Jul 23, 2012

Resolusi 2012


Banyak yang sudah kita lewati sepanjang hidup kita hingga kini kita memasuki tahun 2012. Bagiku, sejak kelahiranku di tahun 1967, aku sudah melewati lebih dari 44 tahun perjalanan kehidupan menjadi "somebody".

Akhir tahun adalah waktu pilihanku untuk melakukan refleksi, berkaca pada yang telah lalu, mengucap syukur untuk semua yang baik dan yang tidak baik yang sudah kualami. Karena kebiasaanku untuk selalu bersikap positif, maka aku juga selalu berusaha untuk melihat kebaikan apa yang aku peroleh dari peristiwa kurang atau tidak baik yang aku alami. Sederhananya, semua yang telah kita hadapi mendewasakan, atau mungkin lebih tepat dikatakan mematangkan diri. Kematangan diri membuat kita lebih tenang dalam bersikap, lebih mudah untuk bermawas diri, lebih mudah untuk mencoba mengerti.

Suatu ketika di tahun 2011, aku menghadiri sebuah acara peluncuran buku kumpulan puisi dari dua perempuan pendekar puisi yang telah sekian lama tak berpuisi. Kini mereka kembali dan agaknya mengejutkan bagi rekan mereka yang lebih muda ketika sang rekan membaca puisi baru mereka yang terasa lebih lembek. Tidak gagah. Sang rekan begitu gregetan sehingga menambahkan satu kata diakhir puisi yang dibacakannya sebagai bentuk koreksi yang dirasanya perlu.

Tentu saja, kedua pendekar puisi punya alasan dengan nada puisinya yang lebih lunak itu. Lebih perempuan. Bahwa semangat mereka tetap sama seperti muda dulu. Kepedulian mereka pun tak berubah. Namun, perjalanan waktu, pengalaman hidup yang dilewatilah yang mengajarkan kepada mereka untuk menjadi lebih lembut, lebih mau mengerti dan karenanya jadi seoleh lebih lembek.

Padahal tidak demikian. Setiap orang yang mengalami kematangan pada akhirnya akan mengambil kesimpulan tentang kehidupan ini. Bahwa kompleksnya kehidupanlah yang menimbulkan nuansa yang mengundang kritik dan protes. Lalu, karena kita, bangsa Indonesia, adalah bangsa yang religious, bangsa yang mengakui keberadaan Tuhan Yang Maha Kuasa, maka penyerahan diri kepadaNYA adalah pilihan wajar yang sesungguhnnya memiliki tanggungjawab yang besar. Itu bukan lembek.

Mencoba untuk mengerti, mau memahami, kemudian berempati, ditambahkan dengan keyakinan bahwa TUHAN tidak tidak tidur, akhirnya melembutkan kita. Itu adalah tanda cinta. Cinta itu kuat. Hanya orang yang kuatlah yang mampu mencinta. Misalnya mencintai kehidupan.

Mencintai kehidupan adalah menyadari kekurangannya dan dengan sabar berjuang untuk menjadikan kehidupan itu lebih baik. Cinta memberi kita keyakinan bahwa kita berharga, dan bahwa kita mampu memberi yang terbaik.

Maka, resolusi 2012 ku adalah to give more smile to the world and encourage people that we can do better things if we believe. Kita harus percaya, bahwa kita bisa. Ada TUHAN beserta kita.