Jul 30, 2009

Pakaian Kerja Professional Oline Siahaan (Wonderful)

Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya

Dian Manginta - Cantik Selamanya

My friend, Oline Siahaan, is a fashion designer. Barusan aku lihat-lihat koleksi premier-nya yang dia pamerkan di facebook groupnya, yang baru dimulai pertengahan bulan Juli 2009 ini.

Yuk, enjoy the weekends...Oline memang baru memutuskan untuk membuat koleksinya itu setelah sebelumnya bergabung bersama ketiga temannya Dita Addlecoat, Mellyun Xing, dan Riyam Soepardi mendirikan boutique Monday To Sunday di daerah Kemang.

Di blog-nya, Oline menuliskan keinginannya memadukan civil engineering and fashion design. I love her ambition. Kata Oline, "a clothing line with a touch of deconstructed detail". Dia ingin membuat pakaian kerja yang appropriate, katanya. Maka jadilah fashion line-nya yang dinamakan menurut namanya sendiri "Oline".

Lihat aja thumbnail pictures desainnya yang aku tampilkan di sini. Keren, ya...?

Tentu saja, karena aku suka, maka aku memutuskan untuk berbagi di Cantik Selamanya. It's just too good to let go. Aku suka dengan harapannya yang dituliskan di blog-nya "I want to ensure that every one who wears it will look chic, smart, modern, upbeat, and dynamic, yet still expose uniqueness of each". Menurut aku, Oline berhasil mewujudkannya, and I highly recommended her design for the ladies... and guys too!

Aku sendiri menyukai kreasi Oline yang wearable tapi tetap modis. Memakai baju Oline bakal gak akan risih karena desainnya yang wajar; gak bikin canggung, namun tetap gak mungkin bisa dibilang "biasa-biasa" aja. It's comfy yet fashionable.
Desain: Oline Siahaan

One of my favorites, klik fotonya untuk melihat versi aslinya di facebook


Nah, kalau mau tahu lebih banyak tentang desainnya, buka aja atau gabung sekalian facebook group-nya, and stay tuned there to see her updates.





    Klik salah satu foto di atas untuk melihat versi besarnya di facebook.



Perlu dibaca juga:





Yuk, gabung?


Jul 28, 2009

Untuk Para Bapak, Jadikan Indonesia Kuat!

Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya

Cantik Selamanya - Dian Manginta


Aku ngobrol dengan seorang temanku, bapak-bapak. Suami orang, punya anak. Artinya, dia memang teman. Halah!

Anyway, aku shared dengan dia mengenai visi aku dengan Cantik Selamanya, dalam hal keluarga. Aku menceritakan impianku tentang keluarga-keluarga di Indonesia yang berbahagia.

Aku bermimpi, suami istri di seluruh Indonesia semuanya adalah pasangan mesra, lengkap dengan anak-anak yang hormat dan mencintai orang tuanya. Senyum selalu di wajah orang Indonesia. Bukan senyum otomatis karena setelan muka orang Indonesia memang pake senyuman. Tetapi senyum yang terpancar dari ketentraman bathin. Tentram karena tahu, semua baik-baik saja.

Aku ingin semua keluarga Indonesia bisa tertawa puas melihat masa depannya.

Kami sempat menyinggung soal perselingkuhan yang aku, sebagai perempuan, tentu memandangnya dari sisi keperempuananku. Bagaimana pun, aku tidak merasa berada pada tempat yang tepat untuk berbicara tentang perselingkuhan dan lelaki, dari sisi lelaki. Yang aku maksud, aku gak akan bisa bilang “lelaki seharusnya begini atau begitu”.

Aku tidak akan membebani diriku dengan suatu ukuran yang aku ukurkan kepada makhluk lain yang aku gak tahu bagaimana caranya mereka bisa hidup. I mean, like people often say, “men are like that!”. Terus kita memandang lelaki sambil dalam hati kita bilang, "gitu, ya?"

Kebutuhan Pria: Menjadikan Istrinya Cuantek

So, that guy friend of mine pun berbagi pandangannya. Dia membagi sarannya kepada ibu-ibu teman di kantornya tentang ketakutan mereka pada perselingkuhan suami. Sarannya sederhana saja. “Kalian kalau di rumah itu ‘kan sukanya pake daster, tokh?” selidiknya “sudah pake daster, gak dandan, rambut asal-asalan... sementara di luar, suami kalian itu bertemu dengan perempuan cantik, berdandan rapih, pakaiannya enak dilihat..”

Kata temanku, dia gak melanjutkan kata-katanya. Ibu-ibu itu langsung mengerti dan senyum-senyum. Mudah-mudahan itu karena mereka mengerti maksud temanku itu dan belajar sesuatu dari pernyataannya itu. I think so.

Aku memang setuju dengan temanku itu. Sebagai perempuan, kita punya kontribusi dalam hidup ini. Dengan menjaga diri, pakaian, perkataan, perbuatan, hati, dan pikiran kita membuktikan bahwa kita telah berusaha sebaik mungkin untuk memberikan kontribusi yang baik bagi kebahagian bersama.

Para bapak tentu punya kontribusi sendiri dan itu pastinya bukan hanya bekerja keras membanting tulang mencari nafkah sesuap berlian demi kemahslatan keluarga. Uang bukan segalanya, Pak. Nafkah bathin itu perlu. Kesehatan mental pun perlu dijaga. Uang banyak tidak berarti tak punya mental tempe.

Maka, apabila in addition to your wife effort as a housewife:
    bersih-bersih, beres-beres, memastikan bahwa pendidikan anak-anak mendapat perhatian yang baik, menu keluarga terjamin kesehatannya, dia juga menambahkannya dengan merapihkan diri, menata rambutnya dengan baik, berpakaian dengan baik, menambah pengetahuan dan wawasannya sehingga dia jadi perempuan yang enak diajak ngomong.

Maka, Anda juga, Bapak, punya kewajiban untuk menjaga kesehatan mental keluarga. Pastikan bahwa Anda pulang dengan mengesampingkan masalah yang masih menggantung dari tempat kerja tadi. Jadilah tenang, agar engkau dapat berpikir waras. Istri juga bakal maklum, kok, kalau dilihat suaminya kok agak lebih “anteng”. Saat sudah relax, baru, deh, share your problem to your wife. Bagus, 'kan?

Janganlah jadi seorang bapak yang kerjanya cuma bikin masalah. Jadilah solusi!

Berjuang, Selagi Diperbolehkan Tuhan

Tentu saja, the trick is, sejak awal niat yang baik sudah didiskusikan. Jangan pernah berpikir bahwa pernikahan itu bisa berakhir di tengah jalan. Walau mungkin saja, tetapi yang negatif seperti itu, tak usah dipikirkan.

Perjuangkanlah hidup. Fight for your love sampai akhir. Sampai it is impossible. Bahkan beyond the impossible, ada Tuhan yang melihat niat baik kita, yang bagi-NYA tidak ada sesuatu yang mustahil. Karena itu, dengan menaruh harapan yang besar pada kemurahan hati-NYA, perjuangkanlah kebahagian keluarga.

Para Bapak, berjuanglah agar jika Anda wafat nanti, semua orang mengingat Anda sebagai orang baik. Conteklah Tuhan. Dia itu baik!

Karena bukankah kita, orang Indonesia, adalah bangsa yang percaya pada keberadaan Tuhan? Its our strength. Karena dengan mengakui adanya Tuhan, kita mengakui ada yang lebih besar dari kita sendiri. Itu adalah cermin kerendahan hati. It is very good.

So that is the point of todays thought. Berjuanglah.

Pertama-tama untuk masa depan keluargamu. Percayalah Tuhan itu ada dan Dia peduli, dan tidak pernah salah perhitungan.

Keluarga itu adalah idenya Tuhan dari awal. Dia yang menciptakan lelaki dan perempuan. Jadi Tuhan pasti gak salah dalam mempersatukan suami istri menjadi keluarga bahkan mengaruniakan anak.

You guys are lucky. Be thankful. Bersyukurlah, sebab siapa bilang Anda layak mendapatkan semua berkat yang sedang Anda nikmati?

Aku tahu, it wouldnt be difficult for Indonesian to be thankful. Asal ingat. Maka jangan lupa, dong, bersyukur. And see... your smile is in your face dari hati yang tulus. Gak ada beban.

Aku percaya, suatu hari, mimpi ini jadi kenyataan, ketika keluarga-keluarga di Indonesia hidup rukun dan damai. Saling menyayangi, rendah hati, saling menghormati sesama keluarga. If you can do that in your home, you can do that in your community.

Dan begitulah caranya sebuah bangsa menjadi kuat. Anda, berani dong, ikut menjadikan Indonesia kuat?


Perlu dibaca juga:





  • You guys will look more interesting if you don't spend all of your time saying, "I am not good enough". Gabung di halaman facebook "Cantik Selamanya"... Ayok!...
Yuk, gabung?


Cerber Nita Si Sekretaris (8)

KUTIPAN MINGGU LALU:

“This documents are still rough, so please give it to her after you make it up. I’ve sent the soft copy thru your e-mail.”

“Okay.” Jawab Nita dengan wajah sebal. “I’ll do it after I finish with Vero. She’s an urgent matter to do.”

“No. No. No. This is very very very urgent. Bu Marsya needs this as soon as possible. Okay?” Sekarang mata David mulai menjadi tajam juga hampir-hampir mirip dengan tingkah Vero barusan padanya.

“But, look.” Nita menunjukkan setumpuk dokumen di tangannya. “This is from Ibu’s office. I’ve to talk with Usep to handle some photo copy and distribution.” Kata Nita dengan tegas. Kalau dengan Andy, Nita merasa lebih percaya diri untuk sedikit berkonfrontasi. Lagi pula, ketika Andy terlihat sedikit bingung, Nita berani mengambil tindakan dengan terus melangkah mencari si Usep yang ternyata sudah sibuk foto kopi dokumen-dokumen lain.
Baru bergabung? Jangan mulai dari episode ini, baca dulu bagian:


*****


www.cantikselamanya.com - Terbaik Buat Indonesia

Bu Marsya membalas sapaan Nita dengan senyum dan seperti biasa – setiap pagi sebelum mengatakan sepatah katapun – beliau pasti memandangi Nita dari bawah ke atas. Tapi, Nita sudah biasa dengan cara si bos memandangi dirinya itu – bos itu sudah setahun lebih menjadi atasannya.

“Saya sudah siapkan tele-conference dengan kantor Denpasar dan Singapur untuk jam sepuluh nanti ya, Bu...?” kata Nita tanpa ditanya terlebih dahulu.

“Mana laporan finalnya? Bilang ke Sisca,” jawab beliau singkat lalu terus membalik-balik halaman majalah tersebut.

“Baik, Bu,” sahut Nita sopan. “Apa Ibu masih mau meeting soal Palembang dengan Pak Walker dan Andy Smith?” lanjutnya.

“Andy katanya mau kasih juga laporannya? Mana? Saya sudah tunggu dari kemarin.”

“Iya, Bu. Saya rapihin dulu. Saya baru terima barusan dari Andy,” kata Nita lalu segera cepat-cepat kembali ke mejanya untuk membereskan laporan Andy Smith yang ditunggu-tunggu atasannya itu. Namun sebelumnya ia mengambil sebuah dokumen yang sudah ditaruh oleh Bu Marsya di trayout’nya.

Sesaat Nita mendengar suara telpon berdering di ruangan Bu Marsya. Bu Marsya tidak mengangkat gagang telponnya dan hanya menekan tombol speaker. Jadilah Nita dapat mendengar siapa yang menelpon itu.

“Mbak, aku ada perlu urgent sama Nita, Mbak,” kata Vero di speaker telponnya Bu Marsya!

Begitu mendengar suara Vero yang lagi-lagi menyebut-nyebut namanya, kepala Nita langsung terasa penuh dan panas. Apalagi, saat itu suara Vero terdengar agak memelas dan minta dikasihani.

“Ya. Ya. Panggil aja dia, sana,” begitulah ucapan Bu Marsya yang terdengar dari tempat Nita menjawab telpon Vero.

Dan, sedetik kemudiaaan…

Krrrrrrrriiiinnnngggg!

Telpon Nita berdering. Di layar pesawat telpon muncul nama Vero!

Nita terbelalak. Oh, gitu ya! Gerutunya dalam hati. Dia pake perkenanan Bu Marsya dulu supaya bisa ngerjain gue!

“Yah?!” Nita menjawab telpon dari Vero. Sama sekali tidak terdengar ramah, apalagi dahinya terlihat dikerutkan.

Namun, untungnya dia bicara dengan nada seperti itu dengan kata yang sangat singkat, karena ucapannya tersebut telah tenggelam dengan kata-kata Vero yang panjang, cepat, merembet seperti api terkena bensin. “Kamu dah dengar dengan jelas kan saya tadi bilang apa sama kamu?!” kata Vero dengan tidak sabaran menyambung kalimat berikutnya ”saya bilang kan perjalanan saya itu urgent! Kamu tahu, VISA saya belum diurus, belum tau saya mau nginep di mana. Dan sekarang, sudah hampir sejam yang lalu saya baik-baik datang dan bicara sama, tapi kamu masih juga mengulur-ulur waktu ngurusin ini! KAMU BISA KERJA, APA NGGAK, SIH?!”

“Mbak, saya sedang nanya ke travel agent jadwal semua maskapai penerbangan untuk Jakarta Melbourne minggu depan,” kata Nita dengan hati sedikit ciut.

Bagi Nita, si Vero ini memang tidak punya rasa malu untuk menjaga kesabarannya. Sepertinya Vero menikmati betul marah-marah padanya. Kenapa ke Tasya tidak pernah terdengar ada kisah yang seru ya?

Zzzzzzzzz zzzzzz zzzzz

Telepon selular Nita bergetar. Dia melihat nama pengirimnya adalah Wiguna!

Ah, dia lagi, dia lagi! Keluh Nita sedang bete.

Dia meletakkan telpon tersebut dan tidak membaca isi pesan di dalamnya karena mau cepat-cepat memeriksa semua e-mail yang masuk. Terutama yang datang dari Andy Smith.

“Pagi, Mbak Nita,” tiba-tiba seorang pria muda menyapanya sedang berdiri di balik partisinya. Nita hanya bengong memandanginya. Apa lagi sih?

“Mbak, saya Bagus Kusumo dari lantai empat,” katanya dengan senyum ramah sambil mengulurkan tangan.

“Yah?” Masih dengan terbengong-bengong Nita membalas uluran tangannya.

“Mbak 'kan mau kasih laporan Palembangnya Andy Smith ke Ibu Marsya ya?” si Bagus mulai menunjukkan setumpukan dokumen ke meja Nita. “Ini nanti dilampirkan di belakang presentasi yang sudah dikirim Andy barusan ya, Mbak?”

“Presentasi? Dia tadi ga bilang presentasi,” Nita jadi heran dan melihat lagi dokumen yang tadi diberikan Andy. Oh, ternyata betul. Ia pikir tadi Andy hanya minta diganti beberapa coretan di dokumen yang tadi diserahkannya.

“Nah, iya, betul yang ini,” kata orang tersebut lebih mendekat dan mengulurkan tangannya untuk melihat-lihat dan membalik-balikkan halaman dokumen tersebut. Gerakannya tadi kelihatan gemulai walaupun dari sejak pertama berbicara tadi Nita hanya memperhatikan bahwa tutur katanya amat lembut bagi seorang karyawan pria.

Si Bagus mengamat-amati lembar per lembar dan mengganti beberapa halaman yang tadi diberikan oleh Andy dengan lembar-lembar kertas presentasi yang dibawanya.

Dia melakukannya dengan sangat lembut, perlahan, dan gemulai.

Tapi, Nita malah jadi gelisah. Jantungnya serasa berdetak amat keras dan badannya terasa menjadi dingin.

Dia ingat wajah Vero. Dia harus menemui Vero secepat mungkin! Hhhhhh… Pasti dia udah suntuk banget ama gue nih sekarang.

Nita Si Sekretaris“Sebentar ya, Mbak,” kata Bagus dengan senyum yang juga lembut. Dia nampaknya seorang yang perasa.

“Saya harus ke ruangannya Vero nih sekarang,” jawab Nita terus terang.

Tidak disangka, Bagus tiba-tiba menoleh dan membelalakan matanya, “ketemu Mbak Vero, ya Mbak?” Dia malah bertanya dengan wajah terkejut.

“Iya, dia dah nyari saya dari tadi.”

“Kalo gitu, yang ini saya ganti dulu. Habis itu, saya kembali ke Mbak lagi, boleh, Mbak?” Kata Bagus baik hati.

Nita merasa lega. Si Bagus melangkah pergi.

“Mbak, saya balik setengah jam lagi, boleh?” katanya sebelum berjalan jauh.

Nita mengangguk-ngangguk dan buru-buru mengetik e-mail ke travel agent untuk jadwal perjalanan rute Jakarta-Melbourne minggu depan. Di kepalanya memang sudah ada rencana untuk menanyakan jadwal perjalanan itu ke travel agent, tapi sebelum melakukan apa-apa untuk Vero, ia malah sudah menelpon Nita lagi. Jadi, setelah mengklik ‘send’, ia buru-buru mengambil kertas dan pulpen sambil berlari ke ruangan si orang paling sangar itu.

Tapi, sebelum mencapai ruangan Nita, ia baru ingat untuk mencari Sisca dulu! Aduh! Sisca dicari Ibu!

Nita berlari-lari lagi menuju mejanya. Daaaaannn… bruk! Dia menubruk Pak Walker yang baru muncul dari pintu samping.

Sorry, Pak. Sorry, Pak,” Nita cepat-cepat minta maaf.

Its okay,” untungnya Pak Walker menjawab dengan tersenyum dan menepuk pundak Nita, ”Go and finish your task, good girl,” katanya.

Nita tersenyum dan cepat-cepat menelpon nomor telpon extension Sisca.

Tut tut tut tut tut tut… Nada sambungannya sibuk. Jadi, Nita cepat-cepat mengirimkan email ke Sisca: Bu Sisca, Ibu meminta laporan buat teleconference jam 10 pagi ini. URGENT. Lalu, setelah klik ‘send’, ia kembali berlari-lari menuju ruangan Vero.

Di dalam ruangan ada Edward dan Yanti di ruang kerja Vero. Edward terlihat duduk santai di kursi yang diletakkan di depan meja Vero, sementara Yanti duduk di atas credenza yang terletak di samping meja kerja Vero. Edward dan Yanti kelihatannya sangat cocok satu sama lain. Mereka kelihatan sangat santai dan sering ada bersama-sama. Dan sekarang, mereka sedang tertawa-tawa entah hal lucu apa yang sedang dibahas di situ.

“Bajunya jadi basah semua!” kata Edward sambil tertawa dengan suara keras disambut dengan tawa terpingkal-pingkal Yanti dan Vero.

Nita jadi agak merasa kikuk memasuki ruang kerja Vero.

“Permisi,” sapa Nita pada semua orang yang ada di ruangan tersebut. Tapi, mereka tiba-tiba malah jadi terdiam ketika mendengar sapaan Nita.

“Ya, Nita. Masuk,” kata Vero dengan lunak. Mungkin suasana hatinya sedang nyaman karena baru disajikan sebuah cerita humor dari Edward dan Yanti.

Edward segera berdiri dari tempat duduknya, namun Yanti tetap tidak bergerak dari credenza tersebut.

“Oke, aku ke tempatnya Pak Dodi dulu ya, Mbak,” kata Edward bergegas meninggalkan ruangan. Tapi Yanti tidak bergeming dari tempatnya. Sambil tetap duduk di situ, ia melipat tangannya, dan malah memandangi Nita dari bawah ke atas.

Sesaat ketika Nita melangkahkan kaki memasuki ruang kerja Vero, Yanti dan Vero saling berpandangan. Entah apa yang ada di pikiran mereka, tapi Nita jadi merasa tidak nyaman dengan tingkah laku semua orang yang ada di ruangan tersebut.

Yah, harus gimana lagi? Hhhhhh… Biarpun suasananya seperti ini, ya, pekerjaan harus diselesaikan. Maka iapun melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut walaupun dengan perasaan sangat kikuk.

Dengan gerakan perlahan dan sangat hati-hati, Nitapun mulai mencatat semua keinginan Vero untuk semua urusan perjalanannya ke Australia. Sementara di atas credenza itu, Yanti tanpa merasa risih sedikitpun ia tetap duduk nyaman di situ. Dengan tetap mengawasi pembicaraan Nita dan Vero.

Heran, kenapa ya, kalau dengan Nita, Vero galaaaak banget, tapi Yanti kok bisa seenaknya saja duduk-duduk disitu?

Mungkin si Vero ini yang punya kepribadian ganda… Soalnya, dia itu kalau di depan Bu Marsya bisa lemah gemulai, dan kalau bicara dengan Yanti selalu terlihat klop. Nita hanya menganalisa sendiri di dalam hati.

Tapi, tanpa komentar apapun dia mendengarkan saja apa yang Vero katakan. Baik itu mengenai hotelnya yang harus double bed, non smoking room, dan sekaligus juga lokasi hotel tersebut harus dekat dengan kantor cabang disana.

Oh, kesana untuk training… Nita bergumam di dalam hati.

Tidak lupa, Vero juga menegaskan bahwa dia menginginkan perjalanan yang tidak terlalu siang tapi tidak terlalu pagi. Tapi ia juga tidak mau tiba di airport xxxx Melbourne terlalu malam. Selain urusan visa, ia juga meminta supaya Nita juga mengurus biaya-biaya pembayaran pajak bandara, transportasi selama di Melbourne, makan, uang saku, dan semua-semuanya yang ia sebutkan.

Sebetulnya, saat sedang mencatat semua ucapan panjang lebar Vero, Nita merasa lega karena ternyata Vero akan berada di Melbourne lumayan lama. 5 hari kerja!

Cihuiii…!

Rasanya ia ingin sekali melompat-lompat ketika meninggalkan ruang kerja Vero. Namun semua perasaan gembiranya tersebut ditahannya saja di dalam hati.

Apalagi, belum sempat ia meluapkan rasa gembiranya, dari ujung jalan sudah terlihat si Bagus sudah berdiri menantikannya di pinggir partisi meja Nita,.

Oh iya, aduh! Bahan presentasinya mau dipakai Bu Marsya!

Walaupun hatinya sedang gembira, ia kembali buru-buru mengurus persiapan bahan meeting untuk si boss yang akan berjalan hampir satu jam lagi. Nita juga masih memastikan dokumen yang harusnya sudah diserahkan Sisca.

Apalagi nanti siang Bu Marsya akan kedatangan beberapa tamu dari luar perusahaan, Nita juga harus memastikan ruang meeting betul-betul dapat dipakai untuk kepentingan meeting Bu Marsya.

Sepertinya nampak di wajah Nita sedang berbicara sambil tersenyum di telpon dengan travel agent ketika mengurus perjalanan Vero. Ia juga tampak terlihat senang ketika mengurus ke bagian keuangan dan SDM untuk semua urusan terkait dengan perjalanan si bos yang bukan bosnya. Ia juga tidak ingat lagi kalau semua itu seharusnya dikerjakan Tasya.



Bersambung



Baca juga: "Pembacaan Cerber "Nita si Sekretaris" di Radio Cempaka Asri FM!"




Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya


Jul 27, 2009

Daster Ibuk-Ibuk

Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya

Penampilan Terbaik, Lambang Harga Diri
Aku pernah punya daster batik yang, you know, lembut bahannya, nyaman sekali di-pake buat tidur dan bermalas-malasan di rumah. Saking nyamannya, aku suka sekali mengenakan daster batikku itu kalau di rumah.

Dasternya panjang sampe ke mata kaki, sehingga aku bisa bebas duduk seenak aku tanpa harus duduk manis. Soalnya, orangtuaku cukup bawel kalau aku duduknya "kurang manis" alias paha terpampang ke mana-mana. Walau di dalam rumah sendiri dan gak ada tamu di rumah. Biasanya, ayahku akan membisikkan complain-nya kepada ibuku. Itu memang kebiasaan beliau. Gak pernah complain langsung, bikin anak-anaknya down.

Ibuku akan diam-diam mendekati aku dan menarik rok aku. Makanya aku lebih suka pake celana pendek atau... daster long dress dari batik. Model potongannya juga aman. Selain panjang, lengannya bermodel lengan kelelawar. Karena lengan kelelawar, ketika tepi daster itu mulai sobek, lubangnya akan tertutup sayap kelelawarnya.

Tauk, 'kan, daster batik and how it is kalau sobek... gak bisa disambung lagi.. so mulanya sobek sedikit, lama-lama jadi sobek banget. Dan pinggang aku mulai keliatan. Tapi aku pikir tertutup sayap kelelawarnya jadi aku cuek aja. HAHA. Hingga suatu hari aku menemukan daster nyaman kesayanganku itu sudah terlipat di lantai dapur. Mom took the initiative to make jadi kain lap.. Ibuku sudah kehilangan kesabarannya dan merampas kenyamanan itu!

Tapi sebenernya, daster itu 'kan cuma buat di kamar. Buat tidur. Ato' kalo' di rumah gak ada orang yang kita hormati. Karena pakaian kita menandakan penghormatan. Itu sebabnya, kalau ke pesta kita memakai pakaian yang indah.. untuk menghormati si empunya acara, tentunya.. Bukan buat memamerkan gaun indah terbaru.

Kapan Daster dan Baju Renang

Daster memang nyaman, tapi daster bukan buat dipake di luar rumah. It is like pakaian renang yang cuma bisa dipake di kolam renang atau di pantai. Kalau kita jalan-jalan ke pasar pake baju renang, maka kita akan menarik perhatian. I'm trying to describe this in the way you understand. :p

Demikian juga daster. Kalau kita pake daster ke pasar, maka kita akan jadi seperti "ibuk-ibuk". Gak suka, 'kan dibilang "ibuk-ibuk"? Karena kalau ada orang bilang "ibuk-ibuk" maka yang terbayang di kepala kita adalah apa?... Benar! Perempuan agak tuir penjaga rumah karena anak dan suaminya sibuk di luar. and noone to be impersonate that way.

Iya, 'kan? Am I righ or right?

Perempuan 'kan pinginnya dibilang cantik... manis... anggun... anything that reflects beauty. Iya, 'ga seeeh?

Nah, para penggemar daster, itulah kesannya kalau pake daster di luar rumah: "kayak ibuk-ibuk".

Jadi Ibuk-Ibuk? Jangan Dong :(

Terus, kenapa, sih, kok, "ibuk-ibuk". Karena sebutan ibu itu 'kan untuk wanita yang memiliki anak. Maka kata "ibuk-ibuk" membuat kita membayangkan anak-anak yang maklum dengan kesleboran ibunya, asal ibu senang. Ih, kasian, deh, kamu, kalau sampe dibilang kayak "ibuk-ibuk".

Makanya, jangan slebor, dong. Berpakaianlah yang serapihnya bahkan kalau hanya sedang belanja sayuran di depan rumah dari tukang sayur keliling. Sediakan selalu pakaian untuk dipake keluar rumah yang bisa di-grabbed anytime. Kalau tiba-tiba terdengar suara tukang sayur, lari ke pagar, dan mintalah pada tukang sayur untuk menunggu sebentar. Gantilah daster itu. Sack dress katun yang simple bisa dipilih karena gampang dipakainya. Percayalah, tetangga yang lain, yang memakai daster, pasti jadi kepingin ganti baju juga.

Ini sebenarnya adalah terapi disiplin berpakaian terhadap diri sendiri. Kalau terbiasa selalu rapih, tentu saja you should remember to change kalau suami tercinta pulang kerja. Karena pakaian kita menunjukkan penghormatan kita terhadap orang lain, 'kan? Dengan menyambut sang suami dengan pakaian yang proper, bukan daster(!), you are telling yourself you respect him. It's a nice way to please your hubby too. Dia pasti banggalah, kalau pulang ke rumah melihat istrinya keren. Gak percuma diserahin gaji setiap bulannya. Mau, 'kan, kalau suami senang?

Harus mau, dong. Membuat orang lain senang itu amal dan amal selalu membawa berkah. Apalagi menyenangkan suami. You are taking care the love that got you together that way! Cinta 'kan harus dipelihara.

Jadi... pakai dasternya di kamar aja, ya.. :)


Perlu dibaca juga:





  • Come on, admit it, you know you want to look good. Why don't you work it out, then? Gabung di halaman facebook "Cantik Selamanya"... yuk...
Yuk, gabung?


Jul 26, 2009

Hak Karyawan Bila Dipecat Karena Perusahaan Pailit

Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya

Cantik Selamanya - Dian Manginta www.cantikselamanya.com

Dua minggu yang lalu kami berjanji akan berbagi mengenai ketentuan jumlah uang pesangon, uang penghargaan, dan uang penggantian dalam Pemutusan Hubungan Kerja [PHK] sesuai ketentuan Undang-Undang. Berhubung suasana yang masih shocked akibat pengeboman hotel JW Marriott dan The Ritz Carlton Jakarta yang terjadi hari Jumat sebelumnya, maka kami memutuskan untuk menahan dulu sharing masalah hukum ini dan tidak memberikan posting apa-apa pada hari Senin lalu sebagai ekspresi turut berdukacita dari kami kepada semua korban pengeboman itu.

Seperti yang telah dibahas minggu lalu, ketentuan hukum ketenagakerjaan dibuat untuk kepentingan karyawan dan kebaikan perusahaan itu sendiri sehingga segala proses yang berhubungan dengan ketenagakerjaan mempunyai panduan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan karena memiliki kekuatan hukum. Dalam hal ini, keberadaan suatu serikat buruh dalam suatu perusahaan akan sangat membantu baik karyawan maupun perusahaan apabila terjadi sengketa atau perselisihan antara karyawan dengan perusahaan. Melalui serikat buruh, suatu masalah ketidaksesuaian pendapat antara karyawan dengan perusahaan dapat dimusyawarahkan dengan mengacu kepada undang-undang ketengakerjaan sehingga tidak ada yang merasa dirugikan. Everybody wins.

Contoh mengenai persengketaan dapat dilihat pada artikel hukum dua minggu yang lalu, yaitu apabila perusahaan mengusulkan agar karyawan mengundurkan diri sebelum perusahaan dinyatakan pailit. Padahal, walaupun perusahaan dinyatakan pailit, kewajiban membayar pesangon, sih, tetap berlaku. Dari pada bingung, lebih baik musyawarah melalui serikat buruh aja, 'kan?

Anyway, ada atau gak ada serikat buruh di perusahaan tempat kita bekerja, ada baiknya kita tahu tentang ketentuan-ketentuan ketenagakerjaan. Sekali lagi, pastinya, untuk menambah pengetahuan dan wawasan. Dengan rajin menambah pengetahuan, kita akan percaya diri dalam menghadapi setiap situasi.

Berikut ini, seperti yang dijanjikan, uraian sederhana dari Meyland (Sarjana Hukum) mengenai ketentuan pesangon atau kompensasi yang harus diberikan kepada karyawan apabila dipecat karena perusahaan mengalami pailit.










Berapa Banyak Perusahaan Harus Memberi Pesangon [Bila Dipecat Karena Pailit]?


Menindaklanjuti artikel edisi lalu tentang PHK [lihat artikel "Diminta Mengundurkan Diri Karena Pailit, Mau? [Hukum]"], kali ini saya hanya mau memberikan pencerahan tentang seberapa besar kompensasi yang di-cover oleh Undang Undang di negara kita terhadap seorang pekerja yang di-PHK.

Jadi bila dalam lingkup kita sebagai pekerja terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, kita bisa dengan tidak takut menjaga hak dan kewajiban kita. Itu karena kita tahu negara melalui Undang-Undang secara sah melindungi kita.


[Bisa] Tidak Lebih Kecil

Mengerti Hukum Itu PentingDi dalam hukum kita, terdapat perbedaan nilai perhitungan hak yang bisa dipetik oleh pekerja yang dipecat karena perusahaan pailit dibanding bila ia memutuskan sendiri untuk berhenti. Secara hukum orang yang dipecat ia akan menerima:


  • Uang pesangon;

  • uang penghargaan;

  • dan uang penggantian.

Perhatikan, jumlah ini tidak serta merta membicarakan angka nominal, melainkan variabel perhitungan yang bisa didapatkan. Bila seseorang berhenti, maka ia hanya berhak atas uang penggantian yang nilainya ditentukan perusahaan masing-masing. Sedangkan bila ia dipecat, ketiga pokok di atas [seharusnya] bisa diperhitungkan sebagai haknya.

Dalam praktiknya, meski Undang-Undang menjaga batasan hak yang diperoleh seorang pekerja, namun ketentuan perjanjian seringkali mengacu kontrak/perjanjian kerja antara si karyawan dan penguasaha. Di sinilah pentingnya kejelian seorang pekerja untuk melihat apa saja yang bisa menjadi haknya.

Antisipasi, memang ciri kita yang ingin berkembang bukan?

Nah, untuk lebih lengkapnya, berikut adalah ketentuan Undang-Undang yang bisa kita simak:

Pertama tentang perhitungan uang pesangon, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No.3 Tahun 2003 [Pasal 156 ayat 2] tentang Ketenagakerjaan:


  1. Masa kerja kurang dari 1 (satu) tahun, mendapat 1 (satu) bulan upah;

  2. Masa kerja 1 (satu) tahun atau lebih, tetapi kurang dari 2 (dua) tahun, mendapat 2 (dua) bulan upah;

  3. Masa kerja 2 (dua) tahun atau lebih tetapi kurang dari 3 (tiga) tahun, mendapat 3 (tiga) bulan upah;

  4. Masa kerja 3 (tiga) tahun atau lebih tetapi kurang dari 4 (empat) tahun, mendapat 4 (empat) bulan upah;

  5. Masa kerja 4 (empat) tahun atau lebih tetapi kurang dari 5 (lima) tahun, mendapat 5 (lima) bulan upah;

  6. Masa kerja 5 (lima) tahun atau lebih tetapi kurang dari 6 (enam) tahun, mendapat 6 (enam) bulan upah;

  7. Masa kerja 6 (enam) tahun atau lebih tetapi kurang dari 7 (tujuh) tahun, mendapat 7 (tujuh) bulan upah;

  8. Masa kerja 7 (tujuh) tahun atau lebih tetapi kurang dari 8 (delapan) tahun, mendapat 8 (delapan) bulan upah;

  9. Masa kerja 8 (delapan) tahun atau lebih, mendapat 9 (sembilan) bulan upah;

Kedua tentang perhitungan uang penghargaan, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No.3 Tahun 2003 [Pasal 156 ayat 3] tentang Ketenagakerjaan:


  1. Masa kerja 3 (tiga) tahun atau lebih tetapi kurang dari 6 (enam) tahun, mendapat 2 (dua) bulan upah;

  2. Masa kerja 6 (enam) tahun atau lebih tetapi kurang dari 9 (sembilan) tahun, mendapat 3 (tiga) bulan upah;

  3. Masa kerja 9 (sembilan) tahun atau lebih tetapi kurang dari 12 (dua belas) tahun, mendapat 4 (empat) bulan upah;

  4. Masa kerja 12 (dua belas) tahun atau lebih tetapi kurang dari 15 (lima belas), mendapat 5 (lima) bulan upah;

  5. Masa kerja 15 (lima belas) tahun atau lebih tetapi kurang dari 18 (delapan belas) tahun; mendapat 6 (enam) bulan upah;

  6. Masa kerja 18 (delapan belas) tahun atau lebih tetapi kurang dari 21 (dua puluh satu), mendapat 7 (tujuh) bulan upah;

  7. Masa kerja 21 (dua puluh satu) tahun atau lebih tetapi kurang dari 24 (dua puluh empat) tahun, mendapat 8 (delapan) bulan upah.


Ketiga tentang uang penggantian hak, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No.3 Tahun 2003 [Pasal 156 ayat 4] tentang Ketenagakerjaan:


  1. Cuti tahunan yang belum diambil dan belum gugur;

  2. Biaya atau ongkos pulang untuk pekerja/buruh dan keluarganya ketempat dimana pekerja/buruh diterima bekerja;

  3. Penggantian perumahan serta pengobatan dan perawatan ditetapkan 15% (lima belas persen) dari uang pesangon dan atau uang penghargaan masa kerja bagi yang memenuhi syarat;

  4. Hal-hal lain yang ditetapkan dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan atau perjanjian kerja bersama.

Sekali lagi, perhatikan, ketiga jenis hak [pesangon, penghargaan, dan penggantian hak] ini bisa diperoleh kalau kita memiliki perjanjian kerja yang baik.




Aku berharap informasi ini dapat meyakinkan setiap karyawan bahwa kedudukannya dilindungi oleh hukum. Ini 'kan dapat memberikan perasaan aman dan tentu saja, karyawan dapat merasa percaya diri dalam bertindak. Adanya rasa percaya diri yang baik, membantu karyawan dapat bekerja dengan motivasi yang baik juga, dan tetap bersemangat. Kerja jadi nyaman, perusahaan juga tenang.




Perlu dibaca juga:









Yuk, gabung?





Jul 24, 2009

Apakah Impian Orang Indonesia Sebetulnya?

Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya

Yuk, enjoy the weekends...Dalam perjalanan pulang tadi, aku melihat warung-warung tenda di pinggir jalan. Penjual kaki lima di stasiun kereta api. Rasanya hati aku, kok, sedih, ya? Aku ingat warteg di dekat kantorku yang jualan Ayam Penyet yang wuenak tenan.. Mereka sediakan sambal yang gak terlalu pedas sehingga aku bisa makan.

Warteg itu tadinya kecil saja. Tapi sekarang sudah melebar karena memang nempel ke dinding pembatas wilayah perkantoran dengan perumahan. They make good business, I guess.

Aku senang, lah. Aku berharap mereka sukses terus sehingga nanti bisa pindah ke more proper place seperti misalnya mengontrak rumah di sekitar situ, atau gabung di food court yang kebetulan ada gak jauh dari warteg itu.

Bermimpi Hidup Layak

Impian IndonesiaTAPI bagaimanapun juga, kesederhaan wartegnya itu gak bisa diterima. People should not live like that. If we are honest, most of us don't want that! Di dekat warteg ada penjual gorengan. Ada lagi di seberang jalan arena untuk pedagang kaki lima lainnya. Pengelola gedung mungkin merasa telah melakukan good deed, which I appreciate. But still, people should not live like that!

Aku teringat waktu SMA dulu iseng-iseng ke Tanah Abang bersama ibuku dan tiba-tiba ada keramaian gak jauh dari tempat kami berjalan. Petugas kamtib sedang mengacak-acak pedagang kaki lima. Waktu itu aku lihat bahkan seorang pedagang buah keliling sibuk mempertahankan buah pikulannya karena ditarik-tarik petugas Kamtib. Aku gak tahan untuk berteriak dan beberapa orang lelaki segera menolong bapak penjual buah itu. People should not live like that. Hidup dikejar-kejar petugas bukanlah hidup yang wajar.

Aku melamun memikirkan kemiskinan ini. Tetapi yang lebih menyedihkan adalah bahwa kebanyakan, dan sangat banyak, orang-orang miskin itu hidup sepertinya dengan percaya bahwa itulah hidup. Hidup dalam kemiskinan yang sangat miskin. Hidup yang sama sekali tidak layak, and its not their fault. Mereka bekerja keras.

Indonesia bermimpi

Lebih Berani Tidak Mimpi?

Aku pernah ngobrol dengan seorang driver tentang impian bahwa suatu hari Indonesia akan memiliki teknologi sendiri. Membangun alat transportasi, atau handphone-nya sendiri [bukan sekedar impor lalu diberi merk dalam negeri]. Response-nya membuat aku termangu: “...bangsa kita, mah, gak bisa seperti itu!”

Aku teringat betapa seringkali orang Indonesia begitu ramah terhadap orang asing, tetapi bersikap kasar terhadap bangsa sendiri. Bahkan di perusahaan-perusahaan asing, kita tidak jarang mendengar orang Indonesia justru rajin menjatuhkan rekan sekerja dari negaranya sendiri[!]

Hello... we are human just like them, the foreigners! Untuk kebiasaan tidak ramah terhadap bangsa sendiri aku juga bilang, "People should not live like this!". Kita sejajar dengan bangsa manapun di dunia. Oh, aku bisa bicara begini karena aku punya teman dari berbagai bangsa di dunia. Theyre my good friends. Tapi aku tidak memandang mereka lebih tinggi dari saudaraku sebangsa setanah air.

Herannya, justru pernah ada teman dari Singapura yang bertanya, "Mengapa orang Indonesia suka menjatuhkan justru teman yang dari senegaranya sendiri?"

Aku teringat kesemrawutan di jalan raya, kesemrawutan di pasar tradisional... penumpang sepeda motor yang enggan memakai helm kala di jalan.. Lagi-lagi, people should not live like this!

Lalu kematian petugas cleaning service laborer ketika gondola yang dinaikinya putus. Kematian sebuah keluarga yang tinggal di pemukiman padat karena… kelaparan [lihat artikel "Tanribali Malu Ada Warganya Mati Kelaparan"]!

Mengapa kita kian malas berpikir untuk mencari manfaat diri bagi orang lain?

Di Korea Selatan, Ada Impian Indonesia

Lalu aku terkaget-kaget menemukan artikel ini, meskipun isinya tidak baru: "The Korean Dream - Deferred hopes for over 600,000 migrant workers". Artikel itu dimuat di situs Korsel english.ohmynews.com. Di dalamnya, Michael Solis [sang penulis] mengatakan bahwa ia setiap hari melihat buruh dari berbagai negara, termasuk pastinya Indonesia, mengejar mimpi di Korea.

Solis mengatakan para buruh migran [Indonesia] ingin mengejar mimpi mencari uang sebanyak-banyaknya hanya demi bisa menyokong keluarga mereka back home.

...Mengapa orang asing sampai melihat kita hanya punya mimpi yang cetek? Mengapa kita begitu yakin bahwa hidup layak, menjadi setara dengan bangsa lain, bukanlah bagian dari kemampuan orang Indonesia?

Do you know the answer?


Perlu dibaca juga:





Yuk, gabung?


Jul 22, 2009

Menjaga Safety, Membantu Motivasi Baik (Iptek)

Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya

Cantik Selamanya - Safety

Di Cantik Selamanya, aku giat mengajak pembaca untuk memperhatikan safety, baik di jalan, maupun di tempat kerja.

Safety, atau keselamatan, harus diperhatikan sebagai ukuran kualitas hidup kita. Masyarakat yang teratur, tertib, tentu menunjukkan adanya kualitas hidup yang baik di masyarakat itu. Dengan keteraturan itu kita membebaskan diri dari kesemrawutan, menjamin segala daya usaha dan investasi memiliki harapan akan menghasilkan keberhasilan lebih baik.

Ini sebenarnya salah satu filosofi dalam penataan kualitas keselamatan kerja yang spanduknya bisa kita lihat di lingkungan pabrik dan di mana ada pembangunan gedung atau pun jalan raya. For our own good.

Apa Sebenarnya Arti "Bahaya"?

Kita pasti pernah lihat slogan “UTAMAKAN KESELAMATAN KERJA” yang tak lain adalah menghindari kecelakaan dalam bekerja. Tentu kita masih ingat kecelakaan putusnya gondola di beberapa gedung perkantoran di Jakarta. Bayangkan berapa orang pekerja yang kehilangan nyawanya karena kurangnya perhatian pada keselamatan kerja.

Dalam kasus gondola yang dipakai petugas cleaning service untuk membersihkan gedung yang lantainya banyak itu, misalnya, kecelakaan terjadi karena gondola yang tidak terawat dan alat perlindungan yang tidak dikenakan sesuai petunjuk.

Bagi yang bekerja di kantor, jangan dikira gak ada bahayanya. Posisi duduk yang gak ergonomis, misalnya, bisa mengakibatkan cedera dalam jangka panjang. Atau cara memindahkan barang seperti kardus berisi tumpukan folder yang salah juga dapat mengakibatkan cedera punggung.

Selain itu, bila di kantor kita tidak menggunakan tangga untuk mengambil barang dari tempat yang tinggi akan berbahaya, loh! Selain itu, seperti yang aku pernah share dalam topik safety, terus menerus bekerja tanpa jeda untuk beristirahat pun tidak baik untuk kesehatan [lihat kumpulan link di bawah].

So, apa itu "bahaya"? Ini artinya:

    Bahaya adalah segala sesuatu yang punya potensi memberikan kerugian dan kecelakaan. Bahaya adalah semua hal yang merugikan.

Dengan memperhatikan keselamatan kerja mau gak mau akan mendorong terbentuknya gaya hidup aman dan sehat, memaksa kita berpikir untuk menciptakan kualitas hidup yang lebih baik.

Tapi, memang harus disadari, bahwa gaya hidup sehat dan aman masih belum jadi budaya di negeri kita ini. Kalau kebetulan kerja di tempat yang kurang memperhatikan masalah keselamatan kerja, tetaplah berusaha untuk menjaga kualitas hidup yang baik itu tanpa menyinggung yang lain. Hubungan kerja 'kan harus dijaga.

Gaya hidup sehat dan aman itu akan menghasilkan keteraturan dan akan meningkatkan kualitas kerja juga karena terbiasa untuk hidup berdisiplin. Disiplin yang enak [kenapa begitu? Baca terus].

Nah, Michael T. Rogan dan Eric R. Kandel dari Pusat Medik Universitas Columbia memberikan hint atau petunjuk supaya kita bisa melihat bahwa safety sebetulnya berbicara banyak untuk masalah kemauan belajar supaya bisa hidup lebih enak. Eric Kandel adalah pemenang Nobel Kedokteran tahun 2000.

Riset: Mengerti Bahaya Belum Tentu Tahu Safety 

Kedua peneliti tersebut menempatkan tikus laboratorium pada ruang kecil yang lantainya bisa diatur untuk menyengat listrik sewaktu-waktu bila ia membuat langkah kaki baru. Tikus percobaan ini diajar untuk mengerti bahwa bila ada lampu atau bunyi "bip", maka artinya lantai akan menyentrum bila ia melangkah.

Eric Kandel, Pemenang Nobel 2000
Photo: Wikipedia - Dian Manginta, Cantik Selamanya, www.cantikselamanya.com

Bisa ditebak, tikus yang dilatih akan memilih ruangan aman, yang memiliki petunjuk safety suara atau bunyi kalau dipaksa memilih dengan option tempat tanpa penanda bahaya. Sedangkan tikus yang tidak pernah dilatih pada kondisi sama akan bersikap ugal-ugalan, adventerous namun sembarangan. Si Tikus yang tak terlatih mengerti bahaya, tapi ia jadi resah.

Ternyata penelitiannya belum berhenti di situ.

Rogan dan Kandel menemukan bahwa tanda safety akan mengurangi aktivitas bagian otak yang mengaktifkan emosi [termasuk rasa takut]: amygdala. Otak kita bisa belajar tentang rasa aman.

Lagi-lagi penelitiannya tidak berhenti di sini.

Kedua periset juga menemukan bahwa tikus yang mengerti tanda bahaya akan mengaktifkan bagian otak yang disebut sebagai "caudoputamen". Area ini diketahui mempengaruhi kondisi motivasi dan rasa puas. Area otak yang membangkitkan motivasi dan puas akan aktif pada saat tikus merasa aman dan terlindungi. Kondisi-kondisi di amygdala dan caudoputamen ini tidak terjadi pada tikus yang terlatih sebagaimana disebutkan di atas.

Kesimpulannya? terdapat indikasi bahwa rasa aman (safe) akan  membantu kita hidup  dengan motivasi baik. Ini penting bagi kita yang insaf bahwa bahaya - apapun bentuknya - sebetulnya selalu mengintai sepanjang hidup kita.

Jadi, mau hidup dengan motivasi baik? Jaga kesehatan dan keselamatan kerja, dong..

Begini kata Michael Rogan:

“Our results show there’s more to the feeling of safety and security than the simple absence of danger. We have found that there is another part of the brain that is involved in calculating how much protection or shelter is in the environment. Shelter is something that is independent of the presence or absence of danger, and it contributes to a sense of well being.”

Feeling Safe and Secure? CUMC Scientists Find It’s All in the Caudoputamen



Perlu dibaca juga:





Yuk, gabung?