Jun 3, 2009

Belajar dari Kasus Prita Mulyasari




Hari ini aku terima banyak sekali undangan untuk gabung Cause di facebook mengenai ibu Prita Mulyasari. Cause yang diberi judul “DUKUNGAN BAGI IBU PRITA MULYASARI, PENULIS SURAT KELUHAN MELALUI INTERNET YANG DITAHAN”, sore ini telah memperoleh dukungan lebih dari 50.000 orang.

Karena aku ikutan Cause ini, maka aku mendapat notification tentang teman-teman facebook aku yang kemudian juga bergabung. That's great!

Memang kasus Ibu Prita ini memprihatinkan sekali. Hari gini, gitu, loh... Masih ada orang yang menuntut orang lain atas tuduhan pencemaran nama baik? Norak.

Untung aja politisi kita sudah gak meneruskan budaya peninggalan era kolonial Belanda itu. Aku cukup bangga untuk melihat bagaimana politisi kita secara terbuka "mencela" lawannya dan yang dicela pun menanggapi dengan baik. Maksudnya baik, ya, membela diri, ya meng-counter, ya mentertawakan.. Gak ada yang ngamuk lantas menyeret saingannya yang berbicara tidak enak ke penjara.

Di televisi Rabu sore ini aku sempat melihat anggota Dewan Pers diwawancarai. Beliau menjelaskan bahwa budaya menjebloskan orang yang bicara buruk ke penjara itu sebenernya peninggalan penjajah Belanda yang dimaksud untuk menutup mulut "inlander" alias orang Indonesia yang mau protes.

Selanjutnya kita tahu, bahwa kebiasaan menahan bicara sudah mengakar di antara orang Indonesia sampai puluhan tahun setelah Belanda "out" dari negara ini. Kita jadi bangsa yang terintimidasi karena gak bisa ngomong sampai akhirnya meledak dengan meletusnya gerakan reformasi lebih sepuluh tahun yang lalu.

Amock. Amuk. Ngamuk, meletus setelah tutup mulut.

Memang baru sepuluh tahunan. Waktu yang masih pendek untuk mengubah kepribadian suatu bangsa yang telah mengakar. Sudah beranak cucu. Karena berubah itu bukan perkara yang gampang.

Berubah, Jangan Jadi Pendiam
Menurut ilmu psikologi, perubahan adalah proses yang menyakitkan.

Ketika suatu kebiasaan sudah membudaya, melekat dalam sikap hidup sehari-hari, maka kebiasaan baik atau tidak baik akan menjadi sesuatu yang dimaklumi, dan menempatkan orang-orang yang terlibat di dalamnya ke wilayah aman atau comfort zone. Baik pelakunya, maupun orang di sekitarnya.

Contohnya kehidupan orang-orang di daerah pelacuran. Lha, lihat aja, baik pelacurnya, germonya, maupun tetangga yang kebetulan tinggal di situ semua menyesuaikan diri dengan kondisi di daerah itu. Suatu kebiasaan yang kalau di daerah lain bisa bikin senewen ibu-ibu, bagi orang-orang di sekitar daerah pelacuran itu ya biasa saja. Malah untuk mengubahnya yang susah.

Ada yang berkilah, misalnya, bahwa tamu-tamu yang datang memberi nafkah juga bagi mereka yang bukan pelacur.

Tetapi dengan kesadaran dan kemauan yang baik, tentu saja kita bisa berubah. Melatih diri adalah kuncinya. Lihat saja olahragawan. Bagi yang bukan olahragawan, melihat mereka berlatih tentu mengerikan. Capek banget, kayaknya. Tetapi bagi si olahragawan sendiri itu biasa.

Minggu lalu, dalam tulisanku mengenai blogging, I encouraged everyone to start writing because it’s good for your brain. It makes you forcing your brain to extend your intellectual capability. Bikin pinter.

Aku memang gak menyangka bahwa sementara itu ada orang yang nekat menjebloskan sesama saudara sebangsa dan setanah air ke penjara hanya karena malu dengan isi keluhan orang lain terhadap institusinya. Mungkin mereka pikir dengan cara begitu bisa menyelamatkan nama baik rumah sakitnya yang mereka pikir ternodai oleh pengakuan Prita, bekas pasien mereka.

...Sebisa Mungkin, Dengarkan Saudaramu Bicara!
Agaknya para dokter di RS Omni itu perlu belajar komunikasi. Gara-gara tindakan mereka, kasusnya malah jadi terangkat ke permukaan, sehingga lebih banyak orang yang mendengar, dan nama baik yang mereka bela-belain itu malah jadi tambah rusak.

Hikmahnya? Terus bicara, terus menulis, terus melatih diri untuk mengeluarkan pendapat. Kalau sampai ada masalah, jangan khawatir, you are not alone. Lebih dari lima puluh ribu orang sudah mendukung Prita.

Kita semua bisa terus belajar untuk terbuka. Belajar untuk mendengar, berbicara dan mengungkapkan ide-ide kita. As we continue practicing, we help our nation to change. Paling gak, generasi di depan kita akan lebih cerdas, karena terbiasa bertukar pikiran sambil tetap menghormati orang lain.

Kita bangun budaya yang baik untuk masa depan yang lebih baik.




Yuk, gabung?