Jun 28, 2009

Belajar Citra Diri Dari Selebriti

Belajar Dari SelebritiBerita tentang kematian Michael Jackson [25 Juni 2009] memang sudah beredar di mana-mana. Terpengaruh oleh berita di televisi, kemarin sore aku jadi ikut mendengarkan lagu-lagunya lewat youtube.com. Sedih mendengar lagu "Earth Song", rasanya talenta seperti itu akan jarang bisa kita temui lagi.

Michael memang mencerahkan dunia lewat bakat seni, skill menari dan musik yang luar biasa. Namun kehidupan pribadinya juga sama sekali tidak biasa, dipenuhi kepahitan dan kontroversi.

Sejak kanak-kanak ia sudah mencuri perhatian dunia. MJ menciptakan puluhan aks khas seperti moonwalk, falsetto-menyanyi dengan suara "palsu" bahkan bunyi cekukan yang serak.

Kehidupan pribadinya sama saja, selalu jadi konsumsi besar media. Untuk masalah pribadi, boleh dibilang MJ lebih banyak dikecam daripada dipuji.

Keputusannya merubah penampilan fisik secara dramatis -apapun alasannya, kehidupannya yang sangat boros, serta kasus pelecahan seksual membuat MJ sampai dikategorikan sebagai inspirasi buruk bagi masyarakat. Semuanya tidak meluruhkan minat orang banyak untuk terus menikmati jerih payah MJ memberikan aksi outstanding.

Kalau mengingat bahwa semua orang pernah melakukan kesalahan, apakah seorang MJ [atau selebriti lainnya] lantas tidak bisa dikagumi dalam hal kehidupan pribadinya?

Mengagumi Selebriti Memang Bisa Menguntungkan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mengagumi selebriti memang bisa memberikan keuntungan mental yang besar. Ass. Prof. Jaye L. Derrick dan Shira Gabriel dari Universitas Bufallo, New York menemukan bahwa rasa keterikatan dengan selebriti tanpa harus saling kenal [yaitu parasosial] dapat memberikan solusi bagi mereka yang mengalami kesulitan untuk bergaul langsung dengan orang lain. Terutama bagi mereka yang memiliki masalah dengan kepercayaan diri, hubungan parasosial bisa turut membangun citra diri ideal.

Nita, Si Sekretaris di CANTIK SELAMANYAPara peneliti tadi melakukan studi terhadap 100 mahasiswa untuk mengetahui hubungan antara kepercayaan diri, tingkat perkembangan parasosial, dan rasa keutuhan diri sendiri. Para subyek penelitian tadi diminta untuk membuat esai tentang selebriti favoritnya. Seluruh hasil evaluasi tadi dievaluasi dengan metode Rosenberg Self-Esteem Scale (SES).

Hasil evaluasi menunjukkan bahwa para subyek yang memiliki rasa percaya diri rendah ternyata cenderung melihat para selebriti favoritnya memiliki citra kepribadian idamannya.

Kesimpulan ini bisa memberikan solusi bagi mereka yang memiliki masalah citra diri namun tidak mampu mendapat contoh langsung dalam kehidupan asli. Hubungan parasosial dengan selebriti tidak memberikan resiko penolakan, atau reaksi langsung yang mengecewakan dari sang selebriti. Rasa kekaguman kepada pribadi orang yang sesungguhnya bisa menjadi alat bantu untuk merenung dan langkah-langkah mental lainnya, seperti merubah energi frustasi menjadi kekuatan positif.

Faktanya, revolusi media telah berjalan jauh lebih cepat daripada kemampuan manusia mengubah caranya membangun persepsi sosial. Usia budaya televisi, misalnya, jauh lebih pendek dibandingkan dengan rentang sejarah utuh sosial-budaya itu sendiri. Sehingga bisa dikatakan bahwa manusia akan menggunakan modal mental/biologis [otak, hormon, dan lainnya] yang sama saat "berinteraksi" dengan selebritis maupun dengan orang lain secara langsung.

Jadi, saat kita kesulitan mendapatkan pelajaran langsung dari orang lain, selebriti bisa menjadi inspirasi yang positif. Lagi pula, kalau kita mau mendapatkan hal positif, pasti pada akhirnya semua yang baik akan kita dapatkan.

Begini kata Ass. Prof. Gabriel:

"...A sense of intimacy develops out of 'shared' experiences and interactions over time. Some people develop very strong relationships of this type with specific celebrities with whom they identify." .

Study Finds If Your Self Esteem Is Low, a Faux Relationship Can Give You a Boost