Jul 1, 2009

Cerber - Nita Si Sekretaris (4)

Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya


CERITA SEBELUMNYA

Baru bergabung? Jangan mulai dari episode ini, baca dulu bagian:
Nita, seorang sekretaris, hidup dengan pikiran optimis namun tidak neko-neko. Namun, keoptimisannya kerap diuji, apalagi dia "hanya" seorang...

Cerita Bersambung - Nita Si Sekretaris

Nita Si Sekretaris


Eh, tapi… ternyata si Asti serius juga dengan niatnya. "Hmmm… gimana ya, kalau tidak pakai Pak Wiguna lagi?"

Nita melirik ke arah kotak pensil unik pemberian Pak Wiguna. "Untung ga' ada yang tau' kalo dia suka sama gue dan rajin ngasih-ngasih gue kado", bisiknya dalam hati.

Sekelebat Nita teringat pada waktu ada seorang messenger yang mengetok kamar kosnya. Dia bawa kado yang isinya coklat pemberian Pak Wiguna. Gila! Dari mana dia tau gue ngekos? Umpatnya masih dalam hati.

Waktu itu, malah Nita sempat berpikir, Pak Wiguna itu laki-laki tua yang tidak tahu malu. Berani-beraninya si vendor itu merayunya. Waktu itu juga, Nita menganggap mungkin Pak Wiguna mau menyuapnya dengan hadiah-hadiah. "...Emang gue apaan?! Bos juga bukan, kok dia ngasih-ngasih hadiah ke gue?", pikirnya saat itu. Bahkan dia sempat curiga kalau Pak Wiguna itu pasti suka merayu-rayu sekretaris-sekretaris atau staf-staf perempuan di perusahaan tempatnya bekerja. "Tapi bagaimana caranya, ya, supaya bisa bertanya pada mereka, tapi mereka ga curiga?"

"...Ah ga tau deh.", ucapnya pelan, hampir tidak terdengar oleh siapa-siapa. Dia sendiri bingung, "Kenapa juga gue, kok, jadi kepikiran begini?"

Tapi, saat Nita menarik lacinya hendak mengambil penghapus tinta, ia mendapati selembar tiket nonton, lagi-lagi pemberian Pak Wiguna.

Nita Si Sekretaris "Hmmmm... Sebenarnya, bagaimana ya?" Nita masih belum yakin apakah hatinya sudah terpikat pada Pak Wiguna atau belum. Rasanya sih getaran itu sudah ada. Karena, entah keyakinan yang datang dari mana, Nita merasa Pak Wiguna berbahagia jika berkomunikasi dengannya. Dari tekanan suara yang didengarnya, dia merasa Pak Wiguna sedang menularkan gelombang kebahagiaan jika berbicara dengannya. Hal ini diteguhkan kembali dengan pesan teks yang dibalas Pak Wiguna, selalu disertai dengan lambang gambar wajah tersenyum :).

"Ah... Jangan gila, dong, Nit...!" Nita mencoba menguat-nguatkan dirinya sendiri.

Apalagi, ketika Pak Wiguna sendiri mengantarkan barang pesanannya sekitar tiga minggu yang lalu. Dia memang tidak tahu kalau orang itu adalah Pak Wiguna. Mereka memang belum pernah bertemu sebelumnya, karena semua urusan diurus melalui telpon atau e-mail atau fax. Paling juga Ibu Indira dan timnya saja yang pernah bertemu muka dengan para vendor untuk urusan penandatanganan kerja sama. Jadi, Nita juga merasa biasa-biasa saja untuk menjalin kerja sama dengan vendor manapun termasuk Pak Wiguna, apalagi untuk berpikir lebih jauh dari situ. Dia juga tidak pernah menyangka akan bertemu dengan seorang vendor yang sering memberinya hadiah-hadiah tersebut.

"Mbak Nita, minta tolong ditanda tangani dibagian ini," ucapnya saat itu pada Nita. Memang suaranya seperti Nita kenal, dan saat akan membubuhkan tanda tangan, Nita menoleh ke arah orang itu yang sedang memandanginya dengan wajah tersenyum dan tatapan yang... mesra.

"Pak Wiguna, ya?" Tanya Nita ragu-ragu yang dibalas dengan anggukan kepala dan uluran jabatan tangan dari Pak Wiguna. Ternyata bapak itu punya wajah yang lumayan manis, bersih, dan sama sekali bukan orang tua. Dengan penampilan tubuh yang tegap dan proporsional, mungkin, usianya kira-kira tiga puluh dua atau lima. Dengan senyum yang lebar, dia juga terlihat gembira ketika Nita menanyakan namanya. Bahkan, mata Pak Wiguna – yang harusnya tidak perlu dipanggil dengan sebutan ‘Pak’ – terlihat berbinar-binar membalas tatapan Nita.

Uh... eh... oh... Nita jadi salah tingkah. Ia mencoba menghindari tatapan mata penuh rayuan tersebut sambil mencoba membetulkan letak kaca matanya dan berusaha mengalihkan pandangan dengan memandang ke arah formulir tanda terima yang disodorkan Pak Wiguna untuk membubuhkan tanda tangan. Tapi, 'eh, mana ya bagian tanda tangannya? Nita memang sedikit panik karena pesona Pak Wiguna. Pria tersebut memang sama sekali berbeda dari yang dia gambarkan selama ini.

Lagian, Nita juga kebingungan sendiri. "Kenapa gue salting begini yah?"

"Yang ini, Mbak," kata Pak Wiguna sambil tersenyum dan menunjuk ke arah kolom tempat tanda tangan. Beliau sepertinya mengerti Nita sedang mencari-cari sesuatu di formulir tersebut.
Nita jadi tertawa malu dan iapun membuka dirinya, rasanya sekarang sikapnya sudah bisa sedikit rileks karena dia merasa lebih santai dengan keramahan Pak Wiguna. Terlebih lagi, Nita merasa Pak Wiguna sangat mengistimewakan dirinya sampai-sampai harus menyampaikan pesanannya tersebut seorang diri.

"Pak Wiguna tidak kirim Pak Yono saja, Pak?" tanya Nita masih dengan nada suara terdengar agak canggung.

"Iya. Saya mampir saja sebentar sambil memberikan invoice-nya, Mbak Nit. Kebetulan di gedung sebelah saya sedang ada perlu juga, Mbak," katanya masih dengan senyum lebar dari mimik wajah yang amat gembira. Namun, Nita juga sangat menghargai Pak Wiguna yang menatapnya penuh mesra tersebut ternyata tetap bersikap sopan dan terkendali. Dia tidak nekad mengumbar kata-kata gombal di depan Pak Satpam yang duduk di area reception sambil memandangi obrolan mereka berdua.

"Silahkan dulu di periksa dulu, Mbak," kata Pak Wiguna sambil menunjukkan arah barang bawaan yang merupakan pesanan Nita.

"Oke." Kata Nita, lalu kemudian menghitung-hitung pesanannya.

Tapi... sssssst... sekilas Nita tadi memperhatikan bahwa Pak Wiguna tidak memakai cincin!


Bersambung


Updated - Baca juga: "Pembacaan Cerber "Nita si Sekretaris" di Radio Cempaka Asri FM!"