Aug 27, 2009

Revenge, OK?

Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya

Dian Manginta - Cantik Selamanya


"Mengapa dendam harus menggerogoti hidup kita? Lawan saja perasaan itu, and move on with your life."




Aku ingin tanya: Bales dendam alias revenge itu, boleh atau gak, sih?

Jangan lupa, Indonesia itu bangsa yang percaya pada adanya Tuhan sehingga tentu saja kita harus tunduk kepada hak otoritasnya Tuhan. Bukankah pembalasan dendam adalah hak Tuhan?

Aku belum mempelajari semua agama, tapi kalau memakai common sense aja, rasanya semua agama mengajarkan untuk tidak mendendam, melainkan menyerahkan masalah kita pada keadilan Tuhan. Iya, 'kan?

Makanya kita juga menghormati lembaga peradilan. Supaya orang tidak lantas pakai ukuran keadilan seenaknya sendiri.

Tapi, aku sering juga mendengar orang melakukan balas dendam dalam asmara yang tidak melibatkan hukum. Pembalasan dendam itu dilakukan untuk menebus kekecewaan karena perbuatan seseorang mantan kekasih.

Hmm... katanya sayang, kok, balas dendam? Balas dendam 'kan dilakukan agar sang mantan yang telah melukai hati juga merasakan kecewa juga. Eyes for eyes, mata ganti mata.

Balas Sekeras Mungkin!

Tiap Kamis, Dian Manginta Bicara CintaAda seorang temanku yang kecewa karena kekasihnya selingkuh. Anehnya, dia tidak meninggalkan kekasihnya yang telah selingkuh itu, melainkan tetap bersama tetapi dengan hati mendua. Temanku selingkuh juga.

Cuma yang aku perhatikan kalau orang patah hati dan ingin balas dendam, selalu saja dendam itu dilakukan dengan sekeras-kerasnya. Seolah ingin memastikan bahwa sang mantan itu benar-benar terluka. Seolah tindakan balas dendamnya itu gak akan pernah cukup untuk melukai hati sang mantan kekasih.

Aku merasa kasihan kepada si pelaku balas dendam setiap kali mendengar cerita seperti. Rasanya ingin sekali membantu menyembuhkan luka hatinya agar dia berhenti memikirkan betapa sakitnya dan betapa ia ingin membalas perbuatan yang telah melukai hati itu.

Perasaan yang negatif akibat keinginan membalas yang besar itu membuat hidup jadi tak enak. Bathin tersiksa dua kali. Pertama karena dikhianati, kedua karena keinginan untuk melakukan pembalasan itu memahitkan hati. Hati kita jadi pahit. Getir, gitu, loh.

Aku perhatikan bahwa pelaku balas dendam itu biasanya menutupi kesedihannya dengan amarah dan bersikap seolah-olah dia dapat menguasai emosinya. Padahal, hatinya dipenuhi rancangan-rancangan balas dendam. Pokoknya dia harus merasakan sakitnya. Begitu pikirnya.

Yang mengerikan, pelaku balas dendam biasanya mengorbankan hidupnya. Terutama pekerjaan, karirnya. Agaknya, pekerjaan yang merupakan tanda pencapaian tidak lagi dianggap penting lalu kesuksesan pun gak ada artinya lagi. Yang begini ini namanya penghancuran diri sendiri.

Terus Terang: Lebih Baik Dari Dendam

Padahal, terus terang lebih baik dari dendam. Katakan saja sejujurnya bahwa hati terluka.

Sebab ketika kita mengakui kelemahan kita, justru di sanalah kekuatan kita menjadi nyata. Orang yang terluka, bila mengakui sakit hatinya secara terbuka akan lebih mudah melupakan dan terbebas dari kepahitan hati. Tentunya, ia akan lebih tangguh menjalani kehidupannya.

Jadi, kumpulkan keberanian dan katakan saja langsung kepada kekasih yang pernah melukai kita:


"Aku mau kamu tahu, kamu telah membuat hatiku hancur."


Lalu, lanjutkan kehidupan yang fana ini dengan hati gembira. Life is too precious to be wasted.




Perlu dibaca juga di Cantik Selamanya:







Yuk, gabung?