Jul 11, 2009

Catatan Tentang Flu Babi - Yang Perlu Kita Tahu

Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya

Awalnya Karena Flu Babi Dan Kegemukan

Klik untuk melihat artikelku: 'Tubuhku Langsing, Indah Sekali... ;)'Setelah menuliskan artikel "Tubuhku Langsing, Indah Sekali... ;)" [lihat cover picture di samping], kemarin aku menemukan artikel menarik tentang hubungan positif antara tingkat kegemukan dan kemungkinan tertular penyakit Flu Babi [A-H1N1]. Ayo, yang gemuk... pay attention..  

Artikel Washington Post yang dicatat oleh AARP Bulletin, menyebutkan bahwa kegemukan dan kehamilan bisa menjadi faktor pemercepat penularan penyakit Flu Babi. Ini karena dalam kondisi-kondisi tadi, aliran darah ke paru-paru bisa mengalami gangguan, tidak dapat beredar dengan baik ke area dada. 

Lalu tadi pagi, aku menemukan bahwa Harian Kompas memberikan headline [11/07/09] tentang Flu Babi melalui artikelnya, "440 Tewas oleh A-H1N1". Dari bacaan itu, dan sumber dari situs Departemen Kesehatan, kita jadi diingatkan bahwa Flu Babi sudah berkembang di Indonesia. Depkes mencatat jumlah kasus positif flu baru H1N1 di Indonesia saat ini sudah ada sebanyak 52 orang. Dalam bilangan waktu hanya beberapa pekan.

Dari catatan Google, virus Flu Babi mulai muncul pertamakali, kasus perdana, di Oaxaca, Mexico pada 13 April 2009. Pada 06 Juli 2009, Flu Babi sudah menginfeksi 94.512 orang, dan membunuh 429 orang di seluruh dunia. Cepat sekali, ya?

Tetangga-tentangga kita, Australia sudah memiliki 7.933 korban, Thailand 2.076, Filipina 1.709 penderita, Singapura 1.055 kasus, Viet Nam 181, Brunei Darussalam 124, Malaysia 112, Cambodia 7, Laos 5, dan Papua New Guinea sebanyak 1 kasus. Jadi, hati-hati kalau mau ke luar negeri! Apa lagi kalau cuma mau sekedar shopping ke Singapura dan Malaysia. Mending di Indonesia aja, lah!

Nah, pada 11 Juli 2009, tepat pada hari tulisan ini aku turunkan, WHO menaikkan tingkat penularan pandemik global Flu Babi pada phase 6 [puncak]. Artinya, WHO sudah menyatakan bahwa meski sebagian besar kasus Flu Babi dapat disembuhkan, namun tingkat penyebarannya sudah sangat merebak. Sebanyak 70 negara sudah mencatat kejadian Flu Babi di negaranya, loh! Karena itu diperlukan mobilisasi sosial untuk mencegah penjalaran ke tingkat selanjutnya.

Untuk mengerti lebih banyak tentang Flu Babi, aku mengumpulkan informasi berikut:

 



Apa itu Flu Babi?

Flu Babi adalah infeksi yang disebabkan oleh tipe baru hasil mutasi virus A-H1N1. Virus ini pada awalnya menyerang babi, namun perkembangannya kemudian berkombinasi dengan virus dari manusia dan burung. Namun OIE [organisasi internasional kesehatan hewan] dan Scientific American [SA] mengungkapkan bahwa virus Flu Babi yang menyerang manusia pada kuartal pertama 2009 tersebut tidak ditemukan pada hewan dan tidak terbukti berasal dari area perternakan. Sehingga pernah disarankan agar flu A-H1N1 ini cukup dinamakan "flu Amerika Utara". 

Perlu diingat, seiring waktu Virus H1N1 mengalami rekombinasi [pertukaran materi gen] antar spesies. Babi bisa menjadi pembawa virus varian antar spesies karena bisa tertular flu dari manusia dan burung, sehingga membuka jalan terjadinya mutasi gen virus yang alurnya tidak dapat diperkirakan.

Selanjutnya, perlu diketahui bahwa manusia memang dapat tertular virus flu dari hewan, ini disebut zoonotic swine flu. Tapi, manusia bisa aja hanya mengalami pembentukkan antibodi di dalam darahnya tanpa menjadi tertular virus.

Pada 1918, pernah terjadi pandemi flu A subtipe H1N1. Di saat itu, 500 juta orang di dua pertiga area di bumi tertular virus yang diduga berasal dari babi ini. Jumlah penduduk Bumi waktu itu sekitar satu setengah milyar orang. Diperkirakan 50 juta orang tewas karena penyakit Flu Babi  [lihat artikel pandemi "Flu Spanyol" 1918 di Wikipedia]. Bisa terbayang 'kan, ngerinya suasana saat itu? Ada dugaan bahwa kasus Flu Babi yang saat ini merebak adalah turunan dari virus penyebab Flu Spanyol di tahun 1918 itu. 

Mengapa Flu Babi Ditakutkan?

Gejala Flu Babi mirip tanda penularan influenza biasa. Seperti rasa kedinginan, demam, sakit tenggorokan, sakit otot, rasa pusing yang menyengat, kehilangan tenaga, mual, dan ketidaknyamanan lainnya. Pada kasus 1918, diketahui bahwa penyebab langsung kematian akibat Flu Babi terutama karena pendarahan dan pembengkakan paru-paru. Gak ada penyakit baru yang ditakutkan dari Flu Babi. Tapi tingkat penularannyalah [contagiuesness] yang menakutkan para ahli.

Masih dari kasus Flu Spanyol di tahun 1918, korban terbanyak justru berasal dari kalangan usia produktif dan memiliki kesehatan relatif baik. Ini diduga karena mereka yang betul-betul sakit akan lebih banyak beristirahat dan mengisolasi diri. Sedangkan mereka yang masih merasa sehat, padahal sudah tertular, cenderung tetap mobile, beraktivitas di luar rumah menularkan orang lain di sekitarnya.

Memang kita 'kan sering bersikap seperti itu, ya? Walaupun sakit, tetapi karena merasa masih cukup fit lalu tetap beraktivitas di luar rumah sehingga menularkan orang lain.

Selain itu, orang muda juga memiliki tingkat kekebalan lebih baik, namun tubuh mereka bisa bereaksi berlebihan terhadap Virus H1N1 [disebut cytokine reaction]. Pada situasi ini, pada dasarnya tubuh kita akan "menyerang" sel-sel dirinya sendiri, seperti pada pelbagai kasus alergi. Ini pula yang dianggap para ahli menjadi penyebab mengapa tingkat kematian oleh Flu Spanyol lebih tinggi terjadi pada orang muda. Wah... yang merasa masih muda dan fit... take note!  

Pelajaran lain dari kasus 1918 adalah tingkat kecepatan penularan yang tiba-tiba menurun drastis setelah menyebar dalam hitungan bulan. Para ahli menduga bahwa hal ini disebabkan karena Virus H1N1 yang bermutasi secara amat cepat itu, tiba-tiba memasuki tahap "tidak mematikan". Justru hal ini menyebabkan Virus H1N1 dapat terus menular [dan bermutasi] di antara manusia yang hidup... hingga sekarang.

Bagaimana Tentang Pengobatan dan Langkah Pencegahan Penularan Flu Babi?

SA mencatat pendapat Central Disease Control (CDC), Amerika Serikat pada April 2009, bahwa Tamiflu [yang banyak dipergunakan di Indonesia] dan Zanamivir efektif meredam Flu Babi yang sekarang menyerang hingga 90%. Sedangkan WHO mencatat bahwa pada periode 2007-2008, beberapa negara sudah mencatat tingkat kekebalan Tamiflu hingga 15%.

SA pun juga mencatat bahwa berbagai virus semakin kebal terhadap Tamiflu, tapi media ini juga menginformasikan bahwa faktor tingkat kejadian mutasi virus harus tetap diperhatikan, karena bisa mengubah kemampuannya melawan obat-obatan. WHO mengingatkan bahwa setiap orang yang terkena Flu Babi harus mendapatkan perawatan dari para profesional medik, termasuk dalam menentukan obat-obatan.

Alasan lain untuk berhati-hati adalah pernyataan WHO bahwa vaksin Flu Babi belum selesai dikembangkan. Bagaimanapun, hal terbaik adalah mencegah penyebaran penularan Flu Babi, dan langkah-langkah pencegahan penularan Flu Babi yang disaranakan oleh WHO adalah sebagai berikut:
  • Mengerti dengan baik bahwa penularan Flu Babi terutama berasal dari tetesan [droplet] cairan pernafasan.
Cairan pernafasan tersebar melalui aktivitas berbicara, bersin, dan batuk. Disarankan untuk menjaga jarak paling tidak sejauh 1 (satu) meter dari orang yang dianggap sedang menderita flu, termasuk di antara rekan kerja di kantor. 
Menurut aku, para penderita flu sebaiknya menggunakan masker yang dapat dibeli di apotek. Namun, masker ini hanya untuk sekali pakai, loh. Buka dari kemasan, pakai, dan kalau dilepas, harus dibuang. Karena bila tidak, bisa sama saja bohong. Apa yang tersaring di luar masker bisa justru terhembus masuk ke pernapasan kita.

WHO mengingatkan juga pentingnya ventilasi udara ruangan yang baik untuk mencegah kemungkinan virus menyebar dengan lebih mudah di dalam satu tempat.

Aku kira, bagi mereka yang berkantor di gedung perkantoran tinggi yang tidak menyediakan ventilasi, adalah lebih baik untuk mencuci karpet kantornya lebih sering demi mengurangi ancaman penyebaran virus karena udara yang tidak bersirkulasi dengan baik.

  • Menjaga kesehatan seperti biasa.
WHO mengingatkan jalan untuk memutus pertularan adalah pula dengan cara-cara higienis dan sehat yang biasa kita lakukan sehari-hari. Seperti mencuci tangan secara teratur [jangan menyentuh muka bila belum membersihkan tangan], tidur yang cukup, menjaga kebersihan, dan olah raga teratur.
 
Gaya hidup yang sehat akan menambah sense, kesadaran kita untuk saling menjaga kesehatan diri sendiri dan lingkungan. Termasuk misalnya, kesadaran untuk beristirahat manakala merasa sedang sakit, sehingga mengurangi kemungkinan menularkan penyakit diri ke orang lain.

Ingat, cara mencuci tangan yang benar adalah dengan menggunakan air yang mengalir.

Demi keluarga dan orang-orang tercinta, kita harus waspada terhadap penyebaran penyakit infeksi, jelas termasuk dari virus flu. Setelah SARS, Flu Burung, dan sekarang Flu Babi, para ilmuwan tidak mengetahui apa yang akan terjadi berikutnya dengan mutasi virus penyakit ini. Pelajaran dari Flu Spanyol adalah penyakit ini pernah membunuh banyak orang di wilayah yang begitu luas dalam jangka waktu sangat pendek [hanya beberapa bulan], lebih banyak dari penyebab bencana lainnya.

Untuk itu, kita perlu mengantisipasinya dengan menggunakan perangkat yang paling baik dan dimiliki setiap orang, yaitu: kemampuan belajar. Usahakan tetap waspada, dan pergunakan semua media untuk mengerti apa yang sedang terjadi, seperti yang aku lakukan di sini.

Michael Osterholm, Direktur Pusat Riset dan Kebijakan Penyakit Menular Amerika Serikat di situs Universitas Harvard bicara tentang betapa kita harus mengerti bahwa masa depan mutasi virus flu [kapan menjadi sangat berbahaya] tidak bisa diterka:


"That's the only way I know how to express it. So if you want a scientific answer for what's going to happen, I can't give it to you. This is the only answer I can give you."

Understanding the Threat - A Focus on the Science