May 5, 2009

Safety, Hidup Berkualitas

Lihat catatannya di wall-blog Cantik SelamanyaSetelah lebih dari sepuluh tahun bekerja di perusahaan multinational aku terbiasa dengan budaya menjaga kesehatan, keselamatan, dan lingkungan kerja yang berkualitas tinggi. Di dunia industri, bidang ini biasanya disebut Health, Safety and Environment atau disingkat HSE.

Standar yang diterapkan tinggi sekali, mengejar kesempurnaan. Artinya, management gak mengijinkan adanya sedikitpun kesempatan bagi suatu penyimpangan, tidak ada kesalahan yang akan ditolerir dalam pelaksanaan program HSE. Kalau dilanggar, hukumannya adalah pemecatan. Dan karyawan yang dipecat karena pelanggaran HSE tidak akan menang di pengadilan karena hukumnya jelas.

Memang di mana-mana manusia harus diberi aturan yang jelas seperti itu, sih, if we want something to work out well.

Transportasi Jadi Aman
Nah, salah satu program HSE ini adalah keselamatan dalam transportasi. Perusahaan mengevaluasi apa saja faktor di dalam transportasi yang dapat menimbulkan kecelakaan. Faktor-faktor ini harus dihindari atau dicarikan jalan keluarnya. Karena, kalau ada pegawai yang mengalami kecelakaan lalu lintas di dalam melaksanakan tugasnya, perusahaan 'kan jadi rugi.

Rugi waktu, karena si karyawan gak bisa kerja karena kecelakaan. Rugi biaya karena harus mengobati karyawan. Belum lagi harus menenangkan keluarga yang sedih karena musibah itu. Dan sebagainya, dan sebagainya.

Kita tahu, 'kan, apa akibatnya kalau sampai mengalami kecelakaan lalu lintas? Fatal. Bisa meninggal.

Kita tahu juga, 'kan, kalau di mobil itu disediakan seatbelt sebagai alat pelindung apabila terjadi kecelakaan? Nah, oleh perusahaan, seatbelt itu harus dipake. Kalau sampai ada karyawan yang ketahuan naik mobil gak pake seatbelt, bisa dipecat seketika. Ini karena tegasnya perusahaan dalam menangani HSE.

Maka, jadilah, kalau naik mobil pribadi atau taksi, aku selalu mengenakan seatbelt. Kebiasaan ini aku terapkan, walaupun saat duduk di bangku belakang. Karena kecelakaan lalu lintas bukan cuma mengancam pengemudi dan penumpang di depan, tetapi juga yang duduk di belakang.

Apa lagi kalau penumpang di kursi belakang (atau tengah kalau yang naik mobil jenis station wagon) gak siap ketika terjadi kecelakaan. Bisa terlempar ke kursi depan dan mungkin menghantam kaca depan.

Lihat catatannya di wall-blog Cantik SelamanyaSetahu aku, waktu Lady Di meninggal dalam kecelakaan mobil dulu, saat itu beliau gak mengenakan seatbelt. Mungkin saking pingin buru-buru kabur dari kejaran paparazi. Setahu aku juga, yang selamat cuma pengemudinya karena cuma dia satu-satunya yang pake seatbelt. Ngeri, 'kan?

Tapi sebenernya aku menikmati memakai seatbelt, kok. Karena 'kan dengan adanya seatbelt itu kita gak perlu menahan tubuh untuk selalu duduk tegak. Kita harus duduk tegak, loh. Kalau gak keliatannya seperti pemalas!

Seatbelt yang mengikat tubuh kita ke kursi mobil mengambil alih sedikit tugas rangka tubuh kita untuk dapat duduk tegak tanpa memaksakan diri. Kayaknya, tulang punggung kita jadi terawat, deh. Secara estetika, tubuh yang tegak itu enak dilihat.

Secara kesehatan, tulang punggung gak menderita karena tubuh yang melengkung. Ini, sih, pandangan awam aku. Tentu saja, asupan gizi yang baik juga diperlukan untuk merawat tulang punggung dan seluruh tubuh kita. Tapi, merawat tubuh juga kan dengan melatih gerakan tubuh kita dengan benar sesuai dengan fungsi tubuh. Iya, 'kan?

Nikmatilah rasa tanggungjawab manusia dewasa




  • Let's Learn More! Apa yang kudapatkan tentang seat belt, or being matured and fully responsible di wall blog di halaman facebook "Cantik Selamanya"...?
Yuk, gabung?