Sep 2, 2009

Yang Harus Dilakukan Bila Terjadi Gempa

Cantik Selamanya.com


"Karena kita ingin hidup sebaik-baiknya, then let us take care our lives the best."



Kemarin, 02 September 2009, Jakarta digoyang gempa bumi yang terasa kuat dan mengagetkan. Saat itu, kebetulan aku sedang online melalui MSN di laptop pribadiku dengan seorang teman yang berada di Dubai. Tentu saja sambil mengerjakan pekerjaanku di laptop perusahaan. Tiba-tiba kami yang berada di ruang kantor di lantai 12 gedung tempat perusahaanku berada merasakan gedung kantor kami berguncang cukup keras... dan lama.

Aku memang sudah pernah mengikuti latihan penyelamatan saat menghadapi gempa. Jadi aku tenang saja sambil menenangkan teman-teman yang lain juga. Kepada teman yang sedang online denganku aku beritahukan bahwa kami sedang mengalami gempa yang cukup keras. Dia pun menanyakan apakah aku memahami prosedur keselamatan saat gempa. Akhirnya guncangan itu berhenti juga dan kami diminta segera meninggalkan gedung. Agaknya ada kabar bahwa akan ada gempa susulan. Menurut berita, dua puluh menit kemudian memang ada guncangan lagi tapi aku, sih, gak merasakannya.

Menurut situs BMG, Jakarta merasakan gempat tersebut dengan kekuatan IV Skala MMI [Modified Mercalli Intensity]. Bila dilihat di Wikipedia, artinya tingkat daya rusak gempa tersebut ringan saja. Hanya akan menyebabkan menggetarkan perabotan atau sekedar suara dinding yang berderik.

Pusat gempa kemarin berpusat di 142 km baratdaya Tasikmalaya, dengan kekuatan gempa 7,3SR dan kedalaman 30 km. Menurut situs Kompas, sampai 22.00 WIB di hari yang sama, gempa tersebut mengakibatan 33 orang harus kembali ke khadirat Khalik dan 40 dilaporkan hilang. Khusus di Jakarta, satu orang korban tewas dan 38 luka-luka.

Bahaya Selanjutnya? Tidak Bisa Dibilang Kecil

Biasanya, berhari-hari kemudian, bahkan berbulan-bulan malah bertahunan, rekaman gempa masih bergelayut di benak kita. Sebab siapa sih yang mau jadi korban? Seingatku, aku sendiri telah tiga kali mengalami gempa saat berada di kantor. Aku ingat kira-kira sepuluh tahun yang lalu saat bekerja sampai larut malam, tiba-tiba tirai di jendela kantor kami bergoyang ke kiri dan ke kanan. Partisipun bergoyang mengikuti goncangan. Ternyata saat itu Krakatau sedang muntah.

Menurut situs preventionweb.net, Indonesia memiliki total resiko pada posisi ketiga setelah Jepang dan Filipina. 573 ribu penduduk Indonesia tiap tahun beresiko menghadapi gempa kuat di tingkat V dan VI MMI. Sekitar 13.300 saudara kita harus berhadapan dengan kemungkinan mengalami gempa hebat yang cukup kuat untuk merubuhkan gedung-gedung.

Meski probabilitas kemunculannya bisa dihitung, waktu pasti datangnya gempa memang tidak bisa diterka. Untuk itu kita harus mau berhadapan dengan resiko gempa terjadi sewaktu-waktu.

Bila dilihat dari situs preventionweb.net tadi, ada 10,37 juta penduduk Indonesia yang harus mewaspadai kemunculan gempa tingkat menengah atau skala menengah - seperti yang baru dialami warga Jakarta kemarin. Maka, ada baiknya bila kita catat dan perhatikan apa yang terjadi saat tremor tersebut berlangsung, karena jenis gempa itulah yang paling sering terjadi di wilayah negara kita.

Kita ingat tadi, bahwa buku-buku di rak, kursi, bergoyangan. Bahkan ada dinding-dinding keramik dan eternit gedung perkantoran yang lepas. Semuanya bisa saja melukai kita.

Jangan lupa. Bagian penting yang harus kita perhatikan adalah setelah gempa berlangsung: munculnya gempa susulan. Meski kekuatannya lebih lemah, namun gempa susulan ini berarti bisa menambah tingkat kerusakan yang telah muncul sebelumnya. Para ahli mencatat, setelah gempa reda sama sekali, masalah kebakaran [akibat rusaknya jaringan listrik atau gas] jadi rentan bermunculan.

Karena itu, kita bisa belajar bahwa untuk menghadapi gempa ada tiga langkah yang harus diperhatikan: sebelum, saat, dan setelah gempa berlangsung. Aku mencatat langkah-langkah persiapan for you, my beloved readers.

1. Sebelum Gempa

Marla Petal, Ph.D., dari Universitas Bogazici, Kandilli Observatory & Earthquake Research Institute [Turki] di situs earthquakecountry.info mengingatkan bahwa hal mendasar untuk penangangan bencana gempa adalah dengan memperhatikan keteraturan rancangan gedung yang mengakomodir upaya menyelamatkan diri. Preparation is the most important.

Untuk itu pengelola gedung wajib mengadakan latihan evakuasi atau penyelamatan pada saat keadaan darurat termasuk gempa. Aku rasa hal ini seharusnya sudah diberlakukan di semua perkantoran di Jakarta. Sebagai pemakai gedung seharusnya kita juga mengikuti latihan itu setiap kali diadakan agar apabila keadaan darurat itu terjadi, kita dapat bersikap lebih tenang karena mengerti apa yang harus dilakukan berikutnya.

Ketika kami menuruni tangga darurat, orang-orang di sekitarku semua bersikap tenang. Ini karena kami semua sudah mengerti prosedur menghadapi gempa.

2. Saat Gempa

Dian Manginta - Cantik SelamanyaMenurut latihan yang telah aku ikuti, bila kita berada di gedung tinggi, maka hal terbaik yang bisa dilakukan saat gempa menyerang adalah dengan berlindung di bawah meja. Meja ini akan melindungi kita dari kemungkinan tertimpa eternit, atau misalnya barang-barang yang jatuh dari lemari.

Belakangan aku mendengar orang mulai mempercayai bahwa berlindung di bawah meja tidak akan aman. Cara lebih baik adalah dengan menggulungkan badan di pojok bagian bawah sebelah luar sebuah benda kuat, misalnya meja besar. Pendapat ini berdasarkan asumsi bahwa meski tertimpa dinding runtuh, maka akan ada ruang kecil yang tersisa di antara reruntuhan dan penampang vertikal benda kuat tersebut.

Untuk hal ini, Marla Petal menuliskan bahwa suatu hasil eksperimen menunjukkan bahwa bila seseorang berusaha menggulungkan badannya maka ia akan menjadi mudah untuk jadi berguling-guling saat lantai digoyang gempa. Maka, strategi mojok tersebut justru berbahaya.

Sebaliknya, Petal juga mengingatkan bahwa langkah penyelamatan diri terbaik adalah berlindung di bawah meja sambil memeluk dengkul kita. Ini akan memberikan posisi duduk yang mantap dan tidak mudah terguling-guling.

Lembaga-lembaga dunia, seperti FEMA [Federal Emergency Management Agency], tetap yakin bahwa berlindung di bawah area keras, seperti meja, adalah cara pengamanan terbaik. Bila kita sedang terlentang di tempat tidur, maka disarankan untuk tidak pindah tempat, dan melindungi muka dengan bantal. Setelah ada ancaman lain, seperti eternit yang terlihat akan runtuh, barulah kita segera pindah ke area lain yang lebih aman. Usahakan jangan melangkah bila tidak ada cahaya.

Marla Petal memberi tahu statistik menunjukkan bahwa kecelakaan fatal saat gempa paling sering disebabkan oleh cidera kepala, leher, dan dada. Tambahan lagi, semakin kecil area tubuh yang tak dibiarkan tanpa perlindungan [seperti meja, bantal], maka makin kecil pula kemungkinan kita akan cidera.

3. Setelah Gempa

Selama gempa berlangsung, jika kita ada di dalam gedung bertingkat, maka tidak disarankan untuk berusaha keluar. Ini karena daya reaksi kita akan sangat terbatas karena badan limbung digoyang guncangan gempa. Setelah itu, barulah kita menggunakan tangga darurat untuk menuruni lantai. Menggunakan lift, sama sekali dilarang.

Pengelola gedung bertingkat biasanya akan selalu mendapatkan update dari lembaga terkait untuk mengetahui langkah berikutnya. Pada kejadian kemarin, setelah guncangan akibat gempa berhenti, kami diminta untuk segera meninggalkan gedung. Ternyata itu karena ada berita tentang akan terjadinya gempa susulan yang memang terjadi duapuluh menit kemudian.

Saranku, ada baiknya apabila kita juga mempelajari informasi yang disediakan oleh Departemen Pariwisata, yang sudah mengumpulkan daftar panjang hal praktis yang bisa dilakukan. Atau lihat CUSEC-Canada.


*****



Aku kaget juga bahwa gempa di Tasikmalaya kemarin ternyata mengakibatkan korban jiwa satu orang meninggal di Jakarta selain banyak juga korban terluka. Ditambah lagi terjadinya kepanikan di pusat-pusat perbelanjaan seperti Pasar Tanah Abang. Mestinya hal ini terjadi karena kurangnya pengetahuan tentang prosedur penyelamatan saat gempa.

Tidak ada gunanya menjadi panik atau memikirkan hal-hal yang aneh-aneh saat menghadapi gempa. Berusaha tenang sambil mengingat langkah-langkah yang harus dilakukan adalah lebih baik. Seperti yang kami lakukan ketika keluar dari gedung perkantoran kami. Nurut aja tanpa memikirkan macam-macam hal. Sampai di luar gedung, kami menunggu saja di master point yang telah ditentukan bagi tiap-tiap perusahaan yang berkantor di gedung kami. Ya, gak mikir macem-macem aja sementara orang-orang yang mendapat tugas dari kantornya masing-masing mengadakan pengecekan kondisi karyawan masing-masing.

Sempat juga terjadi traffic jam di jaringan telepon karena orang mulai mencoba untuk menghubungi atau dihubungi keluarganya. Tetapi di rombongan kami, usaha untuk meng-update keluarga baru dilakukan setelah keadaan menjadi lebih tenang. Sebaiknya, kalau kondisi baik-baik saja, tahan dulu untuk menggunakan sambungan telepon karena mungkin ada orang lain yang dalam situasi terdesak entah karena terluka yang memerlukan bantuan dan perlu menghubungi medik atau polisi.

Jadi, lebih baik untuk menjadi tenang supaya kita tahu harus berbuat apa. Iya, 'kan?




Dian Manginta - Cantik Selamanya




Perlu dibaca juga di Cantik Selamanya:







  • It is cool when we can prepare things accordingly, it shows we are not weak. Gabung di halaman facebook "Cantik Selamanya", yiuuuk yaaaak yiuuuuuuk? ;)
Yuk, gabung?