Aug 31, 2009

ASI - Cara Terbaik Mengatasi Mahalnya Harga Susu Formula Untuk Bayi

Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya


Dian Manginta - Cantik Selamanya


"Amazing. Tuhan pelihara hidup kita."



My Friend, Kenny

Kenny Maharani
Aku sedang di pantry kantorku ketika bertemu dengan temanku, Kenny Maharani, yang sedang menyimpan ASI-nya ke dalam freezer kulkas. Aku tanya, “mana mesinnya?” If you know what I mean, itu, loh, peralatan untuk memerah susu ibu.

Kata Kenny dia gak pake alat. Pake tangan aja. Karena ternyata, menurut nasehat dokternya, cara manual begitu justru lebih efektif menghasilkan air susu yang lebih banyak dari pada pake alat.

Kenny lalu membuka freezer di kulkas kantor kami di mana dia menyimpan ASI-nya.

Ada dua botol seukuran botol selai penuh dengan susu yang lumayan kental. Katanya itu lemak; makanan bayinya. Itu adalah hasil memeras ASI menggunakan tangan. Kata Kenny lagi, kalau menggunakan alat, lemaknya keluar lebih sedikit sehingga ASI-nya jadi cair.

Wah, aku kagum banget. Lalu dengan begitu saja dia berbagi pengetahuan yang bagiku sungguh menakjubkan. You know, God has prepared everything for us in order to live well. Tuhanlah yang memelihara kita!

Soal mahalnya susu bayi dewasa ini, misalnya, sebenernya gak masalah kalau ibu-ibu memanfaatkan air susu alami yang ada pada dirinya. Lalu aku teringat bahwa banyak ibu-ibu yang mengeluh tentang sedikitnya susu yang dihasilkannya.

Kenny bilang, menurut dokternya, itu bisa diatasi dengan cara memeras yang benar. Dia bilang, dulu, dia pun punya masalah dengan ASI-nya yang sedikit sampai akhirnya bertemu dengan Dr. Utami Roesli, ahli laktasi di Klinik Laktasi, RS. St. Carolus.

Begitu banyak informasi yang Kenny sampaikan dan aku pikir sangat berguna apabila semua ibu yang menyusui [atau akan menyusui] mengetahui tentang hal ASI ini. Jadi, aku pun meminta kesediaannya untuk berbagi informasi kepada para perempuan berkarir, ibu rumah tangga maupun profesi lainnya.

And she did! Berikut tulisannya:



Ambisiku: 2 (dua) Tahun Beri ASI



Dian Manginta Bicara KarirKetika anakku lahir betapa bahagianya aku. Setelah lahir anakku pun segera diberikan kepadaku untuk melakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD). Walaupun ternyata IMD yang aku lakukan bukanlah IMD yang sempurna.

IMD yang sempurna adalah ketika bayi baru lahir, dia hanya di bersihkan dan langsung diletakkan di dada ibu untuk mencari puting susu ibu. Yah...paling tidak, bayiku tetap bisa merasakan hangatnya tubuhku walaupun tidak sampai satu jam.

Aku memang sudah berniat untuk memberikan ASI full selama 2 tahun untuk anak ku. Pegangan aku dalam mengurus bayi adalah majalah Ayahbunda, yang memberikan banyak sekali pengetahuan bagi para calon ibu ataupun ibu.

Aku tidak terpikir sebelumnya bagaimana cara agar anakku tetap mendapat akan ASI selama 2 tahun. Ketika membaca Ayahbunda, aku terinspirasi artikel tentang ASI [Diary ASI].

Di situ, sang penulis bercerita bahwa pada saat bayinya berumur 5 hari, dia pergi ke Klinik Laktasi [yang ada di RS St. Carolus]. Dari klinik inilah si penulis belajar sangat banyak tentang teknik memeras ASI dengan tangan dan juga menyimpan ASI perah yang benar.

Aku pun pergi ke sana, walaupun agak telat sebenarnya...

Aku pergi ke Klinik Laktasi pada saat anakku berumur 1 bulan kurang, namun aku sudah mulai memerah ASI, belajar dari internet.

Sebelum aku ke klinik, aku konsultasi dengan dokter kandungan, mencari tahu tentang referensinya tentang tempat tersebut. Ternyata, jawabannya menggembirakan. Beliau menjawab "Silahkan datang kesana, dan ketemu sama Dokter Utami Roesli".

Aku pun datang kesana. Jujur aja, aku tidak tau siapa dia, yang terpikir olehku adalah beliau ahli Laktasi yang paling terkenal di RS St.Carolus.

Ketika aku sampai di sana, dan kelas untuk Laktasi pun di mulai, Dokter Utami pun masuk ke dalam ruangan. Pikirku, Waaahhh... Dokternya cantik sekali! Tapi terlihat dari wajahnya kalau dia adalah seorang yang sangat tegas. Belakangan, aku tahu bahwa ternyata beliau adalah dokter yang sangat terkenal. Berarti selama ini akulah yang kurang informasi.

Begitu banyak manfaat yang aku dapat dari Kelas Laktasi ini, hampir 4 jam kelas ini baru selesai[!] Namun setelah menerima begitu banyak penjelasan bagaimana pentingnya ASI, betapa sehatnya ASI, begitu mudahnya ASI untuk diberikan kepada bayi, aku jadi bingung megapa begitu banyak Ibu yang malas ASI-nya. Padahal, air susu ibu yang merupakan karunia Tuhan kepada bayinya?

Aku sangat beruntung, ASI perahku cukup banyak. Aku memerah susu di kantor selama 3 kali, sekali perah bisa mencapai 150 cc. ASI ini supply and demand, semakin banyak dikonsumsi maka akan semakin banyak diproduksi. Jadi tidak ada istilah ASI itu tidak ada atau sedikit.

Sebetulnya, selama di dalam pikiran kita selalu positif dan meyakinkan diri sendiri bahwa "kita bisa menyusui", pasti ASI kita akan selalu berlimpah. Kalau dari awalnya sudah malas menyusui, bagaimana air susu mau keluar? Malah pada akhirnya ASI pun akan kering dengan sendiri nya, karena tidak ada demand.

Trust me..ini yang terjadi pada aku. Aku selalu menancapkan kata-kata di dalam otak "AKU BISA MENYUSUI SELAMA DUA TAHUN" tiap saat memerah ASI di kantor. Aku selalu membayangkan wajah anakku yang sangat bahagia apabila sedang menyusui langsung kepadaku.

Betapa nikmatnya... Bila bisa memeluk bayi kita, mengajak ngobrol, menatap langsung matanya saat dia sedang menyusu. Begitu tidak terhitung segi postif dari menyusui ASI.

Di bawah ini adalah artikel favoritku untuk semua yang ingin mengetahui lebih banyak tentang ASI, dipersembahkan oleh Sentra Laktasi Indonesia. Judulnya "Dahlan Iskan: Susu Sapi Bukan untuk Manusia".

Semoga bermanfaat ya? :)




Perlu dibaca juga di Cantik Selamanya:








Yuk, gabung?