Skip to main content

Video Baru di YouTube channel-nya Cantik Selamanya #newvideoalert

Sudah lama gak nulis blog, hari ini aku baru saja upload video lanjutan dari video nasihat buat yang mau menikah. Supaya pernikahannya langgeng dan bahagia. Mau, 'kan ? Banyak orang yang menikah tetapi tidak mesra hubungannya dengan pasangan. Masing-masing sibuk dengan kehidupannya sendiri-sendiri. Padahal, menikah itu menyatukan dua orang dalam satu hubungan yang erat, ada ketergantungan satu sama lain. Dua jadi satu. I need you, like you need me. Gitu. Kalau orang menikah 'kan inginnya bahagia, awet selamanya, hingga maut memisahkan. Kalau menikah tetapi dingin satu sama lain. Tidak ada kangen lagi. Kepinginnya ketemu teman-teman yang asik itu. Siapa yang mau tinggal dalam pernikahan seperti itu? Nah, kalau video yang sebelumnya bisa dilihat dengan klik di sini , video lanjutannya bisa dilihat dibawah ini.. Sok, atuh, di tonton.. Jangan lupa SUBSCRIBE , ya... lalu share, mungkin ada yang perlu nasihat supaya mantap langkahnya untuk menikah. Take care! 

I Had My Moment

Senengnya punya sahabat itu adalah kita punya seseorang to whom we can share anything. Orang yang kita percaya. Sebenernya itu adalah adanya kesetaraan antara dua pribadi sehingga bisa saling mengerti, saling menerima.
Aku sangat beruntung karena punya seorang sahabat yang seperti itu. Namanya Andry. Aku bisa ngomong apa aja dengannya di telepon sampai berjam-jam. Then when I get the bill, I call her again to tell her that last time we had long conversation it costed me a lot..
Andry is a great person. I love her. Dia bisa dipercaya. Dia juga gak terintimidasi atau dengan kata lain: mandiri. Jadinya nyaman banget jalan dengan Andry.
Waktu kemarin ke Bintaro, of course, kita ngobrol macem-macem sepanjang jalan itu. Satu ketika, saat hampir mengucapkan sesuatu aku terdiam sambil tertawa kecil.
"Ada apa?" tanya Andry.
Aku jelaskan bahwa aku baru saja akan mengatakan "sekarang gue sudah dewasa"
Aku jelaskan bahwa memikirkan kata-kata itu aku geli sendiri mengingat umurku yang sudah over forty. Jelas sudah dewasalah! He he he..
Tapi seperti biasa, aku pun berpanjang lebar menerangkan bahwa sebenernya hal itu gak lucu-lucu amat. Sebagai pribadi yang punya ide-ide di kepalaku, aku melalui masa-masa pemberontakan. Rebellious time. Masa-masa di mana aku merasa harus menentang beberapa hal yang gak masuk akal aku. Biasanya hal itu berhubungan dengan kedudukan perempuan terhadap lelaki. Terlalu banyak menerima hal-hal yang negatif dari lingkungan dan bacaan agaknya mempengaruhi pandanganku terhadap kaum lelaki. Pada suatu ketika aku memutuskan untuk menunjukkan kepada kaum pria bahwa perempuan itu gak selemah yang mereka kira.
Bukannya aku menginginkan pengakuan atas kesetaraan gender. Aku cuma tersinggung karena seringkali mendengar cerita tentang ego lelaki yang menurut aku saat itu, menempatkan perempuan sebagai korban. Aku gak suka itu.
Maka dalam pemberontakanku aku seperti senang sekali melakukan apa saja untuk menunjukkan kepada kaum pria bahwa perempuan are not stupid as they had treated us. Jadilah aku semena-mena pada kaum pria itu. Dengan feminitasku, aku tunjukkan kepada mereka bahwa perempuan juga bisa melakukan tindakan harrashment terhadap lelaki. Oh, my God. Yes, I did it. Tentu saja dengan cara yang feminin. Padahal, yang lebih kejam lagi, aku tahu laki-laki tidak akan menjerit-jerit seperti perempuan untuk mengeluhkan tindakan harrashment itu.
Aku gak inget, sih, what I did.. Bukan menghindar, aku bener-bener lupa, kok. Lagi pula semua itu akhirnya berlalu dan melalui berbagai pengalaman hidup akhirnya aku menyadari bahwa lelaki juga manusia. Pingin disayang juga. Punya batasan juga.
Jadi begitulah.. That was my moment. Setelah semua itu.. Sekarang aku bisa menyebut diriku "dewasa".. I understand better.
Yang aku pernah dengar, semua orang punya moment-nya. Rebellious moment. Masa pemberontakan. Saat kesalahan dibuat. Beberapa orang menyesalinya. Yang lain mentertawainya. Tapi semuanya itu mematangkan kita dan menjadikan kita seperti kita apa adanya.
There we go.

Popular posts from this blog

Video Baru di YouTube channel-nya Cantik Selamanya #newvideoalert

Sudah lama gak nulis blog, hari ini aku baru saja upload video lanjutan dari video nasihat buat yang mau menikah. Supaya pernikahannya langgeng dan bahagia. Mau, 'kan ? Banyak orang yang menikah tetapi tidak mesra hubungannya dengan pasangan. Masing-masing sibuk dengan kehidupannya sendiri-sendiri. Padahal, menikah itu menyatukan dua orang dalam satu hubungan yang erat, ada ketergantungan satu sama lain. Dua jadi satu. I need you, like you need me. Gitu. Kalau orang menikah 'kan inginnya bahagia, awet selamanya, hingga maut memisahkan. Kalau menikah tetapi dingin satu sama lain. Tidak ada kangen lagi. Kepinginnya ketemu teman-teman yang asik itu. Siapa yang mau tinggal dalam pernikahan seperti itu? Nah, kalau video yang sebelumnya bisa dilihat dengan klik di sini , video lanjutannya bisa dilihat dibawah ini.. Sok, atuh, di tonton.. Jangan lupa SUBSCRIBE , ya... lalu share, mungkin ada yang perlu nasihat supaya mantap langkahnya untuk menikah. Take care! 

Cerita Bersambung - Nita Si Sekretaris (2)

Cerita sebelumnya : Nita, seorang sekretaris, hidup dengan optimis namun tidak neko-neko. Namun, keoptimisannya kerap diuji, apalagi dia "hanya" seorang... Nita Si Sekretaris Nita tidak bisa mengerti, kenapa semua pekerjaan Vero tersebut harus dikerjakannya. Ditambah lagi Vero malah marah-marah tidak karuan gara-gara Nita tidak menambah sepuluh persen pada kolom perkiraan tadi. “Sumpah, gue ga' tahu itu harus dikalikan berapa.” Cerita Nita pada Ellen. “Tapi elu tuh harusnya banyak bertanya dong, Nit. Lu harus lebih berinisiatif bertanya ke Vero kalau ada urusan kerjaan sama dia.” Ucap Ellen menguliahi. Saat itu Nita tidak berharap Ellen malah menasehatinya karena Ellen 'kan juga sama seperti dia yang adalah seorang sekretaris juga. Dia justru ingin seorang kolega bisa memberi kata-kata hiburan ataupun pemberi semangat pada saat-saat tidak menyenangkan seperti ini. Dan, walaupun bosnya adalah Pak Walker yang sudah tua tapi ramah, namun dalam logika Nita, Ellen sepantas...

Tips: Etika Mengirim dan Menerima E-mail

Klik di logo di atas untuk melihat versi PDF artikel ini . Jaman sekarang, di era fesbuk , e - mail sudah jadi biasa. Memang mungkin belum 50% orang Indonesia yang pake e-mail, but soon , I’m sure .. Dengan teknologi 3G; sekarang 3.5G; dan kenyataan bahwa handphone sudah jadi barang biasa, aku yakin sebentar lagi kelompok masyarakat yang tadinya cuma tahu caranya pake hape , sebentar lagi juga pasti akan belajar pake imel . Trigger -nya bisa jadi adalah kenyataan bahwa memakai yahoo! messenger di handphone lebih murah dari pada SMS. Karena murahnya, aku sempat ajarin Office Boy di kantor aku untuk memakai messenger dan mengajar keluarganya di desa untuk belajar juga. Bayangkan seandainya dia bener-bener ngajarin sanak saudaranya untuk memakai messenger, maka mereka akan juga melihat feature e-mail dari yahoo! yang comes together with the messenger . Lalu mereka belajar bikin surat pake e - mail . Nice , ya? Belum lagi kerja keras para telecommunication services provider ...