Jul 24, 2009

Apakah Impian Orang Indonesia Sebetulnya?

Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya

Yuk, enjoy the weekends...Dalam perjalanan pulang tadi, aku melihat warung-warung tenda di pinggir jalan. Penjual kaki lima di stasiun kereta api. Rasanya hati aku, kok, sedih, ya? Aku ingat warteg di dekat kantorku yang jualan Ayam Penyet yang wuenak tenan.. Mereka sediakan sambal yang gak terlalu pedas sehingga aku bisa makan.

Warteg itu tadinya kecil saja. Tapi sekarang sudah melebar karena memang nempel ke dinding pembatas wilayah perkantoran dengan perumahan. They make good business, I guess.

Aku senang, lah. Aku berharap mereka sukses terus sehingga nanti bisa pindah ke more proper place seperti misalnya mengontrak rumah di sekitar situ, atau gabung di food court yang kebetulan ada gak jauh dari warteg itu.

Bermimpi Hidup Layak

Impian IndonesiaTAPI bagaimanapun juga, kesederhaan wartegnya itu gak bisa diterima. People should not live like that. If we are honest, most of us don't want that! Di dekat warteg ada penjual gorengan. Ada lagi di seberang jalan arena untuk pedagang kaki lima lainnya. Pengelola gedung mungkin merasa telah melakukan good deed, which I appreciate. But still, people should not live like that!

Aku teringat waktu SMA dulu iseng-iseng ke Tanah Abang bersama ibuku dan tiba-tiba ada keramaian gak jauh dari tempat kami berjalan. Petugas kamtib sedang mengacak-acak pedagang kaki lima. Waktu itu aku lihat bahkan seorang pedagang buah keliling sibuk mempertahankan buah pikulannya karena ditarik-tarik petugas Kamtib. Aku gak tahan untuk berteriak dan beberapa orang lelaki segera menolong bapak penjual buah itu. People should not live like that. Hidup dikejar-kejar petugas bukanlah hidup yang wajar.

Aku melamun memikirkan kemiskinan ini. Tetapi yang lebih menyedihkan adalah bahwa kebanyakan, dan sangat banyak, orang-orang miskin itu hidup sepertinya dengan percaya bahwa itulah hidup. Hidup dalam kemiskinan yang sangat miskin. Hidup yang sama sekali tidak layak, and its not their fault. Mereka bekerja keras.

Indonesia bermimpi

Lebih Berani Tidak Mimpi?

Aku pernah ngobrol dengan seorang driver tentang impian bahwa suatu hari Indonesia akan memiliki teknologi sendiri. Membangun alat transportasi, atau handphone-nya sendiri [bukan sekedar impor lalu diberi merk dalam negeri]. Response-nya membuat aku termangu: “...bangsa kita, mah, gak bisa seperti itu!”

Aku teringat betapa seringkali orang Indonesia begitu ramah terhadap orang asing, tetapi bersikap kasar terhadap bangsa sendiri. Bahkan di perusahaan-perusahaan asing, kita tidak jarang mendengar orang Indonesia justru rajin menjatuhkan rekan sekerja dari negaranya sendiri[!]

Hello... we are human just like them, the foreigners! Untuk kebiasaan tidak ramah terhadap bangsa sendiri aku juga bilang, "People should not live like this!". Kita sejajar dengan bangsa manapun di dunia. Oh, aku bisa bicara begini karena aku punya teman dari berbagai bangsa di dunia. Theyre my good friends. Tapi aku tidak memandang mereka lebih tinggi dari saudaraku sebangsa setanah air.

Herannya, justru pernah ada teman dari Singapura yang bertanya, "Mengapa orang Indonesia suka menjatuhkan justru teman yang dari senegaranya sendiri?"

Aku teringat kesemrawutan di jalan raya, kesemrawutan di pasar tradisional... penumpang sepeda motor yang enggan memakai helm kala di jalan.. Lagi-lagi, people should not live like this!

Lalu kematian petugas cleaning service laborer ketika gondola yang dinaikinya putus. Kematian sebuah keluarga yang tinggal di pemukiman padat karena… kelaparan [lihat artikel "Tanribali Malu Ada Warganya Mati Kelaparan"]!

Mengapa kita kian malas berpikir untuk mencari manfaat diri bagi orang lain?

Di Korea Selatan, Ada Impian Indonesia

Lalu aku terkaget-kaget menemukan artikel ini, meskipun isinya tidak baru: "The Korean Dream - Deferred hopes for over 600,000 migrant workers". Artikel itu dimuat di situs Korsel english.ohmynews.com. Di dalamnya, Michael Solis [sang penulis] mengatakan bahwa ia setiap hari melihat buruh dari berbagai negara, termasuk pastinya Indonesia, mengejar mimpi di Korea.

Solis mengatakan para buruh migran [Indonesia] ingin mengejar mimpi mencari uang sebanyak-banyaknya hanya demi bisa menyokong keluarga mereka back home.

...Mengapa orang asing sampai melihat kita hanya punya mimpi yang cetek? Mengapa kita begitu yakin bahwa hidup layak, menjadi setara dengan bangsa lain, bukanlah bagian dari kemampuan orang Indonesia?

Do you know the answer?


Perlu dibaca juga:





Yuk, gabung?