Jul 7, 2009

"Be Nice", Pelihara Semangat Kerja (Riset)

Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya


Artikelku, 'Ngobrol (lagi), Ah..'
  • Klik gambar di samping untuk membaca artikelku "Ngobrol (lagi), Ah.." di Cantik Selamanya. Di situ, coba untuk menyampaikan tips untuk bisa punya sikap nice atau manis di kantor. Sebetulnya, jadi orang yang manis sikapnya mudah dan perlu dilakukan...

BAGI yang sudah beberapa lama bekerja pasti tahu bahwa yang namanya "office politics" bisa jadi jerat buruk efesiensi waktu kerja, menghabiskan waktu, menguras energi. Office politics, sama seperti konflik lainnya, hanya bikin suasana tegang.

Walaupun kita bisa mengatasi runyamnya office politics atau masalah pribadi lainnya di kantor, setibanya di rumah semua pengalaman buruk masih akan bergema di kepala. Hingga akhirnya, yang ada bad mood kita bisa meneror sesama penghuni rumah.

Padahal, seperti aku sudah ungkapkan di artikel "Ngobrol (lagi), Ah..." sebetulnya mengatasi ketegangan sesama teman di kantor kuncinya cuma satu: be nice sama semua orang. Dengan menjadi nice atau punya sikap manis, kita menemukan cara mudah untuk membangun hubungan sosial yang sehat dengan lingkungan kita.

Kalau kita nice, grup kita akan punya dinamika yang bagus, bisa mengelola tanggungjawab bersama apapun tantanggannya. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh, bukan?

Pentingnya Relasi yang Nyaman

Jangan ge er dulu, kalau kita merasa selalu di atas angin waktu menghadapi office politics, misalnya karena kepintaran diri. Assc. Prof. Eli Finkel dari Universitas Northwestern, Illinois, Amerika Serikat mengingatkan bahwa bagaimanapun beban mental yang harus kita tanggung dari buruknya hubungan sosial di kantor akan membawa efek negatif secara signifikan. Yaitu, kita bisa kehilangan kemampuan mental untuk berkembang.

Eli FinkelDalam penelitiannya, Finkel memberikan bukti tanda bahwa kacaunya hubungan sosial akan mengurangi kualitas kerja. Merugikan, hubungan sosial jelek di kantor malah mengurangi akumulasi nilai kerja jauh dari yang seharusnya kita bisa dapatkan.

Eli Finkel melakukan lima studi berbeda untuk melihat dampak buruknya komunikasi setelah pengalaman tersebut berlangsung. Dalam dua grup terpisah, tiap subyek yang diteliti diminta bekerjasama dengan seorang rekan kerja [yang sebetulnya adalah juga seorang peneliti]. Si rekan kerja ini akan berakting menjadi partner yang mudah berkolaborasi dan sebaliknya: sulit diajak berkomunikasi dan malah membuat frustasi. Tentu saja, setiap subyek penelitian tidak tahu rekan pilihan mana yang enak diajak bekerjasama atau sebaliknya.

Dalam tugas memecahkan permainan komputer, grup-grup tadi diminta untuk bekerja di bawah kendali orang yang sulit berkolaborasi dan sebaliknya. Tugas dari si teman kerja ini adalah membangkitkan rasa frustasi atau justru membuat tugas menjadi cepat selesai.

Dian Manginta Bicara KarirSetelah itu, setiap subyek penelitian diminta untuk memecahkan masalah "anagram" [teka-teki dari kata-kata]. Hasilnya? Sebagian besar, 62%, dari mereka yang baru saja bekerjasama dengan orang mudah diajak komunikasi akan memilih untuk mengerjakan tugas anagram yang lebih sulit. Sebaliknya, hanya 15% dari mereka yang punya rekan kerja buruk akan mau memilih tugas anagram yang lebih sulit pula.

Perlu diingat, setiap orang tidak diberi tahu bagaimana performa mereka waktu memecahkan masalah anagram yang dipilihnya sendiri. Para subyek ini hanya mendapat informasi bahwa prestasi mereka "lumayan". Bukankah orang lain sering tidak memberi tahu waktu kita sedang mengalami keberhasilan apalagi kegagalan?

Tidak Mampu Bersosialisasi Habiskan Mental

Studi yang berhasil Finkel perlihatkan di sini adalah mereka yang harus menghabiskan waktu dan tenaga membangun relasi positif dengan rekan kerja akan mengalami kerugian motivasi, kelelahan mental, stress. Untuk itu, setiap orang perlu untuk membangun cara efektif dan efesien (ringkas) dalam menjalin ikatan sosial dengan para individu lingkungan kerjanya.

Selain dalam eksprimen yang digambarkan di atas, sebetulnya Finkel sudah mencoba mengalisis bentuk kondisi lainnya. Seperti dalam hal kemampuan akademis dan fisik. Tentu saja, hasilnya serupa.

Sekiranya kita tidak mendapatkan cara mujarab membangun ikatan sosial ini, maka potensi akibatnya adalah kita tidak akan memiliki cukup banyak tenaga untuk tertarik mencoba tantangan kerja yang lebih besar.

Di sinilah pentingnya sikap yang manis, untuk memancing orang lain pun memberikan perangai yang sama kepada kita. Paling tidak, kita tidak mau bukan menambah keruh suasana dengan menampilkan sikap buruk?

Dengan memberikan sikap yang manis, kita telah memberikan sinyal agar orang lain pun mau ramah terhadap kita. Seandainya sikap orang lain ternyata buruk? Ingat saja, bahwa setiap orang punya kemampuan mempengaruhi orang lain. Mereka yang punya bad attitude suatu saat nanti akan pula belajar untuk punya sikap yang nice.

Be nice won't hurt. It helps us to grow bigger.

Begini catatan Assc. Prof. Eli Finkel:

"But there are plenty of inefficient interpersonal interactions that we engage in every day, and those draining dynamics have significant consequences." .

High-Maintenance Work Dynamics May Affect Performance