Nov 19, 2009

Jakarta Fashion Week 2009: Citra Kekuatan Indonesia

Klik untuk melihat situs Jakarta Fashion Week 2008








"Menguasai dunia, artinya memberikan tempat bagi yang paling lemah di antara kita untuk bisa selamat, hidup sejahtera." [Dian Manginta, tentang EKSISTENSI INDONESIA]





Soft power, industri kreatifKENAL dengan tiga tokoh di samping? Tentu! Mereka adalah tiga "duta besar" bagi negaranya masing-masing: Doraemon [Jepang], Shah Rukh Khan [India], dan Yao Ming [China].

Ketiganya memiliki daya magnit kuat, yang menarik perhatian dunia. Kharisma mereka merangkul dengan ramah manusia dari berbagai penjuru dunia untuk menerima segala macam pengaruh dari negaranya masing-masing, tanpa todongan senjata.

Industri kreatif di Jepang menjajah dunia dengan hebatnya, sejalan fantasi kita bahwa negara ini mampu menciptakan teknologi apapun. Lewat tokoh Doraemon, kucing Jepang dari abad mendatang, majalah Time pernah mengakui bahwa dunia jadi berimajinasi bahwa kekuatan iptek negara ini sungguh tiada berbatas. Kita pun akhirnya dengan sukarela menjadi pelanggan aneka ragam produk mereka.

Serupa telah terjadi dengan Yao Ming dan Shah Rukh Khan. Berkat kemasan heroik yang melekat pada diri mereka, keduanya sudah menangkat citra keunggulan China dan India.

Kemampuan menghimpun pengaruh di dunia dengan cara damai semacam inilah yang disebut oleh Joseph S. Nye dari Universitas Harvard sebagai "soft power". Joseph Nye pernah menulis "Soft Power Matters in Asia" bahwa negara seperti Indonesia punya modal kekayaan budaya besar yang bisa dipakai untuk mempengaruhi pendapat dunia.

Yang menarik, Joseph Nye yakin bahwa salah satu kekayaan tersebut adalah fashion

Fashion Show: Demonstrasi Citra Negara

Glamor, kesan itu pasti muncul waktu melihat sebuah fashion show. Sebarisan perempuan dan pria peraga berjalan indah sembari disiram cahaya panggung dan blitz kamera. Di ujung ayunan langkah, mereka berpose untuk gambarnya diabadikan media dan disebar ke seluruh penjuru Bumi.

Apa yang ditampilkan dalam sebuah fashion show selalu dipikirkan sebelumnya dengan mendalam untuk mencapai sasaran menghasilkan produk bernilai jual tinggi - enak dipandang, pantas dikenakan di badan. Lewat parade fashion, semua desainer bersaing mendapatkan pengaruh paling besar dalam pasar. 

Sebetulnya ada banyak pesan lambang kondisi masyarakat yang disuarakan dari sebuah parade mode. Karena para perancang dan produsen fashion tak lain juga bagian dari rakyat suatu negara.

Pada awal Februari 2009, berbagai peragaan busana dalam fashion week di New York [AS], London [Inggris Raya], Paris [Perancis], dan Milan [Italia] harus ditampilkan dalam suasana budget terbatas karena negara-negara tersebut kondisi ekonomi sedang muram. Intensitas persiapan beberapa pagelaran dikurangi, sampai beberapa perancang mengorbankan kualitas visualisasi panggung - strategi yang beresiko tinggi untuk industri yang sangat bergantung pada keindahan visual.

Ada pula label setempat yang urung tampil mandiri atau malah memilih menjual rancangannya hanya lewat dunia maya. Bahkan, media mencatat kreativitas Yohji Yamamoto yang mengajak anak-anak tampil di panggung pada New York Fashion Week [Februari 2009] cuma sebagai strategi mengamankan produknya di kala kondisi ekonomi sedang tak aman.

Lalu pada 04-07 November 2009, di Pakistan Fashion Week, Sonya Battla menampilkan rancangannya yang dinamakan "Conflict in Karachi". Koleksi yang bernuansa metal tersebut dikatakan merupakan penghargaan bagi para perempuan Karachi karena mereka harus bertahan hidup dalam suasana konflik berdarah.

Sekarang makin jelas bahwa di era informasi ini, penyebaran pesan visual dari pagelaran busana adalah demonstrasi kondisi budaya dan memberitakan daya produksi suatu masyarakat. Karena yang ditawarkan terutama adalah keindahan, maka perputaran beritanya tak menyisakan alasan untuk dibendung.

Sadar ataupun tidak, berita tentang pagelaran busana akan secara kuat mencitrakan kondisi umum negara asal para perancang dan produsen fashion tersebut. Di ujung beritanya kita akan melihat negara mereka menarik karena kuat, atau malah sedang lemah.

Jakarta Fashion Week 2009

Pada 14-21 November 2009, Jakarta Fashion Week diadakan dengan mengambil lokasi di Pacific Place Mall. Dan aku berencana akan hadir di salah satu mata acaranya. 

Di sini aku akan melihat bagaimana citra ketangguhan masyarakat Indonesia dikemas untuk bisa unggul dalam persaingan antar bangsa. Hebatnya, di Jakarta Jakarta Fashion Week 2009 ini tempat pamer terluas akan disediakan bagi 100 desainer top negeri ini. Dan semuanya diliput oleh 203 media outlet seantero jagad.

Para perancang mode di Indonesia pun sesungguhnya adalah para duta besar yang bertugas untuk menyiarkan keunggulan produksi negara kita. Lewat jasa mereka citra kompetensi dan daya imajinasi Indonesia disiarkan ke seluruh dunia. Kalau karya para perancang mode ini dipuji, artinya pintu peluang penerimaan bangsa-bangsa bagi karya produk Indonesia lainnya akan terbuka lebih besar.

Di tulisan berikutnya, tentu aku akan memaparkan bagaimana citra Indonesia jadi nyata di pandangan dunia lewat panggung fashion Jakarta Fashion Week 2009. So come back again, ya? ;)

D-

Jakarta Fashion Week 2009



*****






Perlu dibaca juga di Cantik Selamanya:






  • Why don't we let the world know how great the future of Indonesia now? Terus, gabung di halaman facebook "Cantik Selamanya", yiuk yaak yiuuuk? ;)
  • Yuk, gabung?







Cover photo: Tika Sugiyanto