May 4, 2009

I Had My Moment

Senengnya punya sahabat itu adalah kita punya seseorang to whom we can share anything. Orang yang kita percaya. Sebenernya itu adalah adanya kesetaraan antara dua pribadi sehingga bisa saling mengerti, saling menerima.
Aku sangat beruntung karena punya seorang sahabat yang seperti itu. Namanya Andry. Aku bisa ngomong apa aja dengannya di telepon sampai berjam-jam. Then when I get the bill, I call her again to tell her that last time we had long conversation it costed me a lot..
Andry is a great person. I love her. Dia bisa dipercaya. Dia juga gak terintimidasi atau dengan kata lain: mandiri. Jadinya nyaman banget jalan dengan Andry.
Waktu kemarin ke Bintaro, of course, kita ngobrol macem-macem sepanjang jalan itu. Satu ketika, saat hampir mengucapkan sesuatu aku terdiam sambil tertawa kecil.
"Ada apa?" tanya Andry.
Aku jelaskan bahwa aku baru saja akan mengatakan "sekarang gue sudah dewasa"
Aku jelaskan bahwa memikirkan kata-kata itu aku geli sendiri mengingat umurku yang sudah over forty. Jelas sudah dewasalah! He he he..
Tapi seperti biasa, aku pun berpanjang lebar menerangkan bahwa sebenernya hal itu gak lucu-lucu amat. Sebagai pribadi yang punya ide-ide di kepalaku, aku melalui masa-masa pemberontakan. Rebellious time. Masa-masa di mana aku merasa harus menentang beberapa hal yang gak masuk akal aku. Biasanya hal itu berhubungan dengan kedudukan perempuan terhadap lelaki. Terlalu banyak menerima hal-hal yang negatif dari lingkungan dan bacaan agaknya mempengaruhi pandanganku terhadap kaum lelaki. Pada suatu ketika aku memutuskan untuk menunjukkan kepada kaum pria bahwa perempuan itu gak selemah yang mereka kira.
Bukannya aku menginginkan pengakuan atas kesetaraan gender. Aku cuma tersinggung karena seringkali mendengar cerita tentang ego lelaki yang menurut aku saat itu, menempatkan perempuan sebagai korban. Aku gak suka itu.
Maka dalam pemberontakanku aku seperti senang sekali melakukan apa saja untuk menunjukkan kepada kaum pria bahwa perempuan are not stupid as they had treated us. Jadilah aku semena-mena pada kaum pria itu. Dengan feminitasku, aku tunjukkan kepada mereka bahwa perempuan juga bisa melakukan tindakan harrashment terhadap lelaki. Oh, my God. Yes, I did it. Tentu saja dengan cara yang feminin. Padahal, yang lebih kejam lagi, aku tahu laki-laki tidak akan menjerit-jerit seperti perempuan untuk mengeluhkan tindakan harrashment itu.
Aku gak inget, sih, what I did.. Bukan menghindar, aku bener-bener lupa, kok. Lagi pula semua itu akhirnya berlalu dan melalui berbagai pengalaman hidup akhirnya aku menyadari bahwa lelaki juga manusia. Pingin disayang juga. Punya batasan juga.
Jadi begitulah.. That was my moment. Setelah semua itu.. Sekarang aku bisa menyebut diriku "dewasa".. I understand better.
Yang aku pernah dengar, semua orang punya moment-nya. Rebellious moment. Masa pemberontakan. Saat kesalahan dibuat. Beberapa orang menyesalinya. Yang lain mentertawainya. Tapi semuanya itu mematangkan kita dan menjadikan kita seperti kita apa adanya.
There we go.