Apr 15, 2009

Hari Kartini, Pahlawan Pendidikan

Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya


Aku sedang bosan ngomongin Pemilu.

Aku merasakan kekhawatiran masyarakat akan kepemimpinan mendatang. We saw certain people with their ambitions trying to rule in this nation. Mereka punya mimpi dan mengejarnya. Bagus juga.

Cuma sejauh yang rakyat sudah saksikan, banyak mimpi mereka bukanlah mimpi yang dimaksud oleh rakyat. Akhirnya rakyat berpikir bahwa kelompok orang yang rebutan kursi hasil Pemilu itu gak bisa dipercaya.. Lha, memang kita 'kan harusnya percayanya sama Tuhan?

Jadi, bagusnya kita jadi kelompok yang membiarkan Tuhan, yang tidak terbatas itu, yang melakukan bagianNya. Kita sudah melakukan bagian kita sebagai masyarakat dengan berpartisipasi dalam pemilu. Selebihnya, serahkan saja kepada Tuhan.

Seandainya pun ada, biar kalau calon pemimpin itu melakukan hal yang jahat terhadap kita, maka Tuhan yang akan bertindak menentang mereka. Amin!. Biar mereka yang jahat itu tauk rasa.

Terus kita ngomongin apa, dong?

Minggu depan itu 'kan ada event nasional yang disebut dengan Hari Kartini. Event yang aku setengah mati gak setuju merayakannya selain buat lucu-lucuan. Apa gak lucu kalo' kita ke kantor pake kebaya cuma karena mau mengenang ibu Kartini? Ya lucu, lah!

Tapi aku gak setuju dengan ide hari Kartini, yaitu mengenang ibu Kartini sebagai pahlawan pembebasan wanita. Women's liberation. Yang bener aja.

Aku menghormati ibu Kartini dan seluruh keluarga besarnya, loh. Tetapi aku gak setuju dengan keputusan Pemerintah menjadikan beliau sebagai pahlawan nasional.

Kalau ada expat yang tanya aku mengapa ibu Kartini dijadikan pahlawan, maka aku akan jawab, "because she wrote letters to her Dutch's friends."

Pahlawan curhat. She was lucky to have friends who loved her that they would put her letters together and made it a book - yet it did not suppose to make her a heroine. No way.

Nanti semua orang yang bikin surat dan menceritakan mimpinya untuk Indonesia bisa dijadikan pahlawan nasional, dong. Kalau setengah penduduk Indonesia rame-rame menulis surat keluar negeri tentang mimpi mereka, bisa-bisa kita punya seratus-jutaan pahlawan curhat. Cara pikir kita tentang Ibu Kartini, terlalu praktis.

Tapi aku setuju menyebut dia sebagai pribadi yang peduli pada pendidikan. Ibu Kartini itu seperti juga ibu Dewi Sartika atau pun Ki Hajar Dewantara. Itu saja.

Yang dilakukannya dalam hal pendidikan untuk perempuan itu bagus. Dan wajar saja mengingat kedudukan perempuan di lingkungannya waktu itu kurang baik. Tentu saja, dia perlu mengadakan kelas khusus perempuan, karena sistem pendidikan di rumah dan lingkungannya juga sudah mengadakan pembedaan antara lelaki dan perempuan. And with a nice and rich husband, building a school was no big deal for her.

Because of that, she cannot be considered as a heroine.

Kita semua tahu bahwa penjajah Belanda dan Portugis yang jahat itu melarang pendidikan bukan saja untuk perempuan, tetapi juga untuk lelaki. Yang boleh sekolah cuma priyayi. Itu juga gak boleh tinggi-tinggi. Karena kalau sekolahnya tinggi, nanti orang Indonesia jadi pintar dan akan berbalik melawan mereka para penjajah itu. Gak bisa dibodoh-bodohi para penjajah lagi.

Karena itu, kalau mau mengenang Kartini, kenanglah dia bareng-bareng, altogether seperti saat kita mengenang Ki Hajar Dewantara dan juga Ibu Dewi Sartika, di hari Pendidikan Nasional.

Pendidikan memang penting sepenting makanan dan pakaian. Pendidikan itu harusnya termasuk dalam golongan kebutuhan primer. Gak bisa ditunda. Gak bisa disubstitusi.

Pendidikan itu penting! Nah, bapak dan ibu yang baik seharusnya memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak-anaknya bukan karena mau ngejar ijazahnya, tetapi supaya mereka pintar dan gak bisa dibodo-bodohin sama seorang Caleg di kala kampanye Pemilu. Jangan pernah setuju kalau anaknya menyontek. Seperti korupsi, nyontek juga setara dengan pencurian. Malu-maluin.

Cara pikir tentang Kartini selama ini yang mengangkat beliau sebagai pahlawannya perempuan, dan bukan pahlawan pendidikan untuk semua orang, memvalidkan fakta umum bahwa kita masih belum terobsesi dengan bidang pendidikan. Padahal, Ibu Kartini bertindak sebagai selayaknya orang berpendidikan, laki-laki maupun perempuan, yaitu dia membagikan ilmunya bagi yang lebih "bodoh".

You see, orang pintar tiada berguna tanpa orang bodoh. The colonialists didn't want you to see that. And their wanting has been staying longer than we thought.

Para penjajah itu cuma mau melihat ada "priyayi" di antara kita. Karena toh, Penjajah Belanda yang membuat batas kemampuan belajar ada dalam status keningratan, bukan?

Seharusnya kita mengakui bahwa dampak menghilangkan kepriyayian itulah, yaitu memberikan harapan perkembangan hidup bagi kaum bawah, yang harus kita angkat nilainya dari pekerjaan Ibu Kartini. I hope we can see now, it was general foolishness that made our males and females once believed in sex discrimination.

Kebodohan, adalah banyak sumber dari segala kekacauan, ketidakmampuan menghargai other groups, including for the opposite of sex members...



  • Let's learn more! Apa yang akyu temukan berkaitan dengan topik Hari Kartini... Lihat catatannya di "wall" di halaman facebook "Cantik Selamanya" (sure it's fun!)
Yuk, gabung?