Jul 28, 2009

Untuk Para Bapak, Jadikan Indonesia Kuat!

Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya

Cantik Selamanya - Dian Manginta


Aku ngobrol dengan seorang temanku, bapak-bapak. Suami orang, punya anak. Artinya, dia memang teman. Halah!

Anyway, aku shared dengan dia mengenai visi aku dengan Cantik Selamanya, dalam hal keluarga. Aku menceritakan impianku tentang keluarga-keluarga di Indonesia yang berbahagia.

Aku bermimpi, suami istri di seluruh Indonesia semuanya adalah pasangan mesra, lengkap dengan anak-anak yang hormat dan mencintai orang tuanya. Senyum selalu di wajah orang Indonesia. Bukan senyum otomatis karena setelan muka orang Indonesia memang pake senyuman. Tetapi senyum yang terpancar dari ketentraman bathin. Tentram karena tahu, semua baik-baik saja.

Aku ingin semua keluarga Indonesia bisa tertawa puas melihat masa depannya.

Kami sempat menyinggung soal perselingkuhan yang aku, sebagai perempuan, tentu memandangnya dari sisi keperempuananku. Bagaimana pun, aku tidak merasa berada pada tempat yang tepat untuk berbicara tentang perselingkuhan dan lelaki, dari sisi lelaki. Yang aku maksud, aku gak akan bisa bilang “lelaki seharusnya begini atau begitu”.

Aku tidak akan membebani diriku dengan suatu ukuran yang aku ukurkan kepada makhluk lain yang aku gak tahu bagaimana caranya mereka bisa hidup. I mean, like people often say, “men are like that!”. Terus kita memandang lelaki sambil dalam hati kita bilang, "gitu, ya?"

Kebutuhan Pria: Menjadikan Istrinya Cuantek

So, that guy friend of mine pun berbagi pandangannya. Dia membagi sarannya kepada ibu-ibu teman di kantornya tentang ketakutan mereka pada perselingkuhan suami. Sarannya sederhana saja. “Kalian kalau di rumah itu ‘kan sukanya pake daster, tokh?” selidiknya “sudah pake daster, gak dandan, rambut asal-asalan... sementara di luar, suami kalian itu bertemu dengan perempuan cantik, berdandan rapih, pakaiannya enak dilihat..”

Kata temanku, dia gak melanjutkan kata-katanya. Ibu-ibu itu langsung mengerti dan senyum-senyum. Mudah-mudahan itu karena mereka mengerti maksud temanku itu dan belajar sesuatu dari pernyataannya itu. I think so.

Aku memang setuju dengan temanku itu. Sebagai perempuan, kita punya kontribusi dalam hidup ini. Dengan menjaga diri, pakaian, perkataan, perbuatan, hati, dan pikiran kita membuktikan bahwa kita telah berusaha sebaik mungkin untuk memberikan kontribusi yang baik bagi kebahagian bersama.

Para bapak tentu punya kontribusi sendiri dan itu pastinya bukan hanya bekerja keras membanting tulang mencari nafkah sesuap berlian demi kemahslatan keluarga. Uang bukan segalanya, Pak. Nafkah bathin itu perlu. Kesehatan mental pun perlu dijaga. Uang banyak tidak berarti tak punya mental tempe.

Maka, apabila in addition to your wife effort as a housewife:
    bersih-bersih, beres-beres, memastikan bahwa pendidikan anak-anak mendapat perhatian yang baik, menu keluarga terjamin kesehatannya, dia juga menambahkannya dengan merapihkan diri, menata rambutnya dengan baik, berpakaian dengan baik, menambah pengetahuan dan wawasannya sehingga dia jadi perempuan yang enak diajak ngomong.

Maka, Anda juga, Bapak, punya kewajiban untuk menjaga kesehatan mental keluarga. Pastikan bahwa Anda pulang dengan mengesampingkan masalah yang masih menggantung dari tempat kerja tadi. Jadilah tenang, agar engkau dapat berpikir waras. Istri juga bakal maklum, kok, kalau dilihat suaminya kok agak lebih “anteng”. Saat sudah relax, baru, deh, share your problem to your wife. Bagus, 'kan?

Janganlah jadi seorang bapak yang kerjanya cuma bikin masalah. Jadilah solusi!

Berjuang, Selagi Diperbolehkan Tuhan

Tentu saja, the trick is, sejak awal niat yang baik sudah didiskusikan. Jangan pernah berpikir bahwa pernikahan itu bisa berakhir di tengah jalan. Walau mungkin saja, tetapi yang negatif seperti itu, tak usah dipikirkan.

Perjuangkanlah hidup. Fight for your love sampai akhir. Sampai it is impossible. Bahkan beyond the impossible, ada Tuhan yang melihat niat baik kita, yang bagi-NYA tidak ada sesuatu yang mustahil. Karena itu, dengan menaruh harapan yang besar pada kemurahan hati-NYA, perjuangkanlah kebahagian keluarga.

Para Bapak, berjuanglah agar jika Anda wafat nanti, semua orang mengingat Anda sebagai orang baik. Conteklah Tuhan. Dia itu baik!

Karena bukankah kita, orang Indonesia, adalah bangsa yang percaya pada keberadaan Tuhan? Its our strength. Karena dengan mengakui adanya Tuhan, kita mengakui ada yang lebih besar dari kita sendiri. Itu adalah cermin kerendahan hati. It is very good.

So that is the point of todays thought. Berjuanglah.

Pertama-tama untuk masa depan keluargamu. Percayalah Tuhan itu ada dan Dia peduli, dan tidak pernah salah perhitungan.

Keluarga itu adalah idenya Tuhan dari awal. Dia yang menciptakan lelaki dan perempuan. Jadi Tuhan pasti gak salah dalam mempersatukan suami istri menjadi keluarga bahkan mengaruniakan anak.

You guys are lucky. Be thankful. Bersyukurlah, sebab siapa bilang Anda layak mendapatkan semua berkat yang sedang Anda nikmati?

Aku tahu, it wouldnt be difficult for Indonesian to be thankful. Asal ingat. Maka jangan lupa, dong, bersyukur. And see... your smile is in your face dari hati yang tulus. Gak ada beban.

Aku percaya, suatu hari, mimpi ini jadi kenyataan, ketika keluarga-keluarga di Indonesia hidup rukun dan damai. Saling menyayangi, rendah hati, saling menghormati sesama keluarga. If you can do that in your home, you can do that in your community.

Dan begitulah caranya sebuah bangsa menjadi kuat. Anda, berani dong, ikut menjadikan Indonesia kuat?


Perlu dibaca juga:





  • You guys will look more interesting if you don't spend all of your time saying, "I am not good enough". Gabung di halaman facebook "Cantik Selamanya"... Ayok!...
Yuk, gabung?