Mar 1, 2009

Married?

Aku senang menampilkan diriku yang independent. Mandiri. Single and very happy. Seperti lagu terbarunya Oppie Andaresta “I’m single and very happy”. Oppie malah sudah married. Aku masih single dan memang very happy.

Tapi aku happy karena aku tahu hidupku baik-baik saja. Aku menjalaninya sesuai dengan keinginanku, yaitu bahwa aku tidak terpaksa untuk melakukan sesuatu yang berhubungan dengan hidupku.

Begini, kalau aku menikah, aku tidak mau menikah karena harus.

Ada yang bertanya padaku apakah aku ingin punya anak. Ingin sekali! Aku dulu pingin punya anak lima, kok. Tapi kita ‘kan juga bertanggungjawab untuk membahagiakan anak-anak itu. Apakah aku yakin dengan keadaanku, bahwa aku akan sanggup membahagiakan mereka? Memberikan yang terbaik untuk mereka. Yang terbaik itu bukan cuma materi, loh, tetapi yang lebih penting adalah their mentality welfare.

Anak-anak yang lahir dari keluarga yang tidak bahagia, bisa dipastikan tidak akan bahagia. Dan itu sangat dipengaruhi oleh kemampuan seorang ibu untuk menciptakan keluarga yang bahagia itu. Seorang ibu menjadi katalisator dalam keluarganya. Ia yang menengahi ketika sang ayah sibuk dan anak-anak merindukan kehadirannya. Seorang ibu membantu suaminya untuk mengenal anak-anaknya, dan membantu anak-anaknya untuk mengerti ayahnya.

Sebagai hadiahnya, sang ibu dicintai oleh suami dan anak-anaknya. It would be nice to wake up in the morning and do some preparation for the family. Make sure everyone is leaving home happily, ready for their journey.

It would be nice to have a sweet kiss before my husband leaves for work, and some more kisses from the kids. “Bye mommy.. see you later”

Cuma masalahnya, menjadi ibu dan istri adalah pekerjaan penuh 24 jam sehari, 365/366 hari atau 8760 jam setahun, seumur hidup.

Menjadi ibu dan istri itu harus pake hati, bukan otak. Karena kalau mengandalkan pikiran, bisa stress. Harus pake hati supaya kuat menghadapi setiap masalah termasuk kemonotonan, penantian akan suatu perubahan yang manjadi kebutuhan batin manusia..

Banyak (sekali) wanita yang rela menikah tanpa cinta. Menikah dengan mengandalkan logika.

It should be no problem kalau pelakunya sanggup melatih dirinya untuk menerima si pria sebagai suami yang harus dihormatinya seumur hidupnya. Yang harus dimengerti agar bisa didukung untuk menunjang kesuksesannya dalam bekerja. If she could do that, go for it.

Tapi aku gak bisa. I need to fall in love before I can give my heart. Bukan pilih-pilih. Itu keadaan yang harus aku tanggung. Aku menyadarinya dan aku tauk itu adalah bagian dari jati diriku yang kuterima dari Sang Pencipta, Tuhan.

Tentu saja, aku bersyukur. Karena bagaimana pun juga, kebahagiaan adanya di hati, bukan di pikiran. Jadi bagiku lebih baik menjadi seperti anak-anak kecil yang tidak mengerti apa-apa. Happy. Bahagia menjalani hari-harinya tanpa beban. Sampai hari itu tiba, when we are not kids anymore.

So, husbands, appreciate the one with you cos she loves you. And if she doesn't love you enough, remember that she sacrifice her chance to be happy just to be with you. Para suami, perhatikanlah kebahagian istrimu, karena kebahagiaannya adalah kebahagiaan keluargamu.


1 comment:

  1. Salam kenal Mbak Dian, senang deh baca blognya Mbak Dian

    ReplyDelete

Kasih komentar, ya, supaya aku punya input yang bisa aku kembangkan untuk artikel aku selanjutnya. Menambah wawasan aku juga, kan? Terima kasih sebelumnya, loh!