Jun 7, 2009

Review Buku: "Long Distance Love"



Lewat dunia maya, aku berkenalan dengan banyak orang. Salah satunya punya nama yang sama dengan namaku: Dian.

Beberapa waktu yang lalu dia kasih tauk aku bahwa dia ikutan kontribusi di sebuah buku berjudul "Long Distance Love". Pengarang utama buku itu adalah Imazahra.

Untuk menyenangkan hati temanku itu, aku pun membeli bukunya di Gramedia. Ternyata, menurut petugas di toko buku itu, buku Long Distance Love banyak yang cari. Agak lama juga dia bantu aku untuk cari buku itu di antara tumpukan buku baru. Guess it had been sold out many times... sampe-sampe posisinya berpindah.

Well, aku senang juga karena berpikir that I was buying buku yang laris. Tapi, aku harus cari waktu untuk baca buku setebal 309 halaman itu. Honestly, I am not onto fiction. Baru setelah aku baca kutipan komentar yang diletakkan di halaman pertama, hatiku mulai tertarik, "apa, sih, yang bikin mereka kagum?"

Romantis, Bukan Fiksi
Oh, ternyata ini bukan fiksi! Long Distance Love adalah kumpulan kisah nyata dari para pelaku cinta jarak jauh. Menikah, tapi tidak serumah karena harus berpisah jarak dan waktu.

Sebelum membaca kisah pribadi Imazahra, aku lompat ke kisahnya Dian temanku itu. Wah, I am really proud of her. Dia shared perjuangannya menjalani long distance love dan keberhasilannya melalui 6 tahun pertama pernikahan mereka. They did it. Congratulations, Di!

The truth is, this is a good book. If you are in marriage and considering of divorce, think again, why would you do that? Baca buku ini dulu. Beli dua, one for you, and one for your love. Lalu renungkan lagi: kenapa dulu mau menikah dengannya?

Buat yang belum menikah, baca buku ini untuk menambah wawasan why people should marry.

Bijaksana
Buku ini bijaksana dan mengingatkan kembali pada keindahan cinta. Bahwa keberadaan Tuhan hendaklah selalu diingat, pun dalam bercinta. Berikan pada pacar diawal relationship. Buat guidance untuk langkah selanjutnya.

Membaca buku ini, kita diingatkan kembali artinya cinta. Bahwa cinta bukan sekedar emosi, letupan jiwa yang sekejap. Cinta tidak menuntut tapi memberi. Cinta itu pengorbanan, yang merekatkan perbedaan.

Rela berkorban adalah nilai yang aku lihat belakangan ini mulai luntur karena sudah banyak orang yang gak kenal rasa cinta. You don't get love without sacrifice, unfortunately. Itu satu-satunya cara mengukur kebesaran cintamu.

Karena kita tidak mau berkorban, banyak masalah yang tidak terselesaikan. Malah, kita jadi tergila-gila dengan masalah dan tidak mau repot cari solusi. Bukankah begitu kita sekarang ini sebagai bangsa? Seringkali berhenti pada sikap pesimis?

Dusta: Kalau Di luar Bukan Milikku"
Buku ini meng-counter keyakinan banyak perempuan tentang suaminya: bahwa di luar rumah suaminya bukan miliknya. Darling, berikanlah kepercayaan pada dirimu sendiri, bahwa kamu pun layak dicintai.

Klik di sini untuk melihat artikelku, 'Kalau Di Luar, Dia Bukan Milik Saya...'Masih ingat tulisanku, "Kalau Di Luar, Dia Bukan Milik Saya..."? Buku ini memberikan harapan bahwa keinginanku bisa tercapai. Yaitu nanti, sahabat-sahabatku tidak usah harus takut terhadap cinta.

Aku rekomendasikan buku ini buat semua orang. Gambaran kultur kita yang religius, tergarap dengan indah dan universal. Good for any religion embracer. Karena cinta memang milik semua. It is beautiful, it is reality.



Yuk, gabung?