Jul 21, 2009

Cerber Nita Si Sekretaris (7)

KUTIPAN MINGGU LALU:

“Tapi memang rasanya Tasya sudah berubah,” lanjut Nita lagi. Sepertinya kini Nitalah yang mulai mencurahkan isi hatinya. “Gue pernah liat dia di tangga darurat lagi merokok sambil melamun sendirian. Padahal, yang gue tau, dulu dia ga ngerokok.”

“Dia itu kan yang dulu elo bilang nikah setelah hamil duluan, kan?” tanya Riri dengan cepat sambil memandangi Nita karena tidak sabar mendapat jawaban dari seorang Nita yang sering berbicara dengan pelan dan nada yang lambat-lambat.

“Bosnya dia si Vero yang elo bilang galak itu, kan?” tanya Riri lagi, tidak sabaran.

“Iya. Vero hobi banget ngomel-ngomel sama gue, tapi kok Tasya sering ga masuk malah ga pernah ditegor. Tapi… yah… gimana yah...” Nita tidak melanjutkan kalimatnya. Dalam hal ini, Nita merasa tidak bisa mengkonfrontasikan kondisi yang dialami Tasya. Apalagi Nita sendiri belum berumah tangga. Jadi, ia merasa tidak punya kapasitas apa-apa untuk mengeluhkan tingginya frekwensi ketidakberadaan Tasya di tempat kerja.
Baru bergabung? Jangan mulai dari episode ini, baca dulu bagian:


*****


Nita Si Sekretaris


“Pagi, semua.” Sapa Nita pada semua teman-temannya yang sudah lengkap menduduki cubicle-nya masing-masing. Asti sendiri, walaupun sudah menyalakan komputer, dia kelihatan sedang serius berbicara dengan Ellen yang setiap hari selalu kelihatan chick, tidak kalah dengan Bu Marsya dan Vero.

“Pagi, Nit.” Jawab Ellen dari tempat duduknya.

Pak Darman yang sedang sarapan bubur ayam di mejanya melambaikan tangan ke Nita. “Sarapan, yuk.” Katanya basa basi.

Nita tersenyum dan menyahut basa basi juga,”Selamat makan, Pak. Aku tadi sudah sarapan bubur ayam juga di kos.”

Pak Darman mengangguk-ngangguk sambil terus menikmati bubur ayamnya.

“Nit.” Kata Ellen ke Nita sambil meninggikan kepalanya melewati partisinya. Tapi Nita sudah keburu masuk ke ruangan Bu Marsya yang masih belum datang dan mengatur-atur beberapa dokumen yang harus diurusnya dari ruangan si bos.

“Nit.” Kata Ellen lagi dengan suara yang lebih keras. Tapi, berhubung ruangan Bu Marsya lumayan luas, suara Ellen tidak terlalu jelas didengar oleh Nita yang sudah serius mengurus pekerjaannya.

“Nit, elo dari tadi dipanggil-panggil Ellen, tau ga, sih!” Tau-tau saja Tasya sudah ada di depan pintu ruangan Bu Marsya. Nita menoleh dan mengarahkan pandangannya ke Ellen.

Sambil menunjuk-nunjuk arah ruang kerja Vero, Ellen mengkomat-kamitkan ucapan “Vero nyariin elo...”

Tapi Nita malah menjawab dengan komat-kamit juga “Iya. Nanti ya, gue mau urus jadwalnya Bu Marsya dulu.”

Ia masih membaca dan memeriksa beberapa laporan yang bertumpuk di tray out yang ada di atas meja Bu Marsya. Sebelum dibawa keluar dari ruang kerja Bu Marsya, beberapa dokumen dari tray tersebut didapatinya masih belum diperiksa oleh atasannya. Jadi, Nita kembali menaruh dokumen-dokumen tersebut dengan posisi halaman yang harus ditanda tangani atau di paraf itu terbuka dan mudah dilihat oleh Bu Marsya.

Baru setelah itu, beberapa buah dokumen lain yang ada di tangannya dibawanya ke mejanya. Dengan teliti dibacanya satu per satu perintah atau tulisan-tulisan Bu Marsya pada dokumen-dokumen tersebut. Beberapa buah dokumen dituliskan suatu memo di kertas berperekat dan beberapa buah dokumen dipisahkannya untuk kemudian dicatat di sebuah buku lognya.

Namun… pada saat tangannya sedang menjangkau pesawat telpon untuk memanggil Usep si office boy yang biasanya selalu stand by di ruang pantry, di balik partisi, si sangar Vero sudah berdiri memandanginya dengan tatapan tajam dan kedua belah tangan dilipat.

Nita Si Sekretaris “Mau nelpon saya?” Tanyanya dengan tajam.

“Ga. Usep.” Jawab Nita dengan wajah pucat karena terkejut dan takut kena semprot lagi dari Vero.

“Oh, jadi masih belum mau merespon untuk datang ke tempat saya juga?”

“Ha... habis ini.” Jawabnya lagi dengan tangan masih memegangi pesawat telpon walaupun ia belum mengangkat gagang telpon tersebut.

“Kamu tau ga? Saya harus berangkat minggu depan ke Melbourne.” Mata Vero masih tajam menatap Nita.

“Kamu tau ga? Saya masih belum tau berangkat pake apa, nginep dimana dan visanya juga belum diurus?!” Volumen suara Vero makin menjadi-jadi ketika mengatakannya.

“Tasya sudah bilang kan sama kamu?!”

Nita mengangguk.

“Jadi kamu tau ini urgent?!”

Nita mengangguk lagi. Masih dengan wajah pucat pasi.

Sebenarnya sih, Nita tidak peduli apakah Vero berangkat mau pakai kapal nelayan kek, atau sampan kek, atau apalah. Apalagi mendengar persoalan visanya. Emang gue pikirin! Nita menggerutu dalam hati.

“Saya sebentar minta tolong Usep photocopy dan distribusi dokumen dari Bu Marsya ini, ya?” Kata Nita lagi sedikit merayu. “Habis ini saya segera ke tempat Mbak.”

Vero segera berbalik badan meninggalkan meja Nita dan tidak mengatakan apa-apa.

Lagi-lagi, Tasya, Ellen dan Pak Darman memandangi Nita.

“Nit, lagian gue dah bilang dari tadi Vero cari elo, elo malah ga jalan-jalan.” Seru Ellen dari cubicle-nya.

Asti nampak mengangguk-ngangguk. Tapi Pak Darman tetap diam saja.

“Gue prioritaskan pekerjaan bos gue dulu dong, Mbak Yu.” Sahut Nita kalem. Gagang telpon yang tadi dipegangnya diletakannya kembali. Sekarang ia memilih untuk mencari Usep dengan berjalan sendiri ke pantry sambil membawa dokumen-dokumennya dari pada harus duduk disitu mencari si office boy tersebut melalui telpon.

Yah…, sebenarnya, sekaligus Nita malas mendengarkan kalau Ellen mulai ikut-ikutan menguliahinya lagi.

Seiring langkahnya ke pantry, di kepalanya sudah tersusun langkah-langkah apa saja yang harus dikerjakannya untuk membantu pengurusan perjalanan Vero ke Melbourne.

Hmmmmm…. Heran, kalo ga ada Tasya, emang yang lainnya selain gue, ga bisa dimintai tolong, apa? Caranya minta tolong seenaknya gitu...

Di depan ruang kerja Pak Haris yang dekat pantry itu, Nita bertemu Andy Smith.

Duh! Nita langsung buang muka, berpura-pura tidak melihat si bule nyebelin itu.

“Nita. I need to give this to Bu Marsya.” Katanya setengah berlari mengejar Nita. Ah, ternyata Andy melihat Nita dan mendatanginya! Ih, sebel!

This documents are still rough, so please give it to her after you make it up. Ive sent the soft copy thru your e-mail.”

“Okay.” Jawab Nita dengan wajah sebal. “Ill do it after I finish with Vero. Shes an urgent matter to do.”

No. No. No. This is very very very urgent. Bu Marsya needs this as soon as possible. Okay?” Sekarang mata David mulai menjadi tajam juga hampir-hampir mirip dengan tingkah Vero barusan padanya.

But, look.” Nita menunjukkan setumpuk dokumen di tangannya. “This is from Ibu’s office. Ive to talk with Usep to handle some photo copy and distribution.” Kata Nita dengan tegas. Kalau dengan Andy, Nita merasa lebih percaya diri untuk sedikit berkonfrontasi. Lagi pula, ketika Andy terlihat sedikit bingung, Nita berani mengambil tindakan dengan terus melangkah mencari si Usep yang ternyata sudah sibuk foto kopi dokumen-dokumen lain.

Walaupun tidak ada fasilitas untuk mencuci piring, di ruang tempat penyimpanan peralatan dapur tersebut juga ada mesin foto kopi dan meja tempat meletakan dokumen yang sudah dan akan di foto kopi. Namun semua karyawan menyebut ruangan tersebut adalah ruang pantri. Memang tidak sesuai dengan arti sebenarnya yang kalau disebut dapur juga tidak cocok.

Di situ Nita menjelaskan beberapa dokumen yang harus didistribusi oleh Usep dan beberapa dokumen yang harus dikopi. Setelah beberapa saat lamanya Nita menjelaskan Usep apa saja yang harus dikerjakannya, Nitapun segera melangkah dengan maksud hati akan menuju ke ruang kerja Vero. Namun, ketika sudah berada di ujung lorong, terlihat Bu Marsya sudah tiba di ruang kerjanya. Maka Nitapun segera mendatangi bosnya tersebut.

“Pagi, Bu.” Sapa Nita di pintu dengan senyum manis pada si bos yang sedang berdiri di samping jendela sambil membaca sebuah sebuah laporan yang sebelumnya ditaruh Nita di meja si Ibu.

Pagi itu, seperti biasanya beliau terlihat ‘wah’ dengan penampilan sack dress berwarna hijau lumut, dipadu dengan perhiasan batu dengan warna senada. Sepatunyapun berwarna senada pula, dan di bagian sudut credenza dekat monitor komputer, diletakkan sebuah tas tangan yang sama sekali tidak kelihatan murahan dengan warna hijau senada pula.







Bersambung



Baca juga: "Pembacaan Cerber "Nita si Sekretaris" di Radio Cempaka Asri FM!"




Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya