Jun 10, 2009

Sulit Berempati? Baca Cerita Fiksi Aja...

Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya



Aku memang kerap mengkampanyekan kebiasaan menulis, seperti misalnya melalui artikel "Tulis Ide Kita!" juga "Hasil Riset: Supaya Pembaca Suka Sama Tulisan Kita". Namun, tentu saja aku ingin kita lebih suka membaca.

Membaca bukan hanya membuat pintar secara akademis, namun bisa juga menambah skill emosional kita. Pintar secara akademis membuat kita lebih cakap memecahkan masalah, pintar secara emosional membuat kita lebih pandai mengerti dan mengelola emosi. Pintar emosi, jelas akan lebih memudahkan kita berempati - alias mengerti emosi orang lain tanpa turut larut di dalamnya. 

Professor Raymond Mar, psikolog dari Universitas York - Kanada, menemukan bahwa para pembaca cerita bersambung majalah New Yorker lebih pandai dalam hal mengenali emosi. Sehingga dengan demikian, para pembaca cerita bersambung dapat membangun keahlian berinteraksi dengan lingkungannya secara lebih baik. 

Saat ini, Prof. Mar sedang menyelidiki secara lebih lengkap apa pengaruh membaca cerita fiksi dan kondisi psikologi manusia. Pastinya, Prof. Mar yang pintar ini, juga hobi berat membaca cerita fiksi ;). Dia menyatakan bahwa dampak positif peningkatan kemampuan berempati dari membaca cerita fiksi juga bisa dilihat pada anak-anak.

Intinya, setelah kita lebih pintar secara emosi, maka kita akan punya kemampuan lebih baik dalam begaul. Begini kata Prof. Mar:

"I don't think you're going to find that it will make a shy person gregarious, but it's quite possible they're going to find the tools to be able to navigate social interactions better," .

Reading novels enhances social skills: study