Sep 10, 2009

Riset: Hubungan Cinta di Kantor

Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya


Klik gambar di atas untuk menuju artikelku yang masih berkaitan: "Office Affair"



Orang selalu mendengar bahwa romansa di kantor terdengar tidak mulia. Ini karena office dating pertama-tama sering disamakan dengan selingkuh atau affair.

Saat kesempatan terbesar bertemu dengan orang lain hanya di kantor, kadang rasa pertemanan antar rekan kerja bisa wajar menanjak jadi romansa. Namun namanya rasa hati, kerap geloranya bisa menggugurkan pertimbangan-pertimbangan rasional.

Di sinilah nilai kontraproduktifnya office dating. Jangankan punya hubungan dengan atasan atau bawahan, dinamika gelora cinta di antara sesama karyawan pun bisa jadi bagai kerikil di dalam sepatu bagi teman sekerja lainnya.

Berbeda dengan Harassment

Ada lagi yang kerap orang salah mengerti terhadap “office dating”, yaitu sexual harassment [pelecehan seks]. Manakala ada seorang boss jatuh hati secara pribadi terhadap anak buahnya, lingkungan bisa menangkap gelagatnya sebagai percikan asmara tanpa lama menunggu tanda jelas persetujuan di antara kedua manusia tersebut.

Padahal, namanya “pacaran”, “kencan”, atau jenis relationship apapun, harus dilandaskan oleh rasa setuju untuk mengikat hubungan ‘kan? Di sini bisa repotnya jadi perempuan cantik di kantor, karena pasti laki-laki suka terhadap mereka [lihat artikelku: "Fakta Tentang Cowok Ganteng"].

Para pria bisa berfantasi bahwa segala tindak-tanduknya adalah bagai si bunga yang menarik perhatian kumbang-kumbang di sekelilingnya. Ingat artikelku tentang “Riset: Pria Memang Suka "Bergenit-Genitan” kan? Kaum pria dari sananya suka flirting.

Kalau perempuan tidak pernah mengatakan secara jelas, maka segala hubungan yang ada paling jauh namanya sekedar fliting. Meski begitu, tanda flirting tidak lantas kita bisa mengatakan adanya suatu hubungan di antara keduanya. Malah jangan-jangan yang terjadi sebetulnya si perempuan sedang dilecehkan oleh sang lelaki.

Lagi-lagi dari sini kita bisa melihat mengapa masyarakat kerap menganggap rasa asmara di kantor lebih banyak bahayanya dibanding manfaatnya. Bisa bikin jengah semua orang!

Putus? Lebih Repot Lagi

Putus hubungan, bakalan memperpanjang alasan mengapa office dating sebaiknya dicegah. Lagi-lagi teman-teman, atasan, bawahan, semua bisa kena getahnya.

Seumpanya hubungan cinta ini diketahui semua teman, maka putusnya hubungan bisa bikin seluruh warga kantor jadi salah tingkah. Tambah-tambah kalau yang terlibat di hubungan romansa tidak bisa menahan dirinya, bisa-bisa adegan perang mulut, marahan, bertangis-tangisan jadi bahan bumbu gossip.

Akhirnya, kita bisa mengerti bahwa sebelum memulai suatu hubungan, maka yang paling penting adalah memimpin pikiran kita sendiri agar paling tidak jangan sampai merugikan orang lain.

Riset: Pacaran, Bisa Tak Terhindarkan

Tiap Kamis, Dian Manginta Bicara CintaSitus www.careerbuilder.com punya laporan menarik di artikelnya "Top 8 Workplace Taboos that Kill Productivity". Menurut survei mereka terhadap 5.700 pegawai, 39% menganggap bermesra-mesraan di kantor adalah hal tabu dan mengurangi produktivitas kerja. Bayangkan, di negara barat, melihat sesama rekan bermesraan di kantor sudah membuat lingkungan merasa tidak nyaman. Apalagi di Indonesia?

Namun lucunya, dalam survei careerbuilder.com di tahun 2007 ditemukan fakta bahwa 43% dari 645 responden yang juga karyawan, pernah berkencan dengan teman sekerja paling tidak sekali dalam seluruh pengalaman karirnya. Tidak mengherankan, sekitar sepertiga dari seluruh orang yang mengakui punya hubungan tersebut ternyata merahasiakan hubungan mereka.

Hubungan yang terjadi tidak hanya dalam sesama rekan kerja yang posisi jabatannya setara. Hubungan antar jenjang terjadi dalam sekitar 30 persen dari mereka yang mengaku pernah punya hubungan romansa di kantor. Jangan salah, seperlima dari seluruh responden perempuan mengaku pernah punya rasa pribadi spesial dengan atasannya. Sebaliknya, hanya 5% pria yang mengaku pernah punya relasi "khusus" dengan atasannya.

Namun 30% pria yang mengaku tadi ternyata juga punya pengakuan lain: hubungan spesial yang mereka bangun dilaksanakan dengan seorang yang sudah menikah. Hanya 20% perempuan yang mau mengakui bahwa relasi khusus yang mereka pernah buat adalah dengan kelompok non-single.

Bagian lain yang penting untuk diperhatikan adalah pengakuan atas momen di mana hubungan dirasa mulai berkembang. Ternyata, 22% mengakui bahwa rasa tersebut muncul di saat mereka sedang makan siang atau pertemuan yang tak disengaja terjadi waktu di luar kantor.

Hanya 14% yang mengakui bahwa rasa suka tumbuh di saat pertemuan yang lebih khusus seperti pesta kantor, lembur, atau bahkan pada sebuah perjalanan dinas. Pertemuan biasa bisa memercik api romansa di antara para pegawai.

Apa yang Harus Dilakukan

Sejauh ini kita melihat fakta bahwa orang kemungkinan merasa tidak nyaman menyaksikan hubungan cinta di kantor. Hubungan cinta bisa dianggap merugikan produktivitas kerja. Di sisi lain, kesibukan kita sering membatasi variasi pergaulan, hingga hubungan cinta di kantor pun jadi makin rawan terjadi.

Oleh sebab itu, kita harus punya kewaspadaan khusus untuk hubungan cinta ini. Aku menyarankan untuk:
  • Sedari semula, jangan pernah berpikir bahwa pacaran dengan bos atau bawahan;
  • Sekiranya hubungan sudah terjadi, milikilah komitmen untuk membangun relasi yang sehat, pula berguna bagi lingkungan kerja. Ingat, boss, atasan, teman, semuanya sebetulnya sedang sekedar cari nafkah di kantor. Kalau perlu, pertimbangkan untuk mengundurkan diri bila merasa rasa cinta sudah makin melangkah dengan mantap;
  • Bila hubungan kandas di tengah jalan, dahulukan rasa tanggungjawab. Jangan biarkan rasa sakit hati, sedih, meracuni atmosfir baik lingkungan kerja.

Singkatnya: Cobalah untuk sedari semula untuk memiliki perjanjian sikap dengan pasangan untuk menghadapi segala sesuatu yang mungkin terjadi. Bertanggungjawablah. Ingat, kita semua dilahirkan untuk suatu misi di dunia ini yang disebut melayani orang lain.



*****




Perlu dibaca juga di Cantik Selamanya:







Yuk, gabung?