Jan 21, 2010

Suami-Istri, Who's the Boss?


Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya











Ketika Gloria Gaynor menampilkan "I Will Survive" di akhir 1970-an, masa-masa itu kala itu perempuan di seluruh dunia tengah membara dengan semangat kesetaraan derajat terhadap laki-laki. Para perempuan mulai mengakrabi fakta bahwa mereka bisa menjadi orang kaya atas usahanya dan bukan lantar menikah dengan lelaki berharta banyak.

Memang, sejak para pria pergi menghadapi perang dunia, perempuan mulai masuk ke dunia kerja dan tampil ke depan. Dua dekade kemudian, menyadari bahwa kiprah perempuan memiliki arti bagi kemajuan ekonomi, mereka tak ingin lagi menjadi bayang-bayang kaum lelaki.

Banyak prestasi yang perempuan hasilkan di era 1970-an untuk menjaga hak hidup mereka. Misalnya, dunia mulai bisa menerima bahwa para suami dapat dianggap sebagai pemerkosa istrinya. Hukum juga telah mengenal bahwa seorang istri dapat mengajukan perceraian "no-fault divorce" bukan karena kesalahan - seperti perselingkuhan atau kekerasan, namun sekedar rasa ketidakcocokan.

Perbaikan jaminan hukum itulah antara lain yang meyakinkan kaum perempuan bahwa mereka bisa melaju cepat, tanpa terlalu khawatir hidupnya akan dibatasi apalagi ditindas oleh para suami. Dan lagu "I Will Survive" pun menjadi semacam lambang kebebasan perempuan yang tenar di dunia.

Baca seterusnya






Edisi "Boss"

Juga:

 

 

 




Yuk, gabung?