Jun 8, 2009

Diam Itu Bukan Emas


Aku ingat duluuuuu sekali sering mendengar pemeo "silence is golden". Aku pikir it was right.

Tetapi belakangan di dunia kerja, aku menemukan hal lain: "yang banyak bicara, biasanya karirnya bagus." Dan kebanyakan mereka bukan orang Indonesia. They can be from any nations but Indonesia.

Diam Itu Tidak Taktis
Agaknya, orang Indonesia termakan pemeo silent is gold. Karena nasehat yang aneh itu, akhirnya orang Indonesia gak terlatih untuk mengeluarkan pendapat. Diam saja sampe kita gak bisa tebak isi hati dan otaknya.

Padahal kalau dipikir-pikir, seperti di dunia kerja itu, ya.. bagaimana bos kita bisa tahu apakah kita mengerti atau tidak kalau kita gak bicara?

Dalam kehidupan sehari-hari juga begitu. Banyak orang Indonesia yang lebih suka diam kalau lagi ada pikiran yang mengganggu. Lha, gimana kita bisa mengerti kalau isi pikirannya gak dikomunikasikan?

Paling gak enak itu kalau didiemin karena marah. Mau coba menjelaskan gak bisa. Padahal yang marah pake diem biasanya diemnya lama. Sedangkan marah gak boleh lama-lama. Nanti dosa, loh. Ya iyalah, kalau marah lama-lama, nanti akhirnya malah memancing sakit hati dan menambah kekecewaan di antara pihak yang bertikai. Masalah tak terselesaikan, malah bertambah.

Silent is never gold.

Ada waktunya untuk diam. Tapi jangan kebanyakan diam.

Bicaralah agar yang lain bisa mengerti. Demikian juga ketika ada kabar miring tentang kita disebarkan orang, counter-lah. Tanggapi dengan bijaksana. Jangan didiamkan sambil yakin kalau anjing menggonggong kafilah pasti berlalu.

Kafilah memang berlalu, tapi dia pergi sambil membawa the trust for us away. Dia pergi sambil meninggalkan kekecewaan terhadap kita. Karena orang-orang yang mengasihi kita ingin mengerti, ingin dipercaya. Tetapi kalau kita gak bicara, dia tidak mendapatkan kepastian bahwa dia memang dipercaya. Meski logika mengerti, tetapi hati gak bisa tenang.

Jadi bicaralah, karena itu baik.



Yuk, gabung?