Apr 16, 2009

Perempuan Cantik, Takut?

I need to tell you the truth

Gara-gara teringat ibu Kartini di artikelku kemarin, aku jadi mikirin nasib perempuan.

Aku inget beberapa tahun yang lalu, temen aku di Personnel bilang sama aku kalau dia gak mau recruit sekretaris cantik karena mereka cuma modal kecantikan aja. Lalu dia bener-bener recruit an assistant yang.. maaf.. kurang cantik dari Bandung just to put aside the other pretty candidates from the city!

Boss Besar aku yang tanda tangan hiring letter kaget. "Kenapa harus hire orang dari luar kota?"

Karena menurut si Boss banyak orang di Jakarta ini yang qualified untuk posisi itu. Tapi karena proses recruiting sudah selesai and anyway she passed all the requirement, jadilah the not-so-good-looking-girl-from-out-of-town was accepted. Kecantikan 'kan bukan requirement. Sambil tanda tangan, Pak Boss wanti-wanti, "next time, don't do this anymore."

Soalnya, kalau di kantor aku waktu itu, ada yang namanya "Point Of Hire". Karyawan dari luar kota berhak mendapat ticket pesawat pulang-pergi untuk liburan bersama keluarganya (if the employee is married) pulang kampung. Maksudnya, semua anggota keluarganya harus diberi tiket pesawat sama kantor(!)

Aku pikir, ini orang gak sadar apa kalau dia curhat sama orang cantik dan pintar? Akyu, maksudna: cantik dan pintar. Kekekek.

Jadilah pengalaman kawan ini memberikan aku satu lagi alasan untuk membuktikan bahwa perempuan cantik juga banyak yang pintar, seperti juga perempuan jelek banyak yang bodoh. I took this seriously.

Lagi pula, how are we going to measure whether someone is pretty or not? Temen aku yang katanya kurang cantik itu get married soon after she joined us, with a quite good looking guy, and educated one. And now they have two children. I think. Gak inget pasti, sih, berapa banyak sebenernya anaknya sekarang. But she has plenty of children.

Lalu ada lagi seorang kawan yang kata temen-temen yang lain dia minder. Karena dia dari jurusan yang kurang OK di ITB tapi tokh berhasil masuk perusahaan besar seperti perusahaanku. Tokh, dia tetep aja keliatan minder. Padahal memang pinter, kok, dia itu. Institut Teknologi Bandung, gitu loch.

Ada masalah dengan giginya, memang. Worse than mine. Rasanya aku pingin saranin dia untuk pake braces juga like me. Remember my make over story?

Tapi gimana ngomongnya, ya? Mengingat the way she brought up herself yang kayaknya gak PeDe, gityu, aku takut dia jadi tersinggung. Aku berusaha, sih, deketin dia. Tapi belum sempet deket, dia udah terbang keluar negri. Dapet kerjaan di Eropa. She's still there till now, the moment I write this. Kayaknya lagi ngambil Ph.D.

Denger-denger dia juga mau membuktikan bahwa perempuan harusnya gak dinilai dari tampang. Hmm..aku setuju, sih.. Tapi bukan berarti kita gak perlu merawat diri. Karena cantik itu enak diliat. Dan merawat diri itu tandanya kita sayang sama diri sendiri.

Kalau kita bisa sayang sama diri sendiri, sabar sama diri sendiri, percayalah, kita juga bisa sayang sama orang lain. Sabar sama orang lain.

Kecantikan itu subyektif, loh. Dan yang pertama-tama menilai kecantikan kita adalah diri kita sendiri. If you believe you are pretty, people will see you as a pretty girl, too. Jangan mau jadi jelek, karena jelek itu adalah kebohongan.

Gak ada perempuan yang jelek. Jadilah cantik karena cantik itu menyenangkan. Menyenangkan diri sendiri, juga menyenangkan orang lain yang melihat.

Kecantikan gak perlu disombongkan. Itu karya Tuhan. Tetapi kalau hati kita cantik, itu bukti kita mengasihi Tuhan. People will know it (no human in this planet is fool enough to not notice the fact that you love God).

So, jangan takut jadi cantik because it is a previlege. Kita mencerahkan dunia dengan kecantikan kita. Menyegarkan seperti minuman dingin di hari panas. ...Apa coba! ;)





Yuk, gabung?