Aug 2, 2009

Mengenal Hukum: "Tahu" Itu Wajib

Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya
To know is the power, Dian Manginta - Cantik Selamanya

Hari ini, Meyland, the lawyer, menulis tentang perlunya kita tahu hukum. Yup, aku setuju dengan idenya. Ini adalah alasan mengapa di Cantik Selamanya kami mendedikasikan satu ruang khusus untuk membahas mengenai hukum negara kita, Indonesia.

I am glad, bahwa, Meyland, yang adalah sarjana hukum yang lulus dengan predikat cum laude, bersedia membagi pengetahuannya untuk kita di Cantik Selamanya. Ini adalah kesempatan yang baik untuk menambah wawasan langsung dari orang yang menguasainya.

Melalui tulisan Meyland hari ini, aku jadi mengerti bahwa manusia Indonesia, waktu lahir ke Bumi ini, sebetulnya sudah dipesankan untuk punya pengetahuan luas. Berusaha menjadi tahu sebetulnya adalah ciri khas budaya kita. Ciri ini terlihat dari logika hukum kita, yang menganggap "mengetahui" adalah landasan untuk setuju terhadap penerapan suatu peraturan perundangan. Ketidaktahuan, dalam hukum Indonesia, tidak akan memberi keuntungan langsung atau tidak langsung.

Perlu diingat bahwa segala jenjang hukum sebetulnya adalah warisan logika berpikir dari generasi sebelumnya. Kalau kita gagal memenuhi wasiat ini [menjadi orang yang penuh pengetahuan] bagaimana kita bisa menyampaikan pesan kepada generasi berikutnya supaya mereka menjadi cerdik cendikia?

Makanya aku bangga, karena ternyata generasi pendahulu kita sudah punya keyakinan bahwa penguasaan pengetahuan adalah ciri-ciri warga negaranya. Agaknya, para pendahulu kita punya keyakinan bahwa kita akan jadi manusia-manusia yang memiliki intelektualitas yang baik. Tugas kita adalah mengusahakan hal itu terwujudkan sekarang.








Mengapa Kita Harus Tahu Hukum (Tidak Tahu, Tidak Cukup)?


Salah satu senjata ampuh kita bila tertangkap melakukan pelanggaran terhadap suatu ketentuan adalah berkelit dengan kalimat: “Duh, maaf saya gak tahu sih...”. Sambil tersenyum, maka punishment atau sanksi yang seharusnya kita terima bakal batal deh!

Bagi kita, umumnya ketidaktahuan merupakan alasan yang lumrah dan sangat bisa ditolerir. Tapi, guess what? Hal ini tidak mempan bila berhadapan dengan Hukum Positif (baca: hukum yang berlaku) di negara kita.


Harus Tahu: Sudah Dari "Sana"-nya...

Mengerti Hukum Itu PentingYah, bila dalam kasus sekelas pencurian, pembunuhan, penipuan, dan lainnya yang termasuk dalam pidana, tentu saja alasan ketidaktahuan tidak akan ampuh menghindarkan kita dari sanksi atau mendapat "ganjaran" pembatalan sanksi. Di sana, hukum bersifat imperatif [memaksa].

Tapi karena ada sisi kehidupan yang di mana hukum gak bisa memaksa, jadi hanya bersifat fakultatif/mengatur. Seperti halnya dalam perkawinan, perbankan, perjanjian, tentang waris, harta, dan lainnya yang merupakan hukum perdata [baca: hukum yang mengatur hubungan antar individu atau dengan pihak di luar negara]. Di wilayah perdata ini, hukum memberikan batasan yang jelas tentang tata laku hubungan.

Tentu kita semua setuju bahwa hukum diciptakan untuk ketertiban masyarakat. Tapi bagaimana bisa menertibkan bila keberlakuan hukum itu sendiri tidak tertib? (^.^) Maksudnya, bagaimana kita tahu suatu jenis hukum sudah hadir dan bisa menjamin tata kehidupan masyarakat sebagai perangkat imperatif atau fakultatif?

Hukum mendirikan pangkal keberlakuannya di atas asas yang disebut "Asas Pendirian Hukum". Asas tersebut menyatakan bahwa semua orang yang terikat dalam hukum tersebut adalah orang yang menyetujuinya dan mengetahuinya.

Kita bisa 'kan melihat peranan negara secara tidak langsung dalam kehidupan sehari-hari [misalnya pembangunan dan operasionalisasi fasilitas umum, perpajakan, dll]? Semuanya bisa terjadi karena negara merupakan lembaga produk persetujuan kita. Lembaga inilah yang kemudian menciptakan hukum yang harus kita patuhi bersama.

Karena terhalang massive-nya jumlah subyek hukum yang dihasilkan [kita adalah subyek atau pelaku hukum itu sendiri], maka UU kemudian secara sepihak mengganggap [dan ini sah/valid] bahwa kita semua tahu hukum. Lihat saja kalimat baku yang selalu ada dalam tiap UU ataupun Peraturan Pemerintah yang berbunyi:

“Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan UU/Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia (LNRI)”

Maka semua ketentuan hukum yang sah di negara ini [so pasti ada di LNRI], kita tahu lho... Malah, karena "ketahuannya" seseorang warga negara bisa mendapat posisi untuk mendorong terlaksananya suatu hukum tertentu. Sedangkan hukum tidak menyediakan tempat untuk ketidaktahuan.

Dengan demikian, tidak ada lagi alasan “tidak tahu” bila terjadi pelanggaran atas UU/PP tersebut.

Semoga kita tidak mau tinggal tetap dalam ketidaktahuan. Stay curious. If you cannot understand, get some help for you to understand! ~Meyland.S



Jadi, terus ikuti pembahasan hukum di Cantik Selamanya and get informed. Biar tauk..


Jangan lupa, pengetahuan membuat kita percaya diri dalam bersikap.. and it makes you look good.


Perlu dibaca juga:










  • Don't be satisfied with not knowing things! Selidiki segala sesuatu... Itu lebih terhormat. And, gabung di halaman facebook "Cantik Selamanya", yiuk yak yiuk? ;)
Yuk, gabung?