Mar 3, 2009

Bahagia

Aku baru aja baca-baca a glimpe sebuah blog seorang remaja perempuan di US. Dia punya masalah dengan DSPS (Delayed Sleep Phase Syndrome). Liat aja di Wikipedia, ya, apa itu DSPS. Gambarannya, DSPS itu adalah satu masalah jam tidur rutin yang terlambat, bisa mendekati pagi hari. Jumlah jam bobok-nya tidak kurang, hanya alokasinya yang tidak sama dengan sebagian besar orang.

Nah, orang ini punya tulisan yang agak rough. Aku jadi terkaget-kaget bacanya. I don't recommend you to read it. Pake kata-kata yang agak kasar gitu seperti “damnit” (Kayaknya dia salah spell, kali, ya? Mesinya "damn it”, bukan? Eh, kok dibahas! Haha).

Anyway, aku curious to know her mind. Jadi aku baca-baca beberapa postings-nya. Random aja karena banyak juga sedang dia sudah mulai nge-blog dari bulan Januari 2007.


Nah, aku menemukan satu posting yang dia bikin tanggal 30 September 2008. Di salah satu posting-nya dia cerita bahwa dia happy. Singkat cerita, dia merasa heran juga bahwa kejadian yang sedang diceritakannya itu ternyata membuat dia merasa happy.

Lalu dia jadi merenungkan soal happy itu. Salah satunya dia tuliskan: “Maybe happiness didn’t have to be about the big sweeping circumstances, about having everything in your life in place.” Dan sederet maybe's sampai kemudian dia tulis lagi “May be I just need someone. Anyone”. Baca ini, I then wentuuh..”

Sedih bacanya. Her life seems to be fine. Ada sekilas dia sebutkan tentang ayahnya yang kayaknya punya masalah komunikasi dengannya. Tapi aku selalu percaya pasti keadaannya lebih complicated dari yang kita bisa tebak.

Aku jadi inget salah satu pacarku (eh, iya.. aku punya banyak pacar dulu.. ha ha ha..) pernah tanya aku kenapa aku mau married. Saat itu aku bengong karena gak pernah kepikiran kenapa mau married. Nikah. Pastilah karena sebelum pertanyaan itu muncul aku sudah terbiasa dengan pola pikir bahwa kalau kita sudah dewasa, maka kita akan menikah.

Karena aku bengong, pacarku itu menjawab sendiri pertanyaannya. Katanya, "kalau saya, saya mau menikah supaya bahagia".. I go "Ooo.. gitu?"


Tapi sejak itu jadi kepikiran, "Bahagia itu apa, ya?" It was in 1994. Sampai lewat sepuluh tahun setelah itu aku masih belum menemukan jawabannya. Jawabannya barangkali kira-kira seperti pertanyaan remaja Amerika yang aku kutip di atas. Hard to describe.

happy

No comments:

Post a Comment

Kasih komentar, ya, supaya aku punya input yang bisa aku kembangkan untuk artikel aku selanjutnya. Menambah wawasan aku juga, kan? Terima kasih sebelumnya, loh!