Mar 21, 2009

Guru - Yang Digugu dan Ditiru

Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya


Hari Jumat minggu lalu, waktu working from home karena sakit perut, aku ngobrol dengan sepupuku di saat break. Kerja di rumah juga pake break, dong...

Lagi ngobrol-ngobrol gitu, sepupuku cerita bagaimana salah seorang gurunya waktu di SMU dulu menasehati murid-muridnya untuk menjadi "guru aja seperti saya". Kata bu guru itu, jadi guru itu gampang, tinggal kasih soal aja biar dikerjain sama murid-murid lalu tinggal nonton infotainment.

Hah?! Mana tanggungjawabnya, tuh, guru? Satu pendapat seperti ini sampai bisa muncul di antara komunitas guru, bisa bikin orang berpikir, "Pantesan aja lulusan sekolah Indonesia gak malu suka nyontek". Gak pernah diajarin nanggung tanggungjawab, sih.

Kebiasaan nyontek itu bagiku adalah masalah lama kita. Aku heran kenapa kita santai banget sama kebiasaan nyontek. Padahal gak nyontek itu 'kan latihan biar otak bisa jalan. Sebenernya, Ujian itu bukan supaya ketauan siapa yang pinter, lagee.. Tapi supaya otak murid-murid itu dilatih bekerja. Hhh..

Syukurlah sepupuku dan teman-temannya gak tolol dan mereka malah menjawab, "gak, ah, Bu. Kami mau jadi dokter aja atau kayak-kayak gitu, deh, bu.." Kayaknya, sih, itu ibu guru itu gak malu sama jawaban murid-muridnya. Mana wibawanya? Ada, ya, seorang guru menasehati muridnya supaya tidak menggantungkan cita-cita setinggi bintang di langit? Apa kata Soekarno? Waduh...

Kata sepupuku, "Guru di sekolah negri gitu, kali, ya Kak, ya..?" Ya, gaklah.

Aku dulu sekolah di sekolah negeri, SMAN 4 Jakarta (lihat catatan Wikipedia soal sekolahku dulu di sini). Guru-guru kami bangga dengan alumninya, yang banyak jadi orang sukses - termasuk jadi menteri.. Kalau dokter lulusan UI, sih, banyaklah kalau dari SMAN 4. Wajar aja, soalnya gurunya berdedikasi semua.

Entah kenapa. Kami dulu gak nyogok-nyogok mereka, kok. Gak ada hadiah-hadiah luar biasa demi menyenangkan sang guru. Kalau ngasih hadiah sebagai tanda ucapan terima kasih atas jasa mereka mendidik kami, ya, boleh, dong? Kalaupun mau berekspresi seperti itu, biasanya kami berikan setelah naik kelas atau lulus. Bukan dalam rangka menstimulus integritas sang guru. Gaklah. They are trustable.

Lalu, kok, ya, seperti kebetulan, later that day on tv, di TV One, dalam sebuah acara parodi, dua tokohnya mengunjungi sebuah sekolah di Jakarta yang sudah berdiri dari tahun enampuluhan. Sekolah itu begitu mengerikannya karena.. cuma memakai tenaga pengajar honorer yang digaji antara Rp.85.000 sampai Rp.216,000-an! That is horor!

Ada bagian lebih mengerikan lagi dari kisah nyata sekolah itu. Alih-alih memperbaiki kualitas sekolah tersebut, wacana yang ada adalah menutup sekolah itu. Aduh, tambah sakit perut, deh aku.. Murid-muridnya adalah anak-anak dari keluarga kurang mampu di lingkungan sekitar. Salah satu dari lulusannya sudah bergabung di sekolah itu jadi guru honorer juga. Mak! Aku miris mengingat nasib bangsa ini. How can they improve their life if they don't have good education?

Ada satu kebetulan lain yang luar biasa dan makin menambah kemirisanku: ketika dalam acara berita tengah malam aku mendengar bahwa mak comblangnya Kiai Puji yang kontroversial dengan istri mudanya itu (literally young in age!) adalah seorang guru! Eh alaaaah..!

Semoga ada anak-anak membaca tulisan ini dan mengerti bahwa mereka harus sekolah. Jangan nyontek biar otaknya bisa terlatih untuk berpikir. Gak harus jadi juara kelas karena yang penting adalah otaknya terlatih untuk berpikir.

Jadi juara kelas itu bukan segala-galanya, kok. Tapi yang diperlukan adalah otak yang terlatih untuk bisa mengolah fakta dan mengerti suatu masalah sehingga bisa mengambil keputusan secara benar.

Semoga para guru juga membaca tulisan ini dan menyadari bahwa tanggungjawab mereka besar untuk mencerdaskan bangsa. Dan sebagai guru, mereka adalah peletak dasar moral bangsa ini. Kalau gurunya keliru, muridnya bisa jadi dungu.

Dan orang tua, semoga diingatkan bahwa pendidikan itu penting supaya anak-anaknya bisa lebih pintar dari dirinya dan mampu meraih kehidupan yang lebih baik lagi dengan keberadaannya, bukan karena disuapin. Mandiri karena terdidik.


Juara Kelas, Bukan Segalanya

2 comments:

  1. Dian, gw kaget ternyata km ada perhatian juga dg dunia pendidikan. Kita sbg orang tua yg sdh punya anak pasti sgt peduli dg dunia pendidikan yg carut marut ini. Sejak kita sekolah dulu kita selalu jadi "kelinci percobaan", ganti menteri pasti ganti peraturan, ganti kurikulum, ganti buku, semuanya berubah. dan itu berlanjut smp sekarang. :-(
    Komentar gw ttg guru itu, jgnlah terlalu dibesar2kan karena omongan guru itu bukan pendapat semua guru yg ada di Indonesia ini. Tidak seharusnya dia bicara spt itu, GURU adalah profesi yg sgt mulia, yg tanpanya kita tdk akan menjadi spt sekarang ini (dosen, dokter, pengacara, notaris, dll). masih byk guru yg baik, spt BUTET yg ngajar sekolah anak2 suku KUBU yg hidup di hutan2 di Jambi. Pengorbanannya sgt luar biasa. Pengajaran tidak dilakukan di kelas tapi di hutan, di atas pohon. Guru yg mencari murid, bukan murid yg mencari guru.
    BRAVO BUAT GURU.BRAVO juga buat DIAN yg sudah berani bikin Blog. Sukses yah!!

    ReplyDelete
  2. Met pagi mbak dian..Wah blognya bgs amat,artikelnya ok semua..Keep creative create creation ya mbak, Gbu.

    ReplyDelete

Kasih komentar, ya, supaya aku punya input yang bisa aku kembangkan untuk artikel aku selanjutnya. Menambah wawasan aku juga, kan? Terima kasih sebelumnya, loh!