Nov 5, 2009

Film "Putih Abu Abu Dan Sepatu Kets" [Movie Review - Film Putih Abu Abu Dan Sepatu Kets]

Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya




Dian Manginta - Cantik Selamanya




"Kalau kita berhenti menjaga generasi muda, maka akan ada orang lain bersedia yang akan 'melakukannya', menurut cara mereka." [Dian Manginta, tentang RASA PERDULI KALANGAN TUA TERHADAP GENERASI MUDA]





VIDEO porno dengan pemeran remaja SMU beberapa tahun belakang ini sering terdengar. Kisah yang sama terus berulang dengan tokoh yang tempat yang berbeda. Para pelakunya memang nyata, hidup, bukan imajinasi semata. Sedihnya, mereka melakukan itu  "atas dasar suka sama suka".

Dampak peredaran video porno ini beragam. Umumnya yang perempuan hengkang dari sekolahnya karena malu. Sedangkan yang lelaki menyesal karena telah menyusahkan kekasihnya. Tak ada yang jadi pemenang. Malah kehancuran bertubi-tubi yang bakal datang mengancam. 

Begitulah.. Keisengan yang berbuah masalah panjang.

"Putih Abu-Abu", Menemukan Orang Tua



PUTIH ABU-ABU DAN SEPATU KETS di Cineplex 21

Mulai tanggal 29 Oktober yang lalu, ada sebuah film untuk remaja yang bagus sekali untuk disaksikan. Bukan saja buat para remaja, tetapi buat semua orang yang bukan anak-anak, alias 13 tahun kebawah.

Semua orang yang dalam hidupnya bersinggungan dengan remaja sebaiknya melihat film ini. Bahkan calon remaja, seperti orang tua anak-anak kecil. Karena setidak-tidaknya melalui film ini mengingatkan ada sekelompok manusia yang kualitas masa depannya [dan hari depan semua orang] dipengaruhi oleh sikap kita terhadap keberadaan mereka.

Ceritanya diangkat dari kisah nyata, tentang pergumulan sekelompok remaja melalui melalui hari-hari sebelum menuju kematangan sebagai orang dewasa nantinya. Kita semua tahu, begitu banyak tantangan dalam hidup remaja.

Begitu banyak yang ingin diketahui, begitu banyak yang menarik untuk ditaklukan, dan begitu banyak hal yang taboo yang menarik rasa ingin tahu. Mereka tengah berjalan di era kehidupan yang rentan, mudah membelit tanpa ampun, dan seks jelas salah satu di antaranya.

Pengalaman seks para remaja inilah yang diangkat oleh HM Firman Bintang, produser dari BIC Production dan Mitra Pictures dalam sebuah film berjudul "Putih Abu-abu dan sepatu Kets". Film yang berdasarkan cerita nyata ini bermaksud menyampaikan pesan moral kepada orangtua dan remja bahwa tindakan remaja melakukan hal-hal yang tabu sesungguhnya bukan karena kenakalan tapi karena keisengan.

Firman Bintang menegaskan bahwa keisengan itu dilakukan akibat adanya krisis komunikasi dari hati ke hati dalam keluarga. Hubungan antara anggota keluarga yang tidak harmonis. Padahal, relasi keluarga sebetulnya tak pernah bisa diganti oleh siapapun.

Film ini dibintangi oleh aktris dan aktor muda semacam Arumi Bachsin [sebagai Dea], Aipati Kusmadji [Adit], Filda Elishandi [sebagai Flori], dan lain-lain. Big Production memang bertekad untuk selalu menggarap film-film berdasarkan kisah nyata. Sebelumnya, Big production telah memproduksi film Zig Zag dan Bibir Mer serta banyak lagi film-film lainnya.

Dalam suatu adegan Putih Abu-Abu, si Ibu menampar anak perempuannya yang membuat video porno, dan ternyata tersebar di hape teman-temannya. Kata si ibu, "Kamu cuma bikin malu!"

Riset: Pentingnya Peran Ibu

Ibu adalah ibu, bukan hakim. Dalam monogram karya Universitas Minnesota "Connections That Promote Postponing - Sexual Intercourse [dalam pdf]" mengungkapkan banyak penelitian yang pada akhirnya menunjukkan pentingnya peran ibu untuk membantu anak-anak remaja mengerti kehidupan seks sesuai dengan nilai masyarakat.

Bukannya ayah tak penting, namun memang lebih banyak ibu yang mau menjawab kuosioner penelitian. Pengalaman pribadinya hidup sebagai perempuan yang lebih muda adalah pencetus rasa perduli kaum ibu.

Di monogram tadi, diungkapkan bahwa sebagian besar kaum ibu [lebih dari 50% dari 3.222 responden] tidak yakin tahu persis tentang kehidupan seks anaknya - namun sekitar 97% dari mereka sangat "yakin" anak-anaknya tidak berhubungan seks sama sekali. Di lain pihak, ada sebagian anak perempuan [30% dari 1281 responden berusia sekitar 14 - 16 tahun], yang tak tahu persis bagaimana pendapat ibunya tentang seks.

Penelitian tadi bisa memberikan gambaran kalau orang tua, kaum ibu, bisa berada di wilayah abu-abu dalam hal kemampuan mendidik anaknya mengenai seks. Bukannya karena tak tahu, tapi cuma lantaran kurang memahami kehidupan anak remajanya.

Seandainya orangtua melihat anaknya jatuh dalam kehidupan seks, aku sangat berharap bahwa orang tua mereka melihat bahwa kondisi itu adalah ibarat lonceng peringatan akan buruknya komunikasi di antara mereka. Kondisi si anak adalah pertanda bahwa mereka harus menunaikan "hutang" untuk dekat dengan mereka, mendampingi hidup untuk mencari masa depan yang cerah.

Caci maki, cuma berarti bahwa sang ibu dan ayah sedang mengiring si anak ke lobang gelap kehidupan yang lebih mengerikan.







*****






Perlu dibaca juga di Cantik Selamanya: