Jun 19, 2009

Ketika Perempuan Selingkuh

Untuk Yang Kehilangan Cinta
Perselingkuhan adalah insiden terbesar yang bisa jadi penyebab perceraian. Rasanya kita mudah mengerti hal itu.  

Paul Amato, seorang profesor psikologi yang bekerja sebagai penasihat dalam National Healthy Marriage - Amerika Serikat, punya pendapat tentang perselingkuhan secara umum. Yaitu, kesetiaan merupakan pokok utama norma pernikahan, dan pengkhianatan atau perselingkuhan (infidelity) dianggap sebagai kesalahan paling besar yang bisa terjadi.

Para ahli percaya bahwa ikatan perasaan adalah alasan utama penyebab perempuan berselingkuh. Sedangkan lelaki? Tentu saja karena pesona fisik. Bagaimanapun, pengkhiantan badani atau "sekedar" perasaan, keduanya tidak dapat diterima masyarakat.

Penilaian ini juga berlaku bahkan di negara yang cukup liberal seperti Amerika Serikat. Dalam survey di tahun 2006 terungkap bahwa hampir 90% orang dewasa di Amerika Serikat mengatakan bahwa kendati ikatan fisik atau perasaan tidak diperhitungkan sebagai faktor penyebab, perselingkuhan tidak dapat diterima secara moral.

Namun ada fakta menarik yang bisa kita lihat di dalam masyarakat. Yaitu, perempuan selingkuh akan lebih sulit untuk dimaafkan suaminya dibanding bila yang memiliki affair adalah sang istri. Tiada ampun bagi perempuan yang selingkuh.

Sama seperti lelaki, salah satu penyebab perempuan berselingkuh adalah adanya kesempatan untuk melakukan. Bila seorang perempuan berselingkuh, maka sang suami akan terus dihantui tentang masalah keabsahan posisinya sebagai ayah dalam pernikahan tersebut. Kontras dengan perempuan, para ayah bisa ragu tentang status kebapakannya karena mereka memang tidak mengandung.

Para lelaki yang sakit hati, akan berkonsentrasi untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Itulah sebabnya mengapa perpisahan lebih mungkin terjadi, bila yang melakukan pengkhianatan adalah sang perempuan.

Untuk Yang Kehilangan CintaNamun bagaimanapun, baik lelaki atau perempuan sama terlukanya setelah mengetahui pasangannya selingkuh. Bedanya, lelaki akan merasakan harga dirinya atau kejantanannya runtuh secara lebih besar dibanding dengan kesedihan atas ikatan pernikahan itu sendiri.

Seperti perempuan, lelaki yang menjadi korban perselingkuhan akan mengalami gangguan emosi dan memiliki surut rasa percaya permanen kepada pasangannya. Dan bila ingin memperbaiki, harganya adalah kerelaan mengikuti proses penyembuhan yang pasti tidak akan terjadi dalam waktu sebentar.

Namun Amato mengatakan penyembuhan relasi setelah perselingkuhan terjadi - bahkan bila pelakunya adalah sang perempuan -  adalah sangat mungkin terjadi. Begini pesan Prof. Paul Amato:

" ...Re-establishing trust takes time, but if both spouses sincerely want the marriage to continue and are willing to work on it, then it is possible to have a healthy relationship again" .

Surviving Infidelity: What Wives Do When Men Cheat