Sep 7, 2009

Kepemimpinan, Sofia & Estonia - Ketika Bencana Melanda

Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya



Dian Manginta - Cantik Selamanya



"Di sini aku akan mengungkapkan pentingnya kita mencetak lebih banyak Sofia, seorang leader dalam situasi bencana."





Masih soal emergency situation, keadaan darurat ketika bencana terjadi. Aku teringat sikap kepemimpinan yang ditunjukkan oleh seorang teman yang adalah sekretaris di departemennya.

Teladan Sofia Murni, Sang Sekretaris

Beberapa tahun yang lalu, ketika banjir badang melanda Jakarta, temanku itu, Sofia Murni, mengambil inisiatif yang di luar tanggungjawabnya. Dia memeriksa satu per satu rekan-rekannya se departemen yang lumayan banyak itu untuk mengetahui keadaan masing-masing.

Saat itu, kebetulan manager-nya juga ikut menjadi korban. Lantai dasar rumah si boss tenggelam sehingga mereka serumah terjebak di lantai atas. Dalam status sebagai korban, tentu saja sang manager tidak mungkin melaksanakan tugasnya untuk memeriksa keadaan anak buahnya satu persatu. Boro-boro memikirkan mereka, sedangkan dia sendiri sedang sibuk memikirkan keadaan diri dan keluarganya. Wajar aja, ‘kan?

Tanpa instruksi dari seorang atasan, Sofia yang mengetahui keadaan manager-nya pun segera mencari tahu keadaan rekan-rekan yang lain. Satu per satu dia hubungi. Setiap kali dia berhasil menghubungi salah satu rekannya, Sofia meminta mereka untuk mencari tahu keadaan rekan di sekitar lingkungan tempat tinggalnya dan meminta mereka untuk melaporkan keadaannya kepadanya. Begitu dia lakukan sampai semua rekannya berhasil terdeteksi.

Caring, Bahkan Dari Presiden Direktur

Sofia pun berhasil mengetahui siapa saja yang menjadi korban selain sang manager. Lalu memberitahukan bagian Health and Safety Executive [HSE] perusahaan yang sudah membentuk tim bantuan. Selanjutnya, proses evakuasi pun dilakukan dan akhirnya semua korban mendapat penanganan yang semestinya.

Tindakan Sofia yang luar biasa itu tentu saja mendapat pujian. Perusahaan pun memberikan hadiah Operational Excellent Award kepadanya.

Dian Manginta Bicara KarirIni adalah sebuah teladan yang baik yang sepatutnya kita tiru. Sofia memang seorang yang caring, perduli orang lain. Dia mencatat contact information dari semua rekannya termasuk alternatifnya. Semuanya sambil menjaga kerahasiaannya apabila sang rekan memintanya.

Sofia mengerti betul bahwa prosedur evakuasi. Ia paham bahwa prosedur yang telah ditetapkan oleh perusahaan hanya akan berjalan lancar apabila seluruh langkah prosesnya itu diikuti dengan baik. Namanya "prosedur", bukankah berasal dari kata "proses"?

Di perusahaan tempat Sofie bekerja memang telah dikembangkan suatu Emergency Response Team [ERT] yang berupa susunan tim penanganan keadaan darurat yang dimulai dari Presiden Direktur sampai ke karyawan yang paling rendah. Setiap orang dalam perusahaan mempunyai timnya masing-masing yang dikelompokkan dalam departemen serta tempat tinggal.

Setiap orang dalam departemen yang sama dan lingkungan tempat tinggal yang sama akan berada dalam satu kelompok ERT. Dari tiap kelompok ditunjuk koordinator yang bertugas memonitor. Namun koordinator ini tidak mutlat karena orang yang ditunjuk menjadi koordinator bisa jadi adalah korban. Maka, solidaritas sesama rekan sekerjalah yang diandalkan dalam tim ini.

Sofia telah menunjukkan efektifnya ERT dengan partisipasi aktifnya dan menunjukkan kepemimpinan yang patut kita tiru.

Care makes you a leader. Dan di bagian selanjutnya, aku akan tunjukkan pentingnya menciptakan para pemimpin dalam situasi emergency.

Safety & Leadership: Kasus Menarik MS Estonia

Dian Manginta - Cantik SelamanyaAdalah sebuah kisah nyata yang menunjukkan bahwa safety Kepemimpinan sebetulnya adalah sifat dasar manusia. Yaitu peristiwa tenggelamnya MS Estonia di tahun 1994.

Dari Wikipedia, kita tahu bahwa tenggelamnya kapal ferry yang memuat 1.054 penumpang ini merupakan salah satu bencana maritim terbesar di Abad XX. 852 orang di antara penumpangnya tewas.

Sebuah situs varsi.net memuat kisah "A survivor's story from MS Estonia", berisikan penuturan kesaksian seorang crew, penyaji bar, yang selamat dari bencana tersebut.

Ia mengisahkan bahwa saat kejadian berlangsung, sekitar pukul 12.30 tengah malam, penumpang-penumpang muda sedang berada di ruang disko. Wikipedia mangatakan cuaca waktu itu kurang bersahabat, namun tidak bisa dibilang sangat buruk. Sebagian besar, terutama penumpang yang pergi bersama keluarga, sudah tertidur. Saat itu, tiba-tiba terdengar suara keras dan sekonyong-konyong kapal mulai dipenuhi air hingga lantai enam. Setelah sekitar satu jam kapal dalam posisi kritis, akhirnya Estonia akhirnya tercatat tenggelam pada pukul 01.50 pagi. 

Namun si penulis juga mengingat catatan penting:
  • 60% dari seluruh penumpang tidak melakukan apapun. Bahkan mereka hanya terpaku sewaktu suatu perintah dilontarkan.
    Ini sangat perlu diingat, bahwa faktanya sebagian besar orang akan tidak akan melakukan apapun waktu mereka kaget akan datangnya bencana.
  • Hanya sekitar 10-12% penumpang yang panik: pun mereka tidak melakukan apapun selain berteriak, menangis, dan sebetulnya tidak menolong diri sendiri.
Sisanya? Sebagian minta pertolongan, berharap diberi instruksi untuk apa yang harus dilakukan. Ada pula yang hanya memikirkan diri sendiri, bahkan meninggalkan sanak-saudara di dalam kapal. Hanya sebagian lagi berusaha untuk menolong orang lain yang ikut menjadi korban.

Nyatanya, Tak Semua Aktif Menyelamatkan Diri

Dari situs healing-arts.org, Babette Rothschild, MSW, LCSW [peneliti stress dan trauma] menuliskan di artikel "Post-Traumatic Stress Disorder: Identification and Diagnosis". Katanya, salah satu reaksi manusia bila menghadapi impuls negatif adalah membeku, alias diam saja.

Konon, reaksi fisiologis ini diturunkan dari sikap manusia waktu menghadapi hewan buas. Bila manusia diam saja, maka hewan buas tersebut bisa kehilangan minat untuk menyerang, persis seperti kucing atau anjing kehilangan minat terhadap bangkai tikus.

Namun, Babette juga mengingatkan bahwa bila mendapat impuls lawan yang cukup kuat, maka refleks manusia akan jadi berlawanan: ia akan mampu bertindak. Impuls ini maksudnya adalah kemampuan manusia untuk seketika menilai hal yang bisa dilakukan saat suatu bencana mengancam. Sekiranya ia cukup bisa memahami situasi, maka reaksi yang sepadan pasti akan dikerahkannya dalam menghadapi situasi mendesak.

Kesimpulan dari kejadian MS Estonia? Boleh dibilang mengingat sebagian besar penumpang hanya terdiam saja, maka saat itu tidak ada orang yang mengambil keputusan untuk mengingatkan mereka untuk melakukan tindakan penyelamatan diri.

Aku yakin, kita pasti bisa menarik pelajaran penting dari kejadian Estonia ini. Yaitu adalah penting sekali bagi kita untuk menetapkan orang-orang yang harus jadi pemimpin untuk menunjukkan pada sebagian besar anggota kelompok lainnya supaya mereka bisa selamat di kala bencana datang. Jika tidak, maka sebagian besar orang kelak akan hanya jadi korban saat bahaya bencana datang. 

Kecepatan reaksi seseorang untuk bisa menyelamatkan diri saat bencana sangat bergantung dari input yang telah ia dapatkan sebelumnya. Pada kenyataannya, manusia tidak akan melakukan apapun bila ia ada dalam keadaan panik. Maka, dalam situasi emergency kita butuh para leader yang bisa secara aktif menggiring orang lain untuk memberikan reaksi wajar hingga bisa menyelamatkan diri.

Keselamatan dalam bencana tidak seharusnya dilihat sebagai bagian keberuntungan semata, namun proses aktif yang sengaja dilakukan demi melakukan nyawa manusia. Sebelum kejadian bencana datang, maka haruslah kita bersiap. Bukan hanya dari tindakan individu, namun juga dalam skenario komando.

Ada suatu rahasia yang belum kuungkap. Yaitu kemampuan Sofia mengerti tentang safety tidak lahir dengan sendirinya, melainkan melalui proses pelatihan berulang-ulang. Dengan demikian, tidak heran lantas Sofia mampu menjadi leader dalam skenario penyelamatan bencana.

Sofia sudah pandai melakukan menjadi leader dalam suatu bencana. Bagaimana dengan kita?



***



Perlu dibaca juga artikel menarik tentang hukum di Cantik Selamanya:







Yuk, gabung?