Apr 22, 2009

Resiko Mencintai

Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya


Yuk, punya standar tinggi dalam romantisme...!

Aku suka kasian kalau denger ada perempuan yang berkilah dia gak perlu suaminya romantis-romantisan kepadanya.

Aku heran, kalau denger ada temen yang bilang dia percaya suaminya sayang dia. Yang penting sang suami selalu memberi nafkah. Biasanya, dengan statement itu, si wanita locking up the discussion.

Begini, nih, kalau gak PeDe. Padahal semua perempuan pengen di sayang. Semua perempuan itu pengennya percaya bahwa dirinya diterima apa adanya. Bahwa di mata pasangannya, dia adalah wanita cantik yang cukup bagi sang kekasih. "You are more than enough."

Ada istri yang "sukarela" menutup telinga dan mata terhadap keberadaan suaminya kalau sudah di luar pagar rumah. Sebenarnya dia cuma takut sakit hati. Takut kecewa. Takut kehilangan. Takut terluka. Takut harga diri tercampakkan. Lalu, istri-istri tersebut membangun tembok kepasrahan, yang sering diberi judul "Aku Mengerti Suamiku".

Jadi, dari pada merasa kehilangan, sebelum terjadi, dia bikin peraturan itu terhadap dirinya sendiri. Peraturan yang merantaukan hatinya jauh-jauh, hingga selamat dari luka.

Yang dia gak sadari, dengan cara begitu, dia juga menahan dirinya untuk mencintai suaminya itu dengan maksimal. Dengan membuat peraturan itu, dia mengontrol emosi yang diperlukan untuk mencinta.

Lelaki Pun Ingin
Tapi, jangan salah. Aku sudah ngobrol dengan banyak temen lelaki dan mereka juga pengen disayang, loh. Sebenarnya, perilaku perselingkuhan adalah tanda bahwa sang pelaku mengalami masalah merasa kekurangan kasih sayang.

Pada beberapa orang, masalah ini cukup akut sehingga dia selingkuh sana-sini. Pada beberapa orang lain, pelariannya adalah dengan menjadi workacholic. Kecanduan pekerjaan. Jadi ada yang kecanduan perempuan (tepatnya sex), ada yang kecanduan pekerjaan. Ada juga yang kecanduan kegiatan-kegiatan lain yang sepertinya gak berbahaya sehingga gak menakutkan pasangannya. Bisa ditolerir. Padahal kalau orang sampai kecanduan sesuatu, itu indikasi bahwa dia gak bahagia.

Masalahnya, kaum lelaki ini sudah dibentuk untuk gak obral perasaan. Gender issue, nih. Tapi ternyata, toh sampai sekarang orang masih menemukan fenomena-fenomena biologis, termasuk cara kerja otak, yang bisa menunjukkan bagaimana berbedanya lelaki dan perempuan.

Anyway, tubuh manusia kompleks banget, lah. I will put some references in my facebook page aja, ya?

Intinya, selalu ada alasan untuk ketidaksempurnaan karena kita manusia, baik lelaki maupun perempuan, memang lemah. Karena itu, baik lelaki mapun perempuan, sama-sama punya chance to hurt each other dengan kelemahannya. Dua-duanya bisa menyakiti atau disakiti.

Makanya dalam relationship, selalu ada perselisihan. Itu biasa. Yang penting adalah bagaimana menyelesaikan perselisihan itu. Bagaimana supaya setiap permasalahan yang timbul dapat diselesaikan dengan baik. Apabila usaha ini dilakukan dengan kesabaran dan keyakinan, hasilnya akan menimbulkan kedekatan di antara pasangan yang bermasalah.

Masa iya? Iya, dong. Karena dalam usaha menyelesaikan masalah itu, harus ada usaha untuk mengerti, mentolerir, mengalah, mengesampingkan ego pribadi, dan semuanya ini akan mengakibatkan semakin terbukanya batasan yang wajar ada di antara dua manusia yang berhubungan. Karena gak ada manusia yang begitu kenal langsung open. Pasti ada barrier dulu.

Ketika timbul perasaan jatuh cinta pun, bukan berarti barrier itu sudah runtuh. Karena barrier ini adalah personalitas setiap orang yang terdiri dari pengalaman masa lalu, dan pemahaman-pemahaman pribadi tentang masalah-masalah sosial dan ideologi - termasuk agama.

Pengalaman masa lalu ini juga kompleks. Karena dikumpulkan dari sejak lahir sampai the day you met him. Saat itu dia sudah bertemu banyak orang, mengalami banyak hal, membuat penilaian dan kesimpulan terhadap banyak hal juga termasuk relationship.

Kondisi ini yang harus dimengerti oleh setiap orang yang ingin memasuki tahap relationship. If you want it to work out well, you have to have the heart to understand all those things. Memiliki hati untuk mengerti itulah awal dari cinta.

Dengan cinta, pasangan yang terlibat di dalamnya punya alasan untuk melakukan breakthrough. Ada resiko, tetapi untuk mencinta memang harus berani ambil resiko. Resikonya apa? Resiko sang kekasih terkejut dan marah ketika temboknya coba dibongkar.

Tetapi, cinta will heal, so don't worry. Dan ketika molekul cinta menjadi aktif, rasanya enak. Itu sebabnya, semua orang pingin disayang. Karena rasanya enak. Enak diperut, enak di hati.

Romantis-romantisan itu enak. Timbullah apa yang disebut dengan mabuk kepayang. Cinta jadi mengasyikkan ketika kita menemukan formulanya (karena bagi tiap pasangan, formulanya beda). It's not boring anymore. Mau?

Kalau mau, ingat hal-hal ini: si dia juga pengen disayang. Dia juga manusia. Lemah. Pahami kelemahannya, cari kiatnya.

Lagian, rumah tangga itu idenya Tuhan dari awal. Kalau gak, DIA tidak akan menciptakan lelaki dan perempuan itu berpasang-pasangan, kan? Therefore, it will never be too much to love your spouse. Tuhan senang. Karena dengan mencintai pasangan kita setulus hati, kita membuktikan kepadaNYA bahwa kita menghargai pemberianNYA: pasangan hidup yang dikarunikanNYA.

Take good care of your family. Tuhan pasti senang.




Yuk, gabung?