Jun 9, 2009

Cerita Bersambung - Nita Si Sekretaris

Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya


Mulai hari ini, setiap hari Rabu, di Cantik Selamanya ada cerita bersambung karangan Renthyna. Yes, it's a fiction. Semua serinya akan masuk di tag "fiction".

Hope you'll enjoy it! :)


Sinopsis:

Nita, seorang karyawan yang bermimpi punya harapan yang indah di masa depan. Semangat empat limanya dipakai untuk menggempur semua tugas-tugas yang diberikan atasan karena berprinsip teguh untuk selalu memberikan hasil terbaik untuk sang pimpinan.

Menurut ukurannya, apa yang diinginkannya tidaklah muluk-muluk, bahkan dia juga ikhlas dengan jumlah Rupiah yang diterima dari hasil jerih payahnya di kantor.

Nita punya mimpi dan berharap setiap hari. Dalam pengejaran akan mimpi-mimpinya, dia juga harus menghadapi kenyataan bahwa mimpinya tidak dapat diraih semudah ia membalikkan telapak tangannya.




Nita Si Sekretaris



Matanya memang menatap tajam ke arah gambar-gambar komik yang ditaruh di atas meja sambil kedua tangannya memegangi lembar kiri-kanan komik tersebut. Kepalanya sedikit tertunduk seolah-olah dia bersungguh-sungguh sedang membaca, padahal kalau bisa dia ingin melamun saja memandang ke arah taman di luar jendela. Tapi karena takut ditegur petugas perpustakaan, ia memang berpura-pura meminjam komik untuk dibaca-bacanya.

Mengapa? Karena jam makan siang begini sebetulnya Nita cuma mau membuang emosi kemarahannya saja di tempat kerja. Terutama gara-gara peristiwa jam sepuluhan tadi pagi. Pikirnya, dari pada dia ngumpet di dalam toilet, lebih baik dia lari ke perpustakaan ini. Lagian, dia juga sudah capek dengan pertanyaan simpati teman-temannya mengenai persoalan ini tapi ujung-ujungnya pasti seluruh divisi mendapatkan topik seru lagi dalam drama babak lanjutan yang dialaminya bersama si sangar Vero.

Sambil mencoba mengatur napas buat menenangkan emosinya, sekilas dari sudut mata Nita melihat ada orang yang berdiri dekat mejanya. Sekilas pula ia teringat akan tampang galak Vero senior di divisinya.

Kurang ajar! Umpatnya. Kalau diamat-amati, nampak juga bahwa wajahnya yang mengarah ke komik itu masih menahan amarah.

"Hei, kamu ini kalo kerja bagaimana sih? Saya sudah bilang berulang-ulang bagian yang ini harus kamu kalikan dulu sepuluh persen. Mata kamu liat ga sih kalo angka-angkanya jadi kelihatan beda!" Begitulah tadi cara Vero bicara padanya dengan suara yang menggelegar.

Ellen, Darman, dan Asti , yang duduk satu cubicle dengannya, semuanya menengok ke arahnya. Seperti pesakitan yang sedang diinterogasi, Nita duduk kaku di kursinya. Sementara Vero yang modis tapi sangar itu berdiri disampingnya sambil mengacung-acungkan jarinya. Si Usep yang baru menaruh air ke ruangan Pak Walker saja ikut-ikutan mengangkat kepala clingak-clinguk ke arahnya.

Nita malu setengah mati. Dia yakin saat itu wajahnya memerah, dan dia juga yakin bahwa setelah melihat wajahnya yang memerah itu, Vero semakin terbakar amarahnya. Makanya, setelah Nita menatap matanya – dengan pandangan takut, panik, grogi, malu, dan sebagainya semua campur aduk – mata Vero malah jadi mendelik.

"Nih!" ucapnya lagi dengan suara keras sambil membanting tumpukan kertas yang dibawanya yang tadi ditunjuk-tunjuk angka yang salahnya itu. "Cari sendiri salahnnya di mana!"

Sambil ngeloyor pergi, dia masih juga ngomel dengan volume suara yang tidak dikecilkan sedikitpun. "Saya capek ngejelasin sama kamu. Kalo ada Tasya disini, semua kerjaan pasti beres. Gue ga perlu kerja dua kali gara-gara beginian!"

Gara-gara volume suaranya yang ampun luar biasa, Bu Marsya – bossnya Nita – sampai-sampai keluar dari ruangannya. Dia cepat-cepat menyergah langkah Vero.

"Ada apa sih, say?" tanya Bu Marsya sambil memegang pundak Vero. "Ayo sini-sini masuk." Dia menggiring Vero masuk kedalam ruangannya. "Dah ngopi belum lu? Gue bilang Usep bikinin ya?" Itu suara Bu Marsya yang terakhir bisa terdengar karena kemudian beliau menutup pintu mengajak Vero bicara secara tertutup.

Duh, hati Nita jadi tambah tidak enak. "Udah deh, habis deh gue...", keluhnya dalam hati. Badannya terasa menjadi dingin, terlebih saat melihat Vero bicara dengan bossnya itu. "Mudah-mudahan Bu Marsya ga terima bulat-bulat omongan tuh Mak Lampir," kata Nita berharap dalam hati.

Sebab, yang bikin Nita semakin tidak enak hati adalah melihat adegan gerakan-gerakan mereka berdua. Kelihatan Bu Marsya kembali duduk ke kursinya yang menghadap komputer dengan serius mengamati Vero yang kelihatan sedang bersemangat meluapkan emosi yang nampak jelas dari ekspresi wajahnya, tangannyapun sambil digerak-gerakannya entah sambil ngomong apa. Sepertinya volume suaranya masih keras, walaupun tidak jelas terdengar.

Tapi, tiba-tiba Vero menoleh ke arah jendela dan bertemu pandang dengan Nita! Kebetulan Nita saat itu sedang memandangi mereka dari kursinya yang terletak di depan ruangan Bu Marsya. Oh... Nita kaget. Sesaat wajah Vero tampak lebih masam lagi. Belum sempat Nita menggeret kursinya kembali menjauhi jendela ruangan Bu Marsya, Vero malah tiba-tiba berjalan menuju jendela sambil berjalan menatap Nita dengan tajam. Nita jadi grogi. Dia sempat berpikir, jangan-jangan Vero mau teriak-teriak lagi ke arahnya dari balik jendela ruangannya Bu Marsya.

Tapi itu pemandangan sementara saja, karena sesudah itu tidak tahu lagi apa yang terjadi karena ternyata Vero berjalan untuk menutup blind curtain di jendela tersebut.

Nita jadi berprasangka buruk. Jadi, ia cepat-cepat merapihkan angka yang ngawur tadi. Setelah file yang disimpannya di komputer dibukanya, ia tahu angka mana yang dimaksudkan Vero tidak betul. Hanya sekedip saja Nita langsung mengarah ke kolom yang dimaksud. Formulanya dia tambahkan, dan... angka total keseluruhan di bawahnyapun seketika itu juga berubah.

Nita, Si Sekretaris di CANTIK SELAMANYABenar-benar persoalan sepele. Apalagi tadi nama Tasya dibawa-bawa, Nita tidak habis pikir dengan keegoisan Vero. Padahal semalam Nita pulang hampir jam satu pagi karena membantu proyeknya Bu Marsya. Bayangkan saja, sampai jam setengah delapan malam Vero masih mengganggu Nita dengan minta tolong print laporannya yang halaman tujuh sampai delapan. Habis itu, Vero juga masih minta tolong Nita untuk mengirimkan e-mail laporan summary cabang Kalimantan. Logikanya sih, Vero harusnya berterima kasih banyak pada Nita. Karena, Vero bukanlah boss Nita, jadi sudah seyogyanya Vero memandang pekerjaan yang dilakukan Nita untuknya adalah berupa bantuan. Bukan tanggung jawab utama. Lagi pula, ditinjau dari level jabatannya, di perusahaan ini, posisi Senior Manager belum mendapatkan privilege bantuan pekerjaan sekretaris.

Sangat mengherankan bahwa Erna yang adalah staf langsung di bawah hirarkinya Vero malah pulang sekitar jam setengah enam kemarin. Bahkan kemarin sekitar jam lima lewat, Nita bertemu Dadi yang juga staf di bawahnya Vero juga sudah ada di depan lift lengkap dengan segala barang-barang perlengkapannya. Katanya dia buru-buru karena mau ikutan final futsal di klubnya. Sewaktu berjalan menuju toilet, Edward dan Yanti terlihat sedang ngobrol-ngobrol sambil tertawa cekikikan di ruangannya Pak Haris.


Bersambung...


Updated - Baca juga: "Pembacaan Cerber "Nita si Sekretaris" di Radio Cempaka Asri FM!"