Jun 26, 2009

Harga Diri

Harga Diri - Dian Manginta - Cantik Selamanya

Hari ini aku melihat sebuah pernyataan seseorang bahwa ia akan mendukung salah satu kontestan pemilihan presiden/wakil presiden, apabila sang kandidat berjanji memberikan uangnya untuk membangun rumah susun bagi orang miskin. Alasannya, si kandidat punya banyak uang.

Aku terkejut membaca statement itu dan merasa malu sendiri. Apakah dia pikir dia sudah jadi pahlawan atau jadi raja penguasa negeri dengan "menodong" dari orang kaya?

Sedari Kecil, Perlu Harga Diri
Seketika aku teringat, waktu masih kecil, ayahku adalah seorang pegawai kecil yang gak sanggup kasih uang saku seperti teman sekolahku yang lain. Meski begitu, ibuku tetap melarang aku menerima uang hadiah dari paman, atau siapa pun. Meskipun mereka memberikan uang setelah aku menolong mereka - seperti misalnya membelikan rokok ke warung dekat rumah.

Kadang ada uang kembali dan mereka memberikan kembaliannya untukku. Namanya juga anak kecil, aku lirik ibuku untuk meminta persetujuannya. Ibuku diam-diam melotot, menarik bibirnya sambil menggeleng halus. Aku ngerti, artinya "tidak boleh". Biasanya aku kemudian mendekatinya dan dia akan berbisik, "...pantang, ya" kata mom.

Sementara itu, biasanya si kerabat atau orang yang aku tolong itu akan memaksa. Kalau sudah begitu, Ibu yang menjawab dengan tegas, "Gak papa, kok!"

It would never changed till we grew older and noone would ask us to help. Ibuku pasti melarang kami menerima hadiah atas jasa yang kami berikan. Dia ingin kami belajar tulus ketika menolong.

Akibatnya, sampai sekarang, kami sekeluarga gak ngiler meliat uang orang atau ngiri melihat kekayaan orang lain. Uang bukan jadi ukuran dalam pergaulan kami.

Tidak Terintimidasi Orang Kaya
Kami tidak terintimidasi oleh kekayaan orang lain dan tetap percaya diri bila berhadapan dengan orang yang (jauh) lebih kaya. Dengan tanpa beban kami dapat memandang mata ke mata dengan siapa pun. Rasanya enteng sekali.

Integritas kami terjaga karena sejak kecil Ibu kami melarang kami menerima uang "jasa".

Aku ingat ketika di tahun-tahun pertama aku bekerja, karena bentuk organisasi perusahaan yang kecil, aku mendapat kesempatan untuk mengurusi supplier. Kadang mereka menawarkan hadiah-hadiah tetapi aku menolaknya sambil merasa jengah sendiri. Orang-orang menyangka diam-diam aku mendapatkan banyak extra money dari supplier. Tetapi supplier suka kepadaku karena berurusan dengan aku gak pernah susah. I just needed everything to go smoothly.

Di lain pihak, kami sekeluarga selalu penuh belas kasihan kepada orang susah dan gak akan ragu-ragu membela mereka asal mereka benar. Lagi-lagi, ini karena pengaruh Ibuku.

Miskin Harta, Mental Kaya
Ibu aku adalah seorang perempuan yang mudah jatuh kasihan. Ada seorang tetangga penjual kue keliling yang setiap pagi mampir ke rumah untuk menjajakan kuenya.

Wajahnya dan badannya terlihat jauh lebih tua dari usianya, termakan masalah hidup. Namun tetap ia tekun berkeliling sambil menyerukan jenis barang jualannya. Kue basah ditata di atas tampah bundar beralaskan daun pisang dan ditutupi plastik lebar. Sambil berkeliling dengan tampah di atas kepala, ia akan meneriakkan jualannya dengan berima "...kue, kueeee..."

Ibuku selalu menyambutnya dan menyediakan diri untuk mengobrol dengannya. Dalam setiap obrolannya, Ibu selalu menasehati agar dia tetap menyekolahkan anaknya. Kami bahkan pernah mengunjungi rumah mungilnya yang terletak dekat pekuburan dengan jalanan sempit yang hanya cukup untuk motor lewat.

Suatu ketika, si Ibu "Tukang Kue" berpikir untuk menghentikan pendidikan anaknya. Ibuku menasehati agar ibu penjual kue jangan berhenti berusaha untuk menyekolahkan anaknya. Berkat dorongan ibuku, anaknya terus bersekolah hingga lulus SMA. Bahkan, kalau aku gak salah dengar, anaknya itu kemudian mendapat gelar sarjananya. Sekarang hidup mereka pun berubah. Ibuku tak pernah menyumbangkan uang, loh!

Ibuku punya teman-teman lain yang miskinnya sama seperti Ibu "Penjual Kue" tadi. Dari mereka kami tahu, mereka pun punya harga diri.

Dan sementara itu, ayahku bekerja keras dan kami bersyukur beliau lumayan berhasil dalam karirnya. Aku tahu, Ayah sudah melampaui berbagai halangan namun beliau tetap berhasil mendapatkan berbagai promosi. Akhirnya kehidupan kamipun menjadi lebih baik. Tanpa menjilat, apa lagi jadi pengkhianat.

Uang, Sahabat Yang Tidak Dapat Dipercaya
Uang adalah benda yang sangat mengerikan, meskipun penting fungsinya. Ia dapat membeli harga diri kita sebesar apapun kita menjualnya.

Seberapa kecilpun nilai uang yang kita terima dari orang lain, ketika kita menerimanya, maka kita gak sejajar lagi dengan orang itu. Ketika kita menerima uang dari orang lain, tiba-tiba kita mengecil. Seperti ular tangga, tiba-tiba kita merosot di badan ular, jatuh sampai ke ujur ekornya. Tak ada lagi harga diri.

Kalau kita gak punya harga diri, kita gak bisa percaya diri. Kalau kita gak percaya diri, maka hidup kita gak akan berubah. Tetapi kalau kita bekerja, tentu kita layak mendapatkan upah sesuai dengan perjanjian kerja ketika kita memulai pekerjaan itu. Upah yang kita terima adalah hasil jerih payah yang wajar.

Kedudukan kita di dalam dunia kerja seberapa rendahpun tidak membuat kita menjadi lebih rendah dari orang lain: sepanjang kita tidak menerima uang yang bukan hak kita. Itulah yang membuat kita tidak terintimidasi karena kejujuran kita. Yang penting, suara hati tidak menuduh kita. It's called integrity.

Orang yang memiliki integritas tinggi, tentunya adalah orang yang dapat dipercaya. Orang yang dapat dipercaya adalah orang yang terhormat sebagaimana layaknya para raja penguasa negeri.

Karena itu kita harus menjauhi pikiran untuk meminta uang dari orang lain. Seberapa sukar keadaan kita, berusahalah sekuat tenaga untuk tidak mengharapkan belas kasihan orang lain.

Adalah jauh lebih baik untuk yakin bahwa KITA MAMPU keluar dari kesusahan hidup kita. Jangan pernah lupa bahwa Tuhan ada, dan DIA tidak punya alasan untuk melupakan kita. Berharaplah kepada-NYA.


Perlu dibaca juga:




Yuk, gabung?