Dec 15, 2009

Kekerasan Dalam Film Kartun

Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya




Animasi dan Anak




Riset dari Universitas Harvard menunjukkan bahwa dari 74 film animasi [1937-1999], sebagian besar mengandung adegan kekerasan. Meski kelihatan innocent, anak harus dibebaskan dari pengaruh citra buruk dari dalamnya.





BAGI orang tua atau yang memiliki keponakan berusia anak-anak, tentu ingin mengajarkan kepada mereka untuk mau menjadi berani, jujur, mau bekerjasma, dan berbagai nilai positif lainnya. Film kartun sering dianggap menjadi media ajar yang layak dipilih untuk menanamkan di diri mereka tentang nilai-nilai tersebut.

Namun, perlu diperhatikan. Kadang tontonan tersebut menampilkan adegan memukul, berkelahi dengan pedang, menyerang, atau bahkan menunjukkan adegan pembunuhan.

Kekerasan Dalam Film Bambi

Film Bambi misalnya. Meskipun tak menampilkan secara jelas mengenai karakter jahat, namun di dalam film berdurasi 70 menit ini ternyata terhitung terdapat 252 adegan kekerasan [misalnya, saat ibu Bambi tewas terbunuh - lihat adegannya di youtube].

Adalah jumlah pasti adegan tersebut dihitung antara lain oleh Fumie Yokota, Ph.D. [Universitas Harvard] yang membantu program "Kids Risk Project" perguruan tinggi ternama tersebut.
 

(Original 1942) Bambi Trailer

Lihat informasi tentang film Bambi di Wikipedia



Di dalam laporan ilmiahnya, "Violence in G-Rated Animated Films" [unduh, 426 Kb, pdf], Fumie Yokota dkk mengkategorisasikan dan menghitung kekerasan pada 74 film animasi yang diproduksi antara 1937 dan 1999. Termasuk film Bambi tadi.

Fumie mengkategorisasikan kekerasan sebagai deskripsi agresif yang melibatkan kontak fisik. Kejadian alamiah, misalnya kecelakaan tanpa disengaja, tidak termasuk dalam kategori kekerasan.

Yokota mendefinisikan bahwa senjata bisa muncul dalam berbagai bentuk. Mulai dari pistol, senjata tajam, sampai sapu, atau bahkan tangan kosong. Dari perhitungannya, terlihat bahwa 71% adegan kekerasan menggunakan senjata dan bukan dilakukan dengan tangan kosong.

Tentu, Fumie Yokota dkk tak bermaksud bertindak keras tanpa alasan bagi industri animasi. Namun para peneliti ini ingin mengingatkan bahwa anak-anak tak mampu untuk mencerna informasi yang mereka terima melalui suatu tayangan.

Dari riset ini muncul peringatan bahwa pesan moral film kartun bagi anak acapkali terlalu sumir. Misalnya, sebanyak 55 dari sejumlah film tadi memiliki karakter antagonis, namun akhirnya di dalam 26 cerita si tokoh jahat akhirnya terbunuh. 20 kematian karakter buruh tersebut adalah karena akibat pembunuhan yang dilakukan oleh si tokoh "baik".

Kita orang dewasa pasti paham bahwa membunuh bukanlah solusi yang baik. Namun anak-anak tentu akan lebih sulit menerimanya. Bisa dibayangkan apa yang terjadi bila norma di dalam situasi imajinasi ini dianggap benar dalam benak seorang anak, manakala ia belum cukup mampu untuk mengutarakan isi pikirannya secara teratur.

Ingat saja, anak kecil sangat mudah meniru tingkah laku tokoh yang dilihatnya. Pesan yang salah bisa akhirnya berujung pada tindakan kekerasan sejadi-jadinya.

Akhirnya, Fumie Yokota mengingatkan supaya para orang tua memantau seluruh tayangan yang direncanakan akan dilihat anak-anak. Bahkan, selama menonton film animasi, para orang tua disarankan untuk terus menerus berdialog dengan anaknya, supaya bisa mengerti apa persepsi sebetulnya persepsi sang anak.

Cek Ulang dan Imajinasi

Sesungguhnya Fumie Yokota, P.hD tidak menyarankan agar para orangtua melarang anak-anaknya menonton film animasi. Namun, Yokota mengingatkan fakta bahwa anak-anak adalah mahluk yang sangat imajinatif dan orangtua harus menilai bagaimana khayalan mereka berkembang.

Prof. Nancy Carlsson-Paige

Nancy Carlsson-Paige, P.hD [ahli pendidikan anak usia dini, Universitas Lesley] pun menuturkan bahwa orang tua perlu untuk lebih memahami bahwa anak-anak kecil saat ini semakin mengalami kekurangan waktu bermain, baik karena menonton maupun oleh beban sekolah yang makin berat.

Konsekuensi dari kekurangan waktu bermain ini adalah anak jadi tak bisa lebih leluasa mengembangkan skill narasi mereka. Juga, mereka bisa jadi tak paham konteks reliatas dalam pergaulan di dunia nyata karena kekurangan saat bermain.

Di situsnya, Nancy Carlsson-Paige mengambil contoh bagaimana orangtua dapat berinisiatif mengajak anak melakukan aktivitas di rumah demi bisa membangun jembatan komunikasi. Dengan demikian, sang anak akan terhidar dari peluang mengembangkan model yang salah di imajinasinya karena sang orang tua aktif memberikan arah benar dari kesempatan berdialog dan beraktivitas bersama.
 
 

Klik foto di atas untuk melihat informasi tentang Carlsson-Paige

[Photo: nancycarlssonpaige.org]

 

Dengan daya bersosialisasi dan kemampuan mengelola emosi dengan baik, menurut Carlsson-Paige, terdapat indikasi riset bahwa anak akan bisa memiliki prestasi akademik lebih baik. Ini akan semakin melengkapi citra PeDe pada diri anak.

So, go play with our younger children. Demi masa depan kita semua.






*****


Perlu dibaca juga di Cantik Selamanya:







  • In every way, the younger children seeks model from you. And...why don't you gabung di halaman facebook "Cantik Selamanya"? Okay by you? ;)
Yuk, gabung?






Cover/ID photo: Koleksi pribadi