Dec 2, 2009

Kegelisahan Jadi Bawahan/Atasan [Riset]

Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya




Enaknya Jadi Bawahan



"Takut untuk menang sama buruknya dengan takut untuk kalah ." [Dian Manginta, tentang keberanian untuk berkembang]





RENTHYNA, pengarang Nita si Sekretaris, betul-betul menyukai topik dunia kerja. Dengan kacamata artistiknya, Renthyna merekam kejadian-kejadian saat para pegawai berinteraksi untuk dijadikan bahan cerita bertopik kelas pekerja yang utuh.

Kualitas keutuhannya lahir karena Renthyna merenungkan kembali secara detail apa yang telah dia lihat. Dan pertanyaan-pertanyaan yang ia gelutkan akan memberikan berbagai refleksi praktis untuk kita nikmati.

Dengan gaya artistik, renungan Renthyna jadi segar untuk diikuti. Cantik Selamanya sendiri merekam bahwa artikel "Ketika Atasan Mau "Membunuh" Kita [Riset]", di samping seri "Nita Si Sekretaris" sukses menggaet ribuan pembaca. Her works always give Cantik Selamanya instant success.

Di sini, sekali lagi, Renthyna ingin mengajak kita merenung. Ia ingin mengajak kita untuk melihat lebih dekat rasanya hidup sebagai bawahan.

Mengapa bawahan bisa dianggap wajar untuk hidup lebih sembrono dibandingkan atasan? Apakah artinya hidup jadi bawahan lebih longgar, bisa lebih enak untuk dinikmati? Lalu, dalam gaya khas Cantik Selamanya, Renthyna juga akan bertanya, "Apa kata ilmu pengetahuan?"

Semua dibahas tuntas di sini.

Yuk, kita baca tulisan Renthyna?



*****




Ironi Citra Diri Para Bawahan




Mari kita ambil satu pengertian dulu. "Karyawan bawahan" yang saya maksudkan di sini adalah karyawan dengan posisi terendah pada sebuah struktur management perusahaan. Karyawan bawahan tidak memiliki anak buah dan pekerjaannya disuperivisi oleh supervisor ataupun manager. Sounds familiar?

Pada pengalaman saya, karyawan bawahan seringkali - mungkin secara tidak sengaja - dianggap sebagai karyawan yang memberi kontribusi nilai bisnis yang jauh lebih rendah dibanding atasannya. Orang tak jarang mencap kompetensi kerja karyawan bawahan sebetulnya adalah yang paling bawah.

Di tulisanku "Ketika Atasan Mau "Membunuh" Kita [Riset]", kita mengerti bahwa atasan yang memiliki citra rendah akan cenderung abusive, bertindak semena-mena terhadap bawahannya.

Pengalamanku mengajarkan bahwa hal tersebut sesungguhnya universal. Atasan-bawahan yang memiliki citra diri rendah - dianggap tak punya kompetensi diri - akan sering berlaku semena-semana. Bawahan akan cenderung berlaku abusive terhadap dirinya sendiri bila ia dianggap rendah.

Hal ini dapat nampak kasat dari cara mereka yang biasanya lebih "merdeka" dalam mengaktualisasikan diri, yaitu menghargai disiplin dan etika.

Saya memiliki pengalaman melihat bagaimana para karyawan memilih cara ktualisasinya. Begini ceritanya:

Gang Seniors Saling Curhat

Jam dinding berukuran besar sengaja digantung di di dinding area kosong ujung ruangan hingga dapat dilihat oleh banyak orang dari segala sudut menunjukkan. Waktu menunjukkan pukul jam kurang tiga menit. Masih pagi.

Tapi di sana, seorang penghuni sebuah cubicle kedatangan tamu seorang karyawan senior dari lantai lain. Kawan ini duduk dengan ekspresi wajah sendu bercampur tegang-gelisah, ia sedang mencurahkan isi hatinya pada karyawan penghuni cubicle tersebut.

Si karyawan penghuni cubicle itu bersikap sangat ramah dan menerima temannya itu menceritakan rahasianya, tanpa perlu menunggu jam istirahat makan siang tiba. Kebetulan cubicle sangat strategis untuk dijadikan ‘pangkalan’. Maka tidak heran jika beberapa menit kemudian seorang karyawan senior lainnya datang menghampiri cubicle tersebut lalu ikut nimbrung dalam pembicaraan menarik mereka.

Waktu itu jam di dinding mulai bergerak dengan lambat melewati menit pertama pukul sembilan pagi.

Saat Jelita & Tampan "Sendiri"

Waktu berjalan, mereka yang terlibat dalam pembicaraan terus berbaku pendapat, dan merasa sayang memberhentikan obrolan sebelum kesimpulan ditemukan. Sehingga waktu terus berjalan. Ketika jarum menit sudah mendekati angka ketiga puluh barulah mereka mulai nampak membubarkan diri.

Tapi, ternyata "ironi" ini tidak cukup sampai di situ saja, karena tidak jauh dari cubicle pangkalan tersebut duduk seorang karyawan muda yang cantik jelita, manis, atau apapun namanya. Si Jelita sejak tadi terlihat sedang serius dengan pekerjaannya dengan sekali-kali mengarahkan pandangannya pada monitor komputer sambil membalik-balikkan dokumen dari sebuah ordner tebal di hadapannya. Sepertinya sedang memeriksa catatan yang ada di situ untuk dibandingkan dengan data ditayangkan di monitor komputer.

Padahal, jika diamat-amati dengan baik... hey! Ternyata di tangan kanannya yang berada di bawah lembaran kertas ordner tersebut sedang tergenggam sebuah smartphone, si Jelita sedang ber-facebook-an. Ia sedang asyik balas membalas komunikasi dengan seorang pria yang sedang menggodanya di facebook. Ternyata, sejak tadi ia sudah berusaha kuat menahan senyum GeEr karena sanjungan-sanjungan pria tersebut di facebook.

OhmineKirain

Sementara si Jelita sedang asyik menikmati komunikasi elektronik dengan seseorang di situs jejaring, seorang karyawan pria yang juga diketahui berpangkat rendah sedang berjalan datang menuju cubicle-nya.

Karyawan itu kasat mata berperawakan kecil dengan wajah standar, berpenampilan seadanya, menggunakan kemeja murah, celana panjang dan sepatu sama tak mahalnya. Tanpa perlu menyimak detail dari pembicaraan mereka, si Karyawan Sederhana ini tampak tidak dapat diterima dengan baik oleh si Jelita.

Si Jelita dari wajahnya terlihat terganggu dengan permintaan yang diajukan si Karyawan Sederhana. Dari gerakan dan pembicaraannya, si Karyawan Sederhana seperti menginginkan menghadap sendiri ke atasan si Jelita. Ternyata si Karyawan Sederhana ternyata sudah mendatangi bos si Jelita, jadi tak perlu bertemu lagi. Rupanya ia diminta mengambil sebuah dokumen dari si Jelita.

Si Jelita hanya menampakkan wajah kesal pada saat si Karyawan Sederhana itu berada di sana, kemudian baru terlihat nyaman kembali setelah ia dapat melanjutkan keasyikannya melanjutkan perbincangan on line di telpon selulernya. Waktu di jam dinding menunjukkan pukul sembilan melewati angka tiga puluh satu menit. Atau, sekian menit.

Sementara area pangkalan sudah mulai sepi dan hanya diduduki oleh si Penghuni Pangkalan. Dan kita mengalihkan padangan ke sebuah ruang rapat.

Dari balik jendela ruang rapat terlihat kesibukan rapat yang sedang diisi oleh orang-orang yang sedang melaksanakan pertemuan. Di sana, terlihat seorang anak buah yang masih muda dan tampan, mengenakan setelan jas yang dapat ditaksir jauh dari kata murahan.

Ia nampak sedang berusaha menutupi kegelisahannya. Beberapa kali ia memperhatikan pesan teks yang masuk di telpon selulernya. Rupanya, ia sedikit gelisah untuk urusan penjualan mobil pribadinya - kita tahu begitu, karena saya memberitahu [ingat, ini adalah pengalaman saya sendiri]. Ah… ia tidak bisa melepaskan kegelisahannya setelah rapat selesai saja.

Minder, Jadi Abusive

Penelitian Mental PemimpinOrang-orang tadi, sebetulnya kurang menarik untuk kita simak. Mereka terlihat kurang menghargai, tak respek terhadap keberadaan diri sendiri di dalam lingkungan kerjanya. Mereka semua sebetulnya merasa tertekan, dan bentuk ekspresinya adalah tingkah laku sembrono yang ironis.

Mungkinkah karyawan bawahan cuma menerima respek lebih rendah dari atasannya hingga mengakibatkan mereka tak mengapresiasikan diri sebagai orang-orang yang layak untuk patuh terhadap nilai atau norma lingkungan kerja? Apakah karena karyawan pengganti untuk level yang sama sedemikian mudah didapat sehingga tingkah laku mereka terlihat tidak penting untuk diamati?

Lihat saja, ada berapa jumlah karyawan bawahan yang memakai waktu kerjanya untuk turun ke lobby tempat ATM berada dengan alasan mau bayar listrik, telpon, dan lain sebagainya. Atau, sulitkah menemui seorang karyawan bawahan sedang berada di sebuah mini market yang berada di gedung yang sama pada jama kerja? Tidak, bukan?

Jadi bagaimana? Apakah para karyawan harus diberikan tugas sebanyak-banyaknya sehingga mereka menjadi terlalu sibuk untuk menghabiskan waktu untuk hal yang kurang perlu dibandingkan kepentingan bisnis perusahaan.

Sains: Jadi Atasan Itu Tak Enak

Caroline Zink, Ph.D.Adalah seorang peneliti dari Lembaga Kesehatan Mental Nasional [NIMH - Amerika Serikat] yang bernama Caroline Zink, Ph.D. Bersama peneliti lainnya [2008], DR. Zink meneliti bagaimana dinamika hirarki berakibat pada kondisi syaraf manusia.

Dari hasil penelitian sebelumnya, telah diketahui bahwa para pegawai berkedudukan rendah selain cenderung bersikap minder, menarik diri, tak ingin menonjol. Mereka inilah yang saya gambarkan dari ilustrasi di atas...

Sains mencatat karyawan kalangan bawah memiliki angka harapan hidup lebih rendah, lebih mudah mengalami penyakit akibat stress. Kondisi serupa terjadi pada kalangan yang punya posisi paling atas. Kalangan ini juga lebih rentan terhadap pelbagai penyakit akibat tekanan mental.

Sebelumnya, orang tak pernah mengkaji secara mendalam apa yang sebetulnya terjadi dengan sistem syaraf manusia pada saat harus duduk di jenjang karir ekstrim atas-bawah tersebut. Caroline Zink, Ph.D dkk pun menyelidiki bagaimana otak manusia merespons kondisi seperti itu.

Maka dipilihlah 72 partisipan yang diteliti kondisi otaknya dengan menggunakan pengindai "functional magnetic resonance imaging" [fMRI]. Para subyek penelitian ini dikondisikan harus memainkan sebuah permainan komputer manakala diberitahu bahwa tingkat kesuksesannya sangat bergantung dari keahlian masing-masing. Padahal, seluruh hasil dimanipulasi oleh komputer dan tak ada hubungannya dengan cara mereka bermain.

Sebelum mulai, para subyek diberitahu bahwa tak ada hadiah yang diberikan. Namun sepanjang waktu permainan, manakala otak mereka tetap diindai dengan fMRI, para peserta diperlihatkan bagaimana "prestasi" pemain lain yang berada di ruangan sebelah. Kadang prestasi itu lebih baik atau kalah unggul dibanding mereka.

Hasil menarik adalah aktivitas otak para subyek sangat dipengaruhi oleh persepsi mereka saat melihat "prestasi saingannya".

DR. Zink merekam dan melihat bahwa aktivitas otak di area "ventral striatum", yang mengelola informasi hadiah atau reward center pada saat bermain akan memiliki dinamika serupa sewaktu manusia sedang memperhitungkan timbal-balik berupa uang. Di sini terlihat bahwa bagi otak manusia meraih suatu kemenangan sama bentuknya dengan mendapatkan suatu kedudukan superior.

Dinamika otak para pemain yang "kalah" menunjukkan gejala yang sama saat manusia sedang waspada, harus lebih teliti untuk memantau status lingkungan sosial [karena ketakutan]. Di saat yang sama, terdapat area di tengah-depan otak yang menjadi lebih aktif. Dalam disiplin ilmu kedokteran syaraf, hal ini bisa diartikan bahwa yang bersangkutan siap untuk berupaya menaikkan [attack back] atau malah tambah menurunkan derajat sosialnya.

Si Senior, Si Jelita, dan Si Tampan, tiga-tiganya menurunkan derajat sosialnya dengan hidup di comfortable zone, tak tertarik untuk mencadi contoh baik bagi orang lain. Mereka kerap berdalih sedang berusaha memimpin diri sendiri, padahal sebetulnya ketiga tokoh tadi sedang menenggelamkan diri sendiri, masuk ke kubangan stress berkepanjangan.

Otak manusia saat menjadi atasan dan bawahanPada saat "kalah" - meskipun para partisipan tahu mereka tak akan dihukum apapun - otak mereka menunjukkan gejala stress. Sedangkan manakala "menang" terhadap "saingan" yang hebat, otak bagian atas-ke-depan para partisipan menjadi aktif, menunjukkan gejala siap mengendalikan situasi.

Barangkali temuan terpenting DR. Zink dkk di sini adalah yang satu ini: semakin senang perasaan seorang partisipan akibat "menang", makin besar kegelisahan yang akan muncul manakala mereka melihat ada gejala kekalahan.

Maksudnya, mereka yang berada di posisi puncak akan merasa sakit lebih hebat saat mengalami kejatuhan dibanding orang yang sedang di tingkat lain. Jatuh dari ketinggian menjulang akan sangat menyakitkan. Kesimpulan sederhana, namun sering kita lupakan.

Pilih Mana, Kalah Atau Menang?

Menjadi atasan atau bawahan sebetulnya punya harga yang sama, stress. Itu wajar saja, kita tahu sekarang.

Barangkali, si Atasan memunculkan ekspresi rasa tertekannya dengan gaya "jaim" [sok ekslusif], sementara si Bawahan dengan menjadi serampangan. Stress yang jadi pangkal keduanya, bisa menggerogoti hidup manusia.

Kita mau hidup dengan nilai rendah? Agaknya DR. Zink dan koleganya di dunia akan mengatakan: "it is bad for your health". Bagaimanapun, kalau dicermati tadi, ternyata waktu mengalami kekalahan, otak kita segera memberikan dua pilihan terbuka: mengalah atau berjuang kembali.

Kalau kekalahan sedang terjadi di hidup kita, rasanya kita harus mengingatkan otak ini, bagaimanapun, mereka yang "di bawah" akan menerima lebih sedikit. Meski saat menang sekalipun artinya harus berkejaran dengan rasa stress.


Pilih mana? Terserah Anda.


-Renthyna-





*****






Perlu dibaca juga di Cantik Selamanya: