan mengembangkan kekuatan, bakat terbaik milik diri sendiri. Dengan mengolah aksi dari bakat Tuhan, orang akan tahu kapan mereka bisa mengharapkan fungsi kita.

Aku percaya, setiap orang pasti diberikan paling tidak satu bakat tertentu. Satu anugerah bakat ini, bahkan bila cuma ada satu buah, cukup jadi sumber rezeki bagi seseorang sampai seumur hidup.

  • Bertanggungjawab
Jangan dikira orang akan dianggap besar bila ia selalu repot memikirkan dirinya sendiri. Jujur saja, kalau kita ingat-ingat, semua tokoh yang dianggap paling besar adalah yang paling setia melayani kepentingan orang lain.

Waktu kita melihat masalah Indonesia sekarang, pastinya kita pun butuh banyak orang mau jadi "besar" di negara ini. Yang tidak takut untuk melihat situasi buruk di sekitarnya sebagai ajang untuk membuktikan bahwa Tuhan telah tepat menganugerahkan suatu bakat bagi dirinya - karena dari bakat itu, ia bisa memberikan kontribusi bagi kebutuhan perbaikan di sekitarnya.

Kata Elliott:


“Leadership means you don't duck when things go wrong.”.