Sep 16, 2009

Take Me Out Indonesia - Kejar Daku, Biar... [Kutinggal?]

Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya



Dian Manginta - Cantik Selamanya


Ada sebuah tontonan televisi romantis yang belakangan menarik perhatianku di Indosiar, namanya "Take Me Out Indonesia". Sebuah ajang perjodohan yang dikemas menjadi pertunjukan apik dengan host si ganteng Choky Sitohang [lihat dia di Wikipedia].

...Ah, ya, gara-gara acara ini aku jadi kesengsem juga dengan si Choky. "Kesengsem" itu maksudnya tertarik. Suka, gitu, loh... Mm... sayang jauh lebih muda dan sudah ada yang punya... Eh, kok jadi ngelamun?...

Anyway. Acaranya memang jadi menarik karena cara si Choky membawakannya. Sepuluh orang perempuan cantik berjejer di panggung, masing-masing memiliki podiumnya sendiri. Sebuah tombol disediakan untuk mematikan lampu apabila mereka tidak tertarik pada sang lelaki yang muncul mencari jodohnya. Apabila banyak peminat, maka sang lelaki pun akan punya kesempatan mematikan lampu untuk mengeliminasi perempuan yang kurang menarik hatinya.

Yang suka nonton program ini pasti sudah hafal, 'kan, bagaimana jalan acaranya?

Mula-mula, setelah membuka acara, Choky yang di panggung dengan latar belakang para wanita cantik [begitu dia menyebut mereka], akan memanggil si lelaki untuk diperkenalkan kepada para perempuan pencari jodoh itu. Pada tahap pertama, sengaja hanya perkenalan umum saja. Berupa nama, umur, dan agama.

Para perempuan menilai dari pandangan pertama dan dipersilakan untuk memutuskan akan terus maju dalam babak berikutnya atau mundur. Apabila si perempuan tidak berminat, maka dia cukup mematikan lampunya saja.

Selanjutnya, untuk perempuan yang bertahan, Choky memberikan informasi tambahan tentang si lelaki. Maksudnya memberikan kesempatan supaya para lelaki bisa menambah nilai dirinya. Tapi apa yang dituturkan sini bisa-bisa malah mengurangi nilai "jual" si lelaki. Para perempuan pun dapat memilih untuk terus berkompetisi, atau mematikan lampu.

Apabila masih ada perempuan yang berminat, maka pada babak berikutnya adalah giliran si lelaki untuk mematikan lampu. Kalau cuma ada satu yang tersisa, ya itulah jodohnya. Kalau tidak ada yang tersisa, tentu saja si lelaki dipulangkan dengan kecewa.

Nah, babak inilah yang menarik bagiku, yaitu ketika si lelaki mendapat kesempatan memilih. Biasanya akan tersisa tiga atau dua sehingga si lelaki harus mengeliminasi kandidat yang ada sampai tinggal satu.

Looking for Some Challenges?

Beberapa kali aku melihat di mana yang lelaki mendapat kesempatan memilih satu di antara dua. Yang mana yang akan dipilihnya? Pada bagian ini, si lelaki diberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan kepada kedua kandidat perempuan. Tentunya, harapan kita adalah dengan menjawab pertanyaan tersebut, maka si lelaki akan dapat melihat mana yang lebih baik. Dan idealnya, tentulah pemenangnya adalah yang memenuhi semua keinginan si lelaki.

Misalnya, kalau dia sayang keluarganya, maka perempuan yang menunjukkan mampu mengerti perasaan si pria itulah yang akan dipilih. Itu yang aku pikir. Setidak-tidaknya, itulah yang aku dan pemirsa di rumahku, serta penonton di studio harapkan.

Namun yang terjadi kemudian, ternyata, setiap kali kesempatan itu tiba, hampir selalu saja si lelaki justru memilih perempuan yang sepertinya gak mau tauk dengan keinginannya! Wow...

Maka penonton rame-rame terkejut dan sang lelaki dengan bangga menjemput perempuan yang dipilihnya. Aku dengar, dalam salah satu episode yang kebetulan aku gak liat, si perempuan yang memang gak cocok itu langsung membatalkan penjajakan mereka saat masih di romantic room.

Kata si perempuan, “ini sebuah kesalahan!” Dear me.., oh...really? :P

Dian Manginta - Cantik SelamanyaKejutan ini cukup memancing minatku untuk mencoba mencari jawabannya. Bukankah kita tahu bahwa secara tradisional, bagiannya lelaki memang yang mengejar?

Dalam pengejaran, ada kebutuhan untuk bertualang di dalamnya. Kalau terlalu mudah untuk memilih, tentu sense petualangannya jadi kurang. Agaknya, karena perempuan yang satu keliatan lebih menantanglah makanya si lelaki justru memilih dia. Mungkin dalam khayalannya, sang pria berpikir akan dapat menaklukkan hati si perempuan pada akhirnya...?

Ah, lelaki... Ada-ada saja. Tapi, apa benar begitu?

Apa Yang Riset Katakan?

Adalah Daniel J. Kruger, Ph.D., seorang asisten profesor di Institut Riset Sosial, Universitas Michigan - yang meneliti tentang kebiasaan seseorang dalam menghadapi resiko. DR. Kruger yang seorang ahli psikologi evolusioner berpendapat bahwa laki-laki lebih banyak harus berjuang demi status sosial. Status sosial adalah lambang penguasaan segala sumberdaya, fisik maupun sosial.

Ilmu sosial mengajarkan bahwa di banyak sistem budaya, pria yang memiliki status sosial lebih baik akan menikmati lebih banyak kemudahan untuk mendapatkan pasangan. Kodrat perempuan yang harus mengandung dan memiliki anak memaksa para pria mengambil posisi sebagai penyuplai materi.

Dalam usaha menaikkan status sosial, seorang pria antara lain harus menghadapi resiko bersaing dengan pria lain dari dalam atau luar kelompoknya. Maka, tidak heran banyak muncul sinyalir bahwa rata-rata usia pria lebih pendek daripada perempuan. Karena faktanya mereka harus menghadapi lebih banyak resiko.

Sebetulnya, ada jenis resiko yang sama-sama dihadapi oleh perempuan dan lelaki demi menghadapi hidup langgeng dan berketurunan baik. Para ahli mengklasifikasikan jenis resiko antara lain saat:
  • hendak menguasai sumber alam [di alam modern namanya "uang"];
  • menghadapi persaingan sosial antar/intra grup;
  • menjaga kondisi badan;
  • dan mengembangkan kemungkinan mendapatkan pasangan.

Manusia: Selalu Mencari Keseimbangan

Untuk melihat kembali bagaimana manusia mengelola proporsionalitas resiko, maka DR. Kruger dan rekan-rekannya menguji sebanyak 1361 mahasiswa/i. Mereka terdiri dari 668 perempuan, 484 laki-laki. Studi ini dilakukan dalam dua gelombang yang sengaja dilakukan untuk mengurangi bias persepsi budaya. Hasil studinya dituliskan pada jurnal "Evolutionary Psychology" pada tahun 2006 lalu [lihat file pdf-nya di sini].

Para mahasiswa tadi diberikan suatu kuosioner untuk memperlihatkan rentang kesediaan masing-masing dalam mengambil tingkat resiko dalam berbagai jenis situasi tadi. Pertanyaan yang diberikan adalah untuk menggali keputusan mengambil pilihan di antara opsi yang ekstrim.

Contoh pilihan yang diberikan misalnya, rela bekerja di lingkungan berbahaya hingga mengganggu fertilitas demi mendapatkan uang lebih banyak [resiko demi menguasai sumber daya]. Atau membela teman saat mendapat keputusan boss yang tidak adil [persaingan internal].

Hasilnya cukup mengejutkan. Ternyata, terdapat kecenderungan mencolok bahwa jika seseorang berani menghadapi jenis resiko tertentu maka ia akan mengimbangi dengan sikap safe dalam situasi lainnya. Contohnya, mereka yang berani menjadi relawan kedokteran, akan bersikap setengah nekad saat diharuskan melabrak boss, dan malah tak akan mau sama sekali berjalan-jalan di kota yang asing.

Namun ada satu jenis kesimpulan yang tidak mengejutkan. Yaitu ternyata responden pria punya keberanian lebih tinggi untuk mengambil resiko dibandingkan kelompok perempuan. Dari penelitian DR. Kruger disimpulkan bahwa cowok cenderung lebih nekad dibandingkan cewek.

"Aman" Lalu Cari Tantangan Lain

Tiap Kamis, Dian Manginta Bicara CintaTadi aku katakan bahwa pada bagian akhir perjodohan di acara "Take Me Out Indonesia" seolah sering terungkapkan bahwa karena para peserta pria suka dengan tantangan, mereka jadi lebih tertarik menghadapi resiko. Hal ini ternyata memang masih sesuai dengan hasil penemuan DR. Kruger tadi.

Namun hasil riset DR. Kruger juga mengajarkan bahwa keberanian menghadapi challenges di suatu ragam masalah ternyata sering diimbangi dengan kebiasaan mencari aman di jenis situasi lain.

Nah, rasanya kita dapat mengambil dugaan bahwa para pria yang sudah bisa merasa aman dalam suatu rentang kebutuhan bisa cenderung suka mencari "tantangan" lain, termasuk dengan lawan jenis. Vice versa, perempuan pun begitu, meski bentuknya berbeda [baca "Ketika Perempuan Selingkuh" di Cantik Selamanya untuk melihat perbedaan persepsi di antara lelaki dan perempuan]. Karena konon, manusia selalu mencari keseimbangan.


Kesimpulannya, agaknya, karena para lelaki di panggung "Take Me Out Indonesia" itu sudah merasa safe dalam pekerjaannya, maka mereka memilih mengambil resiko untuk mendapatkan pasangannya.

What do you think? ;)




*****




Perlu dibaca juga di Cantik Selamanya:







  • What makes you feel safe? Isn't it the situation when you had felt not safe? Let us be thankful on that, then!"... Gabung di halaman facebook "Cantik Selamanya", yiuk yaak yiuuuk? ;)
Yuk, gabung?