Nov 18, 2009

Ketika Atasan Mau "Membunuh" Kita [Riset]

Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya








"Munculnya pemimpin tak lain adalah hasil interaksi, buah dinamika kesepakatan seluruh masyarakat. Keberhasilannya adalah tanggungjawab semua anggota yang dipimpinnya, termasuk dalam hal kesuksesan kaderisasi." [Dian Manginta, tentang KELAHIRAN SEORANG MANUSIA PEMIMPIN]





Renthyna, pengarang Nita si Sekretaris, memang suka mengamati dunia kerja, terutama suasana lingkungan tempat para pegawai sehari-hari saling berinteraksi. Menyenangkan, mengharukan, menyebalkan, bahkan mengerikan [!]. Tak ada yang luput dari pandangan matanya.

Perenungannya sebetulnya praktis saja, membawa kita untuk memikirkan kembali apa yang seharusnya menjadi prinsip ideal. Bukankah kita sebetulnya merindukan Indonesia penuh dengan moralitas tinggi?

Namun, Renthyna juga tahu bahwa idealisme tanpa sikap realistis tidak ada gunanya. Itulah sebabnya, tulisan enak untuk diikuti. Tidak berlebihan, namun artistik.

Sekali lagi, Renthyna ingin mengajak kita merenung. Kali ini tentang seorang boss yang sempurna.

Do you think you have a bad boss? Di sini, Renthyna ingin menjawabnya. Yuk, kita baca tulisan Renthyna?



*****




I dream about a boss





“Selamat pagi! Selamat pagi!” Sang Dreaming Boss datang dengan senyum ramah dan kesan simpatik yang sangat kuat. Kita sebut saja dia dengan nama "Dreaming Boss". 

“Selamat pagi, Dreaming Boss.” Jawab salah satu anak buahnya yang punya jabatan cukup rendah. Si Dreaming Boss melambaikan tangan membalas ucapan salam padanya tidak lupa diikuti dengan senyum yang ramah.

“Bagaimana hari ini?” Tanya Dreaming Boss pada salah seorang anak buahnya yang duduk agak jauh dari ruang kerjanya.

“Yah, begini deh, Dreaming Boss. Agak kurang sehat sedikit...” Jawab si karyawan apa adanya.

“Oh… terima kasih sudah datang bekerja. Tapi, sebaiknya, kamu menjaga kesehatanmu karena kalau badanmu sehat maka hasil kerjamu lebih maksimal, dan justru pada saat kamu kurang sehat maka hasil kerjamu tentunya kurang maksimal.” Katanya sambil menepuk bahu si karyawan dengan senyuman yang teramat sangat ramah.

“Dreaming Boss..” Seorang karyawan menyapanya dari belakang si Boss.

“Ya?” Kata sang Dreaming Boss dengan intonasi suara yang sangat menyejukkan hati sambil menoleh ke arahnya.

“Hari ini si Anu tidak masuk kerja karena ada persoalan pribadi.”

“Oh… sayang sekali. Saya harap kalian semua senantiasa bersemangat untuk bekerja dan jika memang sedang ada masalah, janganlah sungkan-sungkan untuk menemui saya dan kita pikirkan bersama solusi yang terbaik yang dapat dipecahkan atas masalah kita.”

Singkat cerita, Dreaming Boss senantiasa menyejukkan hati karyawannya. Semua karyawan datang bekerja dengan senyum ceria dan semangat yang tiada tara. Setiap karyawan memancarkan energi kebahagiaannya masing-masing. Seolah-oleh tempat kerja itu adalah tempat yang menyenangkan untuk didatangi.

Tapi, Sang Dreaming Boss tidak membiarkan anak buahnya bekerja lembur tanpa ada perintah ataupun perjanjian sebelumnya. Dreaming Boss senantiasa mendorong karyawan-karyawannya untuk selalu memberikan waktu pribadi dan juga tidak bekerja terlalu berlebihan supaya tidak stress.

Dreaming Boss juga senantiasa memberikan bantuan, arahan, pemeriksaan yang menyeluruh dengan kesan kuat keinginan untuk selalu menolong karyawan-karyawan bekerja sebaik-baiknya. Karenanya, para karyawan tidak merasa sungkan untuk datang kepadanya untuk meminta saran, menyampaikan pendapat dengan sopan, memberikan laporan kerja tepat waktunya, dan juga tentunya menyapa dan berinteraksi dengan Dreaming Boss tanpa merasa ada ‘jarak’ yang jauh memisahkan mereka.

Namun di sisi lainnya, Dreaming Boss bukanlah atasan yang hadir di sana tanpa rasa hormat dan kagum dari bawahannya. Mereka semua seperti berlomba-lomba menjadi yang terbaik dihadapan Dreaming Boss, dan Dreaming Boss sendiri tidak membeda-bedakan setiap bawahannya. Semuanya diperlakukan adil dan baik dengan penuh keteladanan yang tinggi.

Demikianlah Dreaming Boss berhasil menjadikan karyawan-karyawan yang menjadi bawahannya bekerja dengan hati bergembira…

Hmmm… Apakah Dreaming Boss hanya ada di dalam ruang imajinasi saja ya? Di manakah dia untuk kita temui? Bagaimanakah jika justru di tempat kerja kita sendiri atasan kita sama sekali bukanlah figur yang ideal? Bagaimanakah menerima kenyataan pahit ini bahwa atasan kita bisa nyata-nyata memberikan sikap tidak simpatik dan justru sikapnya menambah beban stress di kepala kita?

Apa yang terjadi?

HeiiiiBangun! Dreaming Boss itu memang tidak pernah ada!

Karena kita hanyalah manusia yang tidak sempurna. Walaupun manusia telah berusaha keras melalui bidang keilmuan management untuk memfasilitasi bentuk-bentuk dan flow kerja yang ideal dan kondusif.

Namun, kepribadian seseorang ternyata adalah salah satu faktor dalam membentuk suasana kerja yang nyaman dan menyenangkan. Kepribadian yang menarik mendorong  kinerja yang baik dari karyawan. Dan rasa PeDe, akan menarik perhatian positif semua orang, menyenangkan segala kalangan.

Riset: Boss Tak Pede, Gemar Menyiksa

Perasaan senang menjadi bahan bakar bagi perusahaan untuk menjalankan operasional perusahaannya meraih profit yang besar karena kinerja yang dihasilkan berasal dari pribadi-pribadi karyawan yang bertingkat stress rendah. Memang sangat ideal sekali jika kita memiliki tingkat stress rendah. Beban kerja menjadi terasa lebih ringan dijalankan dan segala sesuatu seolah-olah tidak ada yang terlalu sulit.

Boss Rendah DiriNamun, Assc. Prof. Serena Chen, Ph.D, dari Universitas Berkeley, punya penjelasan sendiri tentang para atasan yang gemar membuat bawahannya menderita: semata-mata, karena mereka rendah diri. Pendapat Chen tersebut dituangkannya dalam karya tulis yang berjudul "When the Boss Feels Inadequate [pdf]", yang dimuat oleh Association for Psychological Science [Oktober 2009]

Pertama-tama, Chen mendapatkan hasil survei bahwa sekitar 54 juta pekerja di Amerika Serikat, atau sekitar sepertiga dari tenaga kerja di sana, mengaku pernah diperlakukan dengan semena-mena oleh atasannya. Pertanyaan menarik dari fakta itu adalah bagaimana dengan 63% tenaga kerja lain, yang tak pernah mengalami serangan agresif dari bossnya?

Segera, Chen bisa menarik hipotesis bahwa para boss yang kerap memperlakukan anak buahnya dengan semena-mena tak lain berawal pada fakta mereka sesungguhnya merasa tak memiliki kompetensi cukup untuk memimpin. Rasa tak PeDe tersebut, ditutupi dengan sikap agresif.

Studi tersebut mula-mula dilakukan dengan melakukan survei terhadap 90 responden dewasa, untuk mengetahui tingkat keyakinan para subyek penelitian terhadap pendapat publik terhadap kompetensi yang mereka miliki. Hasilnya dikaitkan dengan kemauan untuk mempertimbangkan tingkah laku agresif pada saat tertekan [misalnya mencela demi mendapat perhatian, atau memberhentikan diskusi saat orang lain sudah tak dapat setuju dengan pendapat mereka].

Pada studi kedua melibatkan 98 subyek penelitian, di mana jenis kelamin dan usia dibuat sedemikian rupa tak akan memberikan pengaruh apapun. Kali ini, yang Chen cukup meneliti bagaimana pendapat masing-masing subyek tentang berbagai situasi yang pernah mereka alami manakala jiwa kepemimpinan diuji.

Di saat mereka sedang diuji, para subyek ini seolah-olah diminta untuk membantu seorang siswa mempelajari sesuatu. Bilamana sang siswa melakukan kesalahan, masing-masing subyek diperkenankan untuk "menghukumnya" dengan cara membunyikan berbagai klakson yang tingkat kebisingannya dapat dipilih secara bebas - ada yang keras, sampai yang menyakiti telinga. Refleksinya adalah, bukankah kadang kita kerap mendengar atasan tanpa tedeng aling-aling mempermalukan bawahannya kala kedapatan melakukan kesalahan?

Makin rendah diri boss, makin gemar ia menyiksaHasilnya, studi pertama dan kedua tersebut punya kesimpulan sama:  makala seseorang makin merasa rendah diri - atau tidak dianggap cakap -  lalu ia dipilih menjadi pemimpin, maka makin besar kemungkinan orang tersebut akan punya kecenderungan menyiksa anak buahnya. Kondisi ini akan berlaku untuk pemimpin masalah kelas rendah [seperti untuk tugas memperbaiki kondisi berbagai aset kantor] atau lebih tinggi.

Di studi ketiga, langkah penelitian Chen lebih "berani" lagi. Ia ingin mencari tahu, apakah seorang boss bisa menjegal anak buah atau bahkan rekan kerjanya yang punya pangkat setaraf.

Pada penelitian ini, Chen mula-mula menganalisis tingkat kepercayaan diri 59 mahasiswa/i dalam memimpin. Lalu, mereka diminta untuk mengerjakan suatu tugas yang punya berbagai point kesulitan demi mendapat hadiah tertentu. Dikatakan bahwa sebetulnya tantangan ini akan dikerjakan bersama seorang rekan kerja, yang akan melanjutkan tugas setelah ia selesai mengerjakan sebagian. Padahal, Chen kemudian melihat berapa banyak tugas yang diselesaikan, dan bagaimana tingkat kesulitannya. 

Maksud dari penelitian ini adalah untuk meneliti hubungan kepercayaan diri dalam memimpin dan kerelaan mengambilalih sebagian tugas yang sulit agar rekan kerjanya lebih memiliki waktu menyelesaikan hal-hal sederhana. Dengan kata lain, di sini diperlihatkan bahwa semakin boss tidak rela menolong, sebetulnya akan makin tega ia menyakiti anak buahnya.

Hasilnya sungguh luar biasa konsisten dengan studi sebelumnya. Yaitu, mereka yang punya rasa percaya diri lebih tinggi dalam memimpin, akan punya kecenderungan lebih rendah untuk bersikap agresif terhadap anak buahnya. Ini berlaku baik bagi pemimpin yang menangani masalah kelas rendah maupun lebih tinggi [misalnya memberikan supervisi, mengembangkan jumlah konsumen, dan lainnya].

Pada studi yang terakhir, Chen ingin mengetahui apakah rasa PeDe yang cukup [kendatipun tidak selalu berarti memiliki kompetensi kerja setaraf] akan mengurangi kecenderungan seorang pemimpin untuk bersikap agresif alias aktif-defensif.

Mula-mula, Chen menyelidiki 163 responden untuk mengetahui tingkat kompetensi masing-masing dalam pekerjaannya. Mereka yang sudah diketahui mempunyai tingkat kompetensi rendah kemudian diajak untuk mengingat lebih jelas saat di mana mereka gagal memenuhi tanggungjawabnya. Sedang sebaliknya, para peserta yang memiliki kompetensi tinggi diarahkan untuk mengingat momen kesuksesan mereka. Maksudnya, supaya masing-masing mengingat kompetensi maupun inkompetensi dirinya sendiri.

Lalu, kembali grup dibagi menjadi dua. Kelompok yang satu diminta untuk merenungkan dan menuliskan berbagai norma kehidupan yang penting untuk dicapai. Tujuannya adalah untuk menguatkan rasa afirmasi, kesesuaian nilai pribadi dengan segala tindakan mereka di dalam pekerjaan.

Sebaliknya, grup yang kedua hanya diminta untuk mengingat dan mengurutkan apa yang menjadi harapan orang lain kepada dirinya sewaktu menjalankan tugas. Dengan demikian, orang-orang tersebut tidak diajak untuk melihat afirmasi, kesesuaian nilai/harapan pribadi dengan kegiatan profesional mereka. Baru setelah itu, analisis agresivitas dilakukan.

Hasilnya cukup mengejutkan. Selain sesuai dengan kesimpulan-kesimpulan sebelumnya - mereka yang punya PeDe lebih tinggi akan cenderung lebih tidak agresif, namun ternyata para subyek penelitian yang diajak melihat refleksi afirmasi akan cenderung memiliki agresivitas lebih rendah. Di sini, meskipun telah diajak melakukan relfeksi diri, mereka yang punya tanggungjawab lebih rendah tetap akan lebih agresif dibanding kalangan "atas".

Ada tiga kesimpulan yang bisa diringkas di sini:
  1. Kekuatan, tanggungjawab, secara umum akan memunculkan rasa agresif, keinginan untuk menguasai orang lain;
  2. Manakala orang kurang PeDe, tidak yakin akan kualitas diri atau pertolongan orang lain, maka rasa agresif cenderung akan bertambah besar;
  3. Beban tanggungjawab manakala  dibarengi dengan citra diri positif, akan mengurangi agresivitas seseorang atau mereduksi keinginan memiliki kontrol penuh atas orang lain.
Dalam bentuk lebih padat dikatakan bahwa agresivitas/sikap meresahkan seorang pemimpin bagi orang lain bisa cenderung menurun  makala ia bertambah yakin akan kompetensi diri, citra pribadi, dan kesadaran akan besarnya tanggungjawab  yang harus diemban.

Tanggungjawab Bawahan

Membuat pemimpinJadi, bagaimanakah mendapatkan suasana kerja ideal itu, di mana setiap atasan, bisa sebagai boss menghormati anak buahnya? Apakah harus diupayakan demikian atau kita hanya bisa mengharapkan pimpinan lebih dahulu melakukannya?

Sepertinya, setiap kita yang menjadi karyawan memang sebaiknya mencari upaya untuk mendapatkan tingkat idealnya masing-masing. Adalah lebih baik untuk segera pergi menjauh apabila tingkat ideal yang menjadi dambaan ternyata pada realitanya sangat jauh dari harapan.

Kondisi-kondisi minor tadi bukan lantas harus terikat pada satu pribadi tertentu, namun bisa jadi merupakan kondisi yang sedang terjadi dalam hidup seorang pemimpin. Setiap orang yang diangkat jadi pemimpin harus mendapat dukungan kompetensi [pengetahuan], citra diri [moralitas], dan wawasan tanggungjawab memadai, untuk memperkecil kemungkinan ia melakukan kekerasan terhadap bawahannya.

Menariknya, di bagian akhir tulisan ilmiahnya, Chen masih mengingatkan bahwa para pemimpin yang secara pribadi tidak menguasai atau tak berkompeten dalam suatu bidang yang dipimpinnya, adalah mereka paling mungkin melakukan power abuse. Ketidaktahuan adalah awal dari kebinasaan! Dan Chen juga mengingatkan bahwa sikap menjilat hanya akan memperpanjang kans ia menyalagunakan kekuasan.

Pastinya, kita harus melatih diri untuk memiliki ilmu pengetahuan, citra diri, dan wawasan mendalam untuk bisa jadi pemimpin yang baik bagi tugas kita sendiri, ya?

Kalau tak mulai dengan diri sendiri, berarti kita tak bisa tak boleh berharap orang lain melakukannya...

Bukankah begitu?

-Renthyna-





*****






Perlu dibaca juga di Cantik Selamanya: