Apr 20, 2009

Kalau Di Luar, Dia Bukan Milik Saya...

Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya


My wish

Sejak masih kecil aku seringkali mendengar orang yang lebih dewasa menasehati younger girls untuk hati-hati terhadap laki-laki. Aku gak pernah bisa mengerti hal itu. Soalnya aku punya tiga saudara laki-laki yang luar biasa, dan ayah yang manja sekali dengan ibuku. They are not dangerous. Kenapa harus dihati-hatikan?

Ketika aku SMP, seorang teman berkata, "laki-laki itu, dipegang buntutnya.."

Aku bingung, "...buntut?"

Lain kali, seringkali dalam obrolan dengan sesama remaja putri, aku mendengar "laki-laki itu, cuma jadi suami kalau di rumah. Kalau sudah keluar dari rumah, dia sudah bukan milik kita lagi."

Aku resap aja yang mereka katakan tanpa pengertian. Soalnya, ibuku sayaaaang sekali sama ayahku. Demikian juga ayahku terhadap ibuku. Mereka sering berantem. Tetapi ayahku lebih lembut dari ibuku. Jadi, paling-paling aku mendengar ibuku yang teriak-teriak marah-marah.

Suatu ketika ibuku bilang, "...pulangin saya" Tetapi ayahku gak pernah menceraikan ibuku. Setelah menjadi dewasa, aku menegur ibuku untuk tidak mengucapkan kata-kata seperti itu lagi. Gak baik. Dan memang, di luar kesempatan itu, ibuku kerap berkata bahwa dia gak bisa hidup tanpa ayahku.

Sekarang, setelah lebih dari 40 tahun hidup bersama, mereka semakin akrab satu sama lain. Ayahku adalah suami ibuku meskipun dia di luar pagar. Aku gak tauk apa ibuku pegang buntut ayahku. But they are together. Dalam kemesraan. Bukan kebersamaan yang hampa karena terlanjur stuck on each other. Terlanjur terikat pernikahan. Bukan.

Mereka selalu bersama dan tak ingin berpisah. Ayahku gak suka pergi tanpa ditemani ibuku.

Yup, they love each other. When they were younger, ketika ayahku masih bekerja. Kata ibuku ada seorang wanita yang agaknya terlalu ramah kepada ayahku. Ayahku selalu menceritakan kepada ibuku. Dan ibuku jadi pendengar yang baik. Suatu ketika, ayahku memberitahukan kepada ibuku bahwa ia memutuskan untuk menghindar apabila bertemu dengan wanita itu.

Bijaksana, ya, ayahku? Oh, ya, dia memang takut sama Tuhan.

Sementara itu, dari kecil sampai sekarang, gak pernah ibuku mengatakan hal-hal yang aneh tentang laki-laki. Ibu selalu mengajarkan bahwa laki-laki juga manusia. Punya kelemahan. Ingin disayang.

And my brothers? Oh, girls would love to be their wives. Adikku mesra di depan umum tanpa malu-malu. Seperti mesranya ayahku terhadap ibuku, atau ibuku terhadap ayahku. Tanpa malu-malu, tanpa ragu-ragu. Gak ditutup-tutupi. Bebas. Honest.

So, why should I be afraid of man? Aku pikir, hati kita yang harus dijaga. Integritas kita. Kejujuran kita. Itu yang harus diperhatikan. Karena laki-laki juga manusia. Bisa salah. Seperti juga perempuan. Sama-sama lemah. Cuma perempuan memang lebih lemah. Tetapi laki-laki juga lemah. Sesama yang lemah harusnya saling menguatkan.

Kekuatan itu ada dalam cinta. Cinta memberikan kekuatan yang luar biasa. Aku sudah menjadi saksi kekuatan cinta, karena itu aku mempercayainya.

Aku berharap suatu hari nanti perempuan gak takut lagi sama laki-laki. Dan laki-laki juga gak iseng-seng lagi sama perempuan. Kalau lelaki dan perempuan saling menghormati, dunia ini akan jadi tempat yang berbeda. It can be started from home.



Yuk, gabung?