Apr 3, 2009

Bedah Rumah - Rumah untuk Si Miskin

Tadi, on the way back home, pulang kerja, seperti biasanya, aku naik kereta express jurusan Bekasi. Bekasi Express, namanya. Di stasiun kereta, ada televisi untuk umum di dekat loket. Programnya dari RCTI. Bedah Rumah yang dibawakan oleh Ratna Listy.

Situs Bedah Rumah - RCTIKeretanya agak terlambat, jadi aku bisa sempatkan diri menonton acara Bedah Rumah itu, yang kebetulan tinggal bagian penutupnya.

Aku lihat adegan ketika Ratna membawa pemilik rumah kembali ke rumah yang sudah dibedah, direnovasi oleh tim Bedah Rumah.

Keluarga yang dibawa oleh Ratna itu keliatan miskin sekali. I was curious to know how the house looked like sebelum dibedah, dan tentu saja bagaimana hasilnya setelah dibedah.

Keluarga itu dihadapkan pada sebuah bangunan yang ditutupi kain lebar, sehingga mereka tidak bisa langsung melihat rumah itu. Well, actually, supaya the TV audience would not be able to see dengan segera juga.

Sebelum kain itu dibuka, ditampilkanlah clip yang nunjukkin bentuk rumah aslinya. Aku menghela nafas. Kumuh banget. Rumahnya dari bilik bambu yang dianyam sedemikian. Ada bagian-bagiannya yang gak sempurna tertutup bilik, mungkin karena gak cukup bahannya, atau mungkin karena sukar untuk menutup bagian itu. Rasanya miris juga melihat rumah kumuh itu.

Setelah clip selesai, kain penutup lebar diturunkan dan keliatan deh, area depan rumah itu. Mengingat bentuk lama rumah itu.. now it's very nice.

Aku jadi senyum sendiri, mataku gak lepas mandangi televisi. Gak pedulilah kalau ada yang ngeliatin aku. I really want to share this family joy. Luar biasa. Belum lagi hadiah ranjang yang bagus, sebagai ganti kekumuhan tempat tidur mereka. Sekarang mereka punya kamar mandi yang descent. Dapur.. juga kulkas! They didn't have fridge before.

Very nice. Aku suka acara ini, meski kadang-kadang wonder juga kenapa mereka pake target harus renovasi rumah dalam waktu sekian jam. Tapi, aku senanglah melihat keluarga ini begitu bahagianya.
Cuma, waktu aku googled tentang Bedah Rumah, aku menemukan blog yang kurang suka dengan acara ini (lihat screenshot di samping).

Screenshot blog yang kurang suka dengan acara Bedah RumahKata si blogger, kegiatan "bedah rumah" ini sebenernya malah memberatkan, karena selanjutnya si empunya rumah harus memikirkan membayar listrik yang akan dipakai di rumah yang baru direnovasi itu.

Katanya, kasih kail, jangan kasih ikan. Katanya, lebih baik apa yang diberikan untuk keluarga yang rumahnya direnovasi itu dijual saja.

Aku pikir, kalau bisa kasih ikan, kenapa tidak? Komentarnya menggangguku.

Hanya karena mereka miskin, masa mereka gak boleh merasakan nikmatnya punya rumah yang wajar tanpa harus susah payah dulu? If possible, actually, we should do that for all orang miskin di Indonesia.

Soal bagaimana nantinya, they will learn how to survive. Toh, mereka sudah survived dengan kemiskinan mereka. Mereka pasti bisa belajar bagaimana selanjutnya kehidupan mereka dengan rumah dan perabot baru itu. Why can't believe in that?

Mungkin they will end up selling the things they get for free. But at least they had the moment when they got something good in their difficult life time. Mungkin dengan mendapatkan anugerah itu, mereka jadi berpikir untuk mendorong anak-anak mereka belajar sungguh-sungguh supaya pintar, dan bisa beli rumah yang descent.

What do you choose to believe?
Yang menjadi perhatianku adalah kebanyakan orang miskin itu sudah terbiasa dengan kesusahan mereka, sehingga gak kebayang sama mereka, bahwa mereka sesungguhnya bisa mengubah hidup mereka. They need something to believe, and I think that home can help them to believe.
Because you will not achieve anything if you don't have hope that you believe. Kita gak akan meraih apa-apa tanpa harapan yang dapat kita yakini.

Atau tahu nggak, kita bisa gagal memancing, meski kail sudah di tangan, hanya karena percaya bakal gagal mendapatkan ikan? Ketika orang terbiasa dalam kemiskinan, sebuah rumah sederhana tapi layak huni adalah seperti mimpi yang gak mungkin terjadi.

Hadiah di "Bedah Rumah" seperti sinar yang tiba-tiba muncul dalam kegelapan. Now, the needy can get the picture. Sekarang mereka bisa melihat betapa baiknya hidup dalam kelayakan. Sekarang mereka punya alasan untuk percaya bahwa hidup layak itu patut diraih.

Yang menyedihkan adalah kita cenderung percaya bahwa kemiskinan adalah masalah "dia", bukan "kita". Lihat saja dari definisi kemiskinan, kita nggak betul-betul ngeliat bahwa orang miskin adalah bagian dari kita yang paling tidak mampu. Di wall-blogku di facebook, aku taruh catatan pengamatan kecil soal kemiskinan.

Anyway, semoga rumah baru itu memberikan semangat kepada mereka yang menerimanya, dan para tetangganya, untuk berjuang lebih gigih demi hidup yang lebih baik. Nanti si pemilik rumah akan belajar, bukan saja bagaimana caranya menggunakan "kail", tetapi juga jala besar, dan bahkan nantinya mereka akan belajar menggunakan kapal bermotor.

Nanti, waktu tahu bahwa kemiskinan sangat bisa jadi bukan bagian mereka, bahwa "orang miskin" juga boleh hidup layak, nereka bisa mengerti bahwa hidup layak itu bukan cuma milik orang yang (sudah lebih dulu) kaya.