Aug 12, 2009

Cinta Indonesia: Right Or Wrong, My Country!

Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya



"Right or wrong, Indonesia is my country."
Di sini, aku akan mengatakannya mengapa demikian.



Klik Di sini untuk melihat mengunduh file PDF-nyaMenjelang peringatan Hari Proklamasi negeri tercinta kita, Indonesia, pada tanggal 17 Agustus mendatang, rasanya gak salah apabila topik romance [yang biasanya aku bawain tiap Kamis] kali ini kita isi dengan bahasan mengenai romansa cinta tanah air.

Di tengah suasana tegang karena proses pemilu yang panjang, ditambah kasus terorisme yang mengguncang, Indonesia sekarang kembali menyambut bertambahnya usia kenegaraannya. Enam puluh empat tahun sudah sejak proklamasi pertama kali dikumandangkan oleh tokoh muda pada waktu itu, Ir. Soekarno dan Drs. M. Hatta.

Sejak kemerdekaannya, Negara Republik Indonesia telah melalui banyak proses keras yang memang sering dihadapi oleh siapa saja yang ingin berubah. Karena menurut psikologi, perubahan itu menyakitkan.

Jangan Takut Berubah

Bayangkanlah betapa beratnya berubah itu! Dan bangsa Indonesia, telah memutuskan untuk berubah, dari negara yang dikuasai oleh bangsa asing, menjadi negara yang berdaulat. Itu bukan perubahan yang mudah.

Bukan saja banyak orang telah mati karena perjuangan itu, tetapi mental yang terbentuk akibat ratusan tahun terjajah pun mengalami proses perubahan yang gak sederhana. Belum lagi ciri khas bangsa kita yang beragam suku bangsa dan keyakinannya, yang membentuk kepribadian bangsa yang unik. Very complicated, therefore it is really not easy to be Indonesia.

Dulu, sebelum bangsa asing datang ke negeri ini, bangsa kita menikmati kehidupan yang sangat tergantung dari alam. Tentu saja, itu karena alam negeri kita yang ramah sehingga bisa digantungi. Semua orang menikmati hasil ladangnya, hasil sawahnya, hasil lautnya... Sampai kemudian orang asing datang dan kemudian bertingkah seolah merekalah tuan dan mengambil hasil bumi yang pemiliknya sendiri gak ngerti apa gunanya. Karena memang khasiatnya seolah tidak diperlukan bagi penduduk di negeri yang begitu baik iklamnya ini.

Aku membayangkan seorang anak yang berkembang wajar dari hasil alam, lalu tiba-tiba harus berubah tanpa orang tua yang melindungi. Anak itu pasti bingung. Gamang. Mungkin marah. Pasti gelisah. Itulah Indonesia waktu itu.

Sementara bangsa ini menjalankan proses kehidupannya, badai datang silih berganti. Belum cukup waktu untuk menikmati jadi bangsa yang merdeka, untuk mengerti apa artinya merdeka, tiba-tiba harus diguncangkan oleh peristiwa G30S PKI, juga pemberontakan-pemberontakan lain. Apa boleh buat, negara kita ini besar, wilayahnya merupakan kepulauan yang terbesar di dunia. Semakin banyak orang dalam suatu komunitas, maka persoalan yang harus dihadapi pun menjadi kompleks.

Kita Harus Mau Selalu Berubah

Aku coba untuk mengingat, sejak 64 tahun lalu, kapan Bangsa Indonesia punya waktu untuk menarik kesimpulan dari apa yang sudah dilaluinya dalam perjalanannya sebagai negara yang merdeka. Merenung, mengambil kesimpulan dari kepribadian bangsa yang terbentuk akibat keragaman budaya yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Rasanya, memang belum sempat.

Ketika menjadi negara merdeka, bangsa ini mulai bebenah diri. Namun, begitu banyak yang harus dibenahi. Mulai dari organisasi pemerintahan, sampai bagaimana menempatkan diri di antara beragam suku bangsa di negeri ini. Gak gampang.

Kemudian tiba-tiba bangsa ini memasuki masa Orba yang, meskipun dinilai tidak memberikan kemakmuran yang merata, tetapi setidak-tidaknya nilai rupiah pada saat itu cukup bagus. Tapi... ada harganya: kita gak bisa ngomong.

Waktu itu, semua diatur. Gerak kehidupan kita selalu diawasi dan dibatasi. Kita jadi terbiasa untuk tidak mempercayai sesama orang Indonesia. "Jangan-jangan intel." Begitu ketakutan kita senantiasa. Mengeluarkan pendapat yang mengkritik pemerintah pasti akan mengakibatkan masalah.

Akibatnya, semua orang mengelak dari sikap kritis. Sebagian karena merasa sungkan, sebagian lagi memang takut. Either way, it's no good. Kita jadi cemen.
    Tidak perlu sungkan untuk menyatakan pendapat, karena tiap orang harus belajar dari tiap orang lain di sekitarnya. Dan tentu saja, kita seharusnya tidak perlu takut untuk berpendapat karena Indonesia adalah negara yang merdeka. Gak lagi takut dijahati oleh penjajah yang takut kita jadi pinter karena bisa belajar satu sama lain.
Nevertheless, itulah proses yang bangsa ini harus alami. Sampai sekarang, prosesnya membawa kita kepada apa yang kita alami sampai sekarang. Jadilah kita sebagai bangsa sebagaimana kita adanya. Apakah kita bangga? Bersyukurkah kita?

Berubah, Karena Selalu Belajar Untuk Saling Memperkaya

Mungkin, bila membandingkan diri dengan negara tetangga yang notabene alamnya tak sekaya Indonesia, rasanya tubuh kita mengecil. Tanda-tanda minder. Belum lagi kebiasaan untuk bungkam sehingga ketika ada yang bicara, kita pun jadi curiga. Itulah apa adanya kita.

Tentu kita akan kesulitan menemukan begitu banyak kekurangan Indonesia dibanding negara lain. Tetapi, in spite of semua kekurangan itu, masih bisakah kita tetap menyayangi negeri ini, dan bangga menjadi orang Indonesia?

Sebab bagaimanapun juga, baik buruknya bangsa ini, Indonesia adalah bangsa kita. Anda dan saya adalah Bangsa Indonesia. Anda tak mau saya katakan buruk bukan? Kalaupun Anda buruk, bukankah lebih terhormat bila saya berusaha mengisi keburukan Anda daripada sekedar mencemooh Anda?

Kita adalah saudara sebangsa, setanah air, Indonesia. Dan seperti sebuah keluarga dengan banyak anak, ada anak nakal, ada anak manis, tetap saja keluarga yang bisa saling melengkapi.

Kita tentu akan membela saudara kita. Melindunginya. Kita tidak akan rela ada orang yang menganiaya saudara sendiri. Menyakiti saudara kita, sama saja dengan menyakiti kita. Karena memang begitulah cinta.

Do we love our nation? Atau seharusnya saya bertanya, "Do we need each other?"

Dian Manginta - Cantik Selamanya


Perlu dibaca juga:





Yuk, gabung?