Nov 21, 2009

Film Harimau Yang Lapar, Fasisme, Dan Nasionalisme Keluarga

Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya




Harimau yang Lapar



  • Sutradara: Gary Hayes
  • Narator: Christine Hakim
  • Produksi: PT. Media Desa Indonesia


NASIONALISME, pasti adalah tema favorit rumah produksi PT Media Desa Indonesia. Sebelum memproduksi film "Harimau Yang Lapar", perusahaan ini telah menghasilkan satu judul "Merah Putih".

Film dokumenter ini berisikan garis merah kecukupan pangan di Indonesia. Isinya menguraikan hasil riset dan wawancara mantan jurnalis CNN Indonesia, Dewi Beck [juga bertindak sebagai co-producer], dan didasarkan pada naskah karya penulis terlaris versi New York Times, Rob Allyn.

Internasional-Nasionalis, Anak Muda-Orang Tua

Dari deretan musisi pendukung, muncul nama Patti Smith, makin jelas ada nuansa internasional di dalamnya. Melibatkan jasa Angelo Corrao, produser film dokumenter yang pernah menjadi nominator Piala Oscar. Semuanya melengkapi keterlibatan insan film nasional, seperti sinematografer Yadi Sugandi.

Apalagi, melihat isi film ini yang mengungkapkan harapan tentang ketahanan pangan melalui di antaranya deskripsi tentang bagaimana India yang berhasil menggerakkan "Revolusi Putih", yaitu meluaskan akses masyarakat luas di sana untuk mengkonsumsi susu.

Film jelas punya satu dimensi lain yang perlu diajakan oleh setiap orang tua bagi anaknya, nasionalisme. Semangat yang satu ini tercatat makin mengkhawatirkan percik baranya di kalangan muda. Lantaran, katanya, anak muda kita terlanjur kecewa dengan sejarah di mana rasa cinta tanah air telah menjadi alat propaganda bagi sekelumit orang saja [lihat catatannya di Kompas, 19 November 2009].

Namun nampaknya kesan itu tidak bisa selalu dianggap menjadi milik kalangan muda. Karena tak jarang, pembicaraan tentang "nasionalisme" lantas dirapatkan dengan ungkapan "nasionalisme yang sempit" [lihat contohnya di Kompas, 19 November 2009].

Para ayah dan ibu, orang tua di seantero Indonesia sendiri agaknya harus belajar lebih jauh tentang kapan nasionalisme "sempit" itu dapat berbahaya. Apalagi misalnya, kalau melihat dari Wikipedia, yaitu bahwa arti nasionalisme sangat dekat artinya dengan keyakinan terhadap superioritas negara.

Karena sesungguhnya semangat nasionalisme sempit/berlebihan berwujud fasisme di era lampau, punya makna aktualisasi sejarah jauh berbeda dibanding semangat cinta negara. Di bagian berikut kita akan melihat-lihat buku di Google Books serta, sumber bacaan di Wikipedia, tentang bagaimana seharusnya nasionalisme diwujudkan.



***





ULTRA-NASIONALISME dan fasisme adalah dua saudara kembar. Itulah yang digambarkan dalam buku "Glimpses Of European History (1450-1945) oleh Abha Trivedi, yang bisa dibaca di Google Books.

Situasi Italia yang menyedihkan rakyatnya semasa pasca Perang Dunia I di awal tahun 1919, telah membuat kampanye ultranasionalisme Mussolini sukses besar. Mulailah saat itu dikenal termin "fasisme", paham yang percaya bahwa  suatu negara selalu menghadapi bahaya konflik sehingga harus senantiasa diperkuat untuk menghadapi bahaya perang.

"Fasci" sendiri artinya sekelompok orang. Mussolini di tahun 1919 itu mulai mengumpulkan para penganggur dan barisan veteran yang sakit hati terhadap penguasa negara, dan menamai kelompok tersebut 'Fasci italiani di combattimento' [kurang lebih artinya 'sekelompok orang Italia yang siap perang'].

Idelogi kalangan fasis tersebut mengatakan bahwa tiada yang lebih tinggi daripada negara. Tujuannya adalah memastikan bahwa setiap warganegara mendapatkan kedudukan sama, jadi apapun yang mengancam kedudukan negara harus diberantas, termasuk kalangan swasta.

Fasisme punya satu ciri, yaitu percaya pada kekuasaan eksekutif yang otoriter. Selain di Italia, paham ini pernah populer antara lain di Jerman [Nazi], Jepang, Spanyol, Rumania, dan Kroasia, serta Brazil.

Ada ciri lain dari fasisme, yaitu mengunggulkan satu budaya tertentu saja serta cenderung akan membenci keragaman suku dan ras. Kalangan fasist bisa sangat benci terhadap agama [karena dianggap mengancam kelangsungan negara] atau justru menganggap iman kelompoknya sendiri adalah yang paling benar sembari menyalahkan agama lain.

Pengalaman kolektif masyarakat adalah yang membentuk persepsi semacam ini. Jepang, misalnya, tumbuh ratusan tahun dalam pemerintahan dinasti kaisar yang militeristik dan otoriter. Mereka bahkan mengartikan "harmoni" sebetulnya suatu kondisi yang terjadi manakala setiap warga negara menunaikan kewajiban melayani negeri [lihat: Japan: restless competitor : the pursuit of economic nationalism - karya Malcolm Trevor].

Restorasi Jepang sendiri memiliki ide untuk menyelamatkan seluruh negara agar tak menjadi seperti China yang jatuh ke tangan Barat. Mereka bergerak dengan tiga slogan: Menguasai teknologi Barat dalam semangat Jepang; Memperkaya negara dan memperkuat militer; Mengembangkan industri, dan mempromosikan dunia usaha.

Perkembangan iptek Jepang sangat baik. Sebetulnya pada 1945 ilmuwan mereka yang dipimpin oleh Yoshio Nishino sedang mengembangkan bom atom, sebelum akhirnya laboratoriumnya dibom sekutu. Sebelumnya, Jepang menggunakan bom kimia dan bakteri untuk menaklukkan China. Semua upaya dilakukan demi keselamatan negara, berjalan dalam komando top-down, tanpa ada kesempatan bagi sipil untuk menguasai keadaan.

Pengalaman rasa senasib di antara warga negaranya yang dahulu menggiring Jepang dan negara-negara lain untuk merasa perlu mengamankan diri, mengusir pengaruh ide budaya asing. Melalui sejarah kelahiran fasisme, kita bisa memahami bahwa usaha menghimpun pendapat massa kadang bisa menghasilkan catatan bernada miring di dalam sejarah.

Keterbelakangan dan Komunikasi

OECD atau Organisation for Economic Co-operation and Development, persatuan negara-negara berekenomi maju dunia, pernah mempublikasikan tulisan Angela Liberatore [Dirjen Riset, Komisi Eropa] di dalam buku "Social Sciences for Knowledge and Decision Making". Di sini dikupas tentang bagaimana suatu masyarakat bertanggungjawab untuk menghimpun dan mengelola pendapat dari berbagai kalangan ahli supaya menghasilkan pelbagai solusi masalah dari masyarakat itu sendiri.

Komunikasi heterogen untuk mencapai pelbagai solusi memang biasa terjadi pada masyarakat yang menghargai efesiensi, di mana tumbuh apreasiasi terhadap spesialisasi bidang profesi oleh para anggotanya. Namun tentu saja, suasana psikologis akan memberi banyak warna pada solusi yang disetujui.

Indonesia: The Rise of CapitalContoh bagaimana situasi mental mempengaruhi arah persetujuan bisa dilihat di Indonesia. Di buku "Indonesia, The Rise of Capital", yang menggambarkan bahwa semangat nasionalis di masa awal Presiden Soeharto berkuasa harus beradu dengan kenyataan bahwa Indonesia saat itu belum memiliki cukup banyak modal pengetahuan dan kapital untuk mengelola kekayaan alamnya.

Kondisi rakyat yang amat lemah saat itu yang menjadi titik dilema untuk mendahulukan visi nasionalis atau kapitalis, sampai akhirnya meletuslah demonstrasi Malari 1974 - yang berbuntut kerusuhan massa. Hanya lima hari setelah demonstrasi itu, Pemerintah Orde Baru kemudian menetapkan berbagai peraturan yang pada intinya menguatkan posisi kepemilikan modal semua badan usaha supaya ada di tangan Anak Bangsa.

Pengalaman ketegangan antara kalangan nasionalis dan bisnis itu bagaimanapun telah mendalamkan pondasi alasan bagi Soeharto untuk mengambil alih proses sosial yang seharusnya dikembalikan oleh masyarakat. Setelah peristiwa Malari, Orde Baru menguasai seluruh sendi dinamika masyarakat: dari perguruan tinggi, badan negara, media, ormas, dan lain sebagainya.

Mulai saat itu, bermodalkan eksploitasi kekayaan alam, pinjaman asing dan penanaman modal, Indonesia mengembangkan proyek-proyek pembangunan besar yang nyatanya hanya menguntungkan bagi sekelompok kecil masyarakat. Dibanding negara tetangga - Singapura, Malaysia, Thailand, dan Philippina, pertumbuhan industri kita paling kecil meski punya jumlah penduduk terbesar.

Di mata para penanam modal asing, nyatanya, mitra kerja dalam negeri yang diwajibkan keberadaannya melalui perundangan tidak banyak berguna. Tidak seperti Jepang, dahulu kita tidak membela negara dengan cara menguasai iptek secara paripurna - membangun seluruh rantai produksi utuh - hingga akhirnya produk manufaktur aseli Indonesia jarang yang menguasai pasar.

Demikianlah di Indonesia fasisme pun pernah berjalan dalam rupa yang seolah terbuka dan ramah pada bangsa lain. Namun sesungguhnya, seperti ciri fasisme yang sudah disebutkan di atas, namun keberpihakan di Indonesia pernah hanya berada pada satu kelompok kecil.

Di suatu masa dahulu, orang-orang Indonesia pernah dibiarkan tak terdengar suaranya. Tapi dahulu adalah dahulu. Bukankah kita ingin maju?

Negara Maju: Dialog Antar Warga

Kembali pada buku "Social Sciences for Knowledge and Decision Making" tadi, di artikel "From Science/Policy Interface to Science/Policy/Society Dialoge" kita bisa melihat cermin bagaimana masyarakat negara maju menghadang sikap fasisme.

Negara-negara maju paham bahwa kekuatan manusia dalam negeri mereka harus dikelola. Apapun nama demokrasi yang dianut - terwakilkan, langsung, daerah, pusat - sebisa mungkin harus mengakomodir komunikasi antar elemen masyarakat.

Pemerintah negara maju sadar betul bahwa usaha komunikasi ini artinya adalah mengumpulkan/mengklasifikasikan berbagai isu sekaligus solusinya. Posisi elemen warga negara sebagai bagian masyarakat, ahli, atau kedudukan lainnya, diperhatikan dengan tanpa niat basa-basi.

Masyarakat luas dibina untuk melakukan advokasinya secara kreatif, dan tentunya mampu mengelola komunikasi secara tertulis [terekam dengan sistematis, hingga dapat mengukur segala perkembangan]. Sikap serius tersebut muncul karena pemerintah negara maju sadar betul bahwa kekecewaan sosial bisa membangkitkan daya antipati, memicu semangat fasis di antara elemen masyarakat itu sendiri untuk membela kalangan sendiri.

Sekarang, kita mendapat gambaran bahwa "negara maju" sendiri artinya memiliki masyarakat yang fungsionil, memiliki kedudukan untuk bermanfaat. Bukankah kita ingin bahwa setiap warganegara diperhitungkan nilai fungsinya sebagai kontribusi nyata bagi pembangunan negara? Siapa sih yang ingin dilupakan?



***




"Harimau" dan Orang Tua

SEMANGAT nasionalisme yang ada di film "Harimau Yang Lapar" sebetulnya mengajak kita untuk melihat ke dalam diri sendiri tentang makna fungsi diri bagi bangsa dan negara. Ekspresi ingin kontributif itulah yang disebarluaskan di antara masyarakat negara maju.

Para orang tua seharusnya mengubah pandangan anak-anaknya tentang sejarah kelam fasisme di Indonesia yang sudah terlampau sering dibaurkan dengan makna semangat nasionalisme. Di dalam semangat nasionalisme, selalu ada kebutuhan mewujudkan cara cinta di dalam hati kepada negara dalam berbagai tindakan nyata.

Kesamaan kebutuhan mengekpresikan rasa cinta inilah yang akan menentukan nilai pemerintahan dan berbagai proses sosial lainnya di Indonesia. Baik-buruknya Indonesia, bergantung dari bagaimana setiap orang Indonesia mau menjadi eksis, PeDe dengan hasil karyanya.

Para orang tua sebaiknya mengingat bahwa anak-anak mereka bukanlah mahluk anonim, yang tak punya nama. Suatu saat kelak, anak-anak Indonesia ini pasti ingin agar namanya harum. Sedari sekarang mari arahkan mereka untuk menguatkan diri mau menyatakan hasrat tersebut dalam rupa melayani bangsa.

Kalau begitu, sudah jelas mengapa kita harus menonton "Harimau yang Lapar" yang punya semangat nasionalis? Film ini akan beredar di Indonesia tanggal 07 Januari 2010 di Jakarta.

Kita tunggu ya? ;)



*****



Perlu dibaca juga di Cantik Selamanya:







Yuk, gabung?





Cover photo: re-edited from http://harimauyanglapar.com/.