Apr 1, 2018

Maria Magdalena - cerpen

Berdiri diri di depan kubur yang kosong itu dengan perasaan sedih dan takut. Mayat Guru yang disayanginya sudah tidak ada. Padahal sejak dikuburkan pada hari Jumat yang lalu, kubur itu dijaga oleh tentara. Sekarang mereka tidak ada dan kuburnya kosong. Namun anehnya, kain kafan dan kain peluh yang membungkus mayat Yesus ada di sana. Siapa yang mencuri mayatNya?

Tadi pagi-pagi sekali, Maria pergi ke kubur bersama Maria ibu Yakobus, serta Salome hendak memberikan rempah-rembah pada mayat Yesus serta meminyakinya dengan minyak mur yang harum  untuk merawat mayatnya karena cinta mereka pada sang Guru. 
 
Ketika mereka tiba di depan kubur itu, ternyata kubur itu kosong. Lalu ada seseorang muda berpakaian putih yang  mengatakan bahwa Yesus telah bangkit! Mereka bingung sekali dan ketakutan. Orang muda itu menyuruh mereka untuk memberitahukan kepada murid-murid Yesus dan Petrus tentang apa yang mereka lihat dan bahwa Yesus akan menemui mereka di Galilea. 


Jadi, masih bingung dan takut, mereka bergegas menemui Petrus dan murid-murid lain tentang apa yang baru saja terjadi. Hanya Petrus dan seorang murid yang lain yang percaya pada perkataan mereka, dan mereka segera pergi ke kubur itu. Maria Magdalena mengikuti mereka ke kubur itu dengan perasaan yang tidak karuan. Kubur kosong.. Orang muda yang mengatakan bahwa Yesus bangkit dan pergi ke Galilea.. Apa yang sesungguhnya terjadi? Di manakah Guruku itu? Kata murid yang lain itu, Yesus telah bangkit. Benarkah?

Air mata masih membasahi pipi ketika Maria berdiri sendiri di depan kubur itu sambil memandang ke dalam, ke tempat mayat Yesus dibaringkan. Petrus dan murid yang lain telah pergi. 

Kesedihan masih menyesakkan dadanya. Teringat semua kenangan lama sejak Yesus menyembuhkan dia dan membebaskan dirinya dari kerasukan setan yang sangat menyiksa dirinya. Hari itu, ketika Yesus mengusir setan-setan dari dalam dirinya, Maria Magdalena merasakan kelegaan yang luar biasa. Rasa sakit ditubuhnya hilang, dan ia merasa bahagia sekali. Sejak itu Maria Magdalena bukan lagi si perempuan penyakitan. Hatinya begitu bersyukur sehingga ia memutuskan untuk ikut dalam rombongan Yesus agar dapat membantu mereka. Yesus itu seorang Guru yang mengajar agama. IA juga melakukan penyembuhan-penyembuhan dalam setiap kegiatannya. Banyak orang sakit yang dibawa kepadaNya untuk disembuhkan seketika. Maria tak henti-hentinya mengagumi kedahsyatan yang dilakukan Gurunya, dan menikmati indahnya kebenaran Firman Tuhan yang disampaikan sang Guru ketika IA mengajar. 

Ada beberapa perempuan lain juga yang ikut dalam rombongan itu, seperti Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, dan Susana. Perempuan-perempuan ini juga pernah disembuhkan dari penyakit mrreka dan dibebaskan dari kerasukan roh jahat. Mereka pun kemudian melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka.

Hingga tibalah hari yang mengerikan itu setelah mereka menangkap Yesus saat berdoa di Taman Getsemani. Mereka mengatakan bahwa Yesus telah melakukan kejahatan. Kejahatan apa? Maria tak mengerti dan marah namun juga takut. Dari jauh ia dan Bunda Maria mengikuti proses pengadilan yang melelahkan dan melihat bagaimana dengan kejam para tentara yang membawa Yesus menyiksa dan mempermainkanNya. Ingin rasanya ia memaki mereka, tapi ia sadar mereka dapat menangkapnya juga dan akan membunuhnya. Maka ia hanya mampu berjalan mengikuti dari jauh. Tak ingin ia melepas Gurunya yang baik hati itu dari pandangannya. Kalau bisa, ingin rasanya ia memeluk sang Guru untuk memberinya kekuatan. 

"Ya, Tuhan, mengapa ini terjadi?" Maria Magdalena mengeluh dalam hatinya. Memang ada orang-orang yang membenci Yesus karena pekerjaanNya. Mereka marah ketika Yesus mengusir para pedagang dari halaman Bait Suci karena kataNya mereka membuat rumah ibadat menjadi pasar. 

Mereka juga marah ketika IA membebaskan seorang perempuan yang hendak dihukum mati dengan rajam, hanya dengan berkata bahwa kalau ada yang merasa tidak berdosa, orang itu boleh menjadi yang pertama melemparkan batu kepada perempuan yang sedang menangis ketakutan itu. Tentu saja tak ada manusia yang tidak berdosa, jadi satu per satu mereka pergi. Hal itu membuat malu para pemimpin agama itu dan mereka terus mencari-cari kesalahan Yesus agar bisa menghentikan pekerjaanNya. 

Mereka sungguh membenci Yesus karena perbuatan baik yang dilakukanNya. Aneh! Namun sungguh Maria tak menyangka bahwa mereka akan membunuh orang yang begitu baik itu. DIA yang menghapus banyak air mata. Yang memberikan kebahagian kepada keluarga yang kesusahan akibat sakit penyakit yang menyerang anggota keluarga mereka. IA bahkan membangkitkan orang mati. IA melakukan begitu banyak mujizat. Bagaimana mungkin mereka membunuhNya?  

DIA orang baik! DIA bahkan menyembuhkan telinga tentara yang kupingnya ditebas oleh Petrus waktu di Taman Getsemani itu. Yesus melarang murid-muridnya memakai pedang. Dan lebih luar biasa lagi, saat tergantung di kayu salib itu, IA masih mengampuni mereka yang telah menyalibkanNya! Kata Yesus waktu disalib, "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." 

Sungguh DIA luar biasa begitu mengasihi semua orang tanpa memikirkan golongan dan apa yang diperbuat mereka kepadaNya. Air mata Maria Magdalena terus mengalir mengingat itu semua. Sunnguh tak adil! Kenapaaa?! Mengapaaa?! Rasanya ingin ia menjerit sementara pandangannya tak lepas dari tempat mayat Yesus tadinya dibaringkan. Rasanya ia ingin tetap di sini saja menemani Yesus yang telah mati karena kedegilan hati orang yang membenciNya. 

Rasanya Maria ingin menunggu di  sini saja, mungkin nanti ada yang dapat dilakukannya bagi Guru yang dikasihinya. Waktu mereka selesai menguburkannya pun Maria enggan pergi meninggalkam kubur ini. Ia tetap duduk menunggu di depan kubur ini. Entah apa yang ditunggu. Yesus sudah mati dan dikubur. Tapi berat hatinya meninggalkan Orang yang begitu baik itu. Sejak hari itu air mata terus membasahi pipinya. Hanya karena kemarin adalah hari Sabat maka Maria tak datang ke kubur ini karena ada larangan agama. 

Maria menghela nafasnya dalam keresahan dan tiba-tiba tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring. Seketika tangisnya terhenti. 

Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis?" Jawab Maria kepada mereka: "Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan."

Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?" 

Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: "Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya."

Kata Yesus kepadanya: "Maria!" Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: "Rabuni!", artinya Guru. 

Kata Yesus kepadanya: "Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu."

Oh! Betapa dahsyat yang diluhat dan didengarnya! Itu Yesus! Guruku! Tuhanku! IA hidup! IA hidup! Seketika hilang kesedihan hatinya berganti dengan sukacita yang tak terkira. Sungguh, bila tadi Yesus tak menahannya, Maria pasti sudah memeluk Gurunya itu. Oh, bahagia sekali hatinya melihat kembali Gurunya itu. IA hidup! Yes! DIA hidup! 

Maria Magdalena pun pergi untuk menyampaikan kabar yang luar biasa itu kepada murid-murid Yesus. "Aku telah melihat Tuhan!" 

Hilang semua dukacitanya, berganti dengan sukacita. Gurunya hidup! Tuhannya hidup! Dan tak akan ada lagi yang akan memisahkan mereka. Tuhan Yesus hidup! Hari itu, kebahagiaan yang luar biasa memenuhi hati Maria Magdalena. Hari itu ia yakin, tidak akan ada lagi air mata duka di pipinya. Ia berjanji dalam hatinya akan meneruskan pekerjaan Gurunya itu seperti dulu. Menolong orang yang kesusahan, menghibur mereka. Itu hal-hal yang Gurunya sukai. Ya, Maria sangat bersyukur melebihi syukurnya ketika dulu dibebaskan dari kerasukan roh jahat. Fajar telah menyingsing, matahari telah bersinar kembali menerangi hari. Demikian pula di hati Maria, secercah harapan telah mengisi hatinya, menyinari wajahnya dengan keceriaan yang membuatnya tampak sumringah. Sungguh, ketika cinta yang tulus mengikat hati, tidak ada duka yang dapat mengikat. Harapan selalu ada. 


==========================

Reka cerita berdasarkan Alkitab. Selamat Paskah! 

Mar 27, 2018

Suatu Pagi di Ruang Tunggu



Menunggu giliran pendaftaran rawat jalan di sebuah rumah sakit umum pusat di Jakarta, duduk di sebelahku seorang perempuan dewasa. Kira-kira ia berumur tigapuluhan awal. Aku tersenyum kepadanya ketika pandangan kami bertemu. Dia pun tersenyum sekilas lalu berkata, "saya dari Jonggol, kanker payudara." 

Seketika terbayang sebuah kota yang jauh di Jawa Barat sana. Pasti dia berangkat sangat pagi untuk bisa tiba di rumah sakit ini pagi-pagi agar dapat mengantri bersama puluhan pasien lainnya. Dia berhenti sejenak untuk melihat reaksiku. Aku yang selalu tertarik dengan kisah hidup manusia pun menunjukkan perhatianku kepada ceritanya. "Stadium berapa," tanyaku. 

"Stadium tiga," jawabnya. “saya sudah dibiopsi di RSUD, lalu dirujuk ke sini. Dokter sini suruh saya cek ulang semua untuk persiapan operasi di sini. Periksa jantung, ronsen...” dia berhenti sejenak sambil melihat reaksiku. Aku terus menyimak.

"Saya dibantu relawan," dia melanjutkan. "Saya janda, suami saya pergi waktu saya hamil anak ketiga. Dia gak pernah datang untuk nengokin anak-anak. Saya sempat bingung. Dulu waktu ada dia, saya jualan es buah, setelah dia pergi, saya harus kerja lain. Jadi akhirnya saya jual rongsokan, dari situ saya bisa bayar kontrakan dan makan buat anak-anak. Mereka juga kan perlu jajan."

Dia tenang bercerita tanpa nada keluhan. Berdandan rapih dengan blazer seperti orang kantoran, katanya dandan begitu itu adalah persiapan untuk nanti kemo. Aku tersenyum salut meski dalam hati menggigil memikirkan statusnya sebagai janda tiga anak yang terkena sakit kanker payudara. Kanker pembunuh perempuan seperti halnya kanker serviks. 

“Bekas biopsinya masih merembes,” ceritanya, “mereka gak tutup luka bekas biopsinya, saya harus bersihkan sendiri setiap kali pembalutnya basah.” Duh, aku gak tahan mendengar cerita tentang luka dan darah! Perutku langsung terasa seakan mulas!

"Anaknya umur berapa aja," tanyaku ingin tahu tentang keluarganya. Sekalian mengalihkan cerita dari soal luka itu. 

"Yang paling besar umur enam tahun, yang paling kecil tiga tahun," jawabnya. "Saya untung karena belum ada yang sekolah," lanjutnya. "Nanti saya mau cari kontrakan di dekat sini karena biaya transportnya besar kalau pulang balik ke Jonggol. Relawan bantu saya dapat sumbangan dari anggota dewan. Kata pak dewan, saya jangan kerja dulu, fokus untuk sembuh aja. Uang dari anggota dewan sudah saya pakai untuk lunasi tunggakan kontrakan delapan bulan. Waktu saya sakit, saya jadi gak bisa kerja, terpaksa menunggak kontrakan. Bos saya juga bantu saya belikan mesin cuci yang harga delapan ratus ribu supaya saya gak capek, katanya. Biar cepat sembuh" 

Terpana aku mendengar cerita perempuan ini. Bisa dibilang dia beruntung dengan adanya semua bantuan itu. 

"Pakai BPJS 'kan?" selidikku. 

"Kartu Indonesia Sehat," jawabnya seraya merogoh sakunya sambil mengeluarkan kartu KIS, Kartu Indonesia Sehat. "Ini yang dari pak Jokowi itu, gratis," katanya sambil menunjukkan kartunya. Terbaca namanya, Sandra. Baru kali itu aku tahu ternyata ada layanan kesehatan gratis untuk warga tak mampu. Terharu mendengarnya. Dulu, pasien kanker harus menyiapkan dana yang besar hingga ratusan juta rupiah. Sampai terjual rumah dan tanah. Bahkan ada banyak cerita tentang pasien kanker yang akhirnya meninggal dunia tanpa mengalami kesembuhan setelah hartanya habis terjual untuk membiayai pengobatannya. Kanker memang dikenal sebagai penyakit yang mengerikan. Entah apakah Sandra tahu tentang hal ini, tapi dari sikapnya jelas dia tahu dia beruntung. Sangat tabah ia memutuskan untuk melupakan suaminya yang tak kunjung kembali usai kelahiran anak mereka yang ketiga. Pikirannya tertuju pada cara menghidupi diri dan ketiga anaknya. Meski masih memiliki orang tua, namun Sandra tak berpikir untuk meminta bantuan mereka dan memilih untuk berjuang sendiri karena mereka pun hidup bersahaja. Dengan tubuh kurus dan tutur kata yang lembut, juga tubuh yang bersih, siapa yang sangka dia adalah seorang perempuan yang perkasa pengumpul rongsokan. Aku mulai mengagguminya.

Dia terus bercerita tentang usaha rongsokannya, bagaimana dia mengelolanya. Dia bilang dia punya daftar harga dari bosnya. Dia ceritakan tentang keuntungan yang diperolehnya setiap minggu, cukup untuk membayar kobtrakannya di Jonggol dan makan untuk dirinya dan ketiga anaknya. Dia pun bercerita  tentang harga-harga barang rongsokan yang akan dibayarnya bila kita ingin menjual barang bekas dari rumah kita. Dia bersemangat ketika menceritakan tentang pekerjaannya. Bahwa ia memilih untuk tidak mengambil untung terlalu banyak dari orang yang menjual kepadanya mengikuti patokan harga dari bosnya. “Saya cuci dulu rongsokannya sebelum saya kasih ke bos saya,” ceritanya “tapi kata pak dewan, saya jangan capek dulu, jadi terpaksa saya berhenti kerja dulu.”
Tak lama si relawan datang. Sandra memperkenalkannya kepadaku. Si relawan pun sekilas menjelaskan tugasnya sebagai pendamping Sandra. Barusan tadi dia membuat foto kopi berkas untuk keperluan administrasi BPJS Kesehatan.

"Bapak dari relawan mana?" tanyaku bak wartawan yang sedang melakukan peliputan. Dia mengeluarkan kartu anggotanya sambil menyebut nama organisasi yang tak pernah kudengar sebelum.. Well, tepatnya aku belum pernah dengar adanya organisasi relawan untuk menolong orang sakit. Biasanya bantuan untuk orang sakit itu bersifat dadakan. Lalu dia menjelaskan tentang organisasinya yang adalah bagian dari serikat buruh di Cikarang. 

"Bapak tinggal di mana?" tanyaku masih ingin tahu.

"Di Tambun, Bekasi," jawabnya. Aku jadi kagum. Dari Bekasi dia ke Jonggol untuk mengurus pasien yang ditanganinya. Dia bersama rekan-rekannya pergi mencarikan dana untuk biaya transportasi pasien seperti Sandra. Dengan biaya pengobatan yang sepenuhnya ditanggung oleh BPJS Kesehatan, perjuangan pasien kanker (dan sakit berat lainnya) sudah jauh lebih ringan. Aku terharu dan kagum pada kepedulian para relawan yang setia mendampingi pasien. Si relawan itu menjelaskan bahwa ia akan terus mendampingi hingga pengobatan selesai. Jadi, setiap kali pasien akan ke rumah sakit, sang relawan datang menjemput. Begitu peraturan dalam organisasi mereka. Dia pun bercerita bahwa sebelum mendampingi Sandra, dia sudah mendampingi pasien lain hingga selesainya proses pengobatan.

"Pak Lurah bantu pinjamkan mobil," kata Sandra. "Tapi saya harus belikan bensinnya dan kasih makan supirnya. Makanya saya mau cari kontrakan di dekat sini. Nanti saya bawa anak-anak saya. Tapi saya mau bicara dulu dengan keluarga saya supaya ada yang jaga anak-anak saya kalau saya ke rumah sakit. Pak Dewan sudah kasih uang untuk kontrakannya." Sandra pun menyebutkan sejumlah uang yang didapatnya untuk membantu dirinya dan anak-anaknya selama masa pengobatannya.

Aku menatapnya haru. Perjuangannya berat dengan kanker payudara stadium 3, rasa sakit yang harus dirasakan sebagai efek penyakitnya. Tanpa orang dewasa yang menolongnya untuk mengurus kehidupan sehari-hari. Makan minum bagi dirinya dan anak-anaknya. Terbayang efek kemoterapi yang biasa dirasakan pasien setiap usai menjalani tindakan kemoterapi. Biasanya selama dua hari sampai satu minggu setelah tindakan kemoterapi, pasien mengalami kondisi yang tidak nyaman yang membuat pasien tak berdaya. Kuatkah Sandra menjalaninya nanti? 

Hatiku bersyukur bahwa pasien seperti Sandra tak perlu lagi memikirkan biaya pengobatan yang demikian besar. Setidaknya, beban pikirannya berkurang sehingga dapat dengan tenang berfokus pada pengobatan tanpa khawatir dengan biayanya. Sandra beruntung ada orang-orang dermawan yang membantu meringankan biaya hidupnya, transport dan makan. Namun harapanku untuk keluarga-keluarga yang ada anggotanya sakit berat dapat bergotongroyong membantu tanpa harus khawatir dengan biaya pengobatan karena pemerintah telah menyediakan dananya melalui program Kartu Indonesia Sehat yang bagiku sangat melegakan. 

Tiba-tiba terdengar nomor antrianku  dipanggil ke loket. Aku bersiap untuk berdiri, kugenggam tangannya dan kukatakan, "kuat ya, berjuang untuk anak-anak." Dia mengangguk, "ya, bu." Akhirnya aku peluk dia saat aku berdiri. Sungguh aku berharap dia bisa melewati perjuangannya melawan kanker dan menang. She deserves it


Aug 15, 2016

[MyCupOfStory] Kopi Papa

Ini adalah hari pertama Biya bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan periklanan besar. Boss-nya bule, namanya Mr. Rex Ross. Biya akan menggantikan mbak Yofi yang akan cuti melahirkan selama tiga bulan. Padahal Biya baru lulus dari akademi kesekretarisan. Ijazahnya saja masih belum keluar. Kata Papa, dalam hidup keberhasilan itu ditentukan oleh sembilan puluh persen kerja keras dan sepuluh persen keberuntungan. Karena keberuntungan itu penting, makanya Papa juga bilang, “jadi, berdoalah supaya kamu beruntung. Papa juga doakan supaya kamu selalu beruntung, ya, Cantik!”

Papa memang sering suka mengganti nama Biya dan Una, adik Biya yang umurnya delapan tahun lebih muda dari Biya, dengan “Cantik”. Memang Biya dan Una cantik-cantik, sih..

Dan ternyata omongan Papa terbukti. Biya iseng saja melamar ke perusahaan ini setelah melihat iklan lowongan kerja di papan pengumuman kampus. Dari pada bengong sendirian di kosan, lebih baik iseng melamar pekerjaan. Paling tidak nanti Biya jadi punya pengalaman melamar pekerjaan ‘kan?

Waktu itu, setelah melihat iklan lowongan kerja itu, Biya langsung kembali ke kosannya. Kebetulan kampus juga sepi. Entah ke mana teman-teman yang lain. Lagi juga Biya cuma iseng saja, kok, datang ke kampus. Cari-cari kabar. Soalnya bingung, sih, mau mengerjakan apa? Guling-guling di kasur di kamar kos... sudah. Merapihkan buku-buku.. sudah, kemarin. Dua kali! Mau main internet.. sayang pulsa. Mau masak.. Tidak punya dapur! Ini kosan yang tidak menyediakan dapur umum. Maklum kosan murah. Yang penting ada kamar mandi di dalam kamar saja sudah cukup. Orang tua Biya sedang prihatin, jadi harus hemat.

Pulang ke rumah orang tua juga menghabiskan ongkos saja. Kalau ada berita di kampus ‘kan harus balik lagi ke kampus. Ongkos lagi. Mana jauh pula! Jadilah, setelah kembali ke kosan, Biya langsung mengambil laptopnya dan mengetik surat lamaran itu. Kalau curriculum vitae alias daftar riwayat hidup sih sudah ada karena sudah pernah dibuatkan oleh Mami.. hihihi.. Biya memang beruntung!

Ketika sedang mengetik lamarannya, tiba-tiba Biya teringat bahwa ia belum membuat kopi. Sudah jadi kebiasaan, sambil membaca, Biya suka minum kopi. Kopi putih saja, sih. Itu juga dibelikan Papa satu pak “buat di kosan,” katanya.

Kebiasaan minum kopi ini memang datang dari Papa yang selalu minum kopi setiap pagi dan sore. Sejak masih batita, Papa sudah membiarkan Biya mencoba kopinya. Setelah remaja dan terkena sakit lambung, Biya mengurangi minum kopi hitam dan mengganti dengan kopi susu yang kata Papa hanya boleh diminum kalau perut tidak kosong. Harus makan dulu, katanya.

Biya menyeduh kopi putihnya alias white coffee dengan air dari dispenser pemanas air yang dibeli Papanya untuk di kamarnya. Papa memang super!

Setelah kopinya siap, ia segera kembali ke laptopnya dan menyelesaikan surat lamarannya. Rasanya otak jadi lebih jernih dalam menelaah setiap kata yang sudah terketik di layar monitor kalau sudah minum kopi. Tanpa beban juga, sih. Anggap saja iseng-iseng berhadiah. Hihihi.. Namanya juga baru lulus. Wisuda juga belum! Tapi sudah punya surat tanda lulus sementara, dong. Itu saja yang Biya lampirkan beserta daftar riwayat hidup dan daftar nilai kuliahnya. Untung nilai Biya lumayan bagus. Bahasa Inggris Biya juga lumayanlah karena Mami suka berbicara dalam bahasa Inggris. Katanya kebiasaan di kantor. Iya, deh, Mami.. mentang-mentang pernah bekerja di perusahaan asing! Tapi untung juga Mami norak begitu. Jadinya Biya biasa juga dengan bahasa Inggris. Makanya, waktu wawancara dengan Mr. Rex Ross, Biya tidak canggung menjawabnya.

Biya langsung mengantar lamarannya hari itu juga ke kantor periklanan itu dan ketemu dengan mbak Yofi yang langsung membuka lamarannya di ruang reception, di hadapan Biya. Sambil berdiri. Setelah melihat berkas lamaran Biya, mbak Yofi menyuruh Biya duduk menunggu lalu ia masuk ke dalam kantor. Lama juga. Satu jam! Akhirnya mbak Yofi keluar dan menyuruh Biya masuk. Kaget juga! Setelah ditanya-tanya soal isi daftar riwayat hidupnya, Biya langsung disuruh mengetik selembar dokumen yang dicoret-coret. Tes mengetik. Untung kecepatan mengetik Biya termasuk bagus. Lulus, deh! Mbak Yofi tampak senang.

Lalu, si mbak sekretaris yang sedang hamil tua itu masuk ke kamar kerja Mr. Rex Ross yang ada di depan meja kerjanya. Sebentar kemudian mbak Yofi kembali dan mengajak Biya masuk ke ruang kerja Mr. Rex Ross. Orangnya mirip Papa. Kecil juga. Ada, ya, orang bule yang kecil begini badannya? Gondrong-gondrong gitu rambutnya seperti model potongan rambut Papa. Cuma dia bule. Papa mah Sunda. Mungkin buyut Papa dulu ada yang bule, kali ya? Hihihi.. Si bule ini juga rambutnya hitam. Kayaknya lebih tua dari Papa, deh. Ada kopi di mejanya. Kopi hitam. Kopinya Papa. Jadi kangen sama Papa.

Dalam sesi wawancara itu, Mr. Ross juga mengutak atik riwayat hidupnya. Ia juga menceritakan tentang perusahaannya yang katanya punya klien sampai ke Eropa dan Australia.

So, when can you start working?” tanya Mr. Ross. Rasanya jantung Biya tiba-tiba deg-degan gitu saat mendengar pertanyaan ajaib itu. When? Kapan? Mulai kerja? Kapan, ya? Glek.

I can start as soon as you require, Sir” jawab Biya dengan sopan setelah berhasil mengalahkan dentuman jantungnya sendiri.

Alright, can you start tomorrow?”

Hah?? Gila! Yang bener? Aku belum punya baju buat kerja! Mati aku! Bagaimana, nih?! Wah, kacau!

Yes, Sir. I can.”

Ya, mau jawab bagaimana lagi? Kalau bilang tidak bisa, nanti tidak jadi dapat pekerjaan!

Mr. Ross tersenyum dan menjelaskan bahwa mbak Yofi harus segera cuti, jadi dia perlu segera ada penggantinya yang bisa segera bekerja untuk mempelajari hal-hal yang nanti akan ditinggalkan mbak Yofi saat dia cuti selama tiga bulan. Biya tersenyum dan menjawab, “Ok, Sir, I understand.”

Lalu Mr. Ross memanggil mbak Yofi dan memberitahukan kepadanya bahwa Biya akan mulai bekerja besok. Mbak Yofi tampak senang. Mr. Ross kemudian menyuruh mbak Yofi mengantar Biya bertemu dengan Pak Yudi, Personnel Manager mereka, untuk menyelesaikan prosedur administrasi. Biya tersenyum tertahan antara bahagia dan terkejut. 10 persen keberuntungan, kata Papa. Ini kayaknya sudah lebih dari sepuluh persen, Pa!

Di ruang kerja pak Yudi, Biya mendapat penjelasan bahwa masa tiga bulan cuti mbak Yofi itu juga sekaligus masa percobaan buat Biya. Bila hasil kerjanya bagus dan Mr. Ross senang, maka Biya akan menggantikan mbak Yofi yang akan mendapat promosi ke bagian Keuangan. Wah, ini mah lebih dari 50 persen keberuntungan, deh, Pa!

Hari sudah sore ketika Biya keluar dari kantor itu. Dia langsung menuju mikrolet untuk pulang ke rumah mencari pakaian yang layak buat mulai bekerja di kantor. Papa belum pulang ketika Biya sampai di rumah. Sedang ke Bogor, kata Mami. Tapi Mami langsung mengambil telepon genggamnya dan mengabarkan tentang pekerjaan baru Biya. Mami kelihatan senang sekali. Setelah bicara sebentar dengan Papa, Mami memberikan hapenya itu ke Biya supaya ia bisa bicara dengan Papa. Papa terdengar ceria dan seperti biasa menggoda soal tubuh mungilnya.

”Anak kecil kok sudah kerja?” goda Papa. “makan dulu yang banyak biar cepat besar!”

Ih, Papa! Bukannya bilang congratulations, sih? Malah ngeledekin anak sendiri!”

Papa tertawa dan menghadiahinya congratulations ditambah doa-doa harapan semoga Biya sukses. Amin, terima kasih, Pa.

Selanjutnya, malam itu Biya sibuk memilih pakaian untuk bekerja besok! Biya mengambil tiga potong pakaian kerja Mami yang bisa dipakainya. Untung Mami bertubuh langsing. Setelah mendapat pakaian cukup untuk seminggu, Biya harus kembali ke kosan agar besok tidak terlambat ke kantor. Ke kantor, saudara-saudara! Mimpi, bukan, sih?!

Malam itu juga, Mami mengantar Biya kembali ke kosannya dengan ditemani adek Una dan bergegas pulang kembali ke rumah karena adek harus sekolah paginya. Semua jadi heboh karena Biya mendadak mendapat pekerjaan. Malam itu, Biya tidur setelah mengucap syukur kepada Tuhan. Ada rasa bersalah karena tersadar sudah lama tidak bersyukur. Tuhan memang luar biasa baik.

**

“Mbak Biya mau minum apa?” tanya Jajang, office boy kantor itu.

Biya menatapnya. Jajang melanjutkan, “Kopi atau teh, mbak?”

“Oh.. nice..” bisik Biya dalam hati. Tanpa sadar, ia melihat meja Mr. Ross. Kopi hitam Papa. “Kopi, mas,” kata Biya dengan ceria.

“Hitam atau pake susu, mbak?” tanya Jajang lagi.

“Hitam,” jawab Biya. Entah kenapa, kok, Biya jadi sentimentil begini. Biya mendadak kangen Papa banget! Kopi hitam mungkin dapat melepas rasa kangennya itu. Mungkin.

Jajang pun pergi dan mbak Yofi kemudian mengajaknya berkeliling untuk berkenalan dengan karyawan yang lainnya. Mereka ramah sekali. Senang rasanya mendapat sambutan yang hangat seperti itu.

Ketika kembali ke meja mbak Yofi, kopi hitam pesanan Biya sudah terhidang. Disebelahnya ada segelas air putih. How nice! Enak, ya, jadi karyawan? Rasanya tambah semangat, deh, hari ini.

Setelah kembali duduk dikursinya yang ditaruh di depan komputer bersebelahan dengan kursi mbak Yofi, si bumil yang cantik itu menyuruhnya untuk menyalakan komputer agar dia dapat menunjukkan isi jeroan komputernya. Pagi itu cukup asik juga mempelajari pekerjaan mbak Yofi. Selain mengetik surat-surat untuk Pak Rex, begitu ternyata si boss bule itu biasa mereka panggil, Biya juga harus mengatur jadwal pertemuan pak Rex dengan tamu yang ingin bertemu, atau membuat janji temu dengan pihak lain di luar kantor. Selain itu, Jajang juga termasuk dalam supervisi mbak Yofi. Wah, aku langsung punya anak buah, nih! Hihihi.. keren!

Saking serunya mempelajari pekerjaan mbak Yofi sampai lupa minum kopi yang sudah jadi dingin ketika Biya menyentuh cangkirnya. Tapi Papa juga suka minum kopi yang sudah dingin. Ah, Papa kemarin kenapa mesti ke Bogor, sih?! Jadi nggak ketemu, deh!

Pelan-pelan Biya menghirup kopinya. Teringat kopi Papa. Biasanya, Biya cuma minum kopi hitam dari cangkir Papa. Kopinya Papa. Papa suka suruh Biya bikin kopi sendiri. Tapi Biya maunya minum kopi Papa saja. Karena Biya menghabiskan setengahnya, Papa kemudian membuat secangkir kopi lagi untuk dirinya. Untuk gelas yang kedua itu, Biya tidak ikutan. Biasanya karena Biya sudah asik dengan kegiatan lain. Sampai akhirnya Biya harus tinggal di rumah kos dekat kampusnya supaya bisa konsentrasi belajar, supaya cepat lulus. Selain juga untuk menghemat biaya transportasi yang lumayan mahal.

Biya ingin segera bekerja. Ketika masih di SMA dulu, bisnis Papa bangkrut. Mami sudah berhenti bekerja, sehingga mereka tiba-tiba harus mengetatkan ikat pinggang dan “mantab,” kata Papa. Makan tabungan. Papa mundar mandir ke sana ke mari cari uang. Kalau pergi hari Sabtu, Papa mengajak Mami dan Una yang masih kecil supaya terus bisa diawasi. Karena itu Biya ingin segera bisa dapat pekerjaan supaya bisa ikut meringankan beban Papa. Kasihan. Sudah tua malah harus kerja keras cari uang ke sana ke mari. Sesekali ada hasil yang Papa bisa bawa pulang. Tapi kebanyakan yang lainnya menguap begitu saja. Tapi hebatnya, Papa dan Mami tetap ceria. Mereka terus bersemangat bekerja bersama. Malah sering wefie saat mereka sedang berada entah di mana. “Dibawa senang saja”, kata Mami.

“Biya!” tiba-tiba terdengar suara pak Ross. Biya memandang mbak Yofi, meminta dukungan untuk tindakan selanjutnya.

“Sana,” kata mbak Yofi. Biya pun melangkah ke ruang kerja pak Ross.

“Ini jawaban surat saya, please type it up. I’m sure Yofi has taught you how to take care of this?” kata pak Ross sambil memberikan selembar kertas bertulisan tangannya yang ... keriting.. dan seberkas dokumen lainnya. Suaranya, sih, tidak mirip suara Papa. Bule banget. Hehehe..

Yes, Sir,” jawab Biya singkat.

Sambil berdiri, Biya mengambil buku “signature book” yang berisi dokumen-dokumen yang harus ditandatangani oleh pak Ross. Buku itu sudah berada di out tray, jadi itu artinya sudah bisa diambil untuk diteruskan.

I need more coffee,” kata pak Ross sambil berdiri juga.

Ok, Sir,” jawab Biya mengira bahwa pak Ross minta kopi.

Oh, no. I’ll get it myself,” kata pak Ross lagi sambi memandangnya dan tersenyum seraya berjalan ke pantryPantry itu semacam dapur bersih tempat karyawan membuat kopi atau teh. Ada microwave juga buat menghangatkan makanan atau merebus mie instant. Apik, enak dilihat.

“Semua di sini begitu,” jelas mbak Yofi melihat pandangan mata Biya yang seperti heran karena meihat pak Ross pergi mengambil kopi sendiri. “Kalau pagi, kita disediakan kopi oleh office boy. Tapi setelahnya, kita ambil sendiri.”

Mbak Yofi tersenyum sambil mengambil buku “signature book” dan melihat-lihat dokumen di dalamnya. “Kamu masih mau mengetik surat itu dulu, kan?” katanya, “aku mau ke belakang dulu. Kalau kamu mau nambah kopinya, ya ambil sendiri.”

Si bumil – ibu hamil – itu pun pergi dengan membawa perut besarnya. Terdengar suaranya menyapa karyawan yang lain.

Tak lama, Biya selesai dengan ketikannya, lalu mencatatkan ke buku “log book” yang merupakan buku catatan surat keluar masuk. Mbak Yofi masih belum kembali. Biya melihat kembali ke kopinya. Saat itu pak Ross sudah kembali dengan membawa secangkir kopi yang baru dibikinnya sendiri. Biya teringat lagi Papa dan kopi hitamnya. Kangen.

Tidak terasa, sudah jam 12. Waktunya makan siang. Biya teringat uang sakunya yang terbatas. Duh, makan apa, ya? Mbak Yofi yang sudah kembali mengajaknya untuk keluar makan siang bersama karyawan yang lain. Kalau uang Biya tidak cukup, bagaimana? Duuuuh.. maluuuu.. huuu..

Tiba-tiba telepon di meja mbak Yofi berdering. Mbak Yofi mengangkatnya dan menyapa “This is Yofi speaking” sejurus kemudian dia menyerahkan gagang telepon itu kepada Biya. Biya pun meniru mbak Yofi, “this is Biya, speaking..”

Terdengar suara mbak Icha, receptionist kantor, “sebentar, ya, Bi..” lalu sebentar kemudian terdengar lagi suara lain. “Biya...” suara lelaki. Suara Papa!

Papa ternyata datang untuk menemani Biya makan siang. Langsung dari Bogor, Papa datang untuk memberi selamat kepada Biya dan mengajak Biya makan siang di kantin dekat kantor. Kejutan yang manis! Ah, Papa! Terharu, tauk!

*****

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

Aug 21, 2013

Menjadi tenaga terapi reflexologi yang profesional


Tertarik dengan bidang kebugaran dan kesehatan tubuh? Selain menjadi dokter atau pun perawat, ada juga jenis pekerjaan yang lebih bersifat informal sehingga tak memerlukan waktu yang lama untuk dapat segera menjalaninya. Salah satunya adalah dengan menjadi tenaga reflexologi profesional. Melalui pelatihan selama satu bulan, kita dapat segera menjadi tenaga profesional yang siap bekerja. 

Kesempatan yang ini dapat diperoleh di Meiso Reflexology, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang kesehatan dan kecantikan yang mendapat lisensi dari Kenko reflexology, Singapura.  Berdiri sejak tahun 2000, kini Meiso Reflexology telah memiliki 29 outlets yg tersebar di Jakarta, Bandung, Surabaya dan Bali.   Dibawah naungan PT. Kenko Indonesia, selain Meiso Reflexology, juga dibuka Kenko Reflexology and Fish Spa (2 outlets), Sanctum (2 outlets), dan Cocola Waxing (3 outlets).

Outlet Meiso Reflexology di Jakarta ada di:
Plaza Blok M
Pondok Indah Plaza 2
Kemang Selatan
Dharmawangsa Square
Cibubur Junction
Plaza Indonesia (2 outlet)
Senayan City (2 outlet)
Cilandak Town Square
Pondok Indah Mall (2 outlet)
Grand Indonesia (2 outlet)
Gandaria City
Epicentrum Walk
Pacific Place
Setia Budi Building
Kota Kasablanka
Kemang Colony 

Perkembangan yang pesat dari Meiso Reflexology membuat kebutuhan tenaga reflexology di petusahaan ini pun meningkat. Saat ini diperlukan kira-kira 90 orang untuk ditempatkan di outlet-outlet Meiso Reflexology di Jakarta. Ini adalah kesempatan yang baik buat pria atau wanita yang berminat pada pekerjaan ini. Yang penting, tangan tidak basah serta tidak mempunyai masalah bau badan,  kita bisa mengambil kesempatan ini karena setiap calon tenaga reflexology yang diterima, terlebih dahulu akan mendapatkan pelatihan selama satu bulan. 

Tertarik? Cepat, deh, bawa lamarannya beserta ijazah terakhir yang asli ke kantor PT KENKO INDONESIA untuk wawancara dengan alamat: 

Gedung UTANCO Lt. 4, Jl. HR. Rasuna Said Kav. B - 29, Kuningan Jakarta Selatan.