Sep 10, 2009

Office Affair

Good Quality and Original Article - Dian Manginta - Cantik Selamanya


Dian Manginta - Cantik Selamanya

"Yang Sakral, Harus Kita Hormati."



Jatuh cinta pada rekan sekantor? Wajar aja, bukan? Baik jatuh cinta pada pandangan pertama, maupun karena sering bertemu, juga atas sebab seringnya bekerja bersama.

Aku pernah mendengar cerita tentang seorang karyawati yang mendapat tugas keluar kota untuk beberapa lama. Short assignment ceritanya. Di kota lain, dia bertemu rekan sesama karyawan yang memang based di kota itu. Kebetulan mereka berasal dari suku yang sama. Agaknya itu alasan mereka menjadi akrab.

Tiap Kamis, Dian Manginta Bicara CintaSetelah short assignment selesai, si karyawati pulang ke kotanya. Di sana dia kembali bertemu kekasihnya. Malang nasib sang kekasih karena pulangnya si karyawati ke kotanya ternyata tanpa membawa kembali kisah cinta yang mereka rajut sebelum short assignment itu.

Mereka pun bubarlah. Tak lama kemudian, si karyawati menikah dengan si karyawan rekan satu perusahaan yang dikenalnya saat bertugas.

Begitulah asmara. Namanya juga cinta, itu kan soal hati. Mungkin setelah beberapa berpacaran, salah satu [kalau tidak kedua belah pihak] merasa ada yang kurang dalam romance mereka. Mungkin sebenarnya mereka tidak cocok.

Kalau memang tidak merasa ada kecocokan, bubar adalah keputusan yang benar. Dari pada dilanjutkan pada tingkat permanen dan hanya menghasilkan ketidakbahagiaan, 'kan?

Dan karena cinta adalah soal hati, maka dia gak bisa diatur harus jatuh cinta kepada siapa. Co-worker kah, atasan ataupun bawahan, atau rekan beda divisi... Sah-sah aja. Yang penting asal jangan istri atau suami orang, dong. Itu gak sah.

Kalau rekan sekantor yang memikat hati itu ternyata sudah berkeluarga, ya harus dijauhi. Aku pernah mendengar kisah tentang seorang karyawati yang karena sering bertugas bareng dengan seorang karyawan yang telah beristri, hatinya mulai tersentuh.

Karena sering jalan bareng untuk urusan tugas, obrolan serius seputar pekerjaan pun seperti wajarnya berganti menjadi topik yang lain yang lebih santai. Kebetulan si karyawan sedang punya masalah di rumah tangganya. Kebetulan mungkin dia gak tahu, kalau urusan keluarga jangan di-shared dengan rekan sekantor. Maka si karyawan pun menceritakan kekisruhan rumahtangganya. Ceritanya curhat.

Namanya juga perempuan, si karyawati pun tersentuh. Dia pun jadi pendengar yang baik. Namanya juga sama teman, tentu timbul keberpihakan. Namanya juga orang sedang resah, tetap saja membela diri. Sementara egolah yang telah mendorongnya untuk curhat. Tentu ketika curhat, karena ego, si karyawan pun memperlihatkan kebaikan dirinya.

Kedekatan mereka, bagaimanapun tercium oleh pasangan masing-masing. Si karyawati yang punya pacar pun dicurigai oleh pacarnya bahwa ada yang tidak beres dengan sikapnya. Sang istri pun mulai menelepon ke kantor mencari tahu tentang kedekatan suaminya dengan rekan sekantor.

Untunglah si karyawati bijaksana. Dia pun menyadari bahwa sang istri mestinya punya versi sendiri. Dia pun menarik diri walau hati telah tercuri karena tersentuh rasa iba lalu segera menikah dengan pacarnya yang telah setia selama ini. Sang karyawati yang bijaksana pun berhasil keluar dari jebakan office affair.

Lain cerita adalah tentang sekretaris dan boss-nya. Bentuknya bisa jadi mirip dengan salah satu kisah di atas. Bagaimanapun yang penting adalah menyikapinya. Karena cinta adalah masalah hati, maka menghadapinya juga dengan hati. Jangan sampai ada yang terluka.

Seperti kisah cinta yang lain, jangan sampai terjebak dalam urusan keluarga orang lain. Karena keluarga adalah sebuah komitmen besar yang harus dipandang sebagai relasi yang sakral. Kita harus menghormatinya.


*****




Perlu dibaca juga di Cantik Selamanya:







Yuk, gabung?