Mar 28, 2009

Tsunami Kecil di Tangerang

Dini hari tadi pagi, tepatnya jam 2, Tanggul Situ Gintung di Desa Cireundeu, Tangerang jebol. Korban meninggalnya mencapai 60 orang lebih, dan terus bertambah. Di kantor, aku memantau beritanya lewat detik.com.

Klik di sini untuk melihat beritanya di detikdotcomLewat berita gambar, mereka memperlihatkan keadaan yang porak-poranda di sana mirip suasana pasca tsunami di Aceh beberapa tahun lalu. That is terrible! Mobil bertumpuk karena terbawa arus! Ada juga mobil yang nyangkut di pagar! Ada lagi mobil yang rusak karena menabrak tiang listrik saat terbawa air. Mengerikan!

Kita masih harus bersyukur karena TUHAN baik sebab pastilah DIA menahan jebolnya tanggul itu sedemikian sehingga korbannya gak sebanyak seandainya peristiwanya terjadi ketika di jalan, saat masih banyak orang atau kendaraan berlalu-lalang.

I feel sorry for the victims. Kayaknya gak percaya, gitu, loh, kalau "tsunami" ngejar kita juga sampai ke tempat yang jauh dari pantai.
Pak Presiden SBY langsung mengirimkan bantuan pribadi berupa makanan dan memerintahkan Menkes untuk melakukan penanganan yang sebaik-baiknya bagi para korban.

Meanwhile, isn’t it time for us to be reminded how important is it to care?

Menurut berita,
sebenernya tanggul itu sudah sempat jebol bagian bawahnya bulan November 2008 yang lalu. What?! Dan semalam, sebelum air bah menghantam warga sekitar, alarm yang dipasang di tanggul buatan Belanda itu berbunyi tapi hanya warga yang ada di daerah dekat wadu yang tergerak untuk menyelamatkan diri.

Mungkin memang gak ada yang ngerti what to do. Gak tauk harus menyiapkan masyarakat punya tingkatan respon bagaimana karena memang gak pernah ada yang mikirin. Tanggulnya aja udah ada di situ dari jaman Belanda, gitu, loh. Lagi pula nothing bad had ever happened before. Siapa yang ngerti mesti gimana?

Kebiasaan buruk kita memang begitu. Gak prepare. Tapi, kok, aku merasa kita ini cenderung ignorant, gitu. Kenapa, ya? Karena nyawa kita gak ada harganya, kah?

Di Jakarta, di setiap gedung perkantoran yang tinggi-tinggi itu, pasti diadakan latihan keselamatan dalam keadaan darurat. Evacuation drill. Alarm tanda bahaya akan dibunyikan dan para pekerja diminta untuk keluar gedung, semuanya mengikuti prosedur yang sudah diajarkan sebelumnya. Kegiatan itu dilakukan secara berkala. Maksudnya apa? Biar kita inget.

Harusnya, yang kayak gitu itu juga diterapkan dalam setiap aspek kehidupan kita. Karena nyawa kita ini berharga. Harusnya, kita belajar dari pengalaman tsunami di Aceh. Ketika early warning was not in place dan mengakibatkan kerugian yang dahsyat.

Aku rasa inilah saatnya setiap pemerintah daerah di semua wilayah di Indonesia memeriksa apakah ada potensi bahaya di wilayahnya masing-masing yang harus segera ditangani pencegahannya.

Lihat beritanya di detik.comAgak-agak bengong juga aku karena baru aja beberapa hari yang lalu aku teringat tsunami di Aceh (lihat
catatannya di blog ini), lalu tiba-tiba tsunami kecil terjadi di Tangerang. Ada baiknya kita memandang ini sebagai alarm bagi kehidupan kita juga. Entah tsunami versi apa yang bisa melanda kita kalau kita ignorant. Mungkin tsunami perebutan kekuasan setelah pemilu?

Initinya: jangan cuek dengan lingkungan kita. Bertindaklah.

Bertindaklah karena rasa sayang kepada keluarga, teman, lingkungan, bahkan kepada diri sendiri. Jangan tunggu sampai keadaannya terlalu parah sehingga terlalu sukar untuk memperbaikinya.

Kita sudah mengalami banyak peristiwa yang mengagetkan dari waktu ke waktu. We should take the lesson and take action quickly. Sebelum lagi-lagi kita terlambat.