Nov 25, 2009

Indonesia Loves Mercedes-Benz' Technology - True Icon of Luxury

Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya




Mercedes Benz, Kekayaan dan Kebersamaan




"Wajar kalau Indonesia kaya: alam negara kita diakui kekayaannya di seluruh dunia! Yang tak wajar adalah kalau kita tak berani kaya. Artinya, mengingkari warisan kekayaan dari negeri yang ditinggali  ayah-ibu-kakek-nenek-moyang kita sendiri." [Dian Manginta, tentang SEMANGAT MENJADIKAN INDONESIA MAKMUR]





AKU melihat sebuah Merceds-Benz, minggu kemarin. It looked really gorgeous! Aku perhatikan serinya dan keliatannya it's an S-Class.

Tidak sulit membuat S-Class Mercedes jadi pusat perhatian. Karena kelas ini adalah kelompok sedan terbesar Mercedes-Benz. "S" adalah singkatan dari "Sonderklasse", yang artinya "kelas khusus", atau "berada dalam kelasnya sendiri".

Aku jadi teringat, akhir bulan Oktober lalu, news contributor Cantik Selamanya menyerahkan sebuah materi dari Mercedes-Benz. Aku pun memutuskan untuk memeriksa berkas dari Mercedes-Benz yang pernah diberikan padaku. Di dalamnya ada tulisan judul "TRUE ICON OF LUXURY" - THE NEW GENERATION S-CLASS.

Dalam materi tersebut Mercedes-Benz selain mengumumkan mereka baru saja meluncurkan The New Generation S-Class. Siapapun tahu, bahwa Mercedes-Benz punya posisi pemimpin pasar kendaraan premium yang tak kunjung terkalahkan sehingga layak disebut sebagai "True Icon of Luxury".

Indonesians Still Love Mercedes: Even More!

Mercedes-Benz Indonesia mengungkapkan prestasi sebagai pemimpin pasar dengan perolehan pangsa pasar 69% dan total unit penjualan 2.022 unit per September 2009! Banyak, ya? Angka itu sebetulnya merupakan kenaikan sebesar 3% dibandingkan dengan nilai penjualan di periode yang sama di tahun lalu dengan total penjualan sebesar 1.972 unit dan pangsa pasar 67.5%.

Mercedes-Benz Indonesia mengatakan bahwa volume pasar kendaraan premium di negara kita akan mengalami kenaikan yang cukup significant selama bulan Oktober - Desember 2009 sebesar 66%. Pertumbuhan pasar kendaraan premium tersebut diperkirakan akan didominasi oleh Mercedes-Benz dengan target akan menutup tahun 2009 dengan pangsa pasar 69% dan total angka penjualan sebesar 2.800 unit.

Keyakinan itu bukanlah angan kosong semata, tetapi telah melalui masa 13 tahun sejak kemunculan Mercedes-Benz S-Class yang pertama di Indonesia. Hingga bulan September 2009, S-Class meninggalkan jauh lawan-lawannya dengan perolehan pangsa pasar sebesar 73.2% dengan angka penjualan sebesar 175 unit. Inilah yang menjadi alasan penyebutan "True Icon of Luxury" bagi Mercedes-Benz S-Class.

Kemudian, menjelang akhir bulan Oktober lalu, dengan mengusung presikat "True Icon Of Luxury", Mercedes-Benz Indonesia memperkenalkan The New Generation S-Class yang diharapkan akan menguatkan posisi Mercedes-Benz S-Class sebagai pemimnpin sejati di kelasnya.

Benz: The Technology Indonesians Love

Mercedes Benz Indonesia - S SaloonTak ada barang mewah yang muncul tanpa memperhatikan detil. Dan the New Generation S-Class unjuk gigi dengan detil teknologi yang mempesona, menyempurnakan fungsinya sebagai sebuah kendaraan mewah.

Kalau meluncur di malam hari, the New Generation S-Class punya fitur yang mengamankan pengendaranya dengan teknologi "night view assist with pedestrian recognition". Teknologi ini memampukan pengendara memberi respon yang sempurna terhadap para pejalan kaki.

Dan the New Generation S-Class punya kemampuan komunikasi dengan pemiliknya berkat penggunaan teknologi yang makin paripurna, lengkap dan imajinatif.
Misalnya, dengan teknologi bluetooth, maka menyalakan lampu di dalam mobil cukup dengan menekan tombol tanpa harus muter-muter mencari tombol yang menempel di dekat lampu. Bukan cuma lampu, bluetooth ini bisa dipergunakan untuk memberikan perintah remote lainnya.

Urutan teknologi yang dipakai pun sudah seperti handphone atau laptop masa kini: "reversing camera for parking guidance", "attention assist", "Splitview Command with new functions, SD card, telephone keypad with handrest, dan ditambah interfaces: iPod, USB, AUX-in, dan lainnya.

Canggih, bukan? Technology!

Di samping desain eksterior yang makin matang, pada bagian pada bagian interior diubah agar semakin membuat nyaman. Seperti pada desain dan struktur tempat duduk, rear seat entertainment package dengan desain baru dan juga ambiance penataan lampu dengan tiga pilihan warna.

Bagaimana harganya? Di dalam materi Mercedes-Benz yang aku punya, disebutkan harga untuk kendaraan yang punya 4 varian ini, yaitu S300L [tanpa Rear Seat Entertainment atau RSE] dengan harga Rp.1.599.000.000,-; S300L [RSE] dengan harga Rp.1.699.000.000,-; S350L dengan harga Rp.1.949.000.000,-, dan S500L dengan harga Rp.2.599.000.000,-.

Mahal? Of course. It's called luxury, darling!

Selain seri S-Class itu, Mercedes-Benz Indonesia juga mengumumkan kehadiran Mercedes-Benz E-Class produksi lokal yang kini secara resmi sudah hadir di Indonesia sejak bulan Agustus 2009 yang lalu. Mercedes-Benz E-Class ini pun telah tampil sebagai pemimpin dengan perolehan pangsa pasar sebesar 79.2% dengan angka penjualan sebesar 798 unit sampai dengan September 2009.

Untuk para pelanggannya, Mercedes-Benz memberikan program ISP (Integrated Service Package) bagi pembeli dari dealer resmi berupa service gratis selama 3 tahun berturut-turut tanpa batasan kilometer. That is also luxury!

Mimpi Indonesia: Makin Jadi Kenyataan

Iptek IndonesiaPamor sukses Jerman - asal Mercedes-Benz - sudah bertahun dibangun oleh kekuatan teknologi dan semangat produksi berkualitas tinggi. Dan Kompas [22 Oktober 2009] mengungkapkan berita bagus bahwa Mercedes-Benz akan menggunakan kandungan lokal Indonesia lebih banyak di dalam sistem produksi mereka.

Kerelaan Mercedes-Benz memperbanyak kandungan lokal di Indonesia punya arti bahwa kita punya kans lebih banyak mengadopsi teknologi unggul dari Jerman. Namun bisa saja, kesempatan ini bisa jadi terlihat karena kita buru-buru mengajukan keberatan lantaran punya pengalaman masa lalu yang tak baik.

Citra kualitas dan kuantitas bidang pendidikan yang rendah misalnya, seperti mengajak kita melupakan mimpi menguasai teknologi, hingga menanjakkan prestasi negeri seperti Jerman. Ini tanda kita perlu memperbaiki sejarah untuk dicatat di masa depan.

Buku "Human capital and economic growth in India, Indonesia, and Japan: a quantitative analysis, 1890-2000" [Bas van Leeuwen] mengungkapkan inteprestasi menarik tentang bagaimana Indonesia dan India bisa diperbandingkan oleh raksaksa teknologi Jepang, dari sisi sejarah. Lihat pada bagian "8. A historical intepretation of hte new growth theories: an overview".

Di situ, van Leeuwen dkk mengungkapkan perhitungan ekonomi sepanjang 110 tahun bahwa Indonesia dan India ternyata kalah strategi dengan Jepang dalam memandang ilmu pengetahuan.

Jepang memandang pendidikan harus membuatnya mampu mengembangkan kreativitas. Sedangkan Indonesia dan India hanya pada taraf "mengerti". Mungkin maksud van Leeuwen dulu kita pernah mengartikan belajar sebagai sekedar kegiatan "menghafal".

Salah satu penyebabnya adalah Indonesia telah lama tidak serta-merta mengharapkan timbal balik perbaikan ekonomi dari kegiatan pendidikan. Juga, ini karena kita [juga India] dibanding Jepang pernah kurang bersabar untuk melihat dampak positif perbaikan ekonomi dari investasi di bidang pendidikan.

Dulu, kita ingin buru-buru melihat orang langsung menjadi kaya raya setelah selesai mengenyam pendidikan. Kita bermimpi bahwa sekolah ibarat celengan semar yang bila diisi bisa langsung dipecahkan dan diambil tabungannya.

Berita bagusnya, menurut van Leeuwen dkk, pada periode menjelang tahun 2000-an perhitungan menujukkan pembangunan manusia Indonesia [baca: terutama pendidikan] sudah makin mendekati Jepang, bahkan melampaui India.  Ketertinggalan Indonesia dalam hal menggunakan modal manusia dibanding Jepang berkisar sekitar 17,99%  saja. Sedangkan India, 29,89%.

Terima Mercedes, Jangan Lambat!

Artinya, dilihat dari potensi manusia sebetulnya daya produktivitas tiap individu di Indonesia sudah makin mendekati Jepang, bahkan sebetulnya melebihi India. Ini adalah berita baik sekaligus tantangan bagi rekan-rekan kita yang ingin menata organisasi kerjanya di sini: you are not dealing with hopeless Indonesian people.

Van Leeuwen bagaimanapun mengingatkan bahwa Indonesia harus mengejar ketertinggalan secepat mungkin, perlu lebih bergairah dalam hal menguasai dan mengembangkan teknologi. Makin berlambat-lambat, tambah banyak aral merintang yang harus dilewati.

Sekarang kita rasanya bisa lebih mampu mengatakan thanks kepada Mercedes Benz. Keinginan mereka menggunakan konten lokal akan membuka kesempatan bagi Indonesia untuk lebih memperkuat pengalaman dalam berproduksi.

Ingat saja, perkembangan dunia sudah semakin mendorong masyarakat negara maju untuk lebih mengekspansikan kegiatan produksi mereka di negara berkembang seperti Indonesia. Demi lapangan kerja generasi mendatang yang sudah tercatat menikmati pendidikan lebih baik, rasanya kita perlu lebih bergairah untuk menerima mitra-mitra asing seperti Mercedes Benz.

Sebab itu, sekali lagi aku perlu katakan: "Indonesia Loves Mercedes-Benz"! :)





*****






Perlu dibaca juga di Cantik Selamanya:






  • In everything, leffiecient means living with much of thanksgiving hearts. Terus, gabung di halaman facebook "Cantik Selamanya", yiuk yaak yiuuuk? ;)
  • Yuk, gabung?